Senin, 20 April 2009

Belajar dari Pengalaman Hamba Tuhan

Belajar dari Pengalaman Seorang hamba Tuhan (bagian 1)
(Hamba Tuhan dan Khotbahnya)

Pada bulan Januari saya diberi kesempatan oleh Tuhan berkhotbah di GKPI pusat, pematang Siantar (Sumut). Salah satu gereja suku Batak dalam khotbah saya berbicara bagaimana dampak krisis global terhadap orang percaya. Firman Tuhan diambil dari kisah hidup Yusuf. Setelah berkhotbah saya mendapat salam dari orang-orang para tua-tua (Sintua=Majelis gereja dan orang dihormati dan dituakan) dan juga jemaat. Ada banyak jemaat mengomentari tentang khotbah saya dan cara menyampaikan khotbah.. Bahkan ibu Mertua di telpon dikatakan ”Anakmu hebat, minggu ini aku meminta pdt. Gereja saya untuk meminta anakmu berkhotbah di gereja saya. Didalam hati saya ada suatu kebanggaan, bukan karena dipuji, dihormati atau dihargai. Tetapi ketika jemaat begitu menyambut dengan baik firman Tuhan, maka mengalir suatu sukacita, karena itulah sukacita dan kebahagiaan yang bisa didapatkan oleh seorang hamba Tuhan..

Sebulan setelah peristiwa diatas, setelah saya kembali ketempat pelayanan saya ada jemaat datang dan mengkritik khotbah saya. Khotbahnya tidak berbobot, khotbahnya terlalu praktikal. Akhirnya saya merubah khotbah saya, karena dalam pikiran saya jemaat membutuhkan khotbah-khotbah yang akademis dengan muatan-muatan doktrinal. Setelah saya menyampaikannya ada jemaat yang sms ”pak, khotbahnya terlalu doktrinal, mana mungkin ama-ama (nenek) bisa mengerti, mana mungkin kita bisa memahami.”
Sebagai hamba Tuhan, saya ingin melakukan yang terbaik sesuai dengan keinginan jemaat. Saya berkhotbah tidak terlalu praktis tidak terlalu doktrinal. Aku menunggu ada komentar tidak? Ternyata ada komentar ” Pak khotbah bapak kurang ilustrasi.
Aku pikir apa yang disampaikan oleh jemaat itu ada kebenaran; perlu ada ilustrasi supaya jemaat dapat mengerti dan memahami Firman Tuhan, sebagaimana Tuhan Yesus dalam setiap khotbahnya selalu diikuti dengan perumpamaan dan ilustrasi. Setelah itu saya menunggu apakah ada komentar; ternyata masih ada yang komentar dikatakan khotbah bapak sudah baik, tidak terlalu praktis, tetapi doktrinal, sudah banyak ilustrasi tetapi masih ada satu yang kurang, bapak kalau menyampaikan khotbah terlalu tegang, sehingga tidak pernah melucu. Kalau agak lucu lebih baik, lebih segar dan tidak ngantuk.
Untuk satu hal ini saya tidak bisa terima..saya mengatakan profesiku adalah seorang hamba Tuhan bukan srimulat, aku ditugaskan Tuhan bukan untuk melawak tetapi memberitakan Firman Tuhan.

Sebagai hamba Tuhan terkadang kita serba salah, satu sisi jemaat ingin mendapat dari kita sesuatu yang lebih, sesuatu yang sesuai dengan kehendaknya. Tetapi pertanyaanya, apakah hamba Tuhan dapat memuaskan semua keinginan jemaat? Jawabannya pasti Tidak!. Dan tugas hamba Tuhan bukan untuk memuaskan hati jemaat tetapi menyenangkan hati Tuhan.
Terkadang hamba Tuhan, menghadapi kondisi seperti ini, merasa kecewa putus asa, bahkan menginginkan untuk meninggalkan ladang pelayanan, karena merasa gagal dan tidak mampu memenuhi tuntutan jemaat dan majelis begitu besar sedangkan kapasitasnya terbatas.
Hamba Tuhan sering dilihat sebagai manusia super yang dapat melakukan segala sesuatu, serba bisa dan serba mampu. (Hamba Tuhan juga manusia ) dan kalau tidak bisa, akan muncul suara-suara yang tidak meng-enakan.
Belajar dari dua pengalaman diatas; maka saya berkesimpulan, sebagai hamba Tuhan kita jangan terlalu menginginkan pujian dan penghormatan dari manusia tetapi carilah puji-pujian dari atas (Tuhan) . Biarlah Tuhan yang menguji pekerjaan kita, dan biarlah segala kemuliaan dan hormat kita kembalikan kepada Tuhan
Kedua; kita tidak dapat memuaskan keinginan semua orang, lakukanlah segalah sesuatu dengan segenap hati sebagaimana untuk Tuhan dan bukan untuk manusia dan siap sedialah untuk menyampaikan Firman Tuhan setiap waktu.
Ketiga; Belajar menjadi orang yang rendah hati, siap ditegur, dikritik, bahkan dicela karena Yesus telah lebih dahulu mengalami hal itu. Apa yang kita alami dalam pelayanan tidak sebanding dengan apa yang Tuhan Yesus alami selama di dunia ini.
Posting Komentar