Kamis, 07 Januari 2010

IMLEK DALAM PERSPEKTIF IMAN KRISTEN

IMLEK DALAM PERSPEKTIF IMAN KRISTEN

Kalau ditanya siapa yang sangat berjasa terhadap eksistensi orang Tionghoa di Indonesia? Orang Tionghoa akan serempak menyebut mantan presiden Indonesia Abdurahman Wahid (Gus Dur). Gus Dur adalah satu figure presiden yang demokratis, nasionalis dan juga menjunjung tinggi ke-pluralistis-nya bangsa indonesia.

Orang keturunan tionghoa selama puluhan tahun, terkekang oleh rezim orde baru, tidak dapat secara bebas untuk mengekspresikan keberadaan mereka sebagai anak bangsa yang memiliki budaya, dan keunikan kulturnya. Sejarah mencatat bahwa keberadaan orang tionghoa di Indonesia sudah ada sejak beberapa abad silam. Itu berarti bahwa orang tinghoa di Indonesia bukanlah orang cina, mereka adalah orang Indonesia yang lahir di Indonesia. Bahkan secara jujur diakui bahwa kontribusi orang tionghoa untuk perkembangan dan pembangunan bangsa sangat luar biasa. Dari segi perekonomian, prestasi olahraga dan masih banyak hal yang lain.

Hari ini orang tionghoa bisa bernafas legah,, karena pemerintah secara hukum sudah mengakui mereka sebagai bagian dari bangsa Indonesia, sehingga dalam beberapa tahun ini mereka bisa merayakan imlek, cap gomeh dan perayaan-perayaan tradisional lainnya.

Secara yuridis keberadaan orang tionghoa dan segala budayanya telah diakui oleh Negara. Tetapi pertanyaan sekarang, bagaimana kekristenan memandang budaya tionghoa dalam perspektif iman Kristen? Bagaimana orang tionghoa Kristen dengan budayanya.

Banyak gereja-gereja dengan tegas tidak memperbolehkan orang Kristen tionghoa merayakan imlek, alasannya tidak sesuai dengan firman Tuhan. Ada gereja yang tidak tegas melarang atau membolehkan. Ada gereja yang membolehkan dengan alasan-alasan kontekstual yang pada dasarnya tidak bertentangan dengan Firman Tuhan.

Salah satu gereja yang membolehkan perayaan imlek bagi anggotanya adalah GKKB jemaat Pontianak. Gereja ini adalah gereja tionghoa dengan anggota lebih dari 2000 orang. Dan 99,5 % adalah orang tionghoa. Gereja memfasilitasi dengan merayakan ibadah imlek di gereja dan perayaan imlek disalah satu restoran di kota Pontianak. Bahkan digereja dihiasi dengan hiasan yang bernuansa imlek.

Ada beberapa alasan mengapa orang Kristen boleh merayakan perayaan IMLEK :

1. Alasan budaya dan tradisi: Imlek bukan suatu perayaan keagamaan tetapi tidak lebih sebagai satu tradisi nenek moyang untuk merayakan pergantian tahun menurut kalender cina (musim gugur ke musim semi)
2. Ada banyak hal positif yang dapat dimaknai dari perayaan imlek; Misalnya : Imlek adalah waktu untuk berkumpul dengan keluarga, waktu untuk mempererat hubungan kekeluargaan, waktu untuk mengucapsyukur akan berkat Tuhan.
3. Merayakan imlek tidak bertentangan dengan Alkitab; dalam Alkitab banyak perayaan-perayaan tradisi orang Yahudi yang tetap dirayakan, misalnya: Pondok daun, hari raya panen, paskah (keluarnya bangsa Israel dari tanah Mesir) dlsb.

Berdasarkan alasan diatas, maka tidak alasan yang tepat bagi orang Kristen tionghoa untuk tidak merayakan tahun baru imlek. Walaupun ada tradisi pada saat imlek yang tidak boleh dilakukan oleh orang Kristen; misalnya judi dilegalkan dengan alasan tradisi, pergi keklenteng untuk mempersembahkan sesuatu untuk dewa langit sebagai ucapan syukur dan juga pergi kekuburan. Bagi orang Kristen tionghoa mengucapsyukur bukan kepada dewa langit lagi, tetapi kepada Tuhan Yesus yang adalah sumber berkat dan damai sejahtera, tidak lagi ke klenteng untuk berdoa dan mempersembahkan sesuatu tetapi ke gereja. (Ev. Beni S. Regoh)
Cat: artikel ini telah terbit di tabloid Gloria 2007)
Posting Komentar