Selasa, 28 April 2009

Belajar dari pengalaman hamba Tuhan (bagian 2)

BELAJAR DARI SEORANG HAMBA TUHAN (bagian 2)
(Hamba Tuhan dan Pelayanannya)

Setiap profesi yang kita tekuni pasti ada suka dan duka. Tidak satupun pekerjaan yang tidak menuntut kita untuk menghadapi kerikil-kerikil tajam. Demikian juga profesi seorang hamba Tuhan. Penulis secara fulltime melayani Tuhan baru sekitar 9 tahun, tetapi 9 tahun sudah begitu banyak hal yang Tuhan izinkan terjadi dan harus dialami.
Semakin banyak hal yang dialami semakin diperkaya dengan pengalaman bahkan semakin bertambah hikmat dan kekuatan yang Tuhan berikan untuk dapat bertahan menghadapi tantangan dalam pelayanan.

Ada orang mengumpamakan seorang hamba Tuhan dengan sebuah ikan di akuarium. Begitu indahnya ikan diakuarium sehingga begitu banyak orang memandang. Orang bisa memandang ikan didalam akuarium dari berbagai sudut, bisa dari atas, sisi kiri, sisi kanan, depan dan belakang. Semua begitu transparan, tidak ada satu sudutpun yang tersembunyi. Oleh karena begitu transparannya seorang hamba Tuhan, maka setiap orang bisa melihat dan bisa menilai. Semua orang bisa memuji dan juga bisa menyalahkan, bahkan menghina.

Ada orang mengumpamakan seorang hamba Tuhan dengan tong sampah. Semua barang bisa masuk di tong sampah, apakah barang yang baik atau buruk, apakah barang yang harum maupun barang yang busuk, semua diterima. Tong sampah tidak pernah mengatakan aku hanya mau menerima barang-barang yang baik, dan tidak mau menerima barang yang tidak baik. Tidak...semua diterima dengan sukacita.

Ada orang mengumpamakan hamba Tuhan dengan superman. Superman adalah seorang manusia super dan serba bisa dalam menghadapi berbagai hal, dan melakukan berbagai hal. Saya pernah melihat seorang hamba Tuhan yang ”diperlakukan” seperti superman sehingga menjadi hamba Tuhan superman. Dia adalah seorang supir yang baik, seorang penghotbah yang baik, seorang konselor yang baik, seorang pekerja sosial yang baik, dan seorang dokter. Setiap minggu ia melakukan tugas rangkap ini dengan baik. Minggu pagi dia sudah keliling kota untuk menjemput anak Sekolah minggu, selesai sekolah minggu dia mengantar anak sekolah minggu pulang. Setelah itu dia mulai menjemput orang dewasa untuk ibadah umum, sebelum naik mimbar dia main musik, setelah itu berkhotbah, antar pulang jemaat, setelah itu konseling jemaat. Tidak heran jemaat begitu senang dengan hamba Tuhan terasebut.

Ketika seorang hamba Tuhan seperti seekor ikan disebuah akuarium dan orang menilai dari berbagai sudut. Penilaian bisa negatif dan positif..pertanyaannya pantas tidak seorang hamba Tuhan diperlakukan seperti demikian? Jawabannya ya...ia harus selalu nampak indah dan transparan dalam segala hal. Tetapi bukan semata-mata untuk menyenangkan manusia yang melihatnya tetapi kepada Allah yang menjadi tuannya. Ia harus mendapat penilaian tetapi bukan berdasarkan penilaian manusia yang bersifat subyektif tetapi dari Tuhan ia layani yang obyektif.

Ketika seorang hamba Tuhan diumpamakan seperti tong sampah...pantaskah dia seperti itu? Jawabannya ya.. Setiap hamba Tuhan harus menjadi satu wadah yang dapat mengisi dan menerima segala hal. Apakah hal baik maupun yang buruk, suka maupun duka. Sebuah tong sampah harus tetap menjadi sebuah tong sampah. Walaupun yang diisi itu emas atau bangkai sekalipun ia tetap sebagai tong. Ia tidak boleh berubah oleh karena apa isinya. Demikian pula dengan seorang hamba Tuhan, kita tidak boleh tawar hati ketika yang kita hadapi hal-hal yang tidak mengenakan, apalagi sampai mengganti identitas kita atau lari dari panggilan kita. Demikian pula seorang hamba Tuhan ketika banyak menghadapi hal-hal yang indah dan baik, jangan lupa diri dan tinggi hati karena kita tidak lebih dari seorang hamba.

Ketika seorang hamba Tuhan menjadi seperti superman..pantaskah dia melakukan seperti itu? Jawabanya bisa ya bisa tidak .. Karena hamba Tuhan harus melakukan yang terbaik dan jikalau kondisi pelayanan menuntut seperti itu, mau tidak mau hamba Tuhan harus menjadi superman . Hamba Tuhan tidak perlu menjadi superman jikalau ada jemaat ada SDM yang dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang seharusnya tidak perlu dikerjakan oleh hamba Tuhan. Misalnya menjadi supir antar jemput. Hamba Tuhan sebaiknya hanya mengerjakan tugas-tugas pelayanan sebagai gembala, sebagai imam dan nabi.
Apa yang dipaparkan diatas adalah suatu realita yang sering terjadi dan dialami oleh seorang hamba Tuhan. Hamba Tuhan adalah seorang yang dihormati ketika dirasakan pantas dihormati, hamba Tuhan dihargai ketika dirasakan bahwa dia pantas dihargai. Hamba Tuhan harus berusaha untuk melakukan segala sesuatu yang diharapkan. Jikalau ia dapat melakukan semuanya itu, ia dipuji, disanjung tetapi jikalau dia tidak dapat melakukan semuanya itu terkadang mendapat hal yang sebaliknya.

Kesimpulan: Hamba Tuhan juga manusia yang punya keterbatasan dan kekurangan. Lakukanlah segala sesuatu sesuai dengan talenta dan kemampuan yang diberikan Tuhan bagi kita.
Sekecil apapun yang kita lakukan pasti dihargai oleh Allah. Manusia bisa saja tidak menghargai kita, tetapi Allah tetap akan menghargai segala jerih payah kita dan jerih payah kita pasti tidak akan sia-sia. Amin
Posting Komentar