Selasa, 18 Februari 2014

Khotbah GKKB januari 2014



YESUS MENEBUS KITA DENGAN DARAHNYA
EFESUS 1:7-12
Pendahuluan
Saudara, satu saat ada seorang yang sangat kaya namun tidak memiliki anak, sedang berjalan-jalan di satu taman kota pada pagi hari yang dingin. Ketika dia melewati satu pohon besar di taman tersebut, matanya melihat ada seorang anak umurnya kurang lebih 7 tahun. Anak ini sangat dekil, bau, bajunya robek di sana sini dan dalam keadaan sakit dan kedinginan. Singkat cerita orang kaya ini tergerak hati oleh belas kasihan, lalu ia membawa anak ini ke rumah sakit dan akhirnya mengangkat anak ini menjadi anaknya. Anak ini dibesarkan layaknya seperti anaknya sendiri, di sekolahkan di sekolah  yang baik. Karena anak ini adalah satu-satunya anak orang kaya ini, maka semua perusahan dan hartanya diwariskan kepada anak ini dan diganti nama menjadi nama anaknya.  Namun, saudara ketika bapa ini sudah tua dan mulai sakit-sakitan, ia sering bertengkar dengan anaknya ini, karena seperti biasa orang yang sudah tua, apalagi sakit-sakit, maka terkadang suka mencari perhatian, hal itu membuat anaknya marah dan singkat ceritanya anak ini mengusir ayahnya  dari rumah. Ayahnya yang sudah tua ini, harus terlunta-lunta di jalan untuk mencari sesuap nasi dan menjadi gelandangan, sampai akhirnya ia ditolong oleh teman bisnis yang kebetulan mengenal dirinya.  Saudara, mendengar cerita ini, tentunya kita sepakat mengatakan bahwa anak ini adalah anak yang  tidak tahu diri, tidak tahu berbakti, tidak tahu berterimakasih. Dia tidak sadar bahwa kalau ayahnya tidak mengangkat dia menjadi anak mungkin hidupnya sudah  hancur atau mati dlsb.
Sdr. Cerita ini sebenarnya  adalah  menggambarkan hidup kita orang percaya dihadapan Allah. Kalau saya bisa gambarkan bahwa hidup kita manusia sebelum kita mengenal Tuhan, sebelum Tuhan beranugerah menebus kita, maka kita seperti anak gelandangan ini. Kita tidak memiliki apa-apa, miskin secara rohani, kita diambang kematian, karena penyakit dosa yang menggerogoti hidup kita, kita seperti gelandangan ini  yang hidupnya tidak memiliki arah dan tujuan hidup. Namun Allah seperti orang kaya ini yang melihat hidup kita begitu menggenaskan sehingga itu  ia berbelas kasihan dan  beranugerah,  mengambil dan mengangkat kita dari lumpur dosa,  menyembuhkan kita dari penyakit dosa, bukan hanya itu ia mengadopsi kita sebagai anak-Nya dan menyelamatkan kita. Namun, bukankah terkadang  sikap kita  seperti anak gelandangan yang di adopsi orang kaya tadi, dan tidak  berterimakasih dan tidak tahu diri dihadapan Tuhan.  
Saudara, bagian pembacaan kita tadi adalah merupakan bagian dari pemaparan Paulus mengenai  kekayaan rohani yang diberikan oleh Tuhan bagi orang percaya. Paulus menggambarkan mengenai Allah yang adalah sumber  hikmat dan memiliki kekayaan rohaninya memberikan  manusia yang berdosa suatu  anugerah rohani, yaitu mengangkat manusia dari kemiskinan secara rohani, dari keadaan hidup menggenaskan karena diperhamba oleh dosa, kepada satu kehidupan yang sejati yaitu dengan cara menebus kita dari perhambaan dosa.
Saudara, Dalam Alkitab, kata  “menebus”  berarti membebaskan seseorang dari perhambaan atau tawanan, ataupun kematian, dengan pembayaran, berupa uang tebusan. Menebus dapat berarti membeli atau membayar  kembali. Pertanyaannya, kita ditebus dari apa? Atau dibayar dari apa? Roma 7:14 Manusia  telah  "terjual di bawah kuasa dosa, sudah menjadi hamba  dosa dan  hamba kematian.  Saudara, awalnya kita adalah milik Allah namun kita telah terhilang oleh dosa. Dosa membawa manusia jauh dari Tuhan, dosa membawa manusia kepada kondisi yang menggenaskan dan terbuang dari persekutuan dengan Allah.
Bagaimana kondisi orang yang diperhamba oleh dosa? Kondisi orang yang diperhamba oleh dosa adalah segala aspek hidupnya adalah melakukan apa yang kehendaki oleh dosa. Apa yang dikehendaki oleh dosa? Yang dikehendaki oleh dosa adalah kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Allah yang kudus. Orang yang diperhamba oleh dosa  hidupnya dikuasai oleh dosa, ia tidak punya kekuatan untuk melawan dosa, ia tidak memiliki kemampuan untuk tidak taat kepada dosa. Kecenderungan hidupnya melakukan dosa dan ketidakbenaran.
Dalam Efesus 4:17-5:21, Rasul Paulus menggambarkan mengenai dua kondisi yang sangat bertolak belakang antara  orang yang diperhamba oleh dosa dan orang yang hidupnya telah ditebus oleh Tuhan. Orang yang dikuasai atau diperhamba  oleh dosa, maka kecenderungan hidupnya adalah hidup dalam hawa nafsu, keserakan, hidup dalam kecemaran, hidup dalam kebohongan, kemarahan, kepahitan, perkataan kotor, fitnah, pertikaian, kemabukan dlsb.
Dan yang lebih esensi dari semua ini, adalah orang yang telah diperbudak oleh dosa, maka hidupnya  begitu jauh dari Tuhan. Ketika ia jauh dari Tuhan, maka ia akan mengalami keterpisahan dengan Allah. Seorang teolog mengatakan, bahwa penderitaan yang terbesar manusia bukan karena  melakukan dosa, tetapi ketika ia mengalami keterpisahan dengan Allah. Orang yang mengalami keterpisahan dengan Allah, ia akan seperti layang-layang yang putus, tidak memiliki arah dan tujuan hidup, dan pada akhirnya jatuh dan hancur.
Saudara, Alkitab menjelaskan ketika manusia telah jatuh di dalam dosa, dalam kondisi yang menggenaskan, seperti anak gelandangan yang saya ceritakan diatas,  maka Allah dalam rencana kekalnya, ia merencanakan cara untuk membebaskan manusia dari ikatan dosa dan kebinasaan yaitu untuk menebus manusia dari dosa.  Penebusan dosa tidak dapat dilakukan dengan cara lain, tetapi harus dengan pengorbanan darah. Oleh sebab itu dalam PL, setiap orang melakukan dosa harus membawa binatang kepada imam untuk dikorbankan. Namun cara ini tidak efektif karena pada dasarnya manusia memiliki kecenderungan untuk hidup dalam dosa dan  melakukan dosa. Sdr. Bayangkan kalau sampai saat ini cara ini masih digunakan,  berapa banyak binatang harus dikorbankan oleh manusia,  kalau setiap kali berdosa harus membawa binatang untuk dikorbankan. (Kalau praktek ini masih dilakukan, saya yakin pdt-pdt banyak yg kolesterol)
Ibrani 9:11-12 “Yesus Kristus telah datang sebagai  imam besar..... dan Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri...” Tidak ada cara yang paling efektif untuk menebus manusia dari dosa, oleh sebab itu Allah dalam rencana kekalnya, mengutus anak-Nya Yesus Kristus datang ke dalam dunia untuk menebus manusia dari dosa. Allah Bapa mengutus anak-Nya satu-satunya bukan sekedar lahir dan tinggal di dalam dunia, tetapi mengerjakan karya penebusan yaitu menjalani  salib untuk dosa manusia. Cucuran dan tetesan darah Kristus,  adalah untuk membersihkan kita dari dosa  dan kecemaran. Tetesan-tetesan darah Kristus di kayu salib adalah harga yang harus dibayar untuk menebus hidup kita dari dosa, dan kehidupan  yang sia-sia.  Seharusnya kita yang digantung di kayu salib, namun Yesus mengerjakan semuanya itu untuk kita.
Matius 20:28 katakan “.... Anak manusia datang untuk memberikan nyawanya menjadi tebusan bagi banyak orang” Penebusan Kristus dengan nyawanya dan darahnya adalah pemberian yang terbesar dan termahal yang diberikan oleh Tuhan bagi kita manusia, sebagai wujud cinta kasihnya kepada kita manusia.   
Saudara, penebusan Tuhan bagi manusia dengan darahnya  mencakup banyak hal; I Petrus 1:18-19  “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.”
Penebusan  Tuhan bagi kita, mencakup dosa masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang. Kita ditebus dari cara hidup kita yang sia-sia yaitu cara hidup  yang masih diperhamba oleh dosa. Hidup dalam kedagingan, hidup dalam hawa nafsu, hidup dalam kecemaran dlsb.
Saudara, penebusan Yesus melalui darah_Nya kepada kita, menjadikan hidup kita berubah, status kita berubah? Sebelum kita ditebus oleh darah Kristus, kita bersalah dihadapan Allah, kita layak dihukum. Namun penebusan Yesus bagi kita menjadikan kita dibenarkan oleh Allah. Dibenarkan oleh Allah bukan berarti kita tidak bersalah, tidak berdosa namun Allah dengan anugerahnya membenarkan kita. Allah dengan anugerahnya mengampuni kesalahan kita. Selain dibenarkan, kita yang telah ditebus oleh Allah diubah statusnya dari hamba dosa, menjadi hamba kebenaran, dari anak dosa menjadi anak Allah, karena kita telah diadopsi oleh Allah. Karena kita sudah diadopsi oleh Allah, maka dengan sendirinya kita memiliki warisan kekayaan Allah. Suatu warisan hidup kekal, warisan hidup dalam kebenaran.
Penebusan Kristus bagi kita, semata-mata berdasarkan anugerah Tuhan, berdasarkan kasih setia Tuhan, tanpa melihat siapa kita dihadapannya. Tuhan memberi anugerah umum untuk semua manusia, seperti hujan dan matahari, juga berkat-berkat jasmani. Namun tidak semua orang mendapat “hak-hak istimewa”, seperti kita hari ini.  Apa berkat istimewa itu? Berkat istimewa itu adalah penebusan kita dari  belenggu dan perhambaan dosa. Berkat istimewa kita adalah pengampunan dosa kita, berkat istimewa kita adalah diangkat menjadi anak Allah. Semua diberikan hanya kepada orang-orang pilihan Allah, yang telah ditentukan sejak kekekalan.
Saudara, Kalau Tuhan sudah menebus kita dengan darahnya, apa yang harus kita lakukan sebagai orang yang diberi previlage dari Allah? Apa yang harus dilakukan kita sebagai anak Allah? Rasul Paulus mengatakan dalam  Efesus  4:17-6:9; Jangan hidup seperti orang yang tidak mengenal Allah, jangan hidup seperti orang yang bebal dengan pikirannya yang sia dan hidup dalam kegelapan dan hawa nafsu. Jangan lagi hidup seperti orang yang masih diperhamba oleh dosa. Jangan hidup seperti orang yang tidak di dalam Kristus.
Saudara, Kita harus akui bahwa dosa telah mempengaruhi segala aspek hidup kita, kita hidup ditengah-tengah orang berdosa. Maka bukanlah suatu yang mudah untuk kita dapat mempertahankan hidup kudus, bukan suatu yang mudah untuk menjadi orang yang benar di tengah-tengah dunia yang penuh dengan kecemaran. Bukanlah suatu yang mudah menjalani hidup sebagai anak-anak Allah diantara anak orang yang belum mengenal  Tuhan.
Namun saudara, Firman Tuhan mengingatkan kita, bahwa kita harus menyadari bahwa kita bukan lagi hamba dosa tetapi kita  adalah orang-orang yang telah ditebus oleh darah Kristus yang mahal, kita adalah anak-anak Allah, maka seharusnya hidup kita berpadanan dengan status kita sebagai anak Allah. Karena status seseorang sangat penting dalam ia bersikap dan bertindak...
Sdr, Dalam beberapa minggu ini, Ibu Any Yudhoyono, istri presiden dicerca oleh banyak kalangan masyarakat di media sosial, karena ia memasang foto instagram mengenai  kebahagian dan sukacita keluarganya di media sosial. Apa yang salah dengan menampilkan foto keluarga presiden yang bahagia...sekilas mungkin tidak ada yang salah...namun momennya tidak tepat..karena dibeberapa wilayah di indonesia sedang mengalami bencana. Sehingga ada yang berkomentar bahwa ia adalah ibu negara yang tidak memiliki kepekaan, karena saat orang kena bencana menangis, sedih, dan makan sulit,  ia menampilkan foto lagi tersenyum lebar... Sdr. Kalau saya pasang foto istagram keluarga saya mungkin tidak ada yg komentar, tetapi karena statusnya sebagai istri presiden maka secara etika dianggap tidak layak.
 Sdr. Dari peristiwa ini, maka saya melihat status seseorang adalah salah satu unsur  penting dan  menentukan bagaimana seseorang bersikap dan bertindak. Kalau status kita adalah  anak Tuhan maka yang benar adalah sikap hidup kita menunjukan bahwa kita anak Tuhan bukan melakukan hal sebaliknya. Kalau kita mengatakan kita Anak Tuhan, maka setidaknya ada sifat-sifat dan karakter  Allah  yang kita warisi,  kalau sifat berbeda maka orang mengatakan bahwa  kita bukan anak Tuhan tetapi anak  tetangga Tuhan.
Sdr. Beberapa bulan lalu ada wacana dari kementrian dalam negri untuk tidak mencantumkan kolom agama di KTP... ada yang pro dan kontra? Saya tidak tahu bapa ibu termasuk yang pro atau kontra... kalau saya setuju, tidak perlu dicantumkan agama, alasan saya  memang praktis? Terkadang kalau ada orang yang KTP Kristen lalu ketangkap melakukan kejahatan, terkadang sebagai orang Kristen saya merasa malu. Terkadang kalau saya menonton TV  ada orang Kristen yang ketangkap melakukan kejahatan kriminal atau moral,  untuk menghibur diri, seringkali saya berkata dalam hati, ohhh dia bukan Kristen,  KTP saja Kristen, namun kita harus tahu bahwa orang diluar Kristen tidak memahami seperti  pemahaman kita, bagi mereka kalau KTP Kristen, maka ia Kristen. Kalau KTP Kristen, maka ia pengikut Yesus. Bahkan orang yang pakai kalung salib, walau dia kriminalis tetap  dianggap Kristen.
Saudara, kita harus tahu bahwa sebagai anak Tuhan kita adalah surat-surat Kristus yang di baca oleh semua orang. Dimanapun kita berada, status kita sebagai orang Kristen, sebagai anak Tuhan melekat dalam diri kita, kita tidak bisa menghindar dari status kita sebagai anak Tuhan.
Saudara, ketika kita ditebus oleh Yesus dengan darah-Nya yang mahal,  maka seharusnya ada perubahan status dari hamba dosa menjadi hamba kebenaran, karena kita telah diangkat menjadi anak Allah. Perubahan status ini seharusnya disadari oleh orang percaya, namun kebanyakan orang percaya tidak menyadari perubahan status ini. Oleh sebab itu ketika ia percaya Tuhan hidupnya tidak mengalami perubahan apa-apa. Hidupnya masih seperti belum menerima penebusan dari Tuhan. Hidup masih terus diperhamba oleh dosa, perbuatan, perkataan, sikap hidup masih tetap hidup lama.
Rasul Paulus katakan, ketika kita dipilih oleh Allah dan  ditebus Allah dengan satu tujuan sebagaimana disampaikan  dalam ayat 12  yaitu supaya kita menjadi alat untuk menyenangkan dan  memuliakan Tuhan.
Sdr. Suatu kali, Presiden Abraham Lincoln membeli seorang budak perempuan dengan tujuan untuk membebaskan dia dari perbudakan. Lincoln telah membayar lunas lalu menyerahkan “sertifikat kebebasan” kepadanya. Tetapi budak perempuan itu tidak memahami tindakan Lincoln. “Anda sudah bebas sekarang!” kata Lincoln kepada perempuan itu. “apakah saya bebas melakukan apapun dan pergi kemanapun?” Tanya perempuan itu. “Ya, Anda sudah bebas sekarang, Anda bisa pergi kemanapun.” Jawab Lincoln.
Kemudian perempuan itu berkata,”Sekalipun saya sudah bebas, Anda telah membayar lunas dan saya bisa pergi kemanapun tetapi saya akan tetap tinggal bersama Anda dan saya melayani Anda sampai selama-lamanya.”
Sdr. Ini adalah gambaran dari kehidupan kita orang percaya, seharusnya ketika kita ditebus oleh Tuhan maka kita sudah bebas, menjadi orang merdeka. Dan kemerdekaan itu seharusnya kita gunakan untuk menyenangkan dan memuliakan Tuhan. Tuhan Yesus menebus kita dengan darah yang mahal agar kita bebas untuk melakukan kebenaran dan bukan bebas melakukan dosa.   Rasul Paulus mengatakan dalam kitab Roma 6:13-23, bahwa ketika kita telah ditebus oleh Tuhan, maka kita bukan lagi hamba dosa tetapi hamba kebenaran. Oleh sebab hendaklah  kita tidak lagi menyerahkan anggota-anggota tubuh kita kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi kita menyerahkan anggota-anggota tubuh kita kepada Allah untuk digunakan menjadi senjata-senjata kebenaran. 
Saudara, Firman Tuhan hari ini mengingatkan akan  status kita dihadapan Tuhan, sebelum dan sesudah kita ditebus oleh darah Kristus. Sebelum kita ditebus oleh darah Kristus kita seperti anak gelandangan yang diambang kematian, oleh karena dosa. Namun Allah berbelas kasihan dan beranugerah bagi kita. Mengangkat kita dari hamba dosa, menjadi anak Allah.
Saudara, sebagai bahan refleksi bagi kita....kalau Tuhan sudah berbelaskasihan bagi kita, mengorbankan darah dan nyawanya bagi kita! Sebagai orang yang tahu diri dihadapan Tuhan, sebagai orang telah mencicipi anugerah ini,  apa yang harus kita lakukan untuk Tuhan? Tuhan tidak mengatakan engkau harus membayar darahku dengan memberi persembahan? Karena sebesar apapun persembahan kita  tidak dapat membayar darah Kristus yang dikorbankan untuk kita..Tuhan tidak mengatakan engkau harus melakukan perbuatan baik, harus melayani Dia,  karena Tuhan bisa memakai apapun untuk melayani Dia,  tetapi sebagai orang yang tahu diri dihadapan Tuhan, sebagai orang yang mengenal diri kita sebelum ditebus oleh Tuhan, maka seharusnya kita melakukan semua ini sebagai wujud ucapan syukur kita kepada-Nya. Sebagai wujud bakti kita kepadanya.
Saudara, kiranya kita  menjadi seperti  hamba perempuan yang ditebus Lincoln dari pasar budak. Ketika Ia sudah bebas,  ia menggunakan kebebasan itu untuk menyenangkan dan  melayani Tuannya, bukan seperti anak gelandangan yang diadopsi yang tidak tahu diri, dan tidak berterimakasih. Maukah sdr, menjadi seperti hamba perempuan ini?  Kiranya Tuhan menolong kita. Amin
Posting Komentar