Kamis, 23 Oktober 2008

Memancarkan kemuliaan Tuhan ditengah kesesakan hidup

Memancarkan Kemuliaan Kristus Di Tengah Kesesakan Hidup
Filipi 1:12-26
Saudara thema ini adalah suatu tema yang kelihatan sederhana tetapi sangat sulit untuk diaplikasian. Mengapa thema ini begitu sulit? Karena memang kenyataannya bahwa manusia lebih gampang untuk memancarkan kemuliaan Tuhan didalam hidupnya ketika kehidupannya lancar, keluarganya baik-baik, usahanya maju dlsb.
Tetapi bagaimana kalau usaha kita bangkrut, ekonomi seret, masalah bertubi-tubi datang menghampiri kita. Masih dapatkah kita mengatakan Tuhan itu baik. Masih dapatkah kita memuliakan Tuhan, masih dapatkah kita memikirkan orang lain, masih dapatkahkah kita melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh.
Saudara pembacaan kita tadi berbicara tentang kesaksian Paulus dalam penjara, Paulus dipenjarakan karena ia memberitakan Injil. Penjara pada zaman romawi bukan sama seperti penjara kita saat ini, memiliki fasilitas yang cukup baik, bahkan kalau pejabat yang dipenjarakan fasilitasnya bisa seperti fasilitas hotel bintang 5.
Salah satu contoh penjara di Cipinang; katanya ada kelas-kelasnya, biasa sedang dan VIP. VIP ada kulkas, ada TV dan juga jaringan internet. Tetapi penjara-penjara Romawi adalah penjara yang letaknya dibawah tanah, yang gelap dan pengap, makin berat perbuatan kriminal orang itu, semakin ia ditaruh ke bagian yang lebih bawah. Anehnya Rasul Paulus menuliskan satu surat sukacita justru dari tempat seperti itu. Ia menulis surat Filipi yang adalah “The Book of Joy”
Akan mudah kita mengungkapkannya suka-cita dalam sebuah tulisan misalnya seorang sedang berlibur di tepi pantai, dibawah sinar matahari yang cerah, ditengah pemandangan yang indah sambil meneguk minuman segar. Mudah sekali mengungkapkan sukacita ketika seorang pemuda mendapat jawaban dari gadis pujaannya dan menerima cintanya. Mudah sekali mengungkapkan sukacita ketika kita mendapatkan hadiah, penghargaan, dll. Tetapi lain lagi suka-cita yang dialami oleh Rasul Paulus, ia menuliskan kitab sukacita itu dalam keadaan ia dipenjara!.
Tulisan Paulus di Filipi bersifat paradoks. Dari dalam penjara Rasul Paulus memberi salam damai sejahtera kepada umat yang berada di luar penjara yang berada dalam situasi dan kondisi yang lebih baik, lebih damai dan sukacita. Bukan itu saja, ia mendoakan jemaat di Filipi bahkan berkali-kali dalam suratnya itu ia mengatakan agar mereka bersukacita senantiasa, dan penyarankan agar suka-cita itu meluap keluar.

Paulus mengharapkan agar suratnya dapat menguatkan jemaat di Filipi yang mengalami tekanan-tekanan. Rasul Paulus melalui suratnya ini mau mensharingkan pada orang Filipi bahwa BAHWA SETIAP manusia tidak bebas dari pergumulan dan masalah walupun orang itu dekat dengan Tuhan, ia tidak bebas dari cobaan dan tantangan dalam hidupnya.. Saudara tidak ada seorang pun yang dapat meragukan akan kedekatan Paulus dengan Tuhan, bagaimana giatnya dan semangat Paulus dalam melayani Tuhan.
Orang yang mengalami keadaan seperti Paulus itu biasanya akan merasa ‘teraniaya’, marah dan jengkel, mempertanyakan ‘keadilan’ mengapa ia dipenjara. Tetapi Paulus tidak melihat dari kepentingannya sendiri sehingga ketika dia disingkirkan dan ia dipenjara, baginya itu bukan masalah, yang penting pekerjaan Tuhan tetap dijalankan.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan; Ada beberapa sikap yang dapat kita pelajari dari kehidupan Paulus ketika ia menghadapi kesesakan hidup:
I. Didalam kesesakan hidup Ia tetap bersyukur kepada Tuhan
Saudara sebagai manusia adalah sangat muda bagi kita untuk mengucap syukur, jikalau kondisi kehidupan kita baik. Jikalau hidup kita aman-aman, jikalau secara materi dan jasmani tercukupi. Ketika kebutuhan emosi kita terpenuhi, tidak ada masalah dengan istri, anak, dengan rekan kerja, dengan usaha. Tetapi hal itu akan berbeda jikalau hal yang sebaliknya terjadi didalam hidup kita. Dapatkah kita mengucap syukur??? Saudara untuk menjawab hal itu tidak segampang membalikan telapak tangan.
Sdr. Seorang sdr, meng- email saya, ia menceritakan tentang kesulitan hidupnya, saya memberikan pendapat-pendapat dan nasehat kepada dia. Sdr. Tahu apa jawabnya..itu teori, semua pendeta juga ngomong begitu …melalui apa yang dikatakan saya menyadari memang tidak begitu gampang dan muda untuk kita dapat bersukacita dan bersyukur ditengah kesasakan hidup.
Tetapi kita melihat bagaimana Rasul Paulus menghadapi kesesakan hidup. Didalam Efesus 3:1 Rasul PAulus menjelaskan bahwa Ia dipenjarakan bukan karena kelalaian dia, bukan karena dia adalah seorang kriminalis, bukan karena ia perampok, penjahat, bukan seorang korupsi. Tetapi ia dipenjara karena Kristus.
Ia dipenjarakan karena dia adalah seorang pemberita Injil, ia dipenjarakan karena ia memberitakan kasih Kristus. Rasul Paulus dipenjarakan karena Kristus. Apa yang dikerjakan Rasul Paulus untuk Tuhan, untuk pekerjaan Tuhan, bukan untuk kemajuan diri sendiri, bukan untuk memperkaya dirinya atau keluarganya.
Tentunya sebagai manusia tentu kita berfikir adalah wajar Rasul Paulus menerima hal-hal yang baik dari Tuhan. Adalah sesuatu yang wajar Rasul Paulus meminta dari Tuhan kehidupan yang aman dan nyaman. Karena seluruh hidupnya dia berikan kepada Tuhan.
Dan ketika ia dipenjara, ketika mengalami penganiayaan, penderitaan karena Kristus tentunya Adalah wajar ia mengatakan “why “mengapa Tuhan, ….. tetapi RP tidak mengatakan why…tetapi “aku bersyukur”
Saudara mengapa ditengah kondisi yang sulit atau istilah lain ditengah-tengah kesesakan hidup Rasul Paulus dapat mengucap syukur?
Pertama; karena bagi Paulus berkat dan perlindungan Tuhan tidak selamanya diidentikan dengan hal-hal jasmani. Tetapi ketika Tuhan mau memakai hidupnya untuk memuliakan Tuhan.
Aplikasi: Ketika seseorang melihat berkat dan perlindungan Tuhan kepada hal-hal yang bersifat jasmani, maka orang itu akan kecewa. Apalagi dihubung-hubungkan dengan hubungan dirinya dengan Tuhan.
Kedua; perubahan focus hidupnya dari “selfcentris kepada Christocentris”
Hal ini jelas didalam ayat 20-22 ia mengatakan: Kalau aku hidup, aku harus memuliakan Tuhan. Karena bagiku , hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti aku bekerja untuk memberi buah”
Rasul Paulus sebelum dia mengenal TUhan, hidupnya selalu terfokus kepada dirinya, selalu bangga akan kelebihannya, bangga akan kekayaannya, bangga prestasi hidupnya, semua yang dilakukan dan kerjakan semua untuk dirinya sendiri. Tetapi ia mengenal Tuhan, ia menganggap semua itu adalah sampah.
Halini jelas dalam Filipi 3:7-8 “ Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, TUhanku lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggap sampah, supaya aku memperoleh Kristus.
Saudara, saya sebagai hamba Tuhan, sangat tidak sempurna…Beberapa waktu yang lalu ketika saya menghadapi beratnya tantangan hidup saya ketika melayani Tuhan. Saya pernah berkata kepada Tuhan, hidupku saya sudah berikan kepada Tuhan untuk melayani engkau Tuhan. Mengapa Tuhan tidak memperlancar pelayanan saya, mengapa saya harus menghadapi masalah seperti ini? Begitu berat bagi saya untuk mengucap syukur kepada Tuhan, begitu berat saya untuk datang berdoa kepada Tuhan. Tetapi beberapa waktu kemudian Tuhan menyadarkan saya arti panggilan pelayanan sebenarnya.Akhirnya saya bisa mengucap syukur.
Aplikasi: Setiap kita tentunya banyak mengalami pergumulan didalam hidup kita. Mungkin hari ini ada diantara kita bergumul oleh karena masalah didalam keluarga yang begitu berat, mungkin ada diantara kita yang bergumul dengan masalah ekonomi, mungkin ada diantara kita yang mengalami pergumulan didalam kesehatan? Mungkin kita sedang bergumul dengan keluarga kita?
Apakah kita masih dapat mengucap syukur kepada Tuhan, ketika kita menghadapi pergumulan tersebut? Saudara ini satu hal yang sangat berat…tetapi kita belajar dari Rasul Paulus, ditengah kesesakan hidupnya, ia masih dapat bersyukur kepada Tuhan. Ia masih tetap bersukacita, bahkan ia dapat menulis surat sukacita kepada orang lain.
Marilah saudara, apapun pergumulan yang kita hadapi, hadapilah dengan ucapan syukur. Ditengah kesesakan hidup marilah kita terus bersyukur kepada Tuhan.
II. Didalam kesesakan hidup Ia Tetap setia memberitakan Injil
Saudara pada bagian pertama tadi saya sudah mengatakan apa penyebab RP Rasul Paulus di penjarakan. Yang menyebabkan Ia dipenjarakan karena ia memberitakan Injil. Jadi penyebab utama ia dipenjara oleh karena Ia seorang pemberita Injil. Atau dengan kata lain, kalau ia tidak memberitakan Injil, atau bukan seorang pemberita Injil ia tidak akan di penjara, ia bebas.
Tetapi mengapa ia tetap memberitakan Injil? Bukankah jikalau ia terus memberitakan Injil kemungkinan hukumannya akan lebih berat. Dan jikalau ia diam tidak memberitakan Injil. Mungkin ia akan bebas, atau setidaknya hukumannya akan lebih ringan.
Saudara tetapi kita melihat bahwa dampak dari pemenjaraan Rasul Paulus tidak mengendorkan semangat dia memberitakan Injil, tidak menyebabkan ia kecut tetapi sebaliknya ia begitu menggebu-gebu untuk memberitakan Injil,
Apa yang kita bisa pelajari dari Rasul Paulus: Pemenjaraannya karena Injil Kristus/keseskan hidup tidak menjadi satu hambatan untuk dia terus memberitakan Injil. Bahkan Rasul Paulus melihat bahwa dibalik pemenjaraan dirinya Tuhan punya rencana, dan Tuhan memakai dia untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di Penjara bahkan seisi istana romawi dapat mendengar Injil, karena pemenjaraan dirinya.
Bahkan Rasul Paulus melihat dampak secara luas akibat pemenjaraannya yaitu semakin banyak orang percaya berani memberitakan Firman dan Injil .
Aplikasi: Kalau kita kembali merenungkan akan kehidupan kita. Saya yakin tidak ada diantara kita hidup dalam kondisi seperti Paulus. Bahkan boleh saya katakan, bahwa kita hidup ditengah-tengah berkat-berkat yang berkelimpahan yang Tuhan berikan bagi kita .
Seringkali, ditengah- tengah berkat Tuhan, ketenangan, kenyamanan banyak orang Kristen lupa tugas dan tanggungjawabnya untuk memberitakan Injil. Alkitab mengajarkan kepada kita hari ini, bahwa walaupun dalam kesesakan seperti Paulus, kita harus terus membertiakan Injil, terus melayani Tuhan.
Tuhan ingin memakai kita sebagai alat Tuhan melalui kesesakan hidupan yang kita alami dan hadapi dalam kehidupan kita. Terkadang melalui kesesakan hidup, pergumulan hidup kita, Tuhan merencanakan sesuatu untuk kemuliaan Tuhan.
Saudara, sebagaimana Paulus walaupun dalam kesesakan hidup/didalam penjara Ia tetap setia melayani Tuhan, memberitakan Injil. Demikianlah kita sebagai orang percaya kepada Tuhan, apapun pergumulan yang kita hadapi, baiklah kita terus melayani Tuhan dan memberitakan Injil.
III. Didalam Kesesakan Hidup Ia masih tetap menjadi saluran berkat bagi orang lain (memperhatikan dan menguatkan orang lain )
Saudara, seorang pernah berkata kepada saya. Mana mungkin saya bisa menolong orang lain sedangkan hidup saya seperti ini. Saya saja punya pergumulan, masalah, mana mungkin saya bisa membantu orang lain. Masalah saya sudah begitu berat, saya tidak mau dipusingkan dnegan masalah orang lain. Saudara seringkali kita manusia selalu memakai standar diri kita untuk dapat menolong orang lain. Selalu memikirkan diri kita sendiri. Jadi seakan-akan kita baru dapat membantu orang lain jikalau kita tidak memiliki pergumulan, masalah.
Bahkan ada yang mengatakan kepada saya; mana mungkin saya bisa membantu orang lain sedangkan saya berkekurangan…
Pertanyaan adakah satupun manusia di dunia yang bebas dari masalah? Kalau kita menunggu sampai kita tidak punya masalah baru kita dapat menolong orang dari masalah, saya yakin selamanya kita tidak dapat menolong sesame kita.
Dalam psl 1:3-11 menjelaskan kepada kita bahwa Rasul Paulus ketika dia dalam penjara ia tidak hanya memikirkan diri sendiri, mempersalahkan dirinya, atau bersungut-sungut dengan Tuhan, tetapi Firman Tuhan mengatakan kepada kita. Bahwa Rasul Paulus tidak henti-hentinya berdoa untuk orang-orang percaya, menghibur mereka, menguatkan mereka, menghibur orang percaya pada waktu itu.
Saudara minggu-minggu ini di bioskop ini ada satu Film yang dibintangi Aming, judulnya “Doa yang mengancam” Seorang kuli angkut (Madrim) yang merasa dirinya paling malang, temannya penjaga masjid (Kadir) mengatakan agar dia harus rajin solat, saudara ketika ia sudah rajin solat, nasibnya gak berubah-berubah…akhirnya ia mengancam Tuhan, jikalu dalam tiga hari doanya tidak dijawab, ia akan berpaling ke setan…selanjutnya sebelum tiga hari ia disambar petir dan ketika ia sadar ia mendapat kemampuan untuk melihat hal-hal yang pernah terjadi, akhirnya ia dipakai polisi untuk menangkap para penjahat dan menjadi orang kaya. Tetapi lama kelamaan temannya meragukan kemapuan si Madrim dan ia mengatakan kemampuan Madrim dari Setan..kembali si Madrim mengancam setan dstrs…
Saudara dari film merenungkan satu hal bahwa terkadang kita juga sama seperti si Madrim ini, suka komplain Tuhan, merasa Tuhan tidak adil. Apalagi ketika kita “setia pada Tuhan” Lebih parah lagi dalam Koran Tribun hari kamis yang lalu “ ada seseorang melaporkan Tuhan ke pengadilan”
Saudara kita melihat sikap Paulus menghadapi pencabaan dan kesesakan dalam hidupnya, ia tidak komplain kepada Tuhan. Tetapi ia masih dapat memperhatikan orang lain, ia masih dapat berdoa bagi orang lain, ia masih dapat memberi perhatian bagi orang dan lainsebagainya.
Sdr. Mungkin diantara kita, bertanya Bagaimana mungkin orang yang di penjara yang berdoa untuk orang yang diluar penjara, mana mungkin orang di penjara yang menghibur dan menguatkan orang yang diluar penjara. Saudara itulah Paulus.
Apa yang menyebabkan Paulus walaupun ia di Penjara ia tetap dapat memperhatikan dan menguatkan orang lain? Alasan yang paling sederhana adalah Rasul Paulus mengetahui dengan jelas untuk apa ia hidup di dunia ini. Rasul Paulus mengerti dengan jelas tujuan hidupnya di dunia ini. Dia mengetahui dengan jelas apa rencana Tuhan dibalik penderitaan yang dia alami.
Sebelum Rasul Paulus percaya Tuhan, ia memiliki konsep yang salah terhadap hidupnya. Baginya hidup untuk dirinya sendiri. Dia hanya memikirkan bagaimana dia bisa dihargai, dihormati, bagaimana dia dapat mengumpulkan kekayaan dan harta untuk diri sendiri. Tetapi ketika ia percaya Tuhan, semua itu menjadi tidak berarti baginya.
Dalam ayat 21-22 “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah.Rasul Paulus tahu tujuan hidupnya di dunia ini. Jikalau ia diberikan kesempatan hidup di dunia, itu berarti ia harus menghasilkan buah bagi Tuhan.
Rasul Paulus tahu, bahwa saat itu bisa saja ia akan di fonis mati oleh pemerintahan kaisar Nero. Atau dengan kata lain, dia sedang menantikan hari-hari terakhir dalam hidupnya. Tetapi ia tahu setiap waktu hidupnya dia harus gunakan untuk memuliakan Tuhan.
Jikalu ia masih hidup di dunia ini ia menggunakan seantero hidupnya untuk memuliakan Tuhan. Bagi Paulus kesesakan hidupnya oleh karena dia penjara tidak menghambat dirinya untuk memuliakan Tuhan.
Steven Tong, selalu mengatakan ketika dia berkhotbah, ini adalah khotbahnya yang terakhir. Ia tahu bahwa hidupnya terbatas, dia tidak tahu kapan Tuhan memanggil dia tetapi bagi dia selama ia masih hidup di dunia, dia melakukan sesuatu untuk Tuhan.
Aplikasi: Saudara mengapa banyak manusia sulit untuk memuliakan Tuhan didalam kesesakan hidupnya? Mengapa banyak orang Kristen tidak dapat memperhatikan orang disekitarnya yang mengalami pergumulan dan masalah? Mengapa banyak orang Kristen tidak dapat menjadi garam dan terang didalam hidupnya? Mengapa banyak orang Kristen tidak mampu menghasilkan buah-buah yang baik didalam hidupnya. Tetapi hanya selalu bersungut-sungut dan komplain kepada Tuhan.
Saudara semua karena manusia lebih banyak memikirkan diri sendiri, banyak manusia lebih mengasihani diri sendiri. Banyak manusia lebih terfokus dengan masalah sendiri sehingga lupa memikirkan orang lain, lupa berdoa bagi orang lain.
Dan lebih dari semua itu, banyak manusia yang tidak mengetahui tujuan hidupnya.
Saudara: Saya memiliki seorang teman HT yang kerjanya terus menerus mengeluh, kurang ini, kurang itu, banyak masalah..akhirnya pelayanan tidak lakukan dengan maksimal. Karena terlalu mengasihani diri sendiri. Terlalu terfokus kepada masalah pribadi. Bukan berarti tidak boleh memikirkan masalah pribadi…tetapi jangan hal tersebut membuat kita lupa untuk apa kita hidup di dunia ini. apa tujuan kita hidup di dunia ini. Apa yang Allah ingin untuk kita lakukan sebagai orang percaya.
Saudara; seorang hamba Tuhan pernah mengatakan; bagaimana kita bisa mengetahui tingkat kerohanian seseorang> Untuk mengetahui tingkat kerohanian seseorang hanya satu cara yaitu lihatlah bagaimana seseorang merespon pergumulan dan kesesakan hidup hidup yang dialami, disitulah kita bisa mengukur seberapa tinggi level iman spiritual kita kepada Tuhan. Semakin seseorang mampu menghadapi pergumulan dan masalah dengan baik semakin tinggi level iman spiritual orang tersebut kepada Tuhan.
Saudara, adalah sesuatu yang sangat indah yaitu ditengah-tengah pergumulan hidup pribadi kita, kita masih dapat menguatkan orang lain, menolong orang lain. Saudara adalah suatu yang sangat indah walaupun kita banyak mengalami masalah dan pergumulan kita masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menjadi saluran berkat bagi orang lain.
Sebagaimana Rasul Paulus, walaupun ia berada dipenjara, ia masih dapat menjadi saluran berkat bagi orang lain, baik melalui doa dan surat-surat yang menghibur menguatkan orang lain.
Saudara, satu hal yang sangat indah yg bisa kita teladani dari Rasul Paulus walaupun secara fisik ia terkurung dalam penjara, tetapi hatinya tidak terpenjara. Ini adalah satu hal yang indah . Ia dipenjara tetapi ia masih dapat melakukan satu berharga bagi orang lain.
Didalam kesesakan hidupnya dia tidak pernah memandang dirinya sebagai korban yang bernasib malang; tetapi dia justru memandang keadaan dirinya yang terpenjara sebagai suatu kesaksian untuk orang-orang yang tidak mengenal Allah.
Hari ini ada banyak orang percaya secara fisik tidak terpenjara, tetapi sebenarnya hatinya, hidupnya terpenjara oleh dirinya sendiri. Sehingga ditengah kesesakan hidup ia tidak mampu untuk bersyukur kepada Tuhan, ia tidak dapat melayani Tuhan, ia tidak mampu untuk menjadi berkat bagi orang lain.
Orang yang hatinya terpenjara, tidak memiliki kepekaan terhadap suara Tuhan, tidak memiliki kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Ia akan terus terfokus kepada diri sendiri, bukan kepada Tuhan.
Saudara hari, hidup hari ini begitu berat, setiap kita punya pergumulan dan masalah, tetapi janganlah itu menjadikan kita lupa mengucap syukur kepada Tuhan, lupa tanggungjawab pelayanan kita, lupa memperhatikan sesame kita. Tetapi biarlah kita memiliki cara pikir seperti Paulus, kalau aku hidup maka harus berbuah Amin
Posting Komentar