Kamis, 25 April 2013

EVALUASI TERHADAP DEKONSTRUKSI KONSEP PLURALISME JOHN HICK


EVALUASI TERHADAP DEKONSTRUKSI KONSEP KRISTOLOGI PLURALISME JOHN HICK

PENDAHULUAN 
Kemajemukan agama dan keunikan agama adalah suatu realitas yang tidak dapat dipungkiri oleh setiap masyarakat di dalam dunia ini, termasuk di Indonesia.  Sejalan dengan kemajemukan agama yang ada, maka diperlukan sikap menghormati, menghargai keyakinan setiap pemeluk agama yang ada.  Hal ini yang sangat digaungkan oleh kaum pluralis, mereka menekankan pentingnya toleransi dan sikap menghargai kemajemukan agama.  Bahkan mereka menganggap bahwa semua agama membawa orang-orang kepada suatu realitas ilahi, menjadi pilihan yang menarik karena dianggap lebih demokratis dan toleran.
Sikap menghormati, menghargai atau toleransi merupakan sesuatu yang penting dalam kemajemukan agama di dunia ini.  Namun akan menjadi persoalan serius ketika sikap toleransi yang semula berada dalam ranah etika dan moral, diarahkan kepada hal-hal yang esensi yaitu ranah iman dan keyakinan (doktrinal).  Hal ini yang dilakukan oleh salah satu tokoh pluralis, yaitu John Hick.  Hick sangat menekankan masalah toleransi/dialog dengan agama-agama lain.  Demi untuk mencapai tujuannya, ia mengorbankan satu hal yang sangat esensi dalam keyakinan iman Kristen ortodoks yang berhubungan dengan kristologi.
Dalam makalah ini, penulis akan menyoroti pandangan John Hick, secara khusus mengenai konsep kristologinya.  Mengapa penulis menyoroti konsep kristologinya?  Pertama, karena salah satu ajaran yang ditoleransikan oleh John Hick adalah kristologi, maka evaluasi perlu dilakukan atas kristologinya.  Kedua, evaluasi dilakukan untuk meluruskan konsep kristologi pada yang benar  dan menegaskan bahwa kekristenan adalah unik dan tidak akan dapat ditoleransikan dengan kepercayaan dan agama mana pun juga.  Ketiga, karena sebenarnya akar persoalan dalam teologi Kristen lebih banyak berhubungan dengan kristologi.[1]  Adapun pembahasan dalam makalah ini pertama; penulis akan membahas sekilas latar belakang kehidupan John Hick.  Kedua, konsep-konsep kristologinya, dan ketiga, penulis akan mengevaluasi konsep kristologi John Hick.

LATAR BELAKANG KEHIDUPAN JOHN HICK[2]

            John Harwood Hick lahir pada bulan Januari 1922.  Hick adalah seorang anak tengah, kakaknya Pentland adalah seorang pengusaha, dan adiknya Shirley memiliki karir yang sukses dalam pekerjaan sosial.  Hick dibesarkan di sebuah keluarga kelas menengah yang bekerja di Scarborough.  
John Hick dapat dikatakan sebagai salah satu filsuf paling penting dan berpengaruh diparuh kedua, abad kedua puluh.  Sebagai seorang filsuf Inggris dalam tradisi anglo-analitik, Hick telah melakukan banyak terobosan dalam epistemologi agama, teologi filosofis, dan pluralisme agama.
Pada saat menjadi mahasiswa hukum, Hick mengalami pengalaman religius yang kuat yang membuatnya menerima kekristenan injili dan akhirnya mengubah arah karirnya kepada teologi dan filsafat.  Pengalaman ini tidak hanya mengubah hidupnya tetapi juga berpengaruh penting dalam pandangan filosofisnya.  Pada awal karirnya, Hick berpendapat bahwa iman Kristen tidak didasarkan pada bukti proposisional melainkan pada pengalaman religius.  Demikian ia membela iman Kristen terhadap evidensialis yang mengkritik terhadap positif logis yang sangat dominan pada waktu itu.  Dalam waktu yang bersamaan Hick juga mengembangkan "soul–making" teodisi Irenean, di mana ia berpendapat bahwa Allah mengijinkan kejahatan dan penderitaan di dunia dalam rangka untuk mengembangkan manusia menjadi makhluk yang saleh dan mampu mengikuti kehendak-Nya.
 Pada akhir 1960-an, ketika ia bekerja pada isu-isu hak-hak sipil di Birmingham, ia bekerja bersama dengan orang-orang dari agama lain.  Hick kemudian terlibat dengan kelompok Faith; “semua untuk satu ras”, yang juga bekerja pada isu hak-hak sipil di Birmingham tersebut.  Dia juga mulai mempelajari agama-agama Timur, pergi ke India untuk belajar agama Hindu, Sikh Punjabu dan pergi ke Sri Lanka untuk belajar Buddhisme.  Buah dari penelitian ini ditulis dalam satu buku, Death and Eternal Life.  Dalam bukunya ini, ia membahas konsep-konsep Timur dan Barat mengenai kehidupan setelah mati dan mengembangkan hipotesisnya dengan menggabungkan unsur-unsur dari tradisi-tradisi Timur dan Barat.
Sejak itu, ia mulai percaya bahwa penganut agama lain juga memiliki pengalaman Transenden, sebagaimana orang Kristen, meskipun dengan cara yang berbeda karena faktor budaya, sejarah, dan doktrin.  Pengalaman-pengalaman ini menyebabkan dia mengembangkan hipotesis pluralistis.  Selain itu, Ia juga sangat dipengaruhi oleh filsafat Immanuel Kant, secara khusus mengenai konsep fenomenal dan noumenal.  Dengan pertimbangan pluralistiknya, Hick kemudian menyesuaikan posisi teologianya.  Ia mengembangkan interpretasi doktrin Kristen, seperti inkarnasi, penebusan, dan tritunggal bukan sebagai klaim metafisik tapi sebagai metafora atau mitologis.[3]

 KONSEP-KONSEP KRISTOLOGI JOHN HICK 

A.    Konsep Kristologi Yang Theosentris
            Konsep kristologi John Hick sangat dipengaruh oleh konsep teologi propernya (doktrin Allah).  Konsep Allah yang dimiliki Hick berbeda dengan konsep Allah dalam Kekristenan.  Hick tidak setuju dengan penggunaan istilah “Allah”, ia menggunakan istilah “the Ultimate, The Real, The Transcendent, dan Ultimate Reality.[4] Sebagaimana penjelasannya dalam bukunya, A Christian Theology of Religion, dikatakan: “an ultimate divine reality which is being differently conceived, and therefore differently experienced from within the religio-cultural ways of being human.”[5] 
Selanjutnya ia menjelaskan bahwa Realitas Transenden adalah sesuatu yang tidak terbatas, dan di dalam diri sang Realitas Transenden tersebut tidak dibatasi oleh konsep-konsep formal; Ia tidak dapat dikatakan satu atau banyak; bukan pribadi atau non pribadi; tidak juga dapat dikatakan sebagai suatu subtansi atau proses; Ia tidak dapat dikatakan bertujuan atau tidak bertujuan.[6]  Namun “Realitas  Transenden” ini tetap dapat menunjukan tanda-tanda ke-transenden-annya kepada manusia, tanda-tanda itu selalu ada dan menyertai manusia.[7]
Dengan pemahaman konsep Allah seperti demikian, kemudian Hick membangun konsep pluralismenya.  Salah satu alasan dasar Hick memakai pendekatan theosentris adalah sebagai reaksi terhadap pendekatan kristosentris yang dipakai oleh kaum eksklusif Kristen terhadap agama-agama lain.  Bagi Hick, pendekatan kristosentris merupakan suatu sumber konflik dan sangat resisten terhadap agama-agama lain.  Alasan lain Hick menolak  pendekatan “kristosentris” karena baginya pendekatan ini sudah tidak sesuai lagi  diterapkan di tengah-tengah realitas dunia yang pluralis.  Oleh sebab itu ia menawarkan pendekatan teosentris, yang menurutnya lebih dapat diterima oleh berbagai golongan agama di dunia.[8]  
Dalam usaha membangun paradigma dari konsep kristosentris kepada teosentris, maka ia memakai istilah Revolusi kopernikan dalam bidang teologi.  Bagi Hick, pemahaman Kopernikus yang menyatakan bahwa matahari yang menjadi pusat tata surya dan bukan bumi, menjadi acuan untuk menganggap bahwa seluruh agama berpusat kepada Allah dan bukan pada agama Kristen atau agama lain.  Hick mengatakan, “He is The Sun, the originative source of light and life, whom all the religions reflect in their own different ways.”[9]
Pendekatan “teosentris” yang tawarkan oleh Hick adalah untuk menjembatani antara eksklusifitas Kristen dengan realitas agama-agama di dunia.  Pendekatan teosentris tersebut adalah suatu pendekatan dimana Allah menjadi pusat dari semua agama-agama.  Pendekatan  Hick ini, sebenarnya sangat dipengaruhi oleh konsep Karl Rahner, dengan konsepnya “Anonymous Christian”.[10]  Oleh karena itu ia menolak pernyataan bahwa Kristus adalah satu-satunya jalan, kebenaran dan hidup (Yoh 14:3).[11]  Selain dipengaruhi oleh Rahner, ia juga dipengaruhi oleh Hans Kung yang menyatakan bahwa di luar  kekristenan ada keselamatan.[12]
Bagi Hick, apa yang tercatat di dalam Injil lebih bersifat mitos atau legenda, termasuk juga tentang pribadi dan karya Yesus.  Hick dengan berani menyerukan agar setiap orang Kristen membuka diri dan mencari pengertian yang baru tentang Yesus di dalam sejarah dan di dalam konteks kekinian.  Ia percaya bahwa model teosentris merupakan harapan terbesar bagi dialog antar agama di masa depan, dan bagi evolusi yang terus dilanjutkan atas makna Yesus Kristus bagi dunia ini.  Hick mengatakan bahwa: “Keunikan Yesus bukanlah sebagai kebenaran yang total, definitif, tidak tertandingi, tetapi membawa kepada suatu universal, decisive, indispensable truth.”[13]
John Hick membangun teologi yang teosentris, untuk mendukung pemahaman dan penyembahan yang hanya berpusat pada Allah, dan dengan demikian konsep ini lebih memungkinkan untuk membangun dialog antar agama yang lebih baik, juga di sisi lain dapat mempertahankan kekhasan Kristen.[14] 
Hick melalui pendekatan teosentrisnya  memandang Yesus sebagai,
One who mediated God’s presence and God’s call to live now as citizens of the coming kingdom...as a spirit-filled prophet and healer...Jesus was exalted in a communal memory from the echatological prophet to a divine status.[15]

Dengan demikian,  Hick  memandang Yesus sebagai seorang “guru” atau “rabi” biasa, dan hanya salah satu tokoh yang hidup pada abad pertama di daerah Palestina.  Ia adalah seseorang yang menjadi perantara kehadiran Allah, seorang nabi yang diberi karunia khusus oleh Allah.  Tidak lebih dari itu.
 B. Konsep John Hick  mengenai Inkarnasi Yesus   
             Pemahaman ortodoksi Kristen mengenai inkarnasi, adalah sesuatu yang sangat penting dalam ranah ortodoksi iman Kristen yang dipegang oleh orang Kristen sampai saat ini.  Pemahaman ini tidak sekedar sesuatu yang dipercaya atau diyakini secara turun temurun, atau tradisi orang percaya, tetapi sesuatu yang berpijak dari Alkitab sebagai sumber kebenaran yang absolut.  Hal ini diteguhkan di dalam konsili Nicea (325) dan Chalcedon (451).  Keputusan dua konsili tersebut merupakan suatu jawaban terhadap berbagai pandangan, dan keraguan yang beredar pada masa itu mengenai dua natur Kristus (ke-Ilahi-an dan Kemanusiaan).
Pemahaman ini kemudian ditunggangbalikkan oleh tokoh-tokoh zaman pencerahan dan teolog liberal.  Selanjutnya, pemahaman ini diikuti dan dicetuskan kembali oleh seorang tokoh pasca modern (pluralisme) John Hick.  Dalam bukunya The Myth of God Incarnate, dia menyatakan bahwa inkarnasi adalah suatu mitos.[16]  Dalam perkembangan selanjutnya ia menjelaskan bahwa untuk menjelaskan mengenai inkarnasi dalam Alkitab harus dipahami sebagai metaphor.[17]  Mengapa dia beralih dari pandangan inkarnasi sebagai mitos menjadi inkarnasi metaphor?  Inkarnasi yang metaforis ini dimunculkan oleh Hick untuk membuktikan bahwa konsep inkarnasi kaum eksklusif (Kristen) adalah tidak rasional dan harus ditinggalkan.[18]
Menurut Hick, Yesus merupakan satu-satunya penghubung antara Tuhan dan manusia.  Oleh karena itu, orang-orang Kristen tidak meninggalkan keyakinan mengenai inkarnasi dan Yesus sebagai anak Allah.  Lebih lanjut dikatakan, bahwa pernyataan bahwa Yesus adalah anak Allah menunjukkan sikap, perasaan, dan keyakinan dari orang Kristen.  Pernyataan ini lahir karena orang-orang Kristen sudah merasakan Allah berbicara kepada mereka, menyentuh mereka, memberi inspirasi kepada mereka melalui Yesus.  Namun menurutnya keyakinan tersebut harus dipahami sebagai bentuk puisi, simbolis dan metafora.[19]
Bagi Hick, proses peng-ilahi-an Yesus  tidak lebih sebagai bentuk penghormatan dari orang Kristen kepada Yesus.  Orang Kristenlah yang mengubah Yesus  Rabi dari Galilea menjadi Kristus yang Ilahi, Allah Anak dari Allah Tritunggal.[20]  Peng-ilahi-an Yesus dimulai ketika ia mendapat julukan Son of God.  Istilah ini sebenarnya adalah istilah yang biasa dipakai dalam dunia kuno yang tidak merujuk kepada istilah Anak Allah secara literal tetapi sebagai metafora atau simbolis.[21]
Untuk memahami Yesus sebagai anak Allah dalam bahasa simbolis, Hick menyarankan agar menggunakan kristologi Roh.  Di dalam Kristologi Roh, Yesus dikenal sebagai ilahi bukan karena Allah secara harafiah turun dari surga dan secara harafiah juga “menghamili” ibu Yesus, tetapi karena Yesus memang dipenuhi Roh yang diberikan kepada semua orang dan memberi respon total terhadap roh itu.[22]
Hick meringkaskan pemahamannya mengenai keunikan Yesus dalam bahasa Latin “totus Deus.   Menurutnya, sesama umat Kristen dan agama lain harus menyaksikan bahwa Yesus adalah totus Deus - Tuhan seutuhnya.  Namun mereka tidak bisa beranggapan bahwa Ia adalah totum Dei - Tuhan keseluruhan; siapa Yesus itu, semua yang dilakukan dan yang dikatakan, diperoleh dari, dan dinyatakan oleh Roh Ilahi.  Namun, siapa Roh Ilahi itu, dan apa yang dilakukan-Nya tidak hanya terbatas pada Yesus, atau kepada inkarnasi Ilahi Yesus menjadi manusia.[23]
Ada dua cara pendekatan Hick yang berkaitan dengan inkarnasi Yesus; pertama, inkarnasi harus dipahami sebagai mitos, karena Yesus sebenarnya tidak pernah menyatakan dirinya dan mengajarkan bahwa Dia adalah Allah, sebagaimana diajarkan oleh gereja.  Lebih lanjut dikatakan bahwa Yesus sebenarnya tidak pernah mengemukakan bahwa Dia adalah Allah sebagaimana dipahami oleh orang-orang Kristen (ortodoks).[24]  Sebaiknya kekristenan harus memahami inkarnasi Yesus melalui metafora daripada secara literal sebagaimana diajarkan gereja sampai hari ini.[25]
Kedua, Perlu adanya reinterpretasi mengenai keilahian Yesus. Dalam salah satu esai Hick yang paling penting dan kontroversial, "Yesus dan Agama-Agama Dunia," Hick mengatakan bahwa perlu adanya reinterpretasi keilahian Yesus dalam terang kritik biblika modern.  Reinterpretasi Yesus harus dimengerti dalam konteks kesadaran bahwa kekristenan hidup dan tumbuh di dalam keragaman agama yang ada di dunia ini.  Bagi Hick, konsep inkarnasi Yesus hanya didasarkan oleh keputusan Nicea mengenai Allah yang berinkarnasi di dalam diri Yesus Kristus.  Ini adalah salah satu cara konseptualisasi ketuhanan Yesus, suatu cara yang diwarisi oleh budaya Yunani-Romawi.  Oleh sebab itu dalam rangka oikumenisme dunia seharusnya orang Kristen menyadari bahwa pandangan tersebut tidak lebih dari suatu karakter mitologi dari bahasa tradisional.[26]
Dengan demikian Hick beranggapan bahwa cara yang paling tepat untuk memahami inkarnasi di dalam hidup Yesus Kristus adalah secara mitologi.  Hanya dengan cara ini dapat  membuka jalan bagi pemahaman tentang Kristus, melalui kehadiran keilahiannya yang nampak dari kebaikan hidup dan pengajaran-Nya, Yesus nyata sebagai pengantara kasih Allah kepada seluruh umat manusia diberbagai negara.[27]  Lebih lanjut dikatakan, bahwa inkarnasi Yesus tidak bisa diklaim sebagai sesuatu yang bersifat metafisis, melainkan suatu pernyataan yang bersifat metafora, yang menyatakan signifikansi dari kehidupan Yesus dimana Allah bertindak di atas dunia ini.[28]
Sehubungan dengan hal itu, maka  Hick memberikan tiga alasan utama, mengapa ia  menolak konsep tradisional atau eksklusif mengenai inkarnasi, sekaligus menegaskan konsep inkarnasinya yang metaforis:
1. Hick menyimpulkan bahwa jika Yesus adalah Allah pencipta, yang kekal, yang menjadi manusia, maka hal itu mengakibatkan suatu kesulitan dalam memandang Yesus sebagai fenomena yang sederajat dengan tradisi-tradisi agama lain.  Oleh sebab itu, Hick mengutip pandangan Helmut Koester mengenai inkarnasi Yesus sebagai salah satu dari sekian banyak inkarnasi dalam dunia Romawi, dimana Allah tidak melulu dipahami sebagai Allah yang mengambil rupa manusia, dengan demikian ia meragukan inkarnasi eksklusif.[29]
2. Yesus adalah Allah yang berinkarnasi secara literal adalah tidak benar. Karena tidak memiliki arti literal, maka Ia tidak lebih dari suatu konsep mistis, yang  berfungsi sebagai analogi atas anggapan mengenai keilahian Anak.  Yesus memang adalah Anak Allah, namun itu adalah konsep mistis.  Karena itu, bagi Hick, inkarnasi tidaklah bergantung pada terminologi “Anak Allah”, baginya inkarnasi adalah sesuatu yang bersifat misterius.[30]
3. Hick dengan dukungan yang sangat kuat dari para ahli Perjanjian Baru liberal,  berpendapat bahwa inkarnasi merupakan perkembangan pemikiran gereja mula-mula, sedangkan Yesus sendiri tidak pernah berfikir bahwa diri-Nya akan menempuh cara yang demikian.  Jadi, sebutan Anak Allah, Mesias menjadi Allah Anak, yang berakhir pada rumusan Tritunggal, merupakan sebutan dan rumusan dari perkembangan pemikiran gereja.[31]
C. Konsep Hick mengenai Dua Natur Yesus; Keilahian dan Kemanusian  
 Menurut Hick, pengajaran mengenai dua natur Yesus; manusia sepenuhnya dan sepenuhnya ilahi adalah suatu kesalahan dalam penafsiran.  Menurutnya, pemahaman tersebut diakibatkan oleh kesalahan dalam penafsiran.  Setidaknya ada tiga kesalahan: pertama, salah membaca maksud asli dari judul puisi ilahi Yesus, transposing; "anak sebagai metaforis Allah untuk Tuhan metafisik."[32]  Kedua, Hick berpendapat bahwa pandangan dua-kodrat itu sendiri sangat sulit untuk dipahami.  Dalam sebuah kutipan terkenal, ia menyatakan, "Untuk mengatakan, bahwa Yesus historis yang berasal dari Nazaret adalah Allah, merupakan  sesuatu yang sulit dipahami dan tidak ada makna.[33]  Akhirnya, ia berpendapat bahwa pemahaman hurufiah Yesus sebagai Anak Allah adalah suatu pandangan yang sempit dari kehidupan religius eksklusif dalam tradisi Kristen.  Sebaliknya, dengan memahami bahasa kristologis sebagai mitologi, ia dapat menegaskan bahwa Logos Allah bekerja dalam pribadi Yesus dari Nazaret sebagaimana telah bekerja "dalam berbagai cara di India, Semit, Cina, Afrika dan lain-lain".[34]  Hick percaya bahwa dengan pemahaman seperti ini tidak akan mengurangi  eksistensi Yesus, tetapi justeru akan meningkatkan pentingnya keberadaan Yesus dalam kehidupan keagamaan global.
Selanjutnya, Hick menjelaskan mengenai pandangannya mengenai dua natur Kristus.  Pertama, dikatakan bahwa Yesus tidak pernah menyatakan diri-Nya adalah Allah.  Bahkan penjelasan mengenai Yesus sebagai Mesias (Kristus) adalah suatu yang sangat ambiguitas.  Istilah Christos (Yunani) dan Messiah yang berarti diurapi, lebih berhubungan dengan arti khusus seorang Raja dan tidak ada konotasi bersifat Ilahi.[35]  Bahkan  ayat-ayat (Mark. 12:2-6; Mat. 21:33-41; Luk.20:9-18) yang diklaim oleh Kristen ortodoks mengenai keilahian Kristus tidak lebih hanya secara inplisit dan sebenarnya ayat-ayat tersebut bersifat ambigu.  Dengan demikian Hick secara tegas mengatakan bahwa ide mengenai Keilahian Yesus adalah ide yang dibuat oleh manusia, karena teologia adalah ciptaan manusia.[36]
Selanjutnya ia menegaskan bahwa Yesus bukanlah Tuhan, tetapi Yesus memiliki hubungan yang intim dengan Allah.  Hubungan yang intim ini menyebabkan Yesus memiliki otoritas rohani yang menakjubkan.  Yesus diberi kemampuan untuk mengampuni dosa, menyembuhkan berbagai penyakit dan berbicara atas nama Allah.  Hick juga tidak mengakui ke-Mesias-an Yesus.  Menurut Hick, gelar kehormatan Yesus sebagai Mesias, Tuhan dan Anak Allah adalah suatu yang diberikan oleh pengikut-pengikut-Nya.  Gambaran puisi yang diucapkan oleh Yesus tidak lebih dari pernyataan yang bermakna simbolis atau metafora dan bukan pernyataan yang bersifat metafisis.  Keilahian dan kemanusiaan Yesus  tidak lebih dari rumusan yang diformalkan oleh gereja dalam koncili Nicea dan Chalcedon.[37]  Dengan demikian, ia berkesimpulan bahwa cara yang paling tepat dan memungkinkan untuk menjelaskan dua natur Kristus secara memuaskan adalah melalui metaphora.[38]

D. Konsep Keselamatan Hick.
Selanjutnya penulis akan membahas sekilas mengenai konsep keselamatan yang ditawarkan Hick.  Dalam usaha untuk mendapatkan jalan keluar dan memuluskan konsep pluralismenya, maka Hick mengajarkan kristologi baru yang kontekstual dan universal.  Untuk menemukan kristologi yang baru, maka mau tidak mau Hick harus menolak pandangan Kristen mengenai keunikan, keabsolutan, dan finalitas Kristus sebagai satu-satunya jalan keselamatan.[39]
Konsep keselamatan Hick sangat dipengaruhi oleh Hans Kung, yaitu  di luar kekristenan ada keselamatan, setiap penganut agama akan diselamatkan melalui agama yang mereka yakini.[40]  Kung menyatakan demikian:
The way of salvation in universal salvation history; the general way of salvation, we can even say, for the people of the world religion: the more common, the ‘ordinary’ way of salvation in the Church appears as something very special and extraordinary.[41]

Lebih lanjut, untuk lebih memperjelas konsepnya mengenai adanya keselamatan di luar Kekristenan, atau orang-orang dari agama lain, Kung menyatakan:
Pre-Christian, directed towards Christ. ... The men of other world religions are not professing Christian but, by the grace of God, they are called and marked out to be Christian ... The non Christian’s right and duty to seek God within his own religion is only until such time as he is confronted in an existensial way with the revelation of Jesus Christ.[42]

Hick sangat menyetujui pemahaman Kung mengenai keselamatan, dan sangat tidak setuju dengan konsep keselamatan eksklusif Kristen yang menyatakan bahwa keselamatan seseorang hanya didapat melalui pribadi dan perantaraan Yesus Kristus.  Bagi Hick, keselamatan manusia tidak memerlukan perantara seperti Yesus dan juga tidak perlu pengampunan dari Yesus.  Karena Yesus hanya manusia biasa yang mau membawa manusia untuk memohon pengampunan kepada Bapa.  Pendapat Hick ini didukung oleh pandangannya tentang Doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus.  Hick berpandangan, melalui doa Bapa Kami, setiap orang tidak  perlu  meminta pengampunan melalui perantaraan Yesus tetapi langsung kepada Allah Bapa.  Demikian juga dalam perumpamaan anak yang hilang, dimana pengampunan tidak memerlukan perantara tetapi langsung kepada Bapa.  Dengan demikian Hick berkesimpulan  bahwa pusat dari kekristenan dan keselamatan adalah Bapa dan bukan Kristus.[43]
Konsep keselamatan Hick, sama dengan tokoh-tokoh pluralis lainnya, yang menyatakan bahwa semua manusia dapat diselamatkan oleh anugerah Allah.  Anugerah kasih Allah tidak mungkin menyediakan neraka bagi manusia.  Karena semua agama telah memiliki jalan keselamatan masing-masing.[44]  Semua agama adalah jalan menuju kepada Realitas Tertinggi, dengan caranya masing-masing.  
Salah satu argumen Hick menolak konsep keselamatan Kristen (eksklusif); bahwa keselamatan  hanya melalui Yesus Kristus, adalah berkaitan dengan keberatan moral.  Ia menganggap bahwa konsep keselamatan tersebut  tidak sesuai dengan natur Allah yang penuh kasih.  Jika Allah adalah maha kasih, maka tidak mungkin Ia membiarkan sebagian besar umat manusia  masuk Neraka.[45]  Bagi Hick, keselamatan harus didefinisikan sebagai suatu perubahan aktual manusia, suatu transformasi dari kesadaran yang berpusatkan pada diri sendiri kepada kesadaran yang berpusatkan kepada Tuhan dan dimanifestasikan menurut buah-buah rohani.[46]  Keselamatan menurut Hick, bukanlah suatu transaksi secara yuridis yang tercantum di Surga atau pengharapan masa yang akan datang setelah kehidupan ini, tetapi lebih mengacu kepada perubahan spiritual, moral dan politik yang dimulai saat ini juga.[47]
Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa Yesus bukanlah jalan satu-satunya untuk memperoleh keselamatan tetapi salah satu jalan kepada keselamatan.

 EVALUASI TERHADAP KRISTOLOGI JOHN HICK
            Dalam mengevaluasi kristologi John Hick, maka penulis berpijak pada teologi tradisional (khususnya kristologi).  Mengapa harus berpijak pada teologi tradisional?  Pertama, karena teologi John Hick berseberangan dengan teologi tradisional, bahkan dapat dikatakan teologinya berdampingan dengan teologi liberal.  Kedua, karena teologi tradisional dibangun dengan prinsip-prinsip hermeneutik yang tepat dan yang didasarkan pada firman Tuhan (Alkitab) yang diinspirasikan oleh Roh Kudus dan yang berotoritas.
   
A.  Evaluasi Terhadap Konsep Kristologi Teosentris Hick.
Konsep Kristologi yang teosentris yang diusung oleh Hick, sekilas dilihat dari sisi kontekstualisasi dan dialog dengan agama lain adalah sangat baik.  Namun ketika diselidiki lebih dalam maka dapat disimpulkan bahwa konsep ini adalah konsep yang sangat bertentangan dengan ajaran Alkitab.  Model kristologi teosentris yang diusung Hick, adalah suatu yang sangat kontradiksi dengan apa yang diajarkan oleh Alkitab.  Pandangan ini mengakibatkan keterbukaan yang makin terbentang melintasi batas, dan semakin menimbulkan suatu pergeseran paradigma yang menjauhi normativitas atau absolutisme Kristus.[48]
Salah satu alasan mengapa Hick membangun teologi yang teosentris adalah untuk membangun suatu dialog antar agama yang lebih baik.  Ia memandang bahwa konsep kristologi tradisional merupakan penyebab dari timbulnya konflik dengan agama-agama lain dan merupakan suatu bentuk intoleran dan arogansi dari kekristenan.  Pertanyannya adalah,  apakah teologi teosentris dapat membangun dialog antar agama dan menjadikan dunia semakin toleran?  Menurut hemat penulis, pada saat Hick membangun teologi teosentris, ia tidak memahami bahwa sebenarnya ia sendiri sudah tidak toleransi.  Karena ia membangun suatu konsep Allah yang eksklusif yaitu Allah yang disebut “The Ultimate” yang tentunya tidak dapat diterima oleh agama-agama yang lain termasuk kekristenan.  Sebagaimana dikatakan oleh Coward, teologi teosentris juga masih merupakan hambatan bagi agama Budha  yang tidak mengenal istilah Allah.[49]  Dengan demikian, konsep teologi pluralisme Hick, akan menjadi kontraproduktif karena menimbulkan masalah baru bagi agama-agama di dunia.  Dan dapat dipastikan tidak ada satu pun agama di dunia ini yang dapat menerima konsep teologinya.
Bahkan menurut penulis, konsep Allah-nya Hick adalah konsep Allah yang tidak jelas dan menyesatkan.  Konsep Allah yang dideskripsikan sebagai “Realitas Transenden” akan menghadapi berbagai permasalahan.  Permasalahannya adalah, dari mana ia dapat mengetahui tentang Allah yang tidak dapat diketahui oleh manusia namun secara bersamaan dapat memberikan afirmasi positif tentang keberadaan dari Allah yang tidak dapat diketahui, yang tidak dapat digambarkan dan tidak dapat dikonsepkan oleh manusia?
Berkaitan dengan hal itu, Peter Byrne berkomentar bahwa Hick akan mengalami kesulitan dalam mempertahankan hipotesanya tentang Allah, secara khusus berkaitan dengan masalah komitmen.  Peter Byrne berpendapat,
If Hick can produce a religion but non-theological theory of religion,he must able to register a commitment to a transcendent,non-human source of religion while being agnostic, and sceptical to a degree, about all specific, historically located affirmations of the existance of transcendent beings and states.  Some will wonder how he can have this commitment alongside his agnosticsm.[50]

Jelas bahwa konsep Hick tentang Allah, tidak dapat menyediakan komitmen apa-apa  bagi pengikutnya selain daripada sikap agnostik terhadap agama-agama lain.  Konsep Allah yang dipaparkan oleh Hick, adalah konsep Allah yang sangat berbeda dengan konsep Allah dalam kekristenan.  Bagi Hick, Allah tidak dapat dikatakan sebagai yang berpribadi atau tidak berpribadi, dan Allah adalah transenden.  Transendensi Allah yang dipahami oleh Hick sangat berbeda dengan konsep transenden Allah dalam kekristenan.  Bagi Hick, transendensi Allah  harus dipahami sebagai keberadaan Allah yang sangat terpencil dari ciptaan-Nya, Allah sangat berbeda dengan manusia sehingga manusia tidak mungkin memiliki pengetahuan tentang Allah atau dengan kata lain, Allah berada di luar kehidupan manusia, sehingga Allah tidak menyatakan apa pun kepada manusia, dan manusia tidak bertanggungjawab kepada-Nya.[51]
            Dengan konsep Allah seperti demikian, maka adalah suatu yang wajar ia menolak konsep kristologi Kristen.  Dalam kristologi Kristen, Yesus adalah Allah yang berpribadi, Allah yang berinkarnasi menjadi manusia, Allah yang hidup dan dekat dengan manusia, Allah yang memiliki hubungan yang dekat dengan ciptaan-Nya.
Sebagaimana telah dipaparkan di atas, bahwa pendekatan teosentris Hick, semata-mata untuk membangun teologi agamanya, yaitu teologi pluralisme.  Ia mengharapkan dengan pendekatan ini, maka akan terbangun suatu dialog dengan agama lain.  Oleh sebab itu untuk membangun sikap toleransi dan dialog dengan agama-agama lain, maka ia mengusulkan adanya perubahan paradigma dari kristosentris kepada teosentris.
Menurut penulis, jika tujuan Hick hanya untuk membangun dialog dan toleransi (ranah moral dan etika) maka sangat tidak tepat jika dia mengkompromikan satu doktrin yang sudah dipegang sebelumnya, yang dibangun melalui hermeneutik yang tepat dan benar. Menurut penulis dialog dan toleransi dengan pemeluk agama lain dapat dilakukan melalui cara-cara lain (seperti usaha-usaha membangun kerjasama dalam bidang sosial, ekonomi, kemasyarakatan atau hal yang berhubungan dengan kemanusiaan), tanpa harus mengorbankan satu pemahaman yang esensi dalam iman Kristen yang berhubungan dengan kebenaran dari finalitas Kristus.

B. Evaluasi  Terhadap Konsep Inkarnasi dan KeilahianYesus Hick
Salah satu alasan, mengapa Hick menolak Inkarnasi Yesus adalah karena Alkitab tidak secara ekspilist menjelaskan keilahian Yesus.  Memang ada beberapa ayat yang seakan-akan menjelaskan keilahian Yesus, namun itupun bersifat ambigu.  Bagi Hick, proses pengilahian Yesus dimulai ketika Ia mendapat julukan sebagai Son of God.  Julukan yang biasa di dalam dunia kuno (ancient world) memiliki makna metafora dan biasanya dikenakan pada raja, Firaun dan figur-figur dari pemimpin agama.[52]  Namun, julukan ini diartikan secara literal oleh orang Kristen dan diteguhkan atau diformulasikan dalam konsili Chalcedon. 
Memang  harus diakui bahwa Yesus tidak secara eksplisit menyatakan bahwa dia Allah dan Mesias tetapi di beberapa bagian Alkitab sinoptik menjelaskan bahwa Yesus menyadari benar bahwa dia adalah Allah dan juga manusia.  Yesus secara implisit menyatakan bahwa Ia adalah Allah dan juga  manusia.  Hal ini jelas seperti dikatakan oleh Johnson,

Tahukah Yesus bahwa diri-Nya adalah Allah, ya atau tidak?...jawabannya ya dan tidak.  Ya pada tingkat subjektif…dan tidak pada tingkat yang objektif.  Dengan kata lain, Ia tahu siapa diri-Nya secara implisit tetapi tidak dengan istilah-istilah yang jelas dan dengan konsep-konsep yang jelas…sebelum Yesus dapat diimani sebagai Allah oleh orang-orang Kristiani, gagasan kita sendiri tentang Allah harus mengalami transformasi dalam bentuk triniter.  Ia adalah Mesias tetapi ia memahami kemesiasan-Nya itu dengan jelas melalui pengalaman-pengalaman yang konkret selama hidup-Nya.  Apa yang dilakukan oleh gereja selama dasawarsa–dasawarsa sesudah penyaliban dan kebangkitan-Nya, dan pasti selama abad-abad konsili pertama adalah menjadikan eksplisit apa yang sudah secara implisit ada dalam pribadi dan pelayanan Yesus.  Gereja mengekspilisitkannya dalam doktrin-doktrin.”[53]

Demikian juga ditegaskan oleh Erickson:

We should note that Jesus did not make and explicit and overt claim to deity, saying in so many words, ‘I am God.’  What we do find, however, are claims which whould inappropriate if made by someone who is less than God.[54]  

Dalam beberapa hal Yesus mengakui bahwa Dia adalah setara dengan Allah, dan apa yang dilakukan-Nya hanya dapat dilakukan oleh Allah bahkan Ia memiliki sifat-sifat seperti Allah Bapa.  Misalnya ketika dia mengampuni dosa (seorang lumpuh disembuhkan; Markus 2:5).  Ketika mengatakan demikian, maka ada reaksi dari orang Farisi dan orang Yahudi karena hanya Allah yang dapat mengampuni dosa.  Menghakimi dunia (Mat. 25:31-46).  Dia dan Bapa adalah satu (Yoh. 10:30), Ia telah ada sebelum Abraham (Yoh. 8:58).  Ia menerima pengakuan Thomas bahwa dia adalah Allah dan Tuhan (Yoh. 20:28).  Ia mengatakan bahwa Ia berkuasa atas kehidupan dan kematian (Yohanes 11:25).  Selain itu, melalui gelar-gelar-Nya, salah satunya sebagai Anak Allah, membuktikan bahwa Dia adalah Allah itu sendiri.  Alkitab mencatat 72 kali di dalam empat Injil Yesus menyebut diri-Nya sebagai Anak Allah.  Pada waktu Yesus menyebut dirinya Anak Allah, saat yang bersamaan Ia juga menyatakan diri-Nya sebagai Allah, kepada kita sebagai anak-anak-Nya.  Demikian juga Allah Bapa sendiri menyatakan bahwa dia adalah Anak Allah (Mat. 3:17, Yoh. 3:7).
Namun, penjelasan  ini tidak langsung diterima oleh Hick, menurutnya bahwa apa yang dikatakan dalam kitab Injil bukanlah suatu yang autentik, hal ini jelas sebagaimana ia katakan:
It is generally held today that the great “I am” sayings of the fourth Gospel...cannot be attributed to the historical Jesus but are words put into his mouth by a Christian writer some 60-70 years later, and sayings in the Synoptic Gospel cannot be taken to contitute a claim to be God incarnate.[55]

Untuk menanggapi hal ini, McGrath menyatakan, “But I see no evidence of this categorization in the New Testament or the early Christian tradition.”[56]  McGrath  jelas menyatakan bahwa tidak ada satu interpretasi atau bukti yang menyatakan bahwa Yesus adalah guru biasa yang diproyeksikan oleh murid-murid-Nya.  Bahkan Paul D. Adams melalui Howard Marshal dalam tafsiran kitab Galatia, khususnya Galatia 1:1, menunjukan bahwa konsep Yesus sebagai Anak Allah telah dipakai oleh Paulus.  Untuk hal ini, Adams berkomentar:
Paul is able to say that he did not receive his apostleship from a man, but through Jesus Christ and God the Father (Gal. 1:1).  The close proximity of Jesus to God in Gal. 1:1, and the contrasting  of Jesus and God to “men,” demonstrates that Paul put Jesus on the divine side of the reality.[57]

 Melalui penjelasan McGrath dan Adams dapat disimpulkan bahwa hipotesa Hick mengenai Yesus adalah guru agama yang baik yang berubah menjadi yang ilahi adalah sesuatu yang tidak dapat dipegang sebagai suatu kebenaran.  Bahkan ia sendiri tidak dapat meyakini dengan benar akan hipotesanya.  Ketika ia ditanyakan mengenai hipotesanya, Hick mengatakan:
No I can’t.  And neither can anyone else be sure that he was as they picture himThe entire history of New Testament study shows that the material is always open to a range of varying interpreattions.  Every picture of  Jesus is necessarily based upon a selection from the data.  And my own picture is based on my own selection, guieded by many factors, including my knowledge of some spiritually very impressive individuals and my reading about others.[58]

Selanjutnya Hick meragukan keabsahan pemaparan keempat Injil mengenai Yesus karena penulisnya bukanlah saksi mata yang melihat  dan mengalami sendiri.  Ia mengatakan:
We should not of the four gospel as if they were eyewitness by reporters on the spot. They were written forty and seventy years after Jesus’ death by people who were not personally present at the events they describe.[59] 

Berkenaan dengan ini, Merril C. Tenney mengatakan bahwa keabsahan keempat Injil ini dapat dipertanggungjawabkan, bagi Tenney dua dari empat penulis Injil adalah saksi mata dan merupakan murid Yesus.[60]  Selanjutnya dikatakan, walau pun Lukas dan Markus bukan merupakan kedua belas murid Tuhan Yesus, namun catatan Injil dan Markus tetap dapat dipertanggungjawabkan keakuratan datanya.[61]
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keberatan dari Hick mengenai keilahian Yesus yang didasarkan pada bukti historis adalah penyataan yang tidak beralasan dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.

C. Evaluasi Terhadap Soteriologi John Hick[62]
Bagi Hick, keselamatan manusia tidak memerlukan perantara seperti Yesus dan juga tidak perlu pengampunan dari Yesus.  Karena Yesus hanya manusia biasa yang mau membawa manusia untuk memohon pengampunan kepada Bapa.  Pendapat Hick ini didukung oleh pandangannya tentang Doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus, di mana kita diminta untuk meminta pengampunan kepada Bapa dan juga tentang perumpamaan anak yang hilang, dimana pengampunan tidak memerlukan perantara.  Bagi Hick semuanya menjelaskan bahwa pusat dari kekristen dan keselamatan adalah Bapa dan bukan Kristus.[63]
Hick di sini tidak melihat teks dalam konteks yang tepat di dalam keseluruhan Alkitab, sehingga bangunan kristologinya berantakan dan bersifat parsial.  Hick tidak melihat Alkitab secara menyeluruh dalam hal kristologi.  Sebagai contoh, di dalam Alkitab tertulis: “Hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan (Ibr. 9:22),  “Hai anakKu, dosamu sudah diampuni.....Supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa (Markus 2:5,10). Ayat-ayat di atas dengan jelas mengatakan bahwa konsep pengampunan harus melalui darah, dan Yesus telah mencurahkan darah-Nya di kayu salib.  Dan Yesus pada waktu Ia hidup juga memiliki hak prerogatif Allah Bapa untuk mengampuni dan menyelamatkan.  Jadi dalam bagian ini, Hick tidak konsisten di dalam membaca dan memahami teks secara keseluruhan.  Ia berani mengambil teks sebagian-sebagian demi mendukung pendapatnya yang sesat dan ini sangat tidak sesuai dengan prinsip-prinsip hermeneutika.[64]
Keberatan Hick terhadap konsep Kristen  yang menyatakan bahwa keselamatan hanya ada melalui Yesus Kristus, sebenarnya hanya didasarkan pada konsep bahwa di luar kekristenan ada keselamatan.  Ia memahami bahwa jika Allah Mahabaik, Mahakasih, tidak mungkin Ia hanya menyelamatkan sebagian kecil manusia.  Sebenarnya konsep Hick ini dipengaruhi oleh konsep Allah-nya, dan juga cara ia mendefinisikan keselamatan itu sendiri.  Bagi Hick, konsep keselamatan ialah:
Is not a juridical transaction inscribed in heaven, nor is it a future hope beyond this life, but it is a spiritual, moral, and political change that can begin now and whose present possibility is grounded in the structure of reality.[65]

Dalam hubungannya dengan hal ini, ia memaparkan tokoh-tokoh dunia yang berjasa dalam berbagai bidang keadilan dan perdamaian seperti Mahatma Gandhi di India, Uskup Romero, Nelson Mandela dan lain sebagainya, sebagai orang-orang yang diselamatkan,  bahkan seorang marxis atau humanis dapat digolongkan sebagai orang diselamatkan karena mereka sudah mengalami transformasi dari kemanusiaannya yang berpusat pada diri sendiri kepada suatu orientasi baru di dalam Transenden.[66]  Menurutnya, mereka ini adalah orang yang telah merespon “The Real” tanpa pengetahuan tentang “The Real” tersebut.
Intinya bahwa tanda-tanda seseorang diselamatkan hanya berkaitan dengan kemampuan moral orang tersebut.  Ketika seseorang hidup baik atau memiliki level moral  dan spiritualitas yang baik, maka ia pasti sudah memiliki keselamatan.  Apa yang dipaparkan oleh Hick, mengenai definisi keselamatan sebenarnya bertentangan atau berkontradiksi dengan pandangan dirinya mengenai Allah.  Konsep keselamatan Hick tidak memiliki dasar ontologis, karena Ia menyebutkan bahwa “The Real” itu tidak dapat dikatakan baik, dan tidak dapat dikatakan jahat.  Apa standar moral yang ia pakai dalam menentukan seseorang baik atau tidak baik.  Jikalau “The Real” sendiri tidak  jelas, bahkan ia tidak dapat dikatakan baik atau tidak dapat dikatakan jahat, bagaimana mungkin ia menyimpulkan bahwa standar moral seseorang dapat menentukan seseorang diselamatkan!
Dengan memakai konsep keselamatan yang dipahami sebagai transformasi moral,  sebenarnya ia sedang berusaha untuk mereduksi perbedaan-perbedaan konsep keselamatan agama-agama yang begitu mendasar.  Padahal konsep keselamatan yang berasal dari struktur  moralitas semata merupakan konsep yang akan ditolak oleh tradisi agama yang ada.  Dengan demikian, tujuan Hick untuk membangun suatu kehidupan agama yang toleransi tidak mungkin akan tercapai dengan konsep keselamatan yang demikian.

KESIMPULAN 
            Kristologi John Hick adalah kristologi yang tidak di bangun atas dasar terang Firman Tuhan.  Ia sangat menekankan pluralisme, sehingga mengabaikan sesuatu yang esensi dari iman Kristen, yakni suatu keyakinan ortodoks mengenai kebenaran dari pengajaran esensi iman Kristen, yang meyakini akan keberadaan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat (finalitas) yang berinkarnasi menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia yang berdosa. 
            Semua konsep yang dibangun dalam usaha untuk membangun teologi agama pluralis tidak lebih dari bangunan teologi yang akan rontok dengan sendirinya karena tidak dibangun  atas dasar kebenaran Firman Tuhan tetapi didasarkan pada konsep teologi liberal yang tidak memiliki dasar yang objektif.  Konsep Hick mengenai Yesus adalah konsep yang  semata-mata dibangun  atas dasar teologi agama pluralis dan tidak dibangun atas dasar hipotesa yang benar.  Ia mendasari semuanya berdasarkan pemahaman filosofisnya dan proses hermeneutik  yang didasarkan pada tradisi modern yang liberal yang berusaha untuk merelatifkan klaim absolut dari keberadaan Kristus yang adalah Allah dan manusia yang sempurna yang merupakan satu-satunya jalan kepada keselamatan.  Ia sama sekali tidak mempertimbangkan bahwa klaim obsolut Kristus adalah suatu klaim kebenaran yang diyakini oleh orang Kristen sepanjang sejarah gereja sampai hari ini yang merupakan klaim yang berdasar pada Firman Tuhan.
            Namun dibalik semua kekurangan atau kesesatan konsep Hick mengenai Yesus Kristus, penulis sangat menghargai usaha Hick dalam bidang kemanusiaan.  Secara positif harus diakui bahwa Hick sangat memperjuangkan kehidupan yang harmonis antar umat beragama di seluruh dunia.  Apa yang diperjuangkan oleh Hick seharusnya diperjuangkan oleh orang percaya hari ini.  Alkitab mengajarkan agar setiap orang Kristen harus menjadi garam dan terang dunia, membawa syalom di tengah dunia ini, menjadi pembawa damai. Namun setiap orang Kristen harus benar-benar belajar dari kesalahan Hick, agar tidak jatuh dalam kesalahan yang sama seperti Hick, yang terlalu fokus pada usaha membangun hidup yang harmonis atau toleransi dengan agama lain, namun melalaikan satu kebenaran esensi dari iman Kristen yaitu keabsolutan Kristus.


KEPUSTAKAAN
 Buku dan Artikel
 Erickson, Millard J. Introducing Christian Doctrine. Grand Rapids: Baker, 1992.
 Hick, John,  An Interpretation of Religion , Human Responses to the Transenden. New Haven and London: Yale University Press,1989.
 _________, Jesus and the World Religions: In The Myth of God Incarnate. ed. John Hick.Philadelphia: Westminster,1977.
 _________, God Has Many Names; Jesus And The World Religions. Philadelphia: Westminster Press,  1980.
 _________, and Paul F. Kniter. Ed., The Myth of Christian Uniqueness. London:SCM Press, 1987.
 _________, The Metaphor of God Incarnate, Christology in a Pluralistic Age  Lousville, Kentucky:Westminster/John Knox Press, 1993
 __________, & Paul Knitter, Mitos Keunikan Agama Kristen, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2001.
Karkainen, Veli-Matti,  Christology: A Global Introduction. Grandrapids: Bakker, 2003.
Johnson, A. Elizabeth, Kristologi di mata kaum feminis: Gelombang pembaruan dalam Kristologi. (Yogyakarta: Kanisius, )2003.
 Kanisius L. Silvester, Allah dan Pluralisme Religius. Jakarta: Obor, 2006.
 Lumintang Stevri, Teologi & Misiologi Reformed  Batu: Departemen Literatur YPPII, 2006.
______________, Teologi Abu-Abu: Pluralisme Iman Batu: Departemen Literatur YPII), 2002.
 Knitter, Paul F. Pengantar Ke Dalam Teologi Agama-Agama. Yogyakarta: Kanisius, 2008.
_____________, Menggugat Arogansi Kekristenan, Yogyakarta : Kanisius, 2005.
Neuner, Joseph ed. Christian Revelation and World Religion  London: Burn & Oates, 1967.
Rahner  Karl, Theological Investigations Vol 14 translated by David Bourke,  London: Darton, Longman & Todd, 1976.
Simajuntak Dame Mian Asi, “Analisa Kritis Terhadap Kristologi John Hick” (skripsi). Malang: SAAT, 2004
Dermawan, Budi “TinjauanTerhadap Hipotesa Pluralisme Agama John Hick: Suatu Dialog
Kritis Dari Perspekti Eksklusifis” Skripsi  (Malang: SAAT, 2002)
Internet  
Tumpal H. Hutahean,   "Finalitas Karya Yesus Sebagai Tuhan dan Juruselamat: Tinjauan Kritis terhadap Teologi Religionum” [http://www.grii-andhika.org/makalah/finalitas]
Debora N. Eliasih, "Respon Injili Terhadap Dekonstruksi Konsep Kristologi oleh Kaum Pluralist"http://debbiep


[1]Kristologi adalah suatu doktrin yang sering dipersoalkan oleh bidat-bidat dan juga teolog-teolog yang “menyimpang”. Sebagaimana dikatakan oleh Lumintang: “Akar persoalan kristologi  sebenarnya telah mulai dari gereja mula-mula, bahkan sejak  masa Yesus dan terus berkembang sampai zaman reformasi. Tidak sampai di situ, persoalan kembali hangat pada zaman setelah reformasi yaitu zaman rasionalisme abad XIX, di mana teologia telah telah dipengaruhi oleh filsafat rasionalisme dan  sekularisme Barat, bahkan sampai saat ini. Stevri Indra Lumintang, Teologi Abu-Abu, Pluralisme Iman (Batu Malang: YPII, 2002) 134-135.
[2]Riwayat kehidupan Hick, disarikan dari berbagai sumber, diantaranya: John Hick, God Has Many Name, p.14-15. M.Douglas, “Disintegration Kristology Jhon Hick,” Jurnal of the Evangelical Theological Society  39 (1996) 257.
.
[4] John Hick, “A Pluralist View” dalam Four Views on Salvation in a Pluralistic World (Grand Rapids: Zondervan, 1995) 47.
[5] John Hick, A Christian Theology of Religions (Louisville: Westminster/John Knox, 1995) 50.
[6] John Hick, An Interpretation of Religion  (London: MacMillan; New Heaven: Yale University press, 1989) 246.
[7]John Hick, Dimensi Kelima: Menelusuri Makna Kehidupan (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2001) 21.
[8]Hick mengatakan bahwa kepercayaan Kristen mengenai keabsolutan Yesus, Yesus satu-satunya jalan, memiliki dampak buruk dalam kehidupan manusia, karena akan berdampak pada satu sikap yang tidak toleransi, rasisme, merasa superioritas dan lain-lain. John Hick dan Paul Knitter, ed., The Myth of Christian Uniqueness (London: SCM press, 1987) 17-18.
[9]Hick, God Has Many Names  71.
[10] Penjelasan mengenai definisi anonimus Kristen,  di jelaskan oleh  Rahner dalam bukunya Theological Investigation  sebagai berikut:  “We prefer the terminology according to which that man is called an ‘anonymous Christian’ who on the one hand has de facto accepted of his freedom this gracious self-offering on God’s part through faith, hope, and love, while on the other he is absolutely not yet a Christian at the social level (through baptism and membership of the Church) or in the sense of having consciously  objectified his Christianity to himself in his own mind (by explicit Christian faith resulting from having hearkened to the explicit Christian message) We might therefore put it as follows: the ‘anonymous Christian’ in our sense of the term is the pagan after the beginning of the Christian mission, who lives in the state of Christ’s grace through faith, hope and love, yet who has no explicit knowledge of the fact that his life is orientated in grace-given salvation to Jesus Christ.” Karl Rahner, Theological Investigations Vol 14 translated by David Bourke  (London: Darton, Longman & Todd, 1976) 283.
[11]John Hick dan  Paul Knitter, Mitos Keunikan Agama Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001) 55.
[12]Joseph Neuner, ed.  Christian Revelation and World Religion  (London: Burn & Oates, 1967) 53.
[13]Paul F. Knitter, Menggugat Arogansi Kekristenan  (Terj. Yogyakarta: Kanisius, 2005) 160.
[14] Ibid.
[15] Hick, “A Pluralist View” 35.
[16]John Hick, The Myth 20.
[17]John Hick, The Metaphor of God Incarnate: Christology in a Pluralistic Age (Louisville: Westmister Press, 1993) 12.
[18]Lumintang, Teologi Abu-Abu 110.
[19]John Jick, Metaphor 12.
[20]Hick, “Jesus and the World Religion” 168.
[21] Hick, “A Pluralist View” 35-36.
[22]Ibid.
[23]Paul F.Knitter, Pengantar ke dalam Teologi Agama-Agama (Yogyakarta:Kanisius, 2008) 134-135.
[24]John Hick, The Metaphor iX.
[25]Ibid.
[26] John Hick, Jesus And the World Religion, The Myth of God Incarnate  (Philadelphia: Westminster, 1977)  168.
[27]John Hick, An Interpretation of Religions (New Heaven and London: Yale University, 1989) 372.
[28]John Hick, The Metaphor 106.
[29] John Hick, Jesus and the World Religion 242.

[30]Ibid, 178.
[31]Lumintang, Teologi Abu-Abu 111-112.
[32]Hick, Jesus and World Religion  176.
[33]Ibid, 178.
[34]Ibid. 181.
[35]Hick,  Jesus and the World Religion 178.
[36]Hick, The Metaphor 4.
[37] Hick, Jesus and the World Religion  172.
[38]Ibid. 12.
[39]Hick dan Knitter, The Myth of Christian Uniqueness  16.
[40] Neune, Christian Revelation  52.
[41]Ibid. 35.
[42] Ibid. 52. Dikutip dari Budi Dermawan “TinjauanTerhadap Hipotesa Pluralisme Agama John Hick: Suatu Dialog Kritis Dari Perspekti Eksklusifis” Skripsi  (Malang: SAAT, 2002) 18.
[43]Hick,  The Metaphor of God Incarnate 127.
[44]Lumintang, Teologi Abu-Abu, 180-181.
[45]John Hick,  God and The Universe of Faith  (London: Macmillan; Ny:  St Martin’s, 1973) 122.
[46]Dermawan, “Tinjauan Terhadap Hipotesa Pluralisme” 40.
[47]John Hick, “Pluralist View” dalam Four Views on Salvation in a Pluralistic World  (Grand Rapids: Zondervan, 1995) 43.
[48]Debora N. Eliasih,  “Respon Injili Terhadap Dekonstruksi Konsep Kristologi oleh Kaum Pluralis,” http://debbiepunya.blogspot.com/2010/08/respon-injili-terhadap dekonstruksi.htm. (diakses  maret 2013)
[49]Ibid.
[50] Peter Byrne “A Religious Theory of Religion”  dalam Budi Dermawan “Tinjauan Terhadap Hipotesa Pluralisme” 58.
[51]Dermawan “Tinjauan Terhadap Hipotesa Pluralisme” 60-61.
[52]Hick, “Jesus and the World Religion” 168.
[53]Elizabeth A. Johnson, Kristologi di Mata Kaum feminis: Gelombang Pembaharuan Dalam Kristologi  (Yogyakarta: Kanisius 2003) 65-66. Bnd. Dame Mian Asi Simajuntak,  Analisa Kritis Terhadap Kristologi John Hick (skripsi)  (Malang: SAAT, 2004) 111.
[54]Millard J. Erickson, Introducing Christian Doctrine  (Grand Rapids: Baker, 1992) 208.
[55] James D.G Dunn, Christology in the Making  (Philadelphia:Westminster, 1980) 60. Dikutip dari John Hick, “Is Christianity the Only True Religion or One among Others?” [http:/www.johnhick.org.uk/articel2.pdf]
[56] Alister E. McGrath, “Response to John Hick “ dalam  Gundry, Stanley N., ed.  Four Views on Salvation in a Pluralistic World (Grand Rapids: Zondervan, 1995) 67.          
                [57] Howard Marshall, The Origins of New Testament Christology (Downers Grove: InterVarsity, 1990) 40-41. Dikutip dari  Dermawan “Tinjauan Terhadap Hipotesa Pluralisme” 67-68,
[58] Hick, The rainbow of Faiths: Critical Dialogues on Religious Pluralism  (London:SCM, 1995) 92.
[59]Hick, “Pluralist View” 33-34.
[60]Merril C. Tenney, Survey Perjanjian Baru [Ed. Keempat; Malang: Gandum Mas, 1997) 183. Dalam Dermawan “Tinjauan Terhadap Hipotesa” 70.
[61]Ibid.
[62]Pembahasan dalam makalah ini  adalah berhubungan dengan kristologi, namun penulis akan memaparkan sedikit mengenai konsep soteriologinya  agar pembaca dapat memahami secara komprehensif mengenai konsep kristologi John Hick. Hal ini juga berkaitan dengan konsep keselamatan  dalam Kristen bahwa keselamatan hanya ada di dalam Yesus Kristus yang ditentang oleh Hick.
[63]Hick, The Metaphor  127.
[64]Tumpal H. Hutahean, “Finalitas Karya Yesus Sebagai Juruselamat: Suatu tinjauan Kritis Terhadap Teologia Religionum,” http//www.grii-andhika.org/makalah/finalitas-karyayesus.htm
[65]Hick, “ A pluralist View” 43.
[66] Hick, The Rainbow  80/
Posting Komentar