Selasa, 19 Agustus 2008

kemerdekaan Kristen

Kht DM : Kemerdekaan Kristen

Galatia 5:1-15

Saudara hari ini seluruh bangsa Indonesia merayakan hari kemerdekaan yang ke 63. Selama kurang 350 tahun bangsa Indonesia dijajah oleh bangsa Belanda dan 3,5 thn bgs Jepang. Pada tanggal 17 Agustus 1945 maka di deklarasikan kemerdekaan bangsa Indonesia lewat pidato Presiden pertama, yaitu Ir. Soekarno. Saat itulah bangsa Indonesia mengalami kemerdekaan.

Kemerdekaan sering kita artikan sebagai suatu kondisi dimana kita terbebas dari berbagai penindasan dan tekanan. Dengan kata lain, kemerdekaan adalah kebebasan untuk mengatur diri sendiri tanpa adanya interfensi dan campur tangan pihak lain. Orang merdeka adalah orang yang telah berdaulat sepenuhnya terhadap dirinya sendiri. Sedangkan negara merdeka adalah negara yang memiliki kedaulatan untuk mengatur negaranya sendiri

Pertanyaan yang banyak ditanyakan orang saat ini, apakah benar bangsa Indonesia sudah benar-benar merdeka? Apakah kita sebagai bangsa sudah benar-benar menikmati kemerdekaan yang sudah diproklamasikan 63 tahun yang lalu? Dalam berbagai dialog: ada yang mengatakan bahwa secara De jure Indonesia sudah merdeka tetapi secara Defacto sebenarnya Indonesia belum merdeka? Indonesia masih di jajah, oleh pihak-pihak asing, dari berbagai segi, dari segi ekonomi ekonomi masih tergantung kepada IMF, bahkan sebagian besar bangsa kita adalah orang miskin. BAhkan ada yang mengatakan bahwa kalau dulu kita di jajah oleh bangsa lain, sekarang lebih parah lagi kita di jajah oleh bangsa sendiri. Bagi orang Kristen di Indonesia, belum sepenuhnya kita merdeka karena ada banyak org Kristen yang tidak bebas untuk beribadah, ada banyak tempat ibadah yang ditutup, ada banyak tekanan-tekananan dlsb.

Saudara hari ini kita berbicara tentang kemerdekaan Kristen. Apa yang dimaksud dengan kemerdekaan Kristen; Kemerdekaan Kristen adalah kemerdekaan yang diberikan oleh Tuhan. Dimana kita bebas untuk melakukan apa yang dikehendaki oleh Tuhan didalam hidup kita. Termasuk didalam bebas untuk menyembah dan memuliakan Tuhan.

Yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah apakah kita sudah benar-benar merdeka? Apakah benar-benar telah menikmati hidup sebagai orang yang merdeka dalam Kristus? Apa kita sudah hidup sebagai orang merdeka atau kita masih terus diperbudak oleh dosa?

Rasul Paulus menjelaskan diberbagai suratnya, secara khusus dalam Galatia dan Roma tentang Ciri-ciri orang yang telah dimerdekakan oleh Kristus:

1. Merdeka dari perbudakan dosa

Sdr. Dosa adalah sesuatu yang mengikat dan memperbudak manusia. Ketika manusia telah jatuh dalam dosa, maka dosa itu telah mengikat dan mengakar bahkan telah mencengkram manusia. Bahkan Alkitab mengatakan, bahwa tidak

ada satupun manusia yang tidak berdosa, dan tidak ada satupun manusia yang tidak diperbudak oleh dosa. Kuasa dosa telah membelenggu manusia sejak Adam dan Hawa jatuh didalam dosa. Oleh sebab itu setiap keturunannya memiliki kecendeerungan untuk berbuat dosa.

Rasul Paulus dalam Roma 7:13-26 ia menjelaskan bagaimana kuasa dosa, yang telah membelenggu hidupnya, disatu sisi ia ingin berbuat baik, hidup sesuai hukum taurat, tetapi disisi lain ada daya tarik yang begitu kuat yang terus menerus berusaha menarik dirinya untuk melakukan hal yang jahat. Paulus mengatakan bahwa dalam dirinya ia berusaha untuk melakukan yang baik, tetapi dosa terus menarik dirinya. Ketika ia berusaha untuk melakukan yang baik, yang jahat itu ada padaku. Baca Roma 7:21-24.

Orang yang telah diperbudak oleh dosa, ia akan sulit keluar dari perbudakan dosa, dengan kekuatan dan kemampuan dirinya sendiri ia tidak mampu untuk keluar. Ia membutuhkan anugerah dan kasih sayang dari Tuhan.

Orang yang sudah diperbudak oleh dosa, maka ia seperti ikan yang sudah terjerat dalam jaring, semakin ia berusaha untuk keluar dari dosa, semakin ia akan terlilit. Caranya hanya satu biarlah ada orang yang mengeluarkan dirinya.

Manusia yang telah jatuh dalam dosa telah diperbudak oleh dosa, adalah sesuatu yang sangat mengerikan.

C.H. Spurgeon berkata, “Semua macam perbudakan di dunia ini tidak ada yang lebih mengerikan di bandingkan dengan perbudakan dosa.” Begitu dahsyatkah perbudakan dosa itu? Ia menjelaskan bahwa Perbudakan di dunia hanya menyebabkan penderitaan yang sementara dan paling parah diakhiri dengan kematian. Namun perbudakan dosa menyebabkan Anda menderita di dunia dan sampai Neraka, terbakar dalam api yang tak pernah padam untuk selama-lamanya.

John Newton dulunya adalah seorang penjual budak, namun ia tidak menyadari bahwa dia sendiri sebenarnya adalah budak yang lebih menyedihkan. Ia memperbudak sesamanya, namun ia sendiri adalah budak dosa. Ketika ia berjumpa dengan Kristus, ketika ia mengalami pertobatan, ia sangat mengucap syukur kepada Tuhan yang telah memerdekakannya dari perbudakan dosa. Ketika Roh Tuhan masuk ke dalam hatinya pada saat ia bertobat, pada saat ia dilahirkan kembali, ia memperoleh kemerdekaan dari perbudakan dosa dan kemudian menjadi hamba Tuhan, anak kerajaan Allah. Dia mengarang satu lagu sangat besar anugerah…… Ia mengatakan hanya oleh anugerah Allah ia bisa terbebas dari perbudakan dosa, yang mengikat dirinya,.. dia tahu hanya oleh anugerah saja ia bisa menjadi anak Tuhan. Karena secara manusia tidak mungkin John Newton bisa bertobat dan percaya Tuhan.

Saudara demikian juga dengan kita, hanya oleh anugerah Tuhan saja kita bisa bebas dari perbudakan dosa. Dengan kemampuan kita, kita tidak mungkin bisa bebas dari perbudakan dosa tersebut. Tetapi Yesus dengan kasihnya mengangkat kita dari budak dosa menjadi anak-anak Tuhan.

Saudara sebelum kita percaya Tuhan, kita diperbudak oleh dosa, kita tidak bisa bebas dari dosa. Tetapi ketika kita sudah mengenal Tuhan, telah mengalami kehidupan yang baru bersama Tuhan, kita sudah dimerdekakan oleh Kristus. Yesus telah menebus kita dari perbudakan dosa, melalui pengorbanannya dikayu salib.

Namun satu hal yang sangat menyedihkan, ada orang-orang yang sudah dimerdekakan Tuhan, dari dosa tetapi masih terus dijajah oleh dosa. HIdupnya masih terus didalam dosa. Sudah dimerdekakan Tuhan tetapi masih tetap hidup sebagai budak. Saudara Kita sudah merdeka oleh sebab itu hiduplah sebagai orang merdeka bukan sebagai budak.

Sebagai orang yang telah ditebus Tuhan dari perbudakan dosa, marilah kita datang kepada Tuhan dengan penuh syukur. Dan terus menyadari bahwa hanya oleh anugerah Tuhan kita bisa bebas. Seseorang yang tidak memahami bahwa keselamatan yang diperoleh hanya oleh anugerah Allah, maka ia akan terus hidup diperbudak oleh dosa.

Kepada kita, Paulus menasehati supaya kita jangan mempergunakan kemerdekaan kita itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih (Gal 5:13; 1Pet 2:16

Alangkah memalukan jika kita yang membanggakan iman Kristen kita dan menganggap telah mendapat anugerah yang lebih dari orang lain, tetapi didapati berprilaku lebih buruk daripada orang-orang non-Kristen.

2. Merdeka dari penghukuman dosa

Alkitab berkata, “upah dosa adalah maut” (Roma 6:23), “barangsiapa tidak percaya akan dihukum” (Markus 16:16), namun “kasih karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Roma 6:23), “barang siapa percaya diselamatkan” (Markus 16:16).

Rasul Paulus(Roma 8:1-2). “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut”

Artinya saudara setiap orang yang telah percaya Tuhan, ia telah diselamatkan dari dosa, dan ia menerima keselamatan dari Tuhan. Segala dosa kita tidak perhitungkan Tuhan.

Pengertian Keselamatan Kristus sangat luas tidak sekedar masuk sorga; tetapi suatu kuasa yang memerdekakan kita secara menyeluruh, yang memungkinkan kita untuk hidup berkemenangan dalam semua aspek hidup di dunia ini (Gal 1:4).

Tetapi sayang, dalam kehidupan kita, ada banyak hal buruk yang masih menguasai kita untuk melakukan kehendaknya yang buruk. Kita melihat orang Kristen yang masih dikuasai oleh dendam dan tidak mampu mengampuni; saling menghina; saling membenci; melakukan berbagai kecurangan; menjadi tamak harta dan mengejar kuasa dan keuntungan pribadi; dan menjadi hamba kesenangan. Bahkan Martin Luther, salah seorang tokoh Kristen yang paling penting setelah rasul Paulus, juga tidak lepas dari kesalahan ketika ia menunjukkan sikap yang sangat antipati kepada orang Yahudi.

Kita yang telah dimerdekakan oleh Yesus dari dosa, maut, dan kehidupan yang sia-sia, dimaksudkan untuk mengisi kemerdekaan itu dalam suatu kehidupan yang benar mulia, dan penuh makna .

Saudara kalau kita kembali kepada kemerdekaan suatu bangsa; bangsa yang yg merdeka tentunya tidak berhenti sampai kemerdekaan itu di proklamasikan. Tetapi setelah itu bagaimana mengisi kemerdekaan, bagaimana hidup sebagai orang merdeka. Ini yang gagal dilakukan oleh bangsa kita. Demikian juga dengan orang Kristen telah merdeka didalam Kristus tetapi kehidupannya masih seperti sebelum mengenal Tuhan.

Oleh sebab itu Rasul Paulus mengatakan, memang kamu sudah dipanggil untuk merdeka tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk hidup dalam dosa.”

Kehidupan seperti apakah yang diharapkan Allah dari kita? Allah menginginkan kita memmiliki hidup yang berkelimpahan, yang menghasilkan buah bagi kemuliaan Allah. Tujuan hidup kita bukanlah untuk menjadi pandai atau menjadi kaya atau bahkan menjadi bahagia secara manusia. Tujuan hidup kita adalah untuk menemukan tujuan Allah bagi kita dan menjadikannya sebagai tujuan kita.

Tujuan hidup kita adalah untuk belajar cara-cara mengasihi Allah di atas segala sesuatu dan mengasihi sesama seperti mengasihi diri kita sendiri; dan mencari kerajaan Allah di atas semua yang lain (Mt. 6:33).

Saudara sebagai orang yang telah merdeka atau telah diselamatkan? Bagaimana kita mengisi kemerdekaan itu? Rasul Paulus mengatakan jangan kita mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk hidup dalam dosa, melainkan layanilah seorang dengan yang lain dengan kasih. (gal.5:13b)

Sebagai orang yang telah dimerdekakan oleh Yesus, maka kita sudah menerima anugerah keselamatan dari Yesus, kita tidak lagi dihukum oleh karena dosa kita, tetapi jangan kita menyalahgunakan kemerdekaan yang Tuhan berikan bagi kita didalam hidup terus dalam dosa. Jangan lagi dosa menguasai kita.

3. Merdeka dari perasaan bersalah

“Saya pernah melayani di daerah Bangun sari di Surabaya. Bangun sari adalah lokalisasi terbesar setelah Doli di Surabaya.

Ada banyak mantan-mantan WTS disana yang sudah percaya dan bertobat, dan melalui mereka kami melatih untuk mereka bisa menginjili teman-teman seprofesi mereka. Hal yang sangat sulit bagi mereka setelah mereka percaya Tuhan, adalah melupakan dosa dan rasa bersalah mereka. Mereka mengetahui dengan jelas bahwa ketika sudah percaya Tuhan, bahwa dosa mereka telah diampuni, tetapi rasa bersalah itu terus membayangi mereka. Label sebagai seorang mantan WTS tetap ada didalam pikiran mereka. Mereka selalu memliki pemikiran bahwa dosa mereka begitu besar dan tidak mungkin Tuhan akan mengampuni dosa mereka.

Perasaan bersalah akibat kita melakukan dosa pada masa lalu, adalah suatu perasaan yang tidak mudah akan hilang dari diri kita. Seorang penjahat besar dibuang disatu pulau terpencil di atlantik utara yang tidak berpenduduk, puluhan tahun kemudian ditemukan oleh seseorang mayatnya, disamping mayatnya ada buku catatan hariannya. didalam buku hariannya ia menulis: Dipulau ini aku sangat menderita, aku kesepian, terhilang untuk minum aku harus meminum darah penyu, tetapi ada satu hal yang lebih menyakitkan dari semua penderitaan yang saya alami adalah perasaan bersalah yang terus menghantui diriku.

Sebagai orang Kristen kita bukan hanya diselamatkan atau dibebaskan dari perbudakan dan penghukuman, namun secara positif kita telah diampuni atau dibebaskan dari rasa bersalah” .

Orang Kristen secara positif seharusnya tidak terus menerus hidup dalam perasaan bersalah ketika ia percaya.

Pengampunan dosa yang diberikan oleh Yesus, sanggup menyucikan segala dosa kejahatan kita baik masa sekarang maupun masa lalu. Ada orang-orang percaya Tuhan tetapi masih terus menerus diperhamba oleh iblis, masih terus menerus dihantui oleh rasa bersalah atas dosa masa lalunya.

Akhirnya dalam segenap hidupnya ia tidak merasakan sukacita, tidak dapat bertumbuh secara rohani. Merasa terus dihantui perasaan bersalah. Alkitab mengatakan bahwa ketika percaya Tuhan, maka Tuhan mengampuni segala dosa kita dan ia tidak lagi mengingat-ngingat dosa kita.

Maz. 103:8-12 Allah kita panjang sabar, berlimpah kasih setianya, tidak selamanya ia menuntut , tidak selamanya ia mendendam” Tidak dilakukan kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalasnya setimpal dengan kesalahan kita. “sejauh timur dari Barat, demikian dijauhkan dari pada kita pelanggaran kita” Yesaya 1:18 “sekalipun dosamu merah seperti kirmizi akan menjadi putih seperti salju. Sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba akan menjadi putih seperti salju.

Saudara apakah diantara kita ada yang masih terus dihantui oleh dosa masa lalu; sehingga ketika datang beribadah merasa tidak layak, ketika berdoa merasa tidak pantas, bahkan mungkin membenci diri sendiri oleh kesalahan-kesalahan yang kita perbuat masa lalu? Kalau ada orang seperti itu, itu berarti ia belum merdeka…

Firman Tuhan mengatakan kepada kita hari ini, bahwa kita telah dimerdekakan oleh Kristus melalui pengorbanannya, melalui darahnya yang tercurah dikayu salib untuk menebus dosa kita. Bukan saja dosa saat ini, tetapi juga dosa masa lalu.

Jikalau dianatara kita yang masih merasa bahwa kita terus dihantui oleh bayang-bayang masa lalu, dosa-dosa masa lalu, mari kita datang kepada Tuhan. Memohon agar Tuhan melepaskan kita dari belenggu masa lalu.

4. Merdeka dari perhambaan Hukum Taurat

Saudara bagaimana menggambarkan orang yang diperhamba oleh hukum Taurat? Orang yang diperhamba oleh HT, ia melakukan hal yang baik oleh karena ada hukum yang mengatur atau karena ada hukuman.

“Banyak orang jujur karena takut polisi. Banyak orang tertib karena takut dilihat orang lain. Banyak orang kelihatannya alim karena tetangganya.” Seperti itulah cara hidup orang yang berada di bawah perbudakan hukum Taurat. Mereka melakukan kebaikan atau kegiatan keagamaan mereka oleh karena tuntutan dari hukum, dan bukan kesadaran yang murni keluar dari dalam hatinya yang paling dalam. Bahkan tidak sedikit orang yang menyebut dirinya “Kristen” namun hidup seperti halnya hidup di bawah perbudakan hukum Taurat.

C.H. Spurgeon memberikan gambaran yang jelas tentang hal itu. Ia berkata, “Aku tahu bahwa sebelum aku masuk ke dalam kemerdekaan sebagai anak-anak Allah, jika aku pergi ke rumah Tuhan, aku pergi oleh karena aku berpikir bahwa aku harus melakukannya, jika aku berdoa, itu karena aku takut kemalangan menimpaku ketika aku tidak melakukannya, jika aku pernah mengucap syukur kepada Allah oleh karena kemurahan-Nya, itu karena aku berpikir bahwa aku tidak akan memperolehnya lagi jika aku tidak mengucap syukur; jika aku melakukan perbuatan atau sesuatu yang baik, itu karena berharap Tuhan memberikan hadiah kepadaku pada hari akhir nanti, dan aku akan memperoleh banyak mahkota di sorga”

Apakah seperti itu? Jika itu kita seperti demikian, maka kita belum merdeka. Kita belum dimerdekakan dari perbudakan hukum Taurat. Namun apakah kita seperti apa yang dikatakan oleh Spurgeon selanjutnya?

“Tetapi sekarang, hai orang Kristen, seperti apakah kemerdekaan Anda? Apa yang membuat Anda datang ke rumah Tuhan atau gereja? Kasihlah yang membuat kerelaan hatimu melangkah ke sana. Apa yang membuat Anda berlutut dan berdoa? Itu adalah karena anda seperti berbicara dengan Bapamu di tempat yang tersembunyi. Apa yang menyebabkan Anda membuka dompet Anda dan memberi dengan bebas? Itu karena Anda mengasihi anak-anak Tuhan yang hidup dalam kemiskinan, dan kamu merasa, bahwa Tuhan sudah memberikan banyak kepada Anda, sehingga Anda ingin memberikannya kembali untuk Kristus. Apa yang membuat kamu hidup jujur, hidup benar dan taat pada peraturan? Apakah karena penjara? Bukan; biarpun tidak ada penjara, biarpun semua rantai atau borgol di buang ke laut; kita harus tetap hidup suci sama seperti sekarang ini.”

Itulah arti dimerdekakan dari Taurat. Kita hidup benar bukan oleh karena tuntutan dari sesuatu yang berada di luar diri kita , misalnya hukum, namun kita hidup benar oleh karena hati kita yang sudah diubahkan oleh Tuhan yang senantiasa memancarkan kebaikan, kebenaran dan kesucian.

Orang yang belum dimerdekakan dari perbudakan hukum Taurat mungkin memiliki citra yang baik. Orang melihat dia sebagai orang yang baik, penuh kasih, alim, taat agama dan sebagainya. Namun tanpa kelahiran kembali atau dimerdekakan oleh Roh Tuhan, ia tidak akan memiliki integritas yang sejati.

Thomas Macauley berkata, “Ukuran watak seseorang yang sesungguhnya adalah apa yang akan dilakukannya pada waktu tidak diliha torang lain”

Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Kemerdekaan dalam Kristus adalah kemerdekaan yang tidak sekedar melepaskan kita dari tirani dosa dan kebinasaan, tetapi untuk memulihkan tujuan semula Allah menciptakan kita, yaitu supaya kita hidup dalam kebenaran, kebajikan, dan mencari kerajaan Allah dan kemuliaan-Nya di atas segala sesuatu.

Saudara untuk mencapai hal itu memang perlu proses penaklukan diri, kita meminta Roh kudus mengubah hidup kita, untuk kita bisa hidup terus dalam kebenaran. Dan terus menyadari bahwa kita telah dimerdekakan oleh Kristus. Kiranya Tuhan menolong kita mencapai kemerdekaan kita yang sejati dalam Kristus. Amin

Posting Komentar