Rabu, 13 November 2013

khotbah umum gkkb Pontianak 10 november 2013

Amos 3:1-8
Allah adalah hakim yang adil dan benar
Saudara, saya memiliki 3 anak laki-laki, sebelum punya anak saya berfikir, mendidik anak itu gampang, tetapi ternyata tidak seperti saya bayangkan.  Satu hal yang sangat sulit, bagi saya dalam mendidik anak adalah bagaimana berlaku adil terhadap tiga anak saya. Sebagai  contoh, dulu kalau beli  satu baju bisa di pakai tiga anak, karena anak saya laki-laki semua. Pertama-tama kokonya yang pakai, kalau sudah sempit adiknya yang pakai, setelah itu yang bungsu pakai. Awal-awalnya tidak masalah, tetapi semakin besar, adik-adiknya semakin mengerti, lalu yang adiknya mulai protes,  koq enak Koko pake baju baru terus, kami pakai yang bekas. Ini tidak adil...beberapa waktu terakhir ini, kata tidak adil, semakin sering saya dengar.... Bukan hanya masalah baju, tetapi  masalah-masalah yang lain juga termasuk ketika kami mendisplinkan mereka. Ketika kami hendak mendisiplin anak kami, sering ada yg protes  kenapa kami dipukul, apa salah kami? Papa tidak adil,  Papa lebih sayang adik, mama lebih sayang Koko...papa tidak sayang lagi kepada kami dlsb. Saya orang yang  jarang untuk menghukum anak, jadi kalau sudah memukul anak saya, itu berarti kesalahannya sudah dilakukan berulang-ulang dan apa yg dilakukannya adalah sesuatu yang tidak dapat ditolerir lagi. Ketika saya menghukum bukan berarti saya membenci mereka, tetapi justeru karena saya mengasihi mereka. Tujuannya  supaya mereka menjadi anak yang baik.  Namun  seringkali anak-anak  tidak  memahami maksud  baik dari  kita orang tua ketika mendisplin  mereka.
Sdr. Hal yang sama terjadi bagi  bangsa Israel, ketika Allah  menghukum mereka bukan berarti Allah tidak mengasihi mereka, tetapi justeru karena Allah mengasihi mereka maka Allah mendisplinkan mereka. Selain itu kesalahan mereka sdh tidak dapat ditolerir lagi. Karena mereka telah berulang-ulang melakukan kesalahan dan dosa. Sebagaimana dikatakan dalam Amos 2:6, karena tiga perbuatan jahat bahkan empat, Tuhan katakan Aku tidak menarik lagi keputusanku... Kata tiga bahkan empat menunjukan kepada kita bahwa kesalahan dan dosa  yang dilakukan mereka bukan sekali saja tetapi berulang-ulang, itulah  yang menyebabkan Tuhan akan  menghukum mereka.
            Ketika Amos memberitakan  bahwa  mereka  akan mendapat hukuman dari Allah. Mereka seakan-akan  bertanya, mengapa mereka harus dihukum oleh Allah? Bukankah mereka adalah umat pilihan Allah?  Mereka berfikir bahwa Allah tidak konsisten dengan janji-janji-Nya. Mereka berfikir bahwa Allah tidak adil, karena menurut  mereka bahwa mereka sudah hidup benar, mereka merasa tidak berdosa, mereka mengatakan apa yang kurang dari kami, bukankah kami beribadah kepada Allah, bukankah kami memberi persembahan? Kenapa Allah tidak memperingatkan mereka akan kesalahan mereka?
Nah saudara, dalam pasal 3:1-8, yang telah kita baca tadi, Allah melalui nabi Amos, mau menyatakan, bahwa ketika Allah menimpahkan hukuman kepada mereka, bukan Allah berlaku sewenang-wenang, sembarang menghukum, Allah menghukum bukan tanpa dasar! tetapi hukuman Allah didasarkan pada  keadilan, kasih dan kebenaran. Allah sudah memberikan anugerah bagi mereka yaitu dengan berulang-ulang menyatakan kesalahan mereka, supaya mereka bertobat, berbalik tetapi mereka sendiri yang  mengabaikan akan peringatan dari Allah, mereka meremehkan peringatan dari Tuhan.
 Dari pembacaan kita tadi setidaknya ada tiga hal yang menunjukan bahwa  ketika Allah  menghukum bangsa Israel didasarkan pada keadilan Allah:
Pertama, Allah telah memperingati bangsa Israel melalui Firman Tuhan tetapi mereka mengabaikan peringatan dari Tuhan. (ay.1-2)
   Sdr. Dalam ayat 1 Amos memulai dengan kata “dengarlah firman ini”. Kata “dengar atau dengarlah” sering diungkapkan oleh atau para nabi Allah kepada bangsa Israel, dalam kitab Amos minimal ada tiga kali disebutkan kata ini. Kata ini mengandung arti bukan sekedar mendengar tetapi benar-benar memperhatikan dengan serius apa yang akan disampaikan oleh Allah dan melakukan apa yang diperintahkan Tuhan. Sepanjang sejarah Allah terus berbicara kepada bangsa Israel baik melalui wahyu umum, maupun para nabi, melalui FT namun mereka tidak mengindahkan apa yang disampaikan oleh Allah. Segala peringatan melalui firman Tuhan terus disampaikan oleh Allah kepada mereka, supaya mereka mentaati tetapi semua dianggap angin lalu. Hanya masuk telinga kiri keluar telinga kanan.
Sdr. Amos memulai dalam ayat 1-2 dengan mengingatkan mereka mengenai kasih sayang Tuhan bagi mereka. Amos mengingatkan  mereka bagaimana  Allah mengasihi mereka. Ketika  Allah melihat penderitaan mereka di Mesir, Allah dengan penuh kasih sayang membawa mereka keluar dari Mesir supaya mereka dibebaskan. Supaya mereka dapat menikmati kebebasan yang sungguh, dan menerima segala berkat dari Tuhan di tanah perjanjian. Namun ketika  mereka sudah berada di tanah perjanjian, mereka begitu cepat melupakan Tuhan, mereka hanya mengingat berkat Tuhan, tetapi lupa kepada sang pemberi berkat. Mereka lupa akan perjanjian mereka dengan Tuhan  di Gunung Ebal dan Gerizim (dalam ul. 27-28) yaitu mereka akan diberkati jikalau  mereka benar-benar mendengar suara Tuhan dan melakukan perintah Tuhan dan kutuk akan ditimpahkan kepada mereka jikalau mereka  tidak mendengar perintah Tuhan. 
Selanjutnya diayat 2, Amos lebih mempertegas, tentang keadilan Allah dalam penghukuman kepada mereka. Ketika  bangsa Israel bertanya mengapa Tuhan harus menghukum mereka?Jawabannya “ Karena hanya mereka  yang di kenal oleh Allah, sehingga  Allah  akan menghukum mereka, ”.   Kata “hanya kamu yang Ku kenal” menunjukan suatu kedalaman hubungan antara umat Israel dan Tuhan. Allah di sini mengungkapkan seolah-olah Allah tidak mengenal bangsa lain, Allah hanya mengenal bangsa  Israel saja. Disini Allah mau menyatakan bahwa antara Allah dan Israel ada ikatan yang begitu erat yang tidak dapat dipisahkan, seperti ikatan suami istri yang diikat oleh perjanjian dengan sumpah. Namun  mereka tidak mengindahkan perjanjian yang telah disepakati bersama. Ketidaktaatan mereka terhadap Firman Tuhan menyebabkan Tuhan harus menghukum mereka. Namun hukuman ini tidak didasari oleh kebencian Allah kepada Israel tetapi oleh kasih Allah, supaya mereka bisa bertobat dan kembali kepada Allah.  Itulah tujuan penghukuman Allah bagi Israel.
Saudara,   bagi kita yang sudah memiliki anak, saya yakin kita pernah mendisplin anak kita, atau   memukul anak kita karena kenakalannya.. Saya yakin bahwa tidak ada orang tua yang senang memukul anaknya, tetapi mau tidak mau, kalau kita menyayangi anak kita, maka kita harus memukul atau mendisiplin anak kita, jikalau hidup mereka tidak benar. Sebagai  seorang ayah, saya terkadang memukul anak saya karena tidak mau dengar apa yang saya katakan, namun setelah memukul hati saya  begitu perih, bahkan lebih sakit dari pukulan saya kepada anak saya. Tetapi saya tidak ada pilihan lain, karena saya mengasihi dia, kalau dia bukan anak saya, saya tidak akan memukulnya, demikian juga dengan apa yang dilakukan Allah, kepada bangsa Israel. Tuhan katakan, hanya engkau yang  ku kenal, maka aku akan menghukummu.
 Sdr. Seharusnya bangsa Israel  dengan statusnya sebagai umat perjanjian Allah, sikap hidup mereka seharusnya benar, karena mereka sudah tahu Firman Tuhan, sudah mengalami bagaimana kasih Tuhan, pimpinan Tuhan dalam hidup mereka. Namun dihadapan Tuhan mereka seperti anak yang tidak tahu diri, seperti seorang istri atau suami  yang menghianati perjanjian pernikahannya dengan terus  berselingku dengan laki-laki atau wanita lain. Tidak mau mendengar nasihat, dari orang mengasihinya.
Aplikasi: Saudara kita sama seperti bangsa Israel, kita adalah umat perjanjian Allah, kita adalah anak Allah. Seharusnya seorang anak yang baik tentunya mengenal dengan baik Bapanya, seharusnya  taat pada Bapanya,  tahu apa yang disenangi dan tidak disenangi oleh bapanya.  Namun kenyataan, bukankah kita yang mengatakan anak Tuhan, seringkali kita tidak  taat kepada Tuhan, kita tidak mau mendengar Tuhan berbicara bagi kita.  Allah terus berbicara bagi kita, baik melalui Firman Tuhan, melalui roh Kudus yang tinggal dalam hati kita untuk menyatakan kesalahan, dosa kita. Namun kita terkadang tidak mau mendengar suara Tuhan, terkadang suara Tuhan kita abaikan, kenikmatan dunia, kemewahan dunia, mengaburkan suara Tuhan berbicara bagi kita. kita lebih senang mendengar bisikan untuk hidup dalam dosa dari pada suara Tuhan berbicara untuk kita hidup kudus.
Saudara,  kepekaan untuk mendengar suara Tuhan adalah suatu yang sangat penting bagi kita sebagai orang percaya, agar kita menjadi anak2 Tuhan yang sungguh-sungguh berkenan kepada Tuhan.
Kedua, hukuman Tuhan didasarkan kepada keadilan Allah karena sebelumnya Tuhan sudah memperingati bangsa Israel melalui tanda-tanda  tetapi mereka tidak memiliki kepekaan untuk melihat tanda-tanda dari Tuhan. (3-6)
Hubungan kita dengan Tuhan dalam Alkitab  digambarkan seperti hubungan suami istri atau hubungan ayah dan anak, yaitu adanya suatu relasi yang begitu intim dan akrab.  Semakin dekat hubungan kita dengan suami, istri atau anak kita, maka tentunya kita akan semakin peka dan sensitif terhadap perilaku dari orang yang kita kasihi. Saya beri contoh, kalau istri saya lagi marah, walaupun dia tidak mengungkapkan kemarahannya dalam bentuk verbal, dari gejalanya, body language, sikapnya, raut mukanya, saya pasti tahu ada sesuatu, ada masalah ini. Demikian juga dengan anak-anak saya, ketika pulang sekolah,  perilaku, sikapnya yang berbeda  saya pasti tahu ada masalah di sekolah atau dengan teman.. maka saya akan bertanya mengapa, ada apa?
Demikian juga dengan hubungan kita dengan Tuhan, semakin dekat hubungan kita dengan Tuhan, semakin kita mengenal Tuhan, semakin kita  memiliki kepekaan terhadap tanda-tanda dan peringatan dari Tuhan. Namun bangsa Israel yang adalah umat kesayangan Allah ini tidak memiliki kepekaan terhadap tanda-tanda dan peringatan  dari Tuhan...
Dalam, ayat 3-6,  menjelaskan kepada kita bahwa ternyata Tuhan sudah memberikan tanda-tanda dan peringatan-peringatan, sebelum Tuhan menimpahkan hukuman kepada mereka.  Tuhan sudah memperingatkan mereka akan dosa mereka, namun peringatan dan tanda-tanda dari Allah diabaikan oleh mereka. (perhatikan pasal 4:6-13, mengenai tanda-tanda yang diberikan oleh Allah) namun, karena mereka tidak lagi memiliki kepekaan dan kesensitifan secara rohani, jadi ketika terjadi bencana kelaparan, ketika Tuhan tidak menurunkan hujan sehingga gagal panen, ada hama dan penyakit dlsb. Mereka menganggap itu hanyalah peristiwa alam biasa, tidak ada kaitan sama sekali dengan hubungan mereka dengan Tuhan. Mereka lupa bahwa semua yang ada di dalam dunia semua ada dalam kontrol Allah, Tuhan yang menciptakan semua alam sekitar untuk tujuan dan rencana Allah.
Ayat 3, Amos mengatakan tidak mungkin ada dua orang berjalan bersama-sama, jika mereka belum berjanji. Hal ini menegaskan kepada kita bahwa segala peristiwa yang terjadi disekitar mereka bukan satu kebetulan. Secara geografis wilayah Israel, terdiri dari padang gurun, dan populasi penduduk sangat kurang  dibandingkan hari ini, dan tentunya komunikasi terbatas, maka jika ada dua orang  bertemu di beberapa titik di padang pasir pada waktu tertentu, maka kesimpulan logis adalah  telah terjadi pengaturan sebelumnya, karena tidak ada dua orang bisa bertemu di padang pasir secara kebetulan.
Ayt 4-5 berbicara mengenai singa mengaum. Biasanya  singa  akan mengaum jika telah menangkap mangsanya, kalau ia masih berburu ia tidak akan mengaum.  Argumen yang sama berlaku untuk menangkap burung. Tidak ada burung tertangkap kecuali ada jebakan yang  telah diatur untuk menangkapnya. Jika ada burung yang terjebak dalam jebakan  menyiratkan bahwa ada  perangkap yang telah ditetapkan untuk tujuan itu.
Dalam ayat 6  juga hal yang sama, tidak ada sangkakala ditiup satu kota, jikalau tidak ada peringatan bahaya. Sangkala digunakan untuk memperingatkan kota dari  bahaya. Ketika orang-orang mendengar terompet atau sangkakala maka mereka bisa yakin bahwa bahaya sudah dekat oleh sebab itu mereka akan mempersiapkan diri mereka untuk menghadapi bahaya tersebut.
Saudara, tanda-tanda dan peringatan akan hukuman Tuhan akan ditimpahkan kepada bangsa Israel sangat-sangat jelas, namun mereka begitu terbuai oleh kenyamanan secara jasmani. Mereka terbuai oleh kekayaan dan kemakmuran, mereka terbuai oleh kenyamanan karena tidak ada pergolakan politik, dlsb.  Oleh sebab itu tanda-tanda dari Tuhan tidak lagi mereka perhatikan.
Saudara, hal yang paling berbahaya bagi orang percaya adalah ketika hidupnya nyaman, biasanya ketika hidup kita nyaman, maka terkadang kita tidak lagi sensitif terhadap hal-hal yang bersifat  rohani.  Karena kehidupan ekonomi kita baik, keluarga kita baik, pekerjaan kita baik dan akhirnya kita merasa bahwa tidak ada masalah kita dengan Tuhan. Tetapi justeru Firman Tuhan berbicara bagi kita hari, pada saat hidup kita baik,nyaman  maka kita harus lebih sensitif lagi terhadap tanda-tanda dan suara Tuhan, bukan sebaliknya terbuai oleh kenyamanan secara jasmani.
Saudara, Tuhan bisa memakai berbagai cara untuk menegur kita dan membawa kita kembali kepada Dia. Ia bisa memakai pergumulan hidup kita, ia bisa memakai sakit penyakit, ia bisa memakai masalah ekonomi, bisa melalui alam sekitar, orang-orang disekeling kita dlsb. Namun pertanyaan bagi kita, apakah  kita sensitif terhadap tanda-tanda dari Tuhan atau tidak?  Kesensitifan rohani akan muncul dengan sendirinya ketika memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan.
Sdr. Sebagai hamba Tuhan, terkadang saya begitu sibuk dengan pelayanan, terkadang tidak lagi memiliki waktu bersama dengan Tuhan, menyebabkan kami tidak memiliki kesensitifan secara rohani. Oleh sebab itu selasa yang lalu saya mengajak keluarga saya untuk pergi ke tempat retreat di daerah Tikalong, di sana kami berdoa.  Ada beberapa hal yang kami doakan, khusus mengenai pelayanan kami ke depan. di sana  kami berdoa, meminta Tuhan berbicara bagi kami, kami mau belajar mendengar Tuhan berbicara, agar semua keputusan dan rencana-rencana ke depan benar-benar dari Tuhan. Satu hal yang saya minta adalah agar kami diberi kesensitifan secara rohani untuk mengerti tanda-tanda dari Tuhan. Agar segala keputusan kami, pelayanan kami benar-benar  sesuai dengan kehendak  Tuhan.
Sdr.Kita juga bersyukur hari ini, kita beribadah di gereja yang secara fisik begitu baik, kita memiliki jemaat yang begitu banyak. Namun saya harus katakan ini bukan suatu ukuran bahwa gereja kita bertumbuh, karena pertumbuhan tidak hanya didasari pada kuantitas kehadiran, atau bangunan secara fisik. Kita perlu berhati-hati, semakin besar gereja kita, maka kita harus SEMAKIN sensitif  terhadap tanda-tanda dari Tuhan. Agar kita tidak terbuai oleh sesuatu yang bersifat fisik dan melupakan sesuatu  bersifat rohani. Sdr. Sesuatu yang kelihatan secara fisik tidak boleh menjadi dasar untuk kita mengatakan bahwa gereja itu bertumbuh dengan sehat. Saudara, hari ini kita melihat ada banyak gedung-gedung gereja yang megah  di Eropa dan Amerika yang dibangun ratusan atau puluhan tahun yang lalu namun sekarang sudah jadi museum, sudah jadi mesjid, bioskop, karena tidak ada lagi orang yang beribadah. Masalahnya karena gereja tidak membangun suatu relasi yang baik dengan Allah dan tidak sensitif mengenai tanda-tanda dari Tuhan.
Sdr. Hamba Tuhan, majelis menyadari hal ini, sehingga itu kita  melakukan pemuridan, agar setiap kita bisa bertumbuh secara rohani dan semakin mengenal Allah. Kita ada persekutuan doa, ini adalah sarana bagi kita untuk bertumbuh dan untuk meningkatkan kesensitifan  rohani. Karena hanya dengan memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan kita akan semakin sensitif dan peka terhadap peringatan dan tanda dari Tuhan. Mengetahui kehendak dan rencana Tuhan.
Ketiga, Hukuman kepada bangsa Israel didasari keadilan Allah karena  Allah telah memperingai berulang-ulang mengenai dosa mereka melalui nabi-nabi tetapi mereka tidak mau taat (7-8)
Saudara, peringatan dari Tuhan untuk membawa bangsa Israel untuk  menyadari kesalahan dan dosa mereka, tidak saja Tuhan sampaikan melalui tanda-tanda, melalui alam atau sejarah. Tetapi Tuhan juga mengutus para nabi untuk menyatakan bahwa mereka telah jauh dari Tuhan. Mereka telah melakukan apa yang tidak benar dari Tuhan. Namun mereka tidak mendengar suara nabi. Mereka tidak menghiraukan apa yang dikatakan para nabi, bahkan begitu banyak nabi yang akhirnya di bunuh. Mengapa mereka tidak mendengar para nabi Tuhan berbicara? Karena para nabi  yang benar membicarakan kebenaran, dosa, dan penghukuman Allah. Mereka tidak menyenangi apa yang disampaikan oleh nabi seperti ini. Mereka lebih senang mendengar nabi palsu yang mengatakan hal-hal yang enak di dengar, yang berbicara mengenai berkat-berkat, bicara mengenai kesejahteraan, bicara mengenai kesuksesan hidup.
Hari ini, bukankah orang lebih senang hamba Tuhan menyampaikan Firman Tuhan, yang berbicara mengenai berkat dari pada dosa. Di Jawa ada gereja-gereja tertentu kalau mengundang hamba Tuhan  khotbah, selalu berpesan  jangan bicara dosa, neraka, sampaikan hal-hal baik saja. Karena jemaat disini cepat tersinggung. Waktu mengundang saya, berkhotbah, di beritahu hal yang sama, “puji Tuhan”, karena saya sdh diberitahu ada dosa di gereja, maka  saya sampaikan dosa.  Bagi saya tidak masalah, jikalau saya  tidak di undang lagi, yang penting saya sampaikan kebenaran. Kalau kita sudah tahu dosa, lalu kita membiarkan dosa tanpa ada tindakan apa-apa, maka kita bersalah. Saya punya prinsip lebih baik saya tidak disenangi manusia dari pada tidak disenangi oleh Allah.
Sdr. Nabi yang benar adalah nabi yang menegur dosa, hamba Tuhan yang benar adalah hamba Tuhan tidak kompromi dengan dosa, walaupun ada resiko yang diambil, tidak disenangi oleh orang atau mungkin ia harus menerima konsekwensi dari apa yang disampaikannya.  Saya sangat senang dengan Ahok wakil gubernur Jakarta. Demi mempertahankan kebenaran, dia relah dibenci orang, bahkan dikatakan ia siap mati untuk kebenaran. Seharusnya hamba Tuhan juga harus demikian..kalau A Hok jemaat biasa berani mengatakan kebenaran mengapa kita hamba Tuhan takut menyampaikan kebenaran.
Saudara, penghukuman Allah kepada bangsa Israel didasarkan kepada keadilan, kasih dan kebenaran Allah. Tujuan penghukuman adalah supaya mereka berbalik kepada Tuhan, menyadari kesalahan mereka. Tuhan sudah memakai cara Tuhan untuk menyampaikan kebenaran bagi mereka. Tuhan sudah berbicara melalui Firman Tuhan kepada mereka supaya mereka menyadari dosa mereka, namun mereka menutup telinga kepada kebenaran, Tuhan sudah memberi tanda-tanda dan peringatan namun mereka tidak memiliki kesensitifan secara rohani untuk melihat tanda-tanda dari Tuhan, selanjutnya Tuhan mengutus nabi untuk menyatakan kesalahan mereka, namun mereka tidak mendengar dan taat terhadap apa yang disampaikan oleh para nabi Tuhan, oleh sebab itu tindakan terakhir Tuhan adalah menghukum mereka, supaya mereka menyadari kesalahan mereka dan berbalik kepada Tuhan. Itulah keadilan Allah dalam menghukum bangsa Israel.

Saudara, Kondisi kita hari ini mungkin tidak jauh lebih baik dari bangsa Israel, apa yang dialami bangsa Israel  mungkin sedang kita alami hari ini. Hari ini mungkin Tuhan sudah berbicara bagi kita mengenai kesalahan dan dosa kita, namun kita tidak memiliki kepekaan untuk mendengar Tuhan berbicara, karena kita begitu terbuai oleh tawaran-tawaran dan kenikmatan dunia ini, Mungkin hari ini Tuhan sudah memberi tanda-tanda, akan ketidaksenangan Allah atas  dosa yang kita lakukan, namun kita tidak sensitif terhadap tanda-tanda dari Tuhan. Mungkin hari ini para hamba Tuhan telah memberitakan tentang kebenaran, tetapi kita begitu keras hati dan tidak menanggapi akan suara Tuhan.   Kalau hari ini, ada diantara kita hidup seperti demikian, marilah kita datang kepada Tuhan, meminta Tuhan menolong kita untuk lebih sensitif akan suara Tuhan, lebih memiliki kepekaan untuk melihat tanda-tanda dari Tuhan, dan mau mendengar dan taat akan Firman Tuhan.  Kiranya Tuhan menolong kita. Amin  
Posting Komentar