Jumat, 29 Juli 2016

Ketika Gereja Menyemai Luka


Beberapa waktu yang lalu, aku membuat sebuah paper tentang teologi trauma. Aku mengirimkannya kepada sejumlah rekan-rekan calon pendeta dan pendeta. Dari sekian banyak respons, ada satu respons yang sangat menarik buatku. Kira-kira bunyi responsnya begini: “Semoga gereja tidak menjadi tempat untuk menumbuhkan trauma.”
Terus terang, saya agak terkejut membaca responsnya. Responsnya menyentak saya. Tidak dapat disangkal, bahwa gereja pun dapat menyebabkan trauma dan luka batin. Saya ingat, dalam kuliah sejarah gereja, dikisahkan bahwa pada abad-abad pertama, gereja pernah menangkap dan menyiksa para perempuan yang disangka sebagai penyihir. Fakta yang mengerikan bukan?  Mungkin, saat ini kita tidak sekejam itu, namun bukan berarti kekejaman dalam gereja tak ada lagi.
Saya ingat sebuah refleksi yang ditulis oleh Craig Groeschel dalam Christian Atheis. Dalam bab 12, ia memberi judul yang menarik: Ketika Kau Percaya kepada Tuhan tapi tidak kepada Gereja-Nya. Groeschel mengutip sebuah kesaksian dari orang yang ia jumpai, “Aku tidak percaya kepada gereja karena gereja-gereja yang pernah kudatangi begitu jauh dari apa yang kubaca di dalam Firman Tuhan – aku piker aku bisa menjadi Kristen yang lebih baik tanpa gereja daripada aku dengan gereja.” Bahasa yang disampaikan orang ini adalah bahasa kekecewaan atas inkonsistensi antara apa yang diyakini dan apa yang diperbuat.
Misalnya saja, gereja bicara tentang kasih, namun kita bersekongkol untuk menjauhi seseorang dalam gereja. Kita mengatakan bahwa kita berpihak pada yang menderita, namun kita memaksa anggota paduan suara yang kondisi keuangannya kurang baik untuk memakai baju seragam yang mahal. Kita berkata bahwa kita mengasihi anak-anak, namun mengeluarkan uang lebih untuk mengembangkan pendidikan anak dan kaum muda di gereja begitu sulit. Kita berkata bahwa kita menegakkan kebenaran, namun kita memfitnah dan memelintirkan fakta di dalam gereja. What an ironic!
Malam ini, saya kembali berefleksi, sejauh mana gereja menjadi komunitas yang memulihkan. Selama 8 tahun saya terjun ke dunia pelayanan gerejawi dan mengamat-amati proses kehidupan bergereja, ada sebuah percakapan yang saya ingat dan tertancap di batin saya. Percakapan ini terjadi pada salah satu gereja yang pernah saya layani. Suatu waktu, seorang rekan saya bertanya pada koster gereja di halaman depan gereja. Dia bertanya pada koster itu, “Apa sich harapan Anda untuk gereja ini?” Jawab koster yang beragama Islam ini, “Saya ingin orang-orang dating ke gereja dengan hati bersih dan soleh. Saya ingin gereja menjadi tempat yang rukun. Jangan suka menyalahkan orang saat rapat. Jangan suka mencari keuntungan dari orang lain” Saya tertunduk sedih mendengar perkataan koster ini. Ah, rupanya dia mengamati dinamika yang terjadi paska rapat.
Bagi saya, sudah waktunya gereja melakukan pertobatan kembali. Ya, gereja yang definisinya adalah kumpulan orang percaya yang mengikut Kristus harus melakukan pertobatan kembali. Mengikut Kristus bukan hanya sekadar memakai topeng, melainkan menjadi pembawa damai dan kasih. Bukan munafik! Oh gereja, masihkah engkau mau menyemai luka? Saya sedih dengan kondisi seperti ini. Tuhan pun pasti sedih, jauh lebih sedih ketimbang saya. Dia menangis tertahan dan sedih.

Jakarta, 6 April 2014

YIL
Posting Komentar