Selasa, 27 Mei 2008

Manusia Baru

MANUSIA BARU (Khotbah)

Saudara, ular adalah satu binatang yang sering mengganti kulit, setiap beberapa tahun ia akan menggantikan kulitnya menjadi kulit yang baru yang lebih baik. Tetapi ular walaupun dia selalu menggati kulitnya, tetapi sifat dasarnya tetap ular yang diganti hanya kulitnya.
Saudara ketika saya memikirkan tentang ular yang berganti kulit saya memikirkan tentang kita manusia yang sudah percaya kepada Tuhan. Ketika kita percaya kepada Tuhan, maka kita sudah dilahirbarukan, kita sudah disebut manusia baru. Lalu apa yang membedakan kita dengan ular: Ular dia mengalami perubahan pada kulitnya tetapi tidak mengalami perubahan dalam dirinya, hati dan sifat dasarnya. Manusia ketika dia percaya kepada Tuhan ia mengalami satu perubahan, bukan pada kulitnya tetapi kepada hatinya, sifat dan karakter hidupnya. Yaitu hidup yang diubahkan oleh Tuhan.

Tetapi menjadi pertanyaan bagi kita bukankah ada banyak orang Kristen yang sudah lama mengenal Tuhan tetapi kehidupannya spertinya tidak mengalami suatu perubahan. Ini disebut dengan orang Kristen yang berganti kulitnya tetapi tidak ada pembaharuan didalam hatinya.

Saudara Rasul Paulus dalam ayat 17 mengingatkan orang Efesus tentang status mereka sebagai orang yang sudah percaya kepada Tuhan. “sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan, jangan hidup lagi seperti orang yang tidak mengenal Allah dengan pikiran yang sia-sia.

Menjadi Kristen bukanlah sekedar memiliki sebuah agama, sebab kekristenan bukanlah sekedar agama tetapi merupakan perubahan hidup. Karena ketika jadi Kristen, kita akan diubahkan Tuhan dari manusia lama yang diperhamba oleh dosa menjadi manusia baru yang dimerdekakan di dalam Kristus.
Setelah Paulus diubahkan Tuhan ia berkata, “Aku telah turut disalibkan bersama-sama dengan Kristus, namun bukan aku lagi yang hidup tetapi Kristuslah yang hidup di dalam aku” (Galatia 2:20). Artinya, setiap kita yang ada di dalam Kristus telah meninggalkan manusia lama kemudian diubahkan Tuhan menjadi orang-orang yang ada dalam Kristus, Sama seperti Paulus. Di dalam kehidupan yang baru. Orang yang telah hidup baru, maka bukan lagi dirinya yang berkuasa atas hidupnya tetapi Kristuslah yang hadir dan yang berkuasa atas seluruh hidupnya. Sehingga hidupnya semakin seperti Kristus.

Hidup yang telah diubahkan Tuhan inilah yang disebut dengan kekristenan yang sejati, jadi bukan sekedar memiliki agama. Kalau seorang yang sekedar punya agama, maka tidak perlu menjadi orang Kristen. Karena menjadi orang Kristen dituntut suatu perubahan hidup, dituntut untuk hidup terus menerus seperti Kristus.

Seorang hamba Tuhan pernah mengatakan: “Menjadi orang Kristen itu gampang, tetapi menjalani kehidupan sebagai orang Kristen itu sulit”
Memang menjadi orang Kristen itu gampang tetapi menjalani hidup sebagai orang Kristen itu sulit.

Lalu bagaimana kita bisa menjalani hidup sebagai orang Kristen, tentunya bukan dengan kekuatan dan kemampuan kita, melainkan kita harus tinggal dan diam dalam Kristus. Karena hanya dengan Kristus hidup kita dapat diubahkan dan memapukan kita untuk hidup dan berjalan dalam kebenaran.

Saudara orang yang bagaimana yang masih hidup dalam kehidupan yang lama dan yang bagaimana yang telah hidup baru:
Pertama Rasul Paulus dalam bagian ini menjelaskan kepada kita tentang cirri-ciri seorang yang masih hidup lama lama dan cirri manusia yangt telah hidup dalam Tuhan atau hidup baru.

Ciri khas manusia lama di jelaskan Paulus, diantaranya adalah: 1. Ayat 18; Ciri manusia lama yang pertama, “Pengertiannya gelap”.Atau masih hidup dalam kegelapan. Yang dimaksud dengan pengertian yang gelap disini adalah hidup tanpa arah dan tujuan, tidak mengetahui tujuan hidup, tidak berjalan dalam hikmat dan pengertian ilahi karena itu tindakannya pun gelap, dengan demikian akan menjalani masa depan yang gelap pula, inilah ciri khas orang dunia.
Orang seperti ini bagaikan seorang buta, yang tidak mengetahui kebenaran, dalam menjalani kehidupannya, ia tidak berjalan dalam terang kebenaran.
Hidup seakan-akan dalam Tuhan tetapi masih terus hidup dalam kegelapan, hidup terus diperhamba dan dijajah oleh dosa.

Saudara ketika Rasul Paulus mengatakan tentang manusia baru ini, Rasul Paulus tidak berbicara kepada orang-orang belum percaya tetapi kepada orang percaya di Efesus, agar mereka tidak hidup dalam pengertian yang gelap.

Itu berarti bahwa ada orang-orang sudah percaya Tuhan tetapi hidupnya masih dalam kegelapan. Jadi jika kita masih memiliki pengertian yang gelap, walaupun kelihatan rajin ke gereja, rajin berdoa, rajin baca Alkitab, bahkan sudah terlibat aktif dalam pelayanan itu tidak otomatis bahwa kita sudah menjadi manusia yang baru. Sebab manusia baru pasti sudah hidup dalam terang, bukan dalam kegelapan..

Hari-hari ini ada banyak orang yang aktif ke gereja tapi hidupnya masih gelap, karakternya masih seperti karakter orang yang belum mengenal Tuhan, tidak berpikir panjang, gampang emosi, mudah terpancing amarah, gampang memilih jalan pintas, sering mengambil keputusan yang keliru, dan menjadi seorang yang masa bodoh terhadap orang lain.

2 Ayat 18; Ciri manusia lama yang kedua yaitu, “hidup jauh dari persekutuan dengan Tuhan”.
Apa arti jauh dari persekutuan dengan Tuhan. Orang yang jauh dari persekutuan dengan Tuhan, ia tidak menjadikan Tuhan menjadi pusat hidupnya. Ia tidak memiliki hubungan pribadi yang baik dengan Tuhan.

Ciri-ciri orang seperti ini adalah: Ia tidak pernah berdoa secara pribadi kepada Tuhan, Dia tidak mengandalkan Tuhan dalam hidupnya tetapi dirinya sendiri. Kristus tidak hidup didalam dirinya tetapi dirinya dengan segalah keinginan kedagingan. Orang seperti ini akan sulit menjalani kehidupannya dengan kedamaian, yang ia pikirkan hanya kesenangan-kesenangan dirinya sendiri, dan tidak terpikir olehnya bagaimana nasipnya di kehidupan yang akan datang, karena itu jauh dari pikirannya untuk memiliki jalan keselamatan.

Oleh karena tidak memiliki damai, yang ia cari adalah kesenangan-kesenangan duniawi. Tetapi seorang yang memiliki hubungan baik dengan Tuhan sekalipun ia punya masalah, menghadapi tantangan hal itu tidaklah membuat ia jadi kompromi dengan perkara-perkara duniawi, justru sebaliknya membuat ia semakin mendekatkan diri pada Tuhan. Itulah sebabnya Daud berkata; “hanya dekat Allah saja aku tenang,” orang yang memiliki damai pasti merasa hidupnya dekat Tuhan.

Saudara jikalau dalam hidup kita, kita tidak memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan, maka itu berarti bahwa kita belum menjadi manusia yang baru tetapi manusia yang lama. Orang yang telah hidup baru ia akan selalu memiliki kerinduan untuk dekat dengan Tuhan. JIkalau ia tidak berbicara dengan Tuhan dalam sehari maka dia merasa ada sesuatu yang hilang.

3 Ayat 18; Ciri manusia lama yang ketiga adalah, “Bodoh dan Degil”.

Orang yang sudah mempunyai kehidupan baru, sudah dilahirkan baru, bukan lagi orang bodoh. Namun penger-tian bodoh di sini juga jangan disalah mengerti. Bodoh di sini adalah bodoh secara rohani, bukan matematis. Ini bukan me-nyangkut IQ jongkok atau tidak. Orang yang sangat pintar, ahli matematika, jago fisika, intelek-tual, bisa menjadi orang yang paling bodoh dalam hal pengenalan akan Allah, karena dia akan berkata, “Tidak ada Allah”. Dia menjadi ateis.

Tetapi ketika orang dilahirkan baru, dia punya kemampuan berpikir yang hebat, karena mampu menangkap dan mengerti siapa Allah, dan apa yang menjadi kehendak-Nya. Ini suatu kemampuan berpikir yang sudah diperbaharui Roh Allah dan diberi kemampuan dan kekuatan oleh Roh Allah sehingga dia tidak lagi menjadi bodoh untuk mengenal siapa Allah.

Sekarang dia tahu siapa Allah itu. Orang yang hidup dalam status baru, melihat ke belakang adalah melihat kebencian dan kegelapan. Maka ia selalu berpacu ke depan untuk menjangkau pengharapan yang Tuhan sediakan dia akan selalu berjalan didalam iman

4. Ayat 19; Ciri manusia lama yang keempat, “Perasaannya tumpul”.
Yang dimaksud dengan perasaan yang tumpul yaitu ketidakpekaan terhadap suara Tuhan, tidak pekah terhadap pengajaran Roh Kudus.
Orang seperti ini bisa saja berada di gereja tetapi karena perasaannya sudah tumpul ia tidak bisa lagi menerima kebenaran Firman Tuhan. Mungkin ia mengerti Firman, tetapi semuanya tidak ada artinya karena memang perasaannya sudah tumpul, artinya Firman Tuhan itu sama sekali tidak mempengaruhi hidupnya, ia tetap hidup secara duniawi, dalam kedagingan, dan dalam dosa.
Kelahiran baru membuat kita peka terhadap kehendak dan tuntunan Tuhan, sehingga hal itu menjadikan kita dapat hidup secara rohani.
Orang yang perasaannya telah tumpul atau istilah lainnya tidak ada kepekaan secara rohani, maka ketika Roh Kudus berbicara didalam hidupnya, ia tidak pekah dan mendengar dan akibatnya ia akan hidup terus dalam kesalahan dan keberdosaan.

Ciri khas manusia baru, yaitu:
1 Memiliki pengenalan akan Kristus dan kebenaran-Nya (ayat 20-21)

Orang Kristen adalah orang yang tidak pernah berhenti belajar untuk mengenal Tuhan dan pengajaran di dalam Dia. Di dalam Fil 3:10, rasul Paulus menghendaki supaya ia semakin mengenal Kristus di dalam hidupnya.

Jadi, jangan berhenti untuk belajar mengenal Kristus dan kebenaran-Nya, karena ini adalah fondasi yang sangat penting di dalam iman Kristen. Jika tidak, kita tidak akan memiliki dasar yang benar, dan terombang-ambing di dalam pengajaran yang salah. Sebab tidak semua hal yang baik itu adalah benar.

Contoh : ajaran sesat selalu memperkenalkan diri sebagai ajaran yang baik, padahal isi pengajarannya penuh kesesatan. Tetapi semua yang benar pasti baik. Tentunya baik menurut Tuhan bukan baik menurut manusia.

Setelah lahir baru bukan berarti otomatis sudah sempurna, karena itu kita harus mau belajar. Kita belajar akan sifat Kristus, belajar sabar, belajar mengasihi, belajar mengampuni, belajar setia, belajar untuk dengar-dengaran kepada perintah Tuhan, belajar untuk menguasai diri, belajar menahan diri dari kemarahan dlsb, seperti yang dikatakan Rasul PAulus dalam ayt 25-32) Proses kita belajar bahkan sampai dapat serupa dengan Kristus.2 Ayat 21; Ciri manusia baru yang kedua, “Mendengar dan Menerima”.Saudara apa yang didengar dan apa yang diterima, yang dimaksud disini adalah bahwa Orang Efesus dan juga kita sudah mendengar tentang Kristus dan menerima ajaran Yesus.

Hal ini berbicara tentang sifat dan kehidupan Kristus, dimana Yesus telah memberi contoh dan teladan bagaimana kehidupan di dunia ini. Bgm Yesus meresponi perlakuan orang terhadap dirinya. Ketika ia difitnah Ia mengampuni, dia diperlakukan dengan tidak adil Ia tetap sabar.

Demikian juga dengan manusia baru Ketika difitnah ia terima dan bahkan dapat mengampuni, tetapi manusia lama tidak dapat menerima bahkan akan menuntut. Bagi yang dapat menerima pada akhirnya akan selalu dipuaskan, tetapi seorang penuntut pada akhirnya akan kecewa dan memberontak. Banyak orang hari-hari ini hanya bisa menuntut dan susah untuk menerima dan bersyukur.

Banyak orang bisa bersyukur ketika hidupnya tidak masalah, tidak pergumulan, tetapi pergumulan menghadang dirinya ia tidak dapat mengucap syukur. Dia tidak dapat mengatakan Tuhan itu baik, tetapi sebaliknya.

Saudara sebagaimana istri Ayub, ketika hidup Ayub dan keluarganya berlimpa kekayaan dan berkat ia dapat mengucap syukur kepada Allah dan mengatakan Tuhan itu baik, tetapi ketika Ayub ditimpa malapetaka dan pergumulan yang berat . Ayub jatuh miskin, mendapat sakit penyakit…Ia katakan kepada Ayub kutuklah Allahmu, dan matilah.

Saudara orang yang telah menjadi manusia baru, ia dapat menerima semua yang dialami didalam hidupnya dengan penuh syukur, karena dia mengetahui bahwa Tuhan itu baik, dan Tuhan tidak akan merancangkan hal-hal yang jahat bagi anak-anakNya.
Orang yang telah menjadi manusia baru dia selalu meneladani sifat-sifat Kristus, dan menjadi sama seperti Kristus.
3 Ayat 22; Ciri manusia baru yang ketiga, “Harus menanggalkan manusia lama ”..
Dalam konteks ini, baik kata kerja "menanggalkan" maupun "mengenakan" menunjukkan ketika jemaat itu bertobat. Tetapi dalam konteks ini, Rasul Paulus juga memakai kata kerja "dibaharui", yang menunjuk pada proses pembaruan yang sedang kita jalani hari demi hari.

Dalam ayat 22-23, Paulus mengingatkan jemaatnya bahwa mereka telah menanggalkan manusia lama... supaya mereka "dibaharui di dalam roh dan pikiran" mereka. Jadi, tujuan kita ketika kita menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru ialah supaya proses pembaruan roh dan hati kita tidak terhalang, tetapi bisa terus maju. Bukan hanya tindakan kita yang perlu dibaharui, tetapi juga motivasi dan pikiran kita. Dengan demikian, kita mengalami perubahan sejati di dalam Kristus.

Jika kita memahami ajaran Rasul Paulus dalam ayat 22-24, maka akan jelas bagi kita untuk mengetahui alasan mengapa banyak orang Kristen belum berjalan dalam kemerdekaan di dalam Kristus. Padahal, pola yang normal adalah kita menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru pada saat kita percaya kepada Yesus Kristus, sehingga roh dan pikiran kita dibaharui oleh Roh Kudus hari demi hari.

Kenyataan yang ada sekarang adalah banyak orang Kristen belum sungguh-sungguh memenuhi tanggung jawab mereka. Mereka belum menanggalkan manusia lama dan belum pula mengenakan manusia baru. Mereka belum meninggalkan kehidupan mereka yang lama dan belum menyerahkan diri mereka sepenuhnya kepada Tuhan.

Akibat dari ketidaktaatan mereka ialah proses pembaruan dan pengudusan dalam kehidupan mereka yang terhalang. Mereka tetap terpengaruh oleh dunia, keinginan daging, dan iblis, sehingga kehidupan mereka kurang bahagia dan pelayanan mereka seringkali kurang efektif.

Kita harus ingat akan tujuan kita. Jika kita ingin bertumbuh di dalam Kristus hari demi hari, kita harus menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Inilah hal seharusnya ada bagi kita sebagai orang percaya.

Setiap kita datang kepada Yesus harus menanggalkan manusia lama, jika tidak itu berbahaya bagi hidup kekristenan kita. Yang harus ditanggalkan adalah hal-hal yang menghambat berkat Tuhan, menghambat kasih Tuhan, menghambat anugerah Tuhan.

Diantara penghambat itu adalah; ketidak sabaran, ketidak taatan, kesombongan, pikiran duniawi, dan sebagainya, semua tabiat lama itu harus ditanggalkan semua yang dikatakan Paulus dari ayat 25-32.
Setelah ditanggalkan Kenakanlah manusia baru yang diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan. Jangan berkata dusta, tetapi berkatalah jujur dan benar. Kenakanlah manusia baru di dalam Kristus, yaitu kita harus hidup dalam kasih, sukacita, damai sejahtera, sabar, lemah lembut, baik hati, sederhana, berbudi luhur, berpengetahuan, saleh, murah hati, dan penguasaan diri. Dan jika semuanya itu ada pada diri kita, maka nyatalah kemuliaan Allah melalui hidup kita, sehingga kita dapat menjadi berkat bagi semua

4. Ayat 23; Ciri manusia baru yang keempat, “Diperbaharui”.Seorang manusia baru akan diperbaharui di dalam roh dan pikirannya. Hidup Kristen bukan sekedar diperbaiki tetapi diperbaharui atau diubahkan Tuhan. Karena pikirannya diperbaharui Paulus berkata “Aku melupakan apa yang dibelakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang ada di hadapanku.”

Hidup orang Kristen mengalami pembaharuan. Yaitu, dibaharui di dalam roh dan pikiran. Hal itu berlangsung secara terus-menerus di dalam kehidupan orang percaya. Proses ini, bukan proses yang instan, tetapi proses seumur hidup, dan melalui proses jatuh bangun sampai mati. Tidak ada cara instan untuk diproses Tuhan melalui pembaharuan, karena itu memerlukan proses seumur hidup sampai detik kematian kita.

KesimpulanHidup kristen bukan sekedar saya cinta Yesus, kekristenan bukan sekedar identitas diri, Kekristenan bukan sekedar kita percaya Tuhan, tetapi bagaimana menjalani hidup sebagai orang Kristen. oleh karena itu setiap sudah percaya Tuhan kita harus berubah menjadi manusia baru. Dan segalah ciri dan sifat manusia lama kita mutlak harus dikuburkan.

MArilah kita menggalkan sifat manusia lama dalam diri kita. Dan kita mengenakan sifat yang baru yang terus menerus diperbaharui.
Marilah kita menjadi orang Kristen yang tidak seperti ular yang selalu berganti kulit tetapi hati dan sifatnya tidak pernah berubah. Tetapi kita harus kembali memiliki pembaharuan hidup.

Sebagaimana Rasul Paulus katakan dalam Roma 12:2 “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah: Apa yang baik dan berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Amin
Posting Komentar