Senin, 12 Mei 2008

Dia Buka Jalan saat tiada Jalan

DIA BUKA JALAN SAAT TIADA JALAN
Khotbah DM GKKB Jemaat Pontianak

Saudara akhir-akhir ini, kehidupan kita di Indonesia semakin sulit, melalui pembesukan, melalui sharing dengan beberapa anggota jemaat, setelah kenaikan BBM pada bulan Oktober tahun lalu, begitu banyak orang yang kesulitan ekonomi. Kesulitan ekonomi sangat berdampak pada kehidupan keluarga dan juga hubungan dengan Tuhan.

Ada banyak keluarga mengalami keretakan dalam hubungan dengan suami istri, oleh karena kesulitan ekonomi. Tuntutan hidup keluarga meningkat, tetapi pekerjaan begitu sulit untuk didapat. Ada yang sudah bekerja terpaksa di PHK perusahan.

Ada begitu banyak anak yang seharusnya sekolah terpaksa tidak sekolah oleh karena orang tuanya tidak sanggup untuk membiayai sekolah anaknya.

Seorang ibu pernah menceritakan kepada kami tentang pergumulannya. Anaknya sakit tetapi ia tidak dapat membawa anaknya ke rumah sakit karena ia dan suaminya tidak memiliki uang untuk memeriksakan anaknya ke RS. Sudah berbagai cara ia lakukan bahkan Ia mengatakan ia terpaksa membuang rasa malunya dan meminta-minta agar anaknya dapat dibawa ke dokter.

Pernahkah kita menghadapi pergumulan dimana KITA merasa bahwa kita tidak dapat lagi berbuat apa-apa, dimana kita merasa bahwa sudah tidak ada jalan lagi? Istilah orang jawa sudah mentook??? Segala cara telah diusahakan, segalah tenaga dan pikiran kita sudah kita curahkan tetapi hasilnya nihil…

Semua usaha telah dilakukan, tetapi seakan tidak ada jalan…..Setiap jalan sudah tertutup… semua usaha yang dilakukan sudah buntuh..

Menghadapi hal demikian apa yang kita lakukan? Apa yang kita pikirkan?

Secara umum, menghadapi hal demikian orang akan cenderung:
1. Putus asa (bunuh diri) kita mengingat beberapa tahun yang lalu diberitakan oleh salah satu TV seorang ibu membakar dirinya dan juga anaknya oleh karena kesulitan ekonomi. Ada seorang yang sakit tetapi tidak memiliki uang untuk membiayai sakit yang diderita akhirnnya ia melompat dari gedung lt III RS yang ia rawat. Ada seorang Bapa terpaksa meminta dokter untuk menyuntik mati istrinya, karena istrinya sudah sekian lama sakit, semua harta sudah habis tetapi tidak semnbuh-sembuh penyakitnnya.
2. kecewa, stress (rumah sakit jiwa penuh)
3. Menyalahkan orang lain atas hal-hal yang terjadi (suami mempersalakan istri atau sebaliknya)
4. Berfikir Tuhan itu ada atau tidak; Tuhan mengasihi atau tidak, berdoa sudah malas , beribadah sudah malas.

Baca Alkitab Keluaran 14:9-14
Saudara jikalau kita menghadapi suatu masalah yang seakan tidak ada jalan keluar, maka sebagai orang percaya kepada Tuhan. Alkitab melalui pembacaan kita tadi mengajarkan kita beberapa hal :
I. Ingat dan yakini bahwa ini adalah proses Allah mendidik dan mengajar kita untuk kebaikan kita.

Bangsa Israel adalah bangsa pilihan Allah, bangsa yang sangat istimewa dihadapan Allah. Oleh sebab itu ketika Allah melihat bagaimana penderitaan mereka di Mesir Allah mengutus Musa untuk membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir.
Walaupun mereka adalah umat pilihan Allah atau umat yang dikasihi Tuhan. Tuhan tidak mengizinkan mereka melewati jalan yang muda dan gampang. Oleh sebab itu ketika Allah membawa mereka keluar dari Mesir Allah menuntun mereka berjalan mengelilingi padang gurun, walaupun sebenarnnya ada jalan yang dekat menuju tanah kanaan.

Mengapa Allah tidak menuntun mereka melalui jalan yang dekat tetapi melalui padang gurun? Allah tidak menuntun mereka melewati jalan mudah dan gampang.

Sebenarnya ada tujuan dan rencana Allah disini, melalui perjalanan yang sulit dan jauh sebenarnnya Allah mau mendidik mereka.

Saudara perjalanan dipadang gurun sebenarnya adalah suatu perjalanan rohani atau perjalanan iman dari bangsa Israel. Perjalanan yang mereka lewati bukan perjalanan yang gampang dan mudah. Pada siang hari mereka akan kepanasan di padang gurun, dimalam hari mereka akan kedinginan oleh karena angin akan bertiup kencang. Mereka harus melewati berbagai pergumulan dan masalah, mereka harus berperang menaklukan negri-negri yang mereka lewati baru mereka menikmati tanah perjanjian yang dijanjikan Tuhan kepada mereka.

Sebenarnnya Allah bisa saja membuat perjalanan mereka menuju Kanaan dengan mudah dan gampang. Tetapi Jikalau itu dilakukan Allah, maka bangsa Israel akan memandang remeh anugerah Allah bagi mereka.
Bagnsa Israel akan menjadi bangsa yang lemah, yang tidak kuat bahkan menjadi bangsa yang tidak menghargai Tuhan. Karena mereka mendapat sesuatu dengan mudah.

Dalam perjalanan mereka dipadang gurun, Allah mulai mendidik mereka untuk hidup bersandar pada Tuhan. Mereka dididik oleh Tuhan untuk tidak mengandalkan kemampuan mereka.

Oleh sebab itu terkadang Allah mengizinkan mereka mengalami kesulitan yang membuat mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Tetapi kita melihat ketika menghadapi kesulitan Allah menggunakan kesempatan itu, mengajarkan ketetapan dan peraturan-peraturan.

Kesulitan yang dihadapi oleh bangsa Israel memang adalah masalah yang begitu berat, dimana mereka tidak dapat melakukan apa-apa, seperti yang diceritakan dalam pembacaan yang baru kita baca. Didepan, disamping kiri kanan mereka hanya ada lautan dan dibelakang mereka pasukan Firaun. Secara manusia adalah wajar mereka merasa takut, kuatir . Secara manusia mereka tidak dapat melakukan apa-apa, dengan kemampuan mereka sendiri adalah sangat mustahil mereka dapat keluar dari masalah tersebut.

Jiwa mereka terancam, mereka akan mati oleh tentara Firaun yang terkenal begitu ganas. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk melawan, mereka tidak punya senjata. Tidak ada jalan lain dimana mereka bisa lari atau menyembunyikan diri. Dihadapan mereka terbentang lautan yang luas, disamping kiri kanan lautan dan dibelakang mereka tentara Firaun sedang mengejar mereka.

Bangsa Israel merasa ketakutan untuk menghadapi hidup mereka, mereka mulai kecewa putus asah karena menghadapi bangsa Mesir mereka seperti hanya menyerahkan nyawa mereka.
Aplikasi

Kehidupan kita orang Kristen selama kita di dunia ini, sebenarnya kita seperti bangsa Israel yang sedang berjalan dipadang gurun.
Hidup kita didunia ini adalah suatu proses. Dimana kita harus meyakini bahwa Allah sedang mendidik kita untuk bisa hidup sesuai dengan kehendaknya.
Dimana terkadang Allah mengizinkan kita mengalami hal-hal yang sulit. Tuhan mengizinkan jalan yang kita tempu seakan buntu. Kita mengalmi kesulitan dalam usaha. Kita sudah berusaha dengan berbagai cara untuk memajukan usaha kita tetapi semua nihil. Dalam keluarga kita sudah berusaha untuk mendidik anak kita tetapi anak kita bukan menjadi baik tetapi kurang ngajar.

Kita harus meyakini bahwa ini adalah suatu proses dimana Allah ingin mendidik kita untuk lebih dekat dengannya dan mengasihi dia. Agar kita mengakui akan kuasa Tuhan dalam hidup kita.
Allah mengizinkan ini terjadi agar kita dapat melihat perbuatan ajaib Tuhan dalam hidup kita dan pada akhirnya mengaggungkan Dia.
Karena sebagaimana kitab pengkhotbah katakan, segala sesuatu ada waktunya, dan Tuhan selalu bertindak tepat pada waktunya.

Selama perjalanan bangsa Israel dari Mesir ada begitu banyak hal yang Tuhan izinkan mereka alami. Dimana mereka mengalami kesulitan yang seakan tidak ada jalan keluar atas masalah yang mereka alami.

1. Mereka menyebrang laut teberau
2. Dimarah dan elim: Mereka tidak dapat air
3. Manna: Allah menyiapkan makanan bagi mereka
4. Di Masa dan Meriba: tidak ada air

Menghadapi hal demikian mereka mulai putus asah, bersungut-sungut , kecewa, mempersalahkan orang lain dan bahkan mengaggap Tuhan tidak memperhatikan mereka.

Saudara jikalau kita mengalami masalah dan pergumulan dalam hidup kita, yang seakan tidak ada jalan keluar? Apa reaksi kita? Apakah kita seperti bangsa Israel yang terus bersungut-sungut? Apakah kita mempersalahkan orang lain? Ataukah kita mempersalahkan Tuhan ketika kita menghadapi berbagai pergumulan dan masalah yang berat.

Ataulah ketika menghadapi hal yang begitu berat kita melihat ini sebagai bagian dari proses Allah untuk mendidik kita untuk semakin dekat dengan Allah, untuk semakin mengerti rencana Allah dalam hidup kita.


II. Ketika jalan didepan kita terasa buntu yakinlah bahwa Allah tidak meninggalkan kita. ayat 13.
Ditengah ketakutan dan kekuatiran dari bangsa Israel, kita melihat bagaimana sikap dari Musa. Musa dengan penuh keyakinan bahwa Allah yang Dia percayai, Allah yang mengutus Dia untuk membawa bangsa Israel keluar dari tanah Mesir. Tidak akan meninggalkan mereka, Allah yang dipercayai pasti akan menyelamatkan mereka.

Sebenarnya keyakinan dari Musa akan pertolongan dan keselamatan dari Tuhan, seharusnya diyakini oleh orang Israel karena baru beberapa hari Allah menunjukan kuasa didepan mata mereka, yaitu Allah membebaskan mereka dengan cara yang luar biasa dengan 10 Tulah. Dan dari 10 tulah tersebut mereka diselamatkan Tuhan. Tetapi toh itu tidak menyadarkan mereka akan pimpinan dan kasih Tuhan akan terus berlaku dalam hidup mereka.
Bangsa Israel begitu cepat melupakan akan kasih dan pertolongan Tuhan didalam hidup mereka. Belum begitu lama mereka ditolong oleh Tuhan, Tuhan menyatakan kasih pada mereka. Mereka sudah melupakan kuasa Tuhan dan bersungut-sungut.

Saudara bukankah begitu banyak orang Kristen yang seringkali cepat melupakan akan berkat dan anugerah yang Tuhan berikan bagi kita. Oleh sebab itu ketika menghadpi pergumulan dalam hidupnya, langsung bersungut-sungut. Bukankah begitu banyak orang Kristen yang maunya hidup enak-enak saja, tanpa masalah dan pergumulan.

Tuhan Yesus mengatakan bahwa menjadi orang Kristen kita harus pikul salib dan menyangkal diri. Penulis Ibrani mengatakan: Tuhan menghajar orang yang dikasihinnya dan ia menyesah orang yang diakui sebagai anak , Dimana ada seorang anak yang tidak pernah dipukul oleh orang tuanya? Jikalau seorang anak dipukul oleh orang tuanya, semuannya dilakukan bukan karena ia membenci anaknya tetapi karena ia mengasihi anaknnya.

Bangsa Israel menghadapi kesulitan dan masalah bukan berarti Allah tidak menyertainya. Janji penyertaan Allah kepada bangsa Israel sudah Allah sampaikan sejak zaman Abraham, Ishak dan Yakub. Allah mengatakan Kej. 28:15 “ Allah mengatakan kepada Yakub bahwa Allah akan menyertai dia dan keturunannya, Tuhan akan melindungi kemanapun dia pergi, Tuhan tidak akan meninggalkan mereka sesuai dengan janjinya baik itu kepada Abraham, Ishak dan juga Yakub.

Saudara janji dan penyertaan Tuhan, bagi bangsa Israel juga berlaku bagi kita semua orang Kristen. Kita adalah Israel-israel zaman baru. Kita adalah umat yang dikasihi oleh Tuhan, kita adalah umat yang dipilih oleh Tuhan. Oleh sebab itu jikalau jalan hidup kita terasa sulit, kita menghadapi jalan buntu dalam hidup kita yakinilah bahwa penyertaan Allah, berkat Allah selalu ada dalam hidup kita.

Kita harus yakin bahwa Allah yang kita sembah tidak akan meninggalkan kita.
Dalam Mazmur 121, pemazmur menggambarkan tentang bagaimanA penyertaan dan pimpinan Tuhan selalu ada dalam kondisi apapun. Mazmur 21 Adalah nyanyian ziarah Israel. Mazmur ini menggambarkan tentang kondisi yang sangat menakutkan. Dimana mereka tidak memiliki jalan atau cara apapun untuk mereka dapat melewati jalan yang penuh bahaya.

Sehingga itu dalam Mzr ini pemazmur mengatakan aku melayangkan pandang kegunung2 dari mana datangnya pertolonganku. Pertolongannku hanya dari Tuhan, ia tidak akan membiarkan kakimu goyah, Dia tidak pernah terlelap sekalipun, Dia selalu menjaga umatNya. Dari segala kecelakaan, Dia akan menjaga nyawahmu dan menjaga engkau keluar masuk.

Saudara pernahkah kita meyakini bahwa Allah kita, selalu melihat kita, ia selalu siap untuk menolong kita. Pernahkah kita dengan begitu yakin walau jalan didepan sudah buntu, seakan tidak ada jalan lagi< kita meyakini Tuhan akan meninggalkan kita?

Pemazmur mengatakan bahwa Allah yang kita sembah ia tidak pernah tidur, ia tidak pernah terlelap Ia akan menjaga kita kita keluar masuk. Ia tidak pernah akan meninggalkan kita.

III. Ketika tidak ada jalan yakinlah bahwa Tuhan akan membuka jalan bagi kita.

Menghadapi ancaman dan bahaya dari tentara Firaun, secara manusia adalah hal yang wajar jikalau bangsa Israel merasa takut, kuatir. Secara manusia yang terlintas dalam pikiran mereka pada waktu itu, bahwa riwayat mereka akan segera tamat. Mereka semua akan mati, mereka takut.
Sudah tidak ada jalan keluar yang paling baik untuk mereka selamat. Tetapi kita melihat bahwa Allah dengan kekuatan kuasaNya. Ia membuka jalan . Ditengah ketakutan dan kekuatiran bangsa Israel, Tuhan membuka jalan bagi mereka.
Orang Israel awalnnya tentunya tidak berfikir bahwa lautan didepan mereka akan menjadi jalan yang kering untuk mereka lewati. Mereka tidak pernah berfikit bahwa lautan yang menyeramkan itu akan terbelah dua dan menjadi tempat untuk mereka terbebas dari kematian yang mereka takutkan.

Saudara bangsa Israel memikirkan kesulitan, dan ancaman didepan mereka, dengan kekuatan dan pikiran mereka sendiri. Oleh sebab itu mereka merasa takut dan kuatir. Mereka sama sekali tidak berfikir tentang kuasa Tuhan. Mereka tidak berfikir bahwa Allah sesungguhnya akan membuka jalan buat mereka.
Saudara bukakah seringkali kita seperti demikian, ketika menghadapi jalan yang buntu didepan kita. Kita selalu memikirkan akan kekuatan kita, kemampuan kita untuk melewati rintangan dan kesulitan didepan kita. Dan ketika kita mendapati bahwa dengan kemampuan, usaha dan kekuatan kita, yang ada didepan kita bukan jalan keluar tetapi kesulitan. Akhirnnya kita kecewa, stress dan putus asa…

Saudara, seringkali Allah bertindak dan membantu kita untuk keluar dari kesulitan dengan cara Allah sendiri. Seringkali kita tidak pernah mengerti akan rencana Allah dalam hidup kita. Kita hanya mengerti rencana kita atas diri dan hidup kita. Tanpa memahami rencana Allah dalam hidup kita.

Oleh karena itu seringkali Allah membiarkan kita menghadapi jalan buntu, tetapi percayalah bahwa Tuhan akan membuka jalan saat tiada jalan, dengan cara Allah sendiri, bukan dengan cara kita.

Pernahkah kita meyakini bahwa saat tiada jalan, Allah akan membuka jalan bagi kita? Amin
Posting Komentar