Kamis, 28 November 2013

Memahami Ulang Konteks Berteologi John Calvin Dalam Doktrin Predestinasi



PENDAHULUAN

Artikel ini tidak bermaksud secara langsung dan detail menguraikan 
doktrin predestinasi, atau bahkan menjawab serangkaian pertanyaan 
rumit yang sering kali muncul seputar doktrin ini. Artikel ini lebih 
merupakan suatu usaha untuk memahami kembali kerangka dasar atau 
konteks doktrin predestinasi sebagaimana diajarkan oleh John Calvin. 
Hal ini perlu kita lakukan karena di satu pihak, Calvin percaya bahwa 
doktrin predestinasi memberikan manfaat yang tidak sedikit dalam 
kehidupan orang percaya, tetapi di lain pihak, sejak awal ia sendiri 
telah menyadari banyaknya orang yang akan menyimpangkan ajarannya 
tentang predestinasi.

Penyimpangan-penyimpangan tersebut, sebagaimana dikatakan oleh Henry 
Cole, telah mengakibatkan orang yang mempelajari doktrin predestinasi 
Calvin tidak dari sumber aslinya bukan saja menjadi salah mengerti, 
melainkan juga kehilangan "religious spirit" sebenarnya yang 
membangun.[1] Hal ini dapat terjadi karena doktrin predestinasi 
Calvin sering kali hanya dibicarakan secara terpotong-potong, lepas 
dari konteksnya.

Calvin memang bukan orang pertama dan satu-satunya yang mencetuskan 
doktrin predestinasi. Dalam tulisan-tulisannya, ia banyak memakai 
argumentasi Agustinus untuk menjelaskan beberapa masalah 
predestinasi. Namun, bila kemudian doktrin ini sering kali 
diidentikkan dengan Calvin, tidak lain karena dalam pemikirannya, 
paham predestinasi memperoleh pengupasan secara lebih komprehensif 
dan utuh.[2] Di samping itu, ia adalah tokoh yang paling gigih 
mengajarkan dan membela kebenaran doktrin ini, lebih dari siapa pun, 
bahkan teolog-teolog di masa kini.[3]

Barangkali, prinsip awal dan pertama yang kita bisa pelajari dari 
Calvin adalah sikapnya yang percaya sepenuhnya dan apa adanya 
terhadap wahyu Allah di dalam Alkitab. Sikap ini memberikan dua 
dampak. Pertama, ia berani masuk ke kedalaman firman Tuhan dan 
mengajarkannya, bahkan hal-hal yang tampaknya kontroversial, dengan 
suatu keyakinan bahwa baginya, tidak ada hal yang Allah wahyukan yang 
sifatnya sia-sia, termasuk kebenaran predestinasi. Ia meyakini 
sepenuhnya bahwa Allah dan firman-Nya adalah sumber kebenaran doktrin 
ini. Kedua, ia bukan saja dengan penuh rasa hormat kepada Allah 
berani mengajarkan doktrin predestinasi secara jujur, melainkan juga 
secara berhati-hati berusaha untuk tidak melampaui apa yang Alkitab 
katakan sehingga tidak jatuh ke dalam spekulasi metafisika.

Walaupun menelusuri sejarah pemikiran Calvin untuk mendapatkan 
keutuhan kerangka berpikirnya adalah hal yang hampir mustahil, tetapi 
saya berangkat dari keyakinan sebagaimana dikatakan oleh Richard 
Muller bahwa selama tulisan-tulisan Calvin masih dapat kita pelajari, 
berarti masih ada harapan.[4] Itu sebabnya, melalui tulisan ini, saya 
berharap cukup untuk memberikan kerangka dasar pemikiran Calvin 
tentang predestinasi, melalui penelusuran secara historis dan 
teologis terhadap tulisan-tulisan Calvin, khususnya "Institutes".[5]

Artikel ini dibagi dalam dua bagian. Bagian pertama membahas konteks 
pemahaman doktrin predestinasi Calvin dengan mengamati perkembangan 
tulisan-tulisannya guna melihat kerangka atau pola dasar pemikirannya 
tentang predestinasi. Bagian kedua merupakan aplikasi pemahaman 
bagian pertama dalam membaca tulisan Calvin tentang predestinasi, 
dalam relevansinya dengan konteks yang ia maksud.

SURVEI HISTORIS DAN TEOLOGIS POLA DASAR PEMIKIRAN PREDESTINASI CALVIN

Doktrin predestinasi Calvin tidak ditulis dalam suasana yang "aman 
dan tentram". Doktrin ini mengalami proses perkembangan hingga 
menjadi benar-benar matang di dalam karya-karyanya, khususnya 
"Institutes" edisi 1559, setelah melalui berbagai perlawanan frontal 
dari lawan-lawannya. Perlawanan dari teolog Roma Katolik, Albertus 
Pighius, pada tahun 1543, mendorongnya untuk menulis "The Bondage and 
Liberation of the Will: A Defense of the Orthodox Doctrine of Human 
Choice against Pighius",[6] guna menolak konsep Pighius yang terlalu 
menekankan kebebasan manusia. Dua tahun kemudian, yaitu tahun 1545, 
ia menulis "Treatises Against the Anabaptists and Against the 
Libertines",[7] sebagai jawaban terhadap kelompok Libertines yang 
menolak dosa asal. Tahun 1552, ia menulis "Concerning the Eternal 
Predestination of God",[8] yang isinya bukan saja menjawab Georgius 
the Sicily, melainkan juga diarahkan kepada Pighius dalam kaitannya 
dengan problem prapengetahuan Allah dan, lagi-lagi, kebebasan manusia.

Di samping karya di atas, masih banyak karya lainnya yang hampir 
semuanya ditulis dalam suasana "pembelaan iman". Ia juga banyak 
dibantu oleh murid dan asistennya yang setia, Theodore Beza, dalam 
menegakkan kebenaran predestinasi, khususnya ketika ia terlibat dalam 
perdebatan panjang (tahun 1551 -- 1555) dengan Jerome Bolsec, 
menyangkut kekekalan, prapengetahuan Allah, dan iman.[9]
Dalam seluruh rangkaian perdebatan ini, Calvin tetap berpegang teguh 
pada tradisi monergisme Agustinian, sementara kebanyakan lawannya 
mengekspresikan pola teologi sinergisme yang merupakan sasaran utama 
penolakan para tokoh Reformasi. Tradisi monergisme Agustinian 
menekankan keselamatan yang sepenuhnya berdasarkan anugerah Allah, 
sedangkan tradisi sinergisme mendasarkan keselamatan kepada 
pra-pengetahuan Allah (divine foreknowledge) dan usaha iman dari manusia.

Pergumulan Calvin di atas, dan tulisan-tulisan lainnya, sudah tentu 
banyak memengaruhi tulisannya tentang predestinasi, terutama 
tafsirannya terhadap kitab Roma yang disebut-sebut paling banyak 
memengaruhi Calvin dalam menulis "Institutes" edisi terakhir 
(1559).[10] Mulai edisi pertama, 1536, hingga yang terakhir, 1559, 
"Institutes" mengalami perkembangan yang tidak sedikit, tetapi bukan 
dalam arti adanya pergeseran posisi atau pengubahan isi yang mendasar 
dari waktu ke waktu, melainkan usahanya untuk terus menambahkan 
pokok-pokok ajaran yang ia anggap penting. Sebuah fakta yang 
mengherankan ialah, ketika memberikan tambahan-tambahan, secara 
prinsip ia senantiasa konsisten dengan apa yang telah diajarkan sebelumnya.

Ketika Calvin menulis "Institutes" pada tahun 1536, doktrin 
predestinasi belum memperoleh pembahasan secara khusus. Di dalam enam 
bab tulisannya ini, paham predestinasi ia sisipkan dalam pembahasan 
tentang "turun ke dalam kerajaan maut" dari pengakuan iman rasuli dan 
penjelasan tentang hakikat gereja. Dalam penjelasan kalimat yang 
berdasarkan 1 Petrus 3:19 tersebut -- yang ia mengerti bukan secara 
harfiah, melainkan sebagai manifestasi kuasa penebusan Kristus kepada 
mereka yang telah mati pada zaman sebelum Kristus -- ia menyisipkan 
prinsip perbedaan dampak penebusan Kristus kepada orang-orang percaya 
dan orang-orang fasik. Sedangkan dalam pembahasan tentang gereja, 
pengertian predestinasi mendominasi penjelasannya tentang hakikat 
gereja. Berdasarkan Efesus 1:4, misalnya, ia mendefinisikan gereja 
sejati sebagai "orang-orang yang telah dipilih di dalam Dia sebelum 
dunia dijadikan, dengan tujuan agar semua dapat berkumpul di dalam 
Kerajaan Allah".[11] Gereja adalah universal karena orang-orang 
percaya di dalamnya dipilih dan dipersatukan di dalam Kristus (Efesus 
1:22-23).[12] Hakikat gereja adalah kudus karena "orang-orang yang 
telah dipilih oleh providensi Allah untuk ditetapkan sebagai 
anggota-anggota gereja -- mereka dikuduskan oleh Tuhan (Yohanes 17:17-19)".[13]

Dari semua contoh di atas, jelas bahwa Calvin senantiasa berusaha 
untuk tidak melepaskan predestinasi dalam kaitannya dengan landasan 
bagi identitas umat tebusan Kristus. Pada tahun 1539, ketika 
"Institutes" bertambah menjadi tujuh belas bab, satu hal yang tetap 
konsisten adalah bahwa konteks praktis, eklesiologis, dan 
soteriologis, terus mewarnai pembicaraan tentang predestinasi. Namun, 
di dalam edisi ini, ia juga membahas predestinasi secara lebih luas 
sebagai penjelasan ontologis tentang kedaulatan Allah terhadap 
ciptaan-Nya, dengan tambahan konsep tentang providensi Allah.

Barangkali, progresivitas yang paling radikal ada di dalam edisi 
terakhir, tahun 1559, ketika "Institutes" jadi lima kali lebih 
panjang dari edisi pertama, dan dibagi menjadi empat "buku", 
masing-masing dengan topik utama: "The Knowledge of God the Creator", 
"The Knowledge of God the Redeemer", "The Receiving of the Grace of 
Christ", dan "The Holy Catholic Church". Di dalam edisi ini, ia bukan 
saja membahas predestinasi secara khusus dan panjang (empat bab), 
tetapi ia juga memisahkan pembicaraan predestinasi dari providensi. 
Jika providensi ditempatkan di akhir pembahasan tentang doktrin Allah 
(I.xvi-xviii), maka ia meletakkan predestinasi di dalam konteks 
pembahasan soteriologi, di bawah topik besar "The Receiving of the 
Grace of Christ", atau tepatnya, sesudah pembicaraan tentang iman, 
pembenaran, dan doa (III.xxi-xxiv).

Dampak pemisahan ini, sekali lagi, bukan karena adanya perubahan 
konsep teologis dalam diri Calvin mengenai providensi dan 
predestinasi. Bukan pula pemisahan dalam arti pembedaan secara tajam 
antara providensi dan predestinasi.[14] Pemisahan tersebut dilakukan 
karena ia lebih memilih pendekatan "ordo cognoscendi" (urutan secara 
logis atau mana yang harus diketahui terlebih dahulu) dalam memahami 
predestinasi, ketimbang "ordo essendi" (urutan secara esensi atau 
ontologis).[15] Pola semacam ini tampaknya cukup berhasil membuatnya 
menjauhkan diri dari pembahasan spekulasi metafisika dan 
determinisme, dan sebaliknya, mendekatkan diri kepada pemahaman 
tentang predestinasi yang lebih menampung relevansi rohani secara 
praktis, khususnya dengan jaminan keselamatan orang percaya.

Secara praktis, prinsip di atas dapat dibahasakan sebagai berikut. 
Ketika kita mencoba memahami predestinasi dengan berangkat secara 
deduktif dari pernyataan seperti: "Kehendak Allah adalah penyebab 
segala sesuatu," akan menjadi lebih sulit dan tak terselami daripada 
jika kita mencoba memahami predestinasi dengan berangkat dari 
pertanyaan seperti: "Mengapa Tuhan mau mengampuni dosaku? Mengapa 
Yesus Kristus mau mati untukku?" Melalui pola pendekatan ordo 
cognoscendi, Calvin ingin paham predestinasi itu muncul melalui 
pemahaman terhadap aspek-aspek penebusan di dalam diri orang percaya. 
Begitu pemilihan itu telah muncul dalam pikiran dan dipercayai, atau 
paling tidak, secara samar-samar diterima oleh orang percaya, esensi 
pemilihan, sejauh yang Alkitab wahyukan, harus segera diajarkan.

Belajar dari Calvin, Beza menegaskan bahwa ketika kita mencoba 
memahami predestinasi dengan memulainya dari "first" atau "final 
causality" dalam rahasia kekekalan Allah, itu hanya menyebabkan kita 
tidak bisa menarik makna barang sedikit pun karena pada akhirnya, 
mata kita akan tertutup terhadap dinamika karya Allah dalam sejarah 
keselamatan manusia.[16] Sedangkan, Wendel menafsirkan bahwa Calvin 
memilih ordo cognoscendi dalam konteks soteriologis karena seseorang 
yang mempelajari doktrin predestinasi dengan berangkat dari hakikat 
ketetapan-ketetapan Allah atau providensi Allah, atau membawa 
predestinasi ke dalam kategori pembicaraan providensi Allah, hal itu 
memang bukan sesuatu yang sepenuhnya salah, tetapi tidak tepat dan 
bahkan berbahaya.[17]

Catatan kaki:
1. Kata pengantar H. Cole dalam terjemahan buku "Calvin's Calvinism 6".
2. McNeill, John T (ed.). "Calvin: On the Christian Faith". (New 
York: Bobbs-Merill, 1957) xxii.
3. Cole. "Calvin's Calvinism 6".
4. Muller, Richard A. "The Unaccommodated Calvin: Studies in the 
Foundation of Theological Tradition". (New York: Oxford, 2000) 3.
5. Tentunya dengan tidak mengabaikan sumber-sumber tulisan Calvin lainnya.
6. (Ed. A. N. S. Lane, tr. G. I. Davies; Grand Rapids: Baker, 1996); 
bah. Latin: Defensio sanae et orthodoxae doctrinae de servitute et 
liberatione humani arbitrii adversus calumnies Alberti Pighii Coampensis.
7. (Tr. & ed. Benjamin W. Farley; Grand Rapids: Baker, 1982)&h. 
Prancis: Contre la secte phantastique et furieuse des Libertins que 
se nomment Spirituels.
8. (Tr. J. K. S. Reid; London: Clarke, 1961); bah. Latin: Da aetema 
Dei praedestinatione; dan idem, Calvin's Calvinism.
9. Lihat Muller, Richard A. "The Use and Abuse of a Document: Beza's 
Tabula Praedestinationis, The Bolsec Controversy, and the Origins of 
the Reformed Orthodoxy". dalam "Prostestant Scholasticism: Essays in 
Reassessment" (ed. Carl R. Trueman & R. Scott Clark; Cumbria: 
Paternoster, 1999) 40-41.
10. Lihat Klooster. "Calvin's Doctrine of Predestination 21".
11. Ibid. III.xxii.1.
12. Ibid. IV i.2.
13. Ibid. IV i.17.
14. Providensi sering dimengerti sebagai ketetapan-ketetapan rahasia 
dan kekal Allah secara umum terhadap dunia ciptaan-Nya, sedangkan 
predestinasi berkaitan dengan pemilihan untuk hidup kekal atau 
membiarkan (passing by) orang di dalam dosa-dosanya (reprobation).
15. Dowey, Edward A. Jr. "The Knowledge of God in Calvin's Theology". 
(Grand Rapids: Eerdmans, 1995) 218.
16. Ibid.
17. Wendel. "Calvin: Origins and Development of His Religious Thought". 268.

Diambil dan disunting dari:
Judul jurnal: Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan, Volume 02, Nomor 
02 (Oktober 2001)
Judul artikel: Memahami Ulang Konteks Berteologi John Calvin dalam 
Doktrin Predestinasi
Penulis: Kalvin S. Budiman
Penerbit: Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang, 2001
Halaman: 159 -- 175
Posting Komentar