Sabtu, 03 Desember 2011

EVALUASI TERHADAP DEKONSTRUKSI KONSEP KRISTOLOGI PLURALISME JOHN HICK PENDAHULUAN 
By. Beni Regoh

Kemajemukan agama dan keunikan agama adalah suatu realitas yang tidak dapat dipungkiri oleh setiap masyarakat di dalam dunia ini, termasuk di Indonesia. Sejalan dengan kemajemukan agama yang ada, maka perlu adanya sikap untuk menghormati, menghargai keyakinan setiap pemeluk agama yang ada. Hal ini yang sangat digaungkan oleh kaum pluralis, mereka menekankan akan pentingnya toleransi dan sikap menghargai akan kemajemukan agama. Bahkan mereka menganggap bahwa semua agama membawa orang-orang kepada suatu realitas ilahi menjadi pilihan menarik karena dianggap lebih demokratis dan toleran. Sikap menghormati, menghargai atau toleransi sesuatu yang penting dalam kemajemukan agama di dunia ini.Namun akan menjadi persoalan serius ketika sikap toleransi yang semula berada dalam ranah etika dan moral, diarahkan kepada hal-hal yang esensi yaitu ranah iman dan keyakinan (doktrinal). Hal ini yang dilakukan oleh salah satu tokoh pluralis, John Hick. Hick sangat menekankan masalah toleransi/dialog dengan agama-agama lain. Demi untuk mencapai tujuannya ia mengorbankan satu hal yang sangat esensi dalam keyakinan iman Kristen ortodoks yang berhubungan dengan kristologi. Dalam makalah ini, penulis akan menyoroti pandangan John Hick, secara khusus mengenai konsep kristologinya. Mengapa penulis menyoroti konsep Kristologinya? Karena sebenarnya akar persoalan dalam teologi Kristen lebih banyak berhubungan dengan Kristologi. Adapun, pembahasan dalam makalah ini, pertama; penulis akan membahas sekilas latar belakang kehidupan John Hick. Kedua, konsep-konsep Kristologinya, dan ketiga, penulis akan mencoba mengevaluasi akan konsep kristologinya.

 LATAR BELAKANG KEHIDUPAN JOHN HICK

 John Harwood Hick lahir pada bulan Januari 1922. Hick adalah seorang anak tengah, kakaknya Pentland menjadi seorang pengusaha dan adiknya Shirley memiliki karir yang sukses dalam pekerjaan sosial. Hick dibesarkan di sebuah keluarga kelas menengah yang bekerja di Scarborough. John Hick ini dapat dikatakan sebagai salah satu filsuf paling penting dan berpengaruh diparuh kedua abad kedua puluh. Sebagai seorang filsuf Inggris dalam tradisi anglo-analitik, Hick telah melakukan banyak terobosan dalam epistemologi agama, teologi filosofis, dan pluralisme agama. Pada saat menjadi mahasiswa hukum, Hick mengalami pengalaman religius yang kuat yang membuatnya untuk menerima kekristenan injili dan akhirnya mengubah arah karirnya kepada teologi dan filsafat. Pengalaman ini tidak hanya mengubah hidupnya tetapi juga berpengaruh penting dalam pandangan filosofisnya. Pada awal karirnya, Hick berpendapat bahwa iman Kristen tidak didasarkan pada bukti proposisional melainkan pada pengalaman religius. Demikian ia membela iman Kristen terhadap evidentialist yang mengkritik terhadap positif logis yang sangat dominan pada waktu itu. Dalam waktu yang bersamaan Hick juga mengembangkan Irenaean nya "soul – making " teodisi di mana ia berpendapat bahwa Allah mengijinkan kejahatan dan penderitaan di dunia dalam rangka untuk mengembangkan manusia menjadi makhluk yang saleh dan mampu mengikuti kehendak-Nya. Pada akhir 1960-an, ketika ia bekerja pada isu-isu hak-hak sipil di Birmingham, ia menemukan dirinya bekerja dan menyembah bersama orang dari agama lain. Hick kemudian menjadi sangat terlibat dengan kelompok Faith “Semua untuk Satu Ras”, yang bekerja pada isu hak-hak sipil di Birmingham. Dia juga mulai mempelajari agama-agama Timur, pergi ke India untuk belajar Hindu, Sikh Punjabu dan pergi ke Sri Lanka untuk belajar Buddhisme. Buah dari penelitian ini ditulis dalam satu buku, Death and Eternal Life. Dalam bukunya ini, ia membahas konsep-konsep Timur dan Barat mengenai kehidupan setelah mati dan mengembangkan hipotesisnya itu dengan menggabungkan unsur-unsur dari tradisi-tradisi Timur dan Barat. Sejak itu, ia mulai percaya bahwa penganut agama lain juga memiliki pengalaman Transenden, sebagaimana orang Kristen, meskipun dengan cara yang berbeda karena faktor budaya, sejarah, dan doktrin. Pengalaman-pengalaman ini menyebabkan dia mengembangkan hipotesis pluralistis. Selain itu, Ia adalah seorang yang sangat dipengaruhi oleh filsafat Immanuel Kant, secara khusus mengenai konsep fenomenal / noumenal. Dengan pertimbangan pluralistiknya, Hick kemudian menyesuaikan posisi teologianya. Ia mengembangkan interpretasi doktrin Kristen, seperti inkarnasi, penebusan, dan tritunggal, bukan sebagai klaim metafisik tapi sebagai metafora atau mitologis.

 KONSEP-KONSEP KRISTOLOGI JOHN HICK 

 A. Konsep Kristologi Yang Theosentris

 Konsep kristologi John Hick sangat dipengaruh oleh konsep teologi propernya (doktrin Allah). Dalam menawarkan akan pluralisme, ia menawarkan pendekatan teosentris sebagai reaksi terhadap pendekatan kristosentris. John Hick menolak pendekatan “kristosentris” terhadap agama-agama lain karena menurutnya, pendekatan ini tidak sesuai lagi dengan konteks pada jaman ini lagi. Ia mengusulkan pendekatan “Teosentris” dimana Allah juga menjadi pusat dari agama-agama yang lain. Hick sangat dipengaruhi oleh konsep Karl Rahner dengan konsepnya “Anonymous Christian”. Oleh karena itu ia menolak pernyataan bahwa Kristus adalah satu-satunya jalan, kebenaran dan hidup (Yoh 14:3). Hal ini didasari oleh pandanganya bahwa pendekatan kristosentris merupakan suatu sumber konflik bagi agama-agama lain. Menurutnya, pendekatan kristosentris adalah sesuatu yang sangat resisten terhadap agama-agama lain, oleh sebab itu ia menawarkan pendekatan teosentris, yang lebih dapat diterima oleh berbagai golongan agama di dunia. Bagi Hick, apa yang tercatat di dalam Injil lebih bersifat mitos atau legenda termasuk juga tentang pribadi dan karya Yesus. Hick berani menyerukan agar setiap orang Kristen untuk membuka diri untuk mencari pengertian yang baru tentang Yesus di dalam sejarah dan di dalam konteks sekarang. Ia percaya bahwa model theosentris berisi harapan terbesar bagi dialog antar agama di masa depan dan bagi evolusi yang terus dilanjutkan atas makna Yesus Kristus bagi dunia ini. Ia mengatakan bahwa : “Keunikan Yesus bukanlah sebagai kebenaran yang total, definitif, tidak tertandingi, tetapi Dia membawa a universal, decisive, indispensable truth.” John Hick membangun teologi yang theosentris untuk mendukung pemahaman dan penyembahannya yang berpusat pada Allah yang memungkinkan suatu dialog antar agama yang lebih baik. Ia berpendapat bahwa hal ini sepenuhnya untuk mempertahankan kekhasan Kristen. 

 B. Konsep Inkarnasi Yesus

    Pemahaman ortodoksi Kristen, mengenai inkarnasi adalah sesuatu yang sangat penting dalam ranah ortodoksi iman Kristen yang dipegang oleh orang Kristen sampai saat ini. Pemahaman ini tidak sekedar sesuatu yang dipercaya atau diyakini secara turun temurun, atau tradisi orang percaya, tetapi sesuatu yang berpijak dari Alkitab sebagai sumber kebenaran yang absolut. Hal ini diteguhkan didalam konsili Nicea (325 ) dan Chalcedon (451). Keputusan dua konsili tersebut merupakan suatu jawaban terhadap berbagai pandangan, dan keraguan yang beredar pada masa itu mengenai dua natur Kristus (Ke-Ilahi-an dan Kemanusiaan). Pemahaman ini kemudian ditunggangbalikan oleh tokoh-tokoh zaman pencerahan dan teolog liberal, selanjutnya pemahaman ini diikuti dan dicetuskan kembali oleh seorang tokoh post moderen (pluralisme) John Hick. Dalam bukunya The Myth of God Incarnate, dia menyatakan bahwa inkarnasi adalah suatu mitos. Dalam perkembangan selanjutnya ia menjelaskan bahwa untuk menjelaskan mengenai inkarnasi dalam Alkitab harus dipahami sebagai metaphor. Mengapa dia beralih dari pandangan inkarnasi sebagai mitos menjadi inkarnasi metaphor? Inkarnasi yang metaforis ini dimunculkan oleh Hick untuk membuktikan bahwa konsep inkarnasi kaum eksklusif (Kristen) adalah tidak rasional dan harus ditinggalkan. Menurut Hick, Yesus merupakan satu-satunya penghubung antara Tuhan dan manusia. Oleh karena itu, orang-orang Kristen tidak meninggalkan keyakinan mengenai inkarnasi dan Yesus sebagai anak Allah. Dalam pernyataan ini dapat dilihat adanya unsur puitis, simbolis dan metafora. Pernyataan bahwa Yesus adalah anak Allah menunjukkan sikap, perasaan, dan keyakinan. Pernyataan ini lahir karena orang-orang Kristen sudah merasakan Allah berbicara kepada mereka, menyentuh mereka, memberi inspirasi kepada mereka melalui Yesus. Untuk memahami Yesus sebagai anak Allah dalam bahasa simbolis, Hick menyarankan agar menggunakan kristologi Roh. Di dalam Kristologi Roh, Yesus dikenal sebagai ilahi bukan karena Allah secara harafiah turun dari surga dan secara harafiah juga “menghamili” ibu Yesus, tetapi karena Yesus memang dipenuhi Roh yang diberikan kepada semua orang dan memberi respon total terhadap roh itu. Hick meringkaskan pemahamannya mengenai keunikan Yesus dalam bahasa Latin. Menurutnya sesama umat Kristen dan agama lain harus menyaksikan bahwa Yesus adalah totus Deus - Tuhan seutuhnya. Namun mereka tidak bisa beranggapan bahwa Ia adalah totum Dei - Tuhan keseluruhan. Siapa Yesus itu, semua yang dilakukan dan yang dikatakan, diperoleh dari, dan dinyatakan oleh Roh Ilahi. Namun, siapa Roh Ilahi itu dan apa yang dilakukan tidak hanya terbatas pada Yesus, atau kepada inkarnasi Ilahi Yesus menjadi manusia. Ada beberapa cara pendekatan Hick mengenai inkarnasi Yesus, pertama menurutnya, bahwa untuk memahami akan inkarnasi harus dipahami sebagai mitos, karena Yesus sebenarnya tidak pernah menyatakan dirinya dan mengajarkan bahwa Dia adalah Allah, sebagaimana diajarkan oleh gereja. Lebih lanjut dikatakan bahwa Yesus sebenarnya tidak pernah mengemukakan bahwa Dia adalah Allah sebagaimana dipahami oleh orang-orang Kristen (Ortodoks) . Menurutnya, inkarnasi Yesus harus dipahami sebagai metafora dari pada secara literal. Dalam salah satu esai Hick yang paling penting dan kontroversial, "Yesus dan Agama-Agama Dunia," Hick mengatakan bahwa perlu adanya reinterpretasi keilahian Yesus dalam terang kritik biblika moderen dan kesadaran bahwa kita tumbuh didalam keragaman agama yang ada di dunia ini. Selanjutnya Hick mengatakan bahwa keputusan Nicea mengenai Allah yang berinkarnasi didalam diri Yesus Kristus, hanyalah salah satu cara konseptualisasi ketuhanan Yesus, suatu cara yang diwarisi oleh budaya kalangan Yunani -Romawi. Oleh sebab itu dalam rangka oikumenisme dunia seharusnya orang Kristen menyadari bahwa pandangan tersebut tidak lebih dari suatu karakter mitologi dari bahasa tradisional. Menurutnya, kemungkinan yang paling tepat untuk memahami akan inkarnasi di dalam hidup Yesus Kristus adalah secara mitologi. Hal ini merupakan indikasi terbukanya suatu yang luar biasa . Sesuatu yang membuka kehadiran keilahian didalam kebaikan kehidupan dan pengajaran Yesus yang menjadi pengantara realita dan kasih Allah kepada seluruh umat manusia diberbagai negara. Lebih lanjut dikatakan, bahwa inkarnasi Yesus tidak bisa di klaim sebagai sesuatu yang bersifat metafisis mengenai Yesus yang memiliki dua natur, melainkan suatu pernyataan yang bersifat metafora yang menyatakan signifikansi dari kehidupan Yesus dimana Allah bertindak diatas dunia ini. Selanjutnya, Hick memberikan tiga alasan utama untuk menolak konsep tradisional atau eksklusif mengenai inkarnasi, sekaligus menegaskan konsep inkarnasinya yang metaforis sebagai berikut: 1. Hick menyimpulkan bahwa jika Yesus adalah Allah pencipta yang kekal menjadi manusia, maka itu menjadi sangat sulit untuk memandang Yesus sebagai fenomena yang sederajat dengan tradisi-tradisi agama lain. Oleh sebab itu, Hick mengutip Helmut Koester mengenai inkarnasi Yesus sebagai salah satu dari sekian banyak inkarnasi dalam dunia Romawi, dimana Allah tidak melulu dipahami sebagai Allah yang mengambil rupa manusia, dengan demikian ia meragukan inkarnasi ekslusif. 2. Yesus adalah Allah yang berinkarnasi secara literal adalah tidak benar. Karena tidak memiliki arti literal, maka Ia tidak lebih dari suatu konsep mistis , berfungsi sebagai analogi dari anggapan mengenai keilahian Anak. Yesus memang adalah Anak Allah namun itu adalah konsep mistis. Karena itu, bagi Hick inkarnasi tidaklah bergantung pada terminologi “Anak Allah” , baginya inkarnasi adalah sesuatu bersifat misterius. 3. Hick dengan dukungan yang sangat kuat dari para ahli Perjanjian Baru yang liberal, ia berpendapat bahwa inkarnasi merupakan perkembangan pemikiran gereja mula-mula, sedangkan Yesus sendiri tidak pernah berfikir bahwa diri-Nya akan menempuh cara yang demikian. Jadi sebutan Anak Allah, Mesias menjadi Allah Anak, yang berakhir pada rumusan Tritunggal, merupakan sebutan dan rumusan dari perkembangan pemikiran gereja.

C. Dua Natur Yesus Keilahian (Divinitas) dan Kemanusian (Humanity) 

 Menurut Hick, pengajaran mengenai dua natur Yesus sebagai manusia sepenuhnya dan sepenuhnya ilahi adalah suatu kesalahan dalam penafsiran. Setidaknya ada tiga kesalahan. Pertama, salah membaca maksud asli dari judul puisi ilahi Yesus, transposing "anak sebagai metaforis Allah untuk Tuhan metafisik" . Kedua, Hick berpendapat bahwa pandangan dua-kodrat itu sendiri sangat sulit untuk dipahami. Dalam sebuah kutipan terkenal, ia menyatakan, "Untuk mengatakan, bahwa Yesus historis yang berasal dari Nazaret adalah Allah adalah sesuatu yang sulit dipahami sesuatu yang tidak ada makna. Akhirnya, ia berpendapat bahwa pemahaman harfiah Yesus sebagai Anak Allah adalah suatu pandangan yang sempit dari kehidupan religius eksklusif dalam tradisi Kristen. Sebaliknya, dengan memahami bahasa Kristologis sebagai mitologi, ia dapat menegaskan bahwa Logos Allah bekerja dalam pribadi Yesus dari Nazaret sebagaimana telah bekerja "dalam berbagai cara di India, Semit, Cina, Afrika dan lain-lain" . Hick percaya bahwa dengan pemahaman seperti ini tidak akan mengurangi akan eksistensi Yesus tetapi justeru akan meningkatkan pentingnya keberadaan Yesus dalam kehidupan keagamaan global. Selanjutnya, Hick menjelaskan mengenai pandangannya mengenai dua natur Kristus. Pertama, dikatakan bahwa Yesus tidak pernah menyatakan diri-Nya adalah Allah. Bahkan penjelasan mengenai Yesus sebagai Mesias (Kristus) adalah suatu yang sangat ambiguitas. Istilah Christos (Yunani) dan messiah yang berarti diurapi, lebih berhubungan dengan arti khusus seorang Raja dan tidak ada konotasi bersifat Ilahi. Dikatakan bahwa ayat-ayat (Mark. 12:2-6; Mat. 21:33-41; Luk.20:9-18) yang diklaim oleh Kristen ortodoks mengenai keilahian Kristus tidak lebih hanya secara inplisit dan sebenarnya ayat-ayat tersebut bersifat ambigu. Selanjutnya dengan tegas dikatakan bahwa ide mengenai Keilahian Yesus adalah ide yang dibuat oleh manusia karena teologia adalah ciptaan manusia. Menurut pemahamannya bahwa Yesus memiliki hubungan yang intim dengan Allah. Oleh sebab itu, Ia memiliki otoritas rohani yang menakjubkan, yang mencakup kemampuan mengampuni dosa, menyembuhkan berbagai penyakit dan berbicara atas nama Allah. Gelar kehormatan sebagai Mesias, Tuhan, Anak Allah adalah suatu yang diberikan oleh pengikut-pengikut-Nya. Gambaran puisi yang diucapkan oleh Yesus tidak lebih dari suatu yang bermakna simbolik, atau metafora bukan pernyataan yang bersifat metafisis. Keilahian dan kemanusiaan Yesus diformalkan dalam koncili Nicea dan Chalcedon. Oleh sebab itu, ia berkesimpulan bahwa cara yang paling tepat dan memungkinkan untuk menjelaskan akan dua natur Kristus secara memuaskan tidak cara lain selain dengan ide metaphora. D. Konsep Keselamatan Selanjutnya penulis akan membahas sekilas mengenai konsep keselamatan yang ditawarkan Hick, sebagai jalan keluar untuk memuluskan tujuannya, untuk mengajarkan kristologi baru yang kontekstual dan universal. Untuk menemukan kristologi yang baru, maka mau tidak mau dia harus menolak pandangan Kristen mengenai keunikan, keabsolutan, dan finalitas Kristus sebagai satu-satunya jalan keselamatan. Menurut Hick, keselamatan tidak bersifat eksklusif di dalam Kristus, keselamatan bisa ditemukan didalam agama-agama lain. Hick dalam hal ini sangat dipengaruhi oleh konsep Karl Rahner dengan konsepnya “Anonymous Christian“. Oleh karena itu ia menolak peryataan bahwa Kristus adalah satu-satunya jalan, kebenaran dan hidup (Yoh 14:3) Bagi Hick keselamatan manusia tidak memerlukan perantara seperti Yesus dan juga tidak perlu pengampunan dari Yesus. Karena Yesus hanya manusia biasa yang mau membawa manusia untuk memohon pengampunan kepada Bapa. Pendapat Hick ini didukung oleh pandangannya tentang Doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus dimana kita diminta untuk meminta pengampunan kepada Bapa dan juga tentang perumpamaan anak yang hilang, dimana pengampunan tidak memerlukan perantara. Bagi Hick semuanya menjelaskan bahwa pusat dari kekristenan dan keselamatan adalah Bapa dan bukan Kristus. Pandangan mengenai keselamatan menurut Hick dan juga tokoh-tokoh pluralis, bahwa semua manusia diselamatkan oleh anugerah Allah. Anugerah Allah tidak mungkin menyediakan neraka bagi manusia. Karena semua agama telah memiliki jalan keselamatan masing-masing. Semua agama adalah jalan menuju kepada Realitas Tertinggi, dengan caranya masing-masing. Oleh sebab itu dapat disimpulkan bahwa Yesus bukanlah jalan satu-satunya untuk memperoleh keselamatan. 

 EVALUASI TERHADAP KRISTOLOGI JOHN HICK

 Dalam mengevaluasi akan kristologi John Hick, maka penulis berpijak dari iman yang mempercayai bahwa Alkitab adalah firman Tuhan (kanonikal) yang diinspirasikan oleh Roh Kudus dan yang berotoritas. Mengapa harus berpijak dari Alkitab kanonikal karena Hick membangun teologinya yang berseberangan dengan Kristologi tradisional. Dapat dikatakan bahwa Hick membangun teologinya berdasarkan teologi liberal dan tidak sesuai dengan prinsip-prinsip hermeneutika. Konsep Kristologi yang Theosentris Konsep Kristologi yang Theosentris yang diusung oleh Hick, sekilas dilihat dari sisi kontekstualisasi dan dialog dengan agama lain adalah sangat baik. Namun ketika diselidiki lebih dalam maka dapat disimpulkan bahwa konsep ini adalah konsep yang sangat bertentangan dengan ajaran Alkitab. Model kristologi theosentris yang diusung Hick, adalah suatu yang sangat kontradiksi dengan apa yang diajarkan oleh Alkitab. Pandangan ini mengakibatkan keterbukaan yang makin terbentang melintasi batas, dan semakin menimbulkan suatu pergeseran paradigma yang menjauhi normativitas atau absolutisme Kristus. Teologi yang theosentris adalah pemahaman yang mendukung akan penyembahan yang berpusat pada Allah yang memungkinkan suatu dialog antar agama yang lebih baik. Menurut penulis, keunikan, kekhasan dan ekskulisifitas Kristen adalah suatu hal yang tidak tidak dapat dikompromi dengan alasan apapun. Karena sebenarnya tidak ada satu agama di dunia ini yang tidak ekslusif , bahkan dapat dikatakan bahwa tidak semua agama yang dapat menerima teologi yang theosentris . Sebagaimana dikatakan oleh Coward, teologi theosentris juga masih merupakan hambatan bagi agama Budha yang tidak mengenal istilah Allah. Hick mengadakan pendekatan ini, dengan tujuan untuk membangun dialog dengan agama lain. Kalau tujuannya hanya untuk membangun dialog dan toleransi (ranah moral dan etika) maka sangat picik dan sempit jikalau dia mengkompromikan satu doktrin yang sudah dipegang sebelumnya yang adalah suatu kebenaran yang absolut. Seharusnya ia menekankan theosentris tetapi tidak mengabaikan sisi kristosentris. Sebagaimana di katakan didalam Ef. 5:5 bahwa ”Kerajaan Allah adalah pada saat yang sama juga merupakan kerajaan Kristus.” Yesus Kristus berbicara tentang Allah Bapa sebagai pusat alam semesta, bukan berarti bahwa Bapa adalah pusat seluruh alam semesta sedangkan Yesus tidak. Melainkan Yesus mengajarkan bahwa kerajaan Bapa-Nya juga merupakan kerajaan-Nya. Jadi pusat segala sesuatu yang ada di dalam dunia yang diciptakan oleh Allah Bapa maupun juga Tuhan Yesus. B. Inkarnasi Yesus (Keilahian dan Kemanusiaan Yesus) Salah satu alasan, mengapa Hick menolak Inkarnasi Yesus adalah karena Alkitab tidak secara ekspilist menjelaskan akan keilahian Yesus, bahkan ada beberapa ayat yang seakan-akan menjelaskan akan ke Ilahian Yesus namun itupun bersifat ambiguitas. Menurutnya doktrin keilahian Yesus tidak lebih dari hasil formulasi manusia, secara khusus dirumuskan dalam konsili Chalcedon atau dapat dikatakan adalah ciptaan manusia. Memang benar bahwa Yesus tidak secara eksplisit menyatakan bahwa dia Allah dan Mesias tetapi di beberapa bagian Alkitab sinoptik menjelaskan bahwa Yesus menyadari benar bahwa dia adalah Allah dan juga manusia. Hal ini jelas seperti dikatakan oleh Johnson: Tahukah Yesus bahwa diri-Nya adalah Allah, ya atau tidak?...jawabannya ya dan tidak . Ya pada tingkat subjektif…dan tidak pada tingkat yang objektif. Dengan kata lain, Ia tahu siapa diri-Nya secara implisit tetapi tidak dengan istilah-istilah yang jelas dan dengan konsep-konsep yang jelas…sebelum Yesus dapat diimani sebagai Allah oleh orang-orang Kristiani, gagasan kita sendiri tentang Allah harus mengalami transformasi dalam bentuk triniter. Ia adalah Mesias tetapi ia memahami kemesiasan-Nya itu dengan jelas melalui pengalaman-pengalaman yang konkret selama hidup-Nya. Apa yang dilakukan oleh gereja selama dasawarsa –dasawarsa sesudah penyaliban dan kebangkitan-Nya, dan pasti selama abad-abad konsili pertama adalah menjadikan eksplisit apa yang sudah secara implisit ada dalam pribadi dan pelayanan Yesus. Gereja mengekspilisitkannya dalam doktrin-doktrin.” Demikian juga ditegaskan oleh Erickson: “ We should note that Jesus did not make and explicit and overt claim to deity, saying in so many words, ‘I am God.’ What we do find, however, are claims which whould inappropriate if made by someone who is less than God.” . Dalam beberapa hal Yesus mengakui bahwa Dia adalah setara dengan Allah, dan apa yang dilakukan-Nya hanya dapat dilakukan oleh Allah bahkan Ia memiliki sifat-sifat sepeti Allah Bapa. Misalnya ketika dia mengampuni dosa (seorang lumpuh disembuhkan) Markus 2:5), Ketika mengatakan demikian maka ada reaksi dari orang Farisi dan orang Yahudi karena hanya Allah yang dapat mengampuni dosa. Menghakimi dunia, Mat. 25:31-46). Dia dan Bapa adalah satu (Yoh. 10:30), Ia telah ada sebelum Abraham Yoh. 8:58. Ia menerima pengakuan Thomas bahwa dia adalah Allah dan Tuhan (Yoh. 20:28). Ia mengatakan bahwa Ia berkuasa atas kehidupan dan kematian (Yohanes 11:25). Selain itu melalui gelar-gelar-Nya sebagai Anak Allah membuktikan bahwa Dia adalah Allah itu sendiri. Alkitab mencatat 72 kali di dalam empat Injil Yesus menyebut diri-Nya sebagai Anak Allah. Pada waktu Yesus menyebut dirinya Anak Allah, saat yang bersamaan Ia juga menyatakan diri-Nya sebagai Allah, kepada kita sebagai anak-anak-Nya. Demikian juga Allah Bapa sendiri menyatakan bahwa dia adalah Anak Allah (Mat. 3:17, Yoh. 3:7). C. Soteriologi John Hick Bagi Hick keselamatan manusia tidak memerlukan perantara seperti Yesus dan juga tidak perlu pengampunan dari Yesus. Karena Yesus hanya manusia biasa yang mau membawa manusia untuk memohon pengampunan kepada Bapa. Pendapat Hick ini didukung oleh pandangannya tentang Doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus dimana kita diminta untuk meminta pengampunan kepada Bapa dan juga tentang perumpamaan anak yang hilang, dimana pengampunan tidak memerlukan perantara. Bagi Hick semuanya menjelaskan bahwa pusat dari kekristen dan keselamatan adalah Bapa dan bukan Kristus. Hick tidak melihat teks dalam konteks yang tepat di dalam keseluruhan Alkitab, sehingga bangunan Kristologinya berantakan dan bersifat parsial. Hick tidak melihat Alkitab secara menyeluruh tentang Kristologi. Sebagai contoh Alkitab berkata: “Hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan (Ibr. 9:22).” , “Hai anakKu, dosamu sudah diampuni.....Supaya kamu tahu , bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa (Markus 2:5,10)” Ayat-ayat di atas dengan jelas mengatakan bahwa konsep pengampunan harus melalui darah dan Yesus telah mencurahkan darah-Nya di kayu salib. Dan Yesus pada waktu Ia hidup juga memiliki hak prerogatif Allah Bapa untuk mengampuni dan menyelamatkan. Jadi dalam bagian ini Hick, tidak konsisten didalam membaca dan memahami teks secara keseluruhan. Ia berani mengambil teks sebagian-sebagian demi mendukung pendapatnya yang sesat dan ini sangat tidak sesuai dengan prinsip-prinsip hermeneutika.

KESIMPULAN 
 Kristologi John Hick adalah Kristologi yang tidak di bangun atas dasar terang Firman Tuhan. Ia sangat menekankan pluralisme sehingga mengabaikan sesuatu yang esensi dari iman Kristen yakni suatu keyakinan ortodoks mengenai kebenaran dari pengajaran esensi iman Kristen, yang meyakini akan keberadaan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat (finalitas) yang berinkarnasi menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia yang berdosa. 

 KEPUSTAKAAN
 A. Buku Dan Artikel
 Erickson, Millard J. Introducing Christian Doctrine. Grand Rapids: Baker, 1992.
 Hick , John, An Interpretation of Religion , Human Responses to the Transenden. New Haven and London: Yale University Press,1989.
 _________, God Has Many Names; Jesus And The World Religions. Philadelphia: Westminster Press,  1980
. _________, Jesus and the World Religions: In The Myth of God Incarnate. ed. John Hick. Philadelphia: Westminster, 1977
 _________, and Paul F. Kniter. Ed., The Myth of Christian Uniqueness. London:SCM Press, 1987. _________, The Metaphor of God Incarnate, Christology in a Pluralistic Age  Lousville, Kentucky:Westminster/John Knox Press, 1993
 __________, & Paul Knitter, Mitos Keunikan Agama Kristen, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2001. Karkainen, Veli-Matti Christology: A Global Introduction. Grandrapids: Bakker, 2003.
Johnson, A. Elizabeth, Kristologi di mata kaum feminis: Gelombang pembaruan dalam Kristologi. (Yogyakarta: Kanisius, )2003.
 Kanisius L. Silvester, Allah dan Pluralisme Religius. Jakarta: Obor, 2006.
 Lumintang Stevri, Teologi & Misiologi Reformed  Batu: Departemen Literatur YPPII, 2006. ______________, Teologi Abu-Abu: Pluralisme Iman Batu: Departemen Literatur YPII), 2002.
 Knitter, Paul F. Pengantar Ke Dalam Teologi Agama-Agama. Yogyakarta: Kanisius, 2008. _____________, Menggugat Arogansi Kekristenan, Yogyakarta : Kanisius, 2005
Simajuntak Dame Mian Asi, Analisa Kritis Terhadap Kristologi John Hick (skripsi). Malang: SAAT, 2004 B. Internet
 Tumpal H. Hutahean, "Finalitas Karya Yesus Sebagai Tuhan dan Juruselamat: Tinjauan Kritis terhadap Teologi Religionum" [http://www.grii-andhika.org/makalah/finalitas_karyayesus.htm]
Debora N. Eliasih, "Respon Injili Terhadap Dekonstruksi Konsep Kristologi oleh Kaum Pluralist" [http://debbiepunya.blogspot.com/2010/08/respon-injili-terhadap-dekonstruksi.html]
Posting Komentar