Jumat, 08 Mei 2015

KONSEP PENDERITAAN MENURUT C.S LEWIS: SUATU JAWABAN TERHADAP PANDANGAN YANG MENOLAK EKSISTENSI ALLAH YANG DIDASARKAN PADA MASALAH PENDERITAAN



PENDAHULUAN 
  Penderitaan adalah suatu realita yang tidak dapat dihindari oleh setiap manusia. Alkitab mencatat bahwa sejak manusia jatuh dalam dosa, maka penderitaan  menjadi  bagian  yang tidak terelakan  dari  realita kehidupan manusia. Penderitaan dapat dialami oleh siapa pun,  apakah orang beriman atau saleh, orang berdosa, orang dewasa, bahkan  anak-anak  sekalipun tidak bebas dari penderitaan. Oleh sebab itu,  tidak mengherankan jikalau topik penderitaan  selalu menjadi isu yang hangat untuk didiskusikan, ditanyakan  bahkan diperdebatkan,  baik dalam kalangan kekristenan sendiri maupun antara teis dan non teis (ateisme).
   Pertanyaan yang sering ditanyakan adalah,  mengapa ada penderitaan di dalam dunia? Pertanyaan ini adalah suatu pertanyaan filosofis dan teologis  yang  selalu  dipertanyakan sepanjang zaman.  Pertanyaan ini  dapat dikatakan menjadi  satu “momok”  abadi bagi kaum teis  termasuk kekristenan dan menjadi pijakan yang kokoh bagi kaum non teis untuk menolak eksistensi Allah.  Bagi non theis adanya Tuhan inkonsisten dengan fakta adanya kejahatan dan penderitaan yang dialami di dalam dunia ciptaan-Nya.[1]  Seorang filsuf bernam Max Horkheimer, mengatakan “…Dihadapan penderitaan yang sejak berabad-abad melimpah diatas dunia ini, ajaran agama Kristiani tentang Allah yang mahakuasa dan maha baik tidaklah meyakinkan…”[2]
            Dari paparan ini, penulis  dapat menyimpulkan bahwa  permasalahan ini adalah hal yang penting  oleh  karena itu, setiap orang kristen   termasuk penulis harus memberikan suatu  jawaban atas pertanyaan mengenai adanya penderitaan yang dikaitkan dengan eksistensi Allah.   Oleh sebab itu  melalui makalah ini penulis akan mencoba menjawab argumentasi non theis yang mengaitkan mengenai fakta adanya penderitaan dengan eksistensi Allah dengan memakai konsep penderitaan  menurut C.S Lewis.  
            Adapun sistimatika penulisan adalah sebagai berikut: Pertama,  penulis akan memaparkan secara singkat mengenai pengertian    penderitaan;  Kedua penulis  akan membahas  beberapa argumentasi beberapa tokoh ateis yang menolak eksistensi Tuhan yang didasarkan oleh masalah penderitaan.  Ketiga; penulis akan memaparkan  konsep penderitaan menurut C.S Lewis, sekaligus sebagai jawaban terhadap pandangan yang menolak eksistensi Allah didasarkan masalah penderitaan dan  Terakhir, penulis akan membuat satu kesimpulan.

PENGERTIAN PENDERITAAN
A.    Pengertian penderitaan secara umum
            Penderitaan berasal dari kata  derita yang berarti suatu keadaan yang menyedihkan  dan dalam bahasa Inggris suffer yang artinya “menderita.Kamus Webster mendefinisikan penderitaan   adalah suatu  yang tidak menyenangkan yang dialami oleh manusia dikatakan:  Sufering is the bearing of pain, inconvenience  or loss, pain endured, distress, loss, or injury incurred; as suffering, etc”.[3]


B.     Pengertian  penderitaan Menurut Alkitab
Penderitaan atau derita dalam Alkitab PB  berasal dari  dua kata Yunani,  pertama paskho yang  menunjuk kepada sesuatu yang dilakukan terhadap seseorang yang berkaitan dengan penderitaan. Dalam Kisah 1:3 kata ini merujuk kepada penderitaan Yesus.  Kata yang kedua adalah thlipsis secara umum diartikan sebagai tekanan, beban yang berat  dalam  hati seseorang. Kata ini juga dipakai dalam konteks eskatologi mengenai adanya penderitaan besar.  Dalam PL kata penderitaan lebih bersifat umum seperti sakit, dukacita, kemalangan dan lain sebagainya.[4]
Dari berbagai definisi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa penderitaan dapat berupa penderitaan secara fisik maupun non fisik. Penderitaan bukan sesuatu yang menyenangkan, tidak membawa sukacita tetapi dukacita, oleh sebab itu setiap manusia berusaha untuk menghindarinya.

BEBERAPA  PANDANGAN YANG MERAGUKAN EKSISTENSI ALLAH  YANG  DIDASARKAN  PADA REALITA ADANYA  PENDERITAAN
            Secara umum pandangan yang menolak  atau meragukan  eksistensi Allah di dasarkan pada  adanya penderitaan di wakili  oleh dua golongan, pertama adalah  golongan ateis  dan   kedua dari golongan Kristen sendiri yang diwakili oleh penganut teologi kemakmuran.  Dalam bagian ini penulis tidak akan membahas akan pandangan dari  kedua golongan ini.  Penulis hanya akan  memaparkan secara ringkas mengenai   golongan ateis.  Secara khusus  penulis akan memaparkan akan beberapa argumen-argumen dasar  dari beberapa tokoh ateis dalam mempertanyakan akan keberadaan Allah yang dikaitkan  dengan   realita  adanya penderitaan di dalam  dunia.
            Sebelum membahas mengenai argumen-argumen  non teis atau ateis  pertama-tama yang harus  kita ketahui adalah siapa golongan ateis. Ateis adalah sebuah pandangan filosofi yang tidak mempercayai keberadaan Tuhan dan dewa-dewi ataupun penolakan terhadap teisme. Dalam pengertian yang paling luas, ateis adalah ketidak percayaan pada keberadaan dewa atau Tuhan.  Istilah ateisme berasal dari bahasa Yunani ἄθεος (atheos), yang secara peyoratif digunakan untuk merujuk pada siapapun yang kepercayaannya bertentangan dengan agama/kepercayaan yang sudah mapan.[5]   New Dictionary of Theology  mendefinisikan ateis atau ateisme adalah pandangan yang percaya bahwa Allah tidak ada. Istilah ini sering dipakai secara umum untuk menunjukan ketidakpercayaan seseorang kepada Allah dari tradisiYahudi-Kristen.[6]  
Secara umum, ateis dapat dibagi dua yaitu  ateis praktis[7] dan teoritis[8].  Dari kedua macam ateis  ini,  dapat dikatakan  bahwa ateis teoritis adalah ateis yang  selalu bertentangan  dengan kaum teis secara khusus  dalam diskusi-diskusi mengenai  pembuktian keberadaan Allah.
Dalam usaha untuk menyangkal  atau menolak akan keberadaan Allah, maka para kaum ateis pada saat ini, selalu bertolak dari satu  argumentasi yaitu adanya fakta mengenai berbagai penderitaan yang dialami manusia di dalam dunia  ini membuktikan bahwa tidak ada Tuhan. Penolakan akan keberadaan Allah didasarkan pada satu  titik, jikalau Allah dengan segala kualitasnya serba “Maha”, mengapa ada penderitaan?  Secara logis hal ini menunjukan akan ketidakonsitenan Allah dan tentunya bertentangan dengan sifat-sifat Allah.[9]  Lebih dalam lagi, orang ateis melihat bahwa penderitaan itu  tidak  hanya dialami  oleh orang-orang tertentu  tetapi semua orang, tidak terkecuali.  Apakah anak-anak,  orang jahat, orang berdosa bahkan orang saleh seperti Ayub pun tidak luput dari penderitaan.
Dibawa ini akan dipaparkan mengenai  beberapa pernyataan dan argumentasi tokoh dan filsuf  ateis yang menggunakan  fakta adanya penderitaan untuk menolak  eksistensi  Allah:  
Seorang ateis bernama    Emmanuel Levinas,[10]  menolak eksistensi Allah didasarkan sisi moral, ia  mengatakan:
 “…kelemahan dan ketidakmahakuasaan Tuhan disini memiliki korban manusia yang sangat banyak. Pantaskan kita mengatakannya demikian?…Tahukah anda, saya tidak mengerti perihal kemahakuasaan Allah, sekarang ini, setelah Auschwitz… kataku: harganya terlalu mahal, dan korban itu bukanlah Allah, melainkan kemanusiaan… kenosis dalam ketidakmahakuasaan ini memakan terlalu banyak korban manusia…”[11]

Argumentasi yang senada, menolak kepantasan moral Allah, juga dapat kita temukan pada tulisan Ernst Bloch.[12] Bagi Bloch, kisah Ayub dalam kitab suci dapat dimengerti sebagai sebuah pesan bahwa seorang manusia melampaui Allahnya karena kesadaran moralnya bertahan di hadapan Allah, yang notabene adalah hakim yang meragukan. Dikatakan:
 “…Dalam kitab Ayub mulailah sebuah pembalikan nilai yang luar biasa…: seorang manusia dapat lebih baik, dapat berperilaku lebih baik dari pada Allahnya… Kesadaran moral Ayub bertahan dihadapan Yahwe, Hakim yang meragukan…seorang manusia melampaui, ya mengatasi Allahnya (dari kaca mata moral), itulah logika kitab Ayub…”[13]
           
            Dari apa yang disampaikan diatas, Bloch sebenarnya ia  ingin menegaskan bahwa setelah  peristiwa Ayub maka semua argumentasi  keadilan Allah menjadi sesuatu yang meragukan.  Lebih lanjut ia mengatakan  “… Jika Allah yang sungguh-sungguh mahakuasa dan mahabaik Ia tidak akan berdiam diri dan nampak lelah dan lemah, baik terhadap pendosa, apalagi, sebagaimana ditunjukkan oleh Ayub- terhadap mereka yang benar dan adil…”[14] .  Menurutnya apakah Allah dapat disebut kudus dan suci kalau Ia, secara moral  lemah? Dapatkah Allah yang secara moral lemah, ragu-ragu, dan tidak cukup tegas memihak yang lemah dan menderita, menjadi Allah bagi manusia?
            Bloch di sini hendak mengatakan bahwa Allah telah kehilangan kepantasannya untuk dipercaya di mata manusia, karena Ia berdiam diri ketika penderitaan terjadi di depan mataNya. Dan tentunya hal itu bertentangan dengan hakekatNya yang mahakuasa, menurutnya  ternyata Allah tidak mampu atau tidak mau mencegah ketidakadilan terhadap mereka-mereka yang tak bersalah,  dan tidak mampu menghapuskan penderitaan.[15]
            Seorang yang bernama Sthendal mengatakan: “ Penolakan Allah untuk berinterfensi terhadap penderitaan adalah suatu yang tidak bermoral”.  Lebih lanjut dikatakan,  “walaupun saya adalah mahluk terbatas, namun saya lebih bermoral dari-Nya, karena itu saya berontak terhadap situasi ini. Sama saja kalau dikatakan bahwa Ia tidak ada, sebab Allah yang tidak bermoral itu sama dengan ketiadaan Allah…”[16] Bahkan dalam satu diktum yang termasyur  ia mengatakan, “…Satu-satunya alasan untuk memaafkan Allah adalah dengan menegaskan, bahwa Ia tidak ada…, ”[17]  hal  senada dikatakan oleh  Odo Marquard “bahwa demi kemuliaan Allah, sebaiknya Ia tidak ada saja.”[18]
            Seorang ateis lainnya yang  sering muncul dalam perdebatan dengan kekristenan  yaitu Walter Sinnot-Armstrong, ia mengatakan bahwa ada tiga argumentasi untuk kita tidak perlu mempercayai  eksistensi Allah yaitu The problem of evil, the problem of action and the argument of ignorance.[19]   Menurutnya, kekristenan  mendefinisikan Allah setidaknya dengan enam definisi.[20]  Pertanyaan adanya fakta  kejahatan dan penderitaan  yang terjadi didalam dunia ini dan yang dialami oleh seluruh umat manusia tanpa terkecuali mulai dari bayi yang lahir cacat dan lain sebagainya  sangat bertentangan dengan natur atau definisi Kristen tentang Allah yang  all-good and all-powerfull.  Dengan fakta ini maka ia  berkesimpulan  bahwa tidak ada Allah. [21]  Mengapa demikian? menurutnya, Allah  tidak memiliki alasan yang tepat  untuk membiarkan  bayi-bayi menderita bahkan mati, mengapa ada sakit penyakit, bencana alam merenggut ribuan nyawa dan lain sebagainya. Kalau ada Allah, maka Ia dapat menjelaskan  kepada kita, namun Ia tidak dapat menjelaskan kepada kita.[22]
                        Adapun dasar  argumentasi logisnya  untuk menolak Allah adalah sebagai berikut:
1.               If there were an all-powerfull and all-good God, the there would not be any evil in the world unless that  evil is logically necessary for an adequately compensating good.
2.               There is lots of evil in the world.
3.               Much of that evil not logically necessary for any adequately compensating good.
4.               Therefore, there is no God who is all-powerful and all-good.[23]
           
            Melalui argumentasi ini, ia hendak menunjukan bahwa Allah Kekristenan  bukanlah Allah yang mahabaik dan maha kuasa, karena    fakta adanya penderitaan  menunjukan  inkonsistensi dengan natur Allah  yang  all-good  dan all-powerful.  
            Dari beberapa pandangan diatas dapat disimpulkan bahwa alasan utama ateis untuk menyangkal eksistensi Allah didasarkan  pada masalah penderitaan,  sebenarnya  karena mereka hanya melihat Allah dari sisi kemutlakan  kebaikan moral  yang didasari pada kebaikan moral manusia.  Sebagaimana dikatakan oleh Leahy: “…Rasa berontak terhadap kejahatan telah menyebabkan orang menyangkal Tuhan, justru karena mereka percaya akan kemutlakkan kebaikan moral itu sendiri…”[24] Leahy juga menambahkan,  “…sedemikian transendenlah nilai moral itu, sampai orang ateis lebih suka menyangkal Allah daripada melihat nilai moral berkompromi dengan kejahatan…kewajiban itu sedemikian kuatnya, sehingga orang merasa perlu menyangkal Allah atas nama kewajiban itu…”,  dengan kata lain, “…seseorang menyangkal Allah untuk tetap setia kepada kemutlakkan nilai moral tersebut…”[25] 

KONSEP PENDERITAAN MENURUT C.S LEWIS: SUATU JAWABAN TERHADAP PANDANGAN YANG MENOLAK EKSISTENSI ALLAH 
A.    Pengertian Penderitaan Menurut  Lewis
Lewis membedakan  2 pengertian mengenai penderitaan, pertama penderitaan adalah suatu sensasi spesifik yang dirasakan atau disalurkan melalui urat-urat syaraf khusus dan dikenali oleh seseorang  seperti sejenis sensasi baik di sukai maupun tidak,  misalnya, seseorang mengalami sedikit perasaan sakit di dalam anggota tubuhnya namun ia tidak memprotesnya. Kedua, penderitaan yang berhubungan dengan pengalaman apapun bersifat fisik dan mental yang tidak disukai oleh seseorang, intensitasnya lebih tinggi levelnya dari pengertian pertama. Penderitaan ini sinonim dengan kesusahan, kesulitan besar, kemalangan, yang memunculkan berbagai masalah penderitaan.[26]
B.      Konsep  Penderitaan  Menurut C.S Lewis
Menurut Lewis, untuk menjelaskan adanya penderitaan,  maka pertama-tama kita harus menyelesaikan problem mengenai klaim non theis mengenai  eksistensi Allah yang  berhubungan  dengan kasih, kebaikan  dan kemahakuasaan Allah.  Lewis  berpandangan bahwa adanya penderitaan  tidak  membuktikan  bahwa Allah  tidak  ada dan   tidak membuktikan bahwa Allah tidak memiliki kebaikan atau kuasa.  Dalam bukunya problem of pain  ia menjelaskan bahwa adanya penderitaan dan kejahatan  di dalam dunia ini, tidak serta merta  dapat  menjadi satu kesimpulan  untuk kita menyangkal akan kebaikan dan kebijaksanaan dari Allah  Sang Pencipta,  apalagi menolak akan eksistensi Allah.[27] 
Menurutnya  untuk  menjawab akan hal ini, maka perlunya kita  menempatkan secara tepat istilah “maha kuasa” atau “baik”.  Baginya kemahakuasaan Allah berarti kuasa untuk melakukan semua yang  secara intrinsik  mungkin dilakukan, bukan untuk melakukan apa yang secara intrinsik mustahil dilakukan.  Kemustahilan-kemustahilan yang intrinsik, bukanlah hal-hal yang nyata melainkan non entitas.[28]   Oleh sebab itu adanya penderitaan tidak  dapat  membuktikan  ketidakadaan Allah atau ketidak-Mahakuasa-an Allah. Kesimpulan  adanya penderitaan  membuktikan Allah tidak Mahakuasa dan baik sebenarnya  diakibatkan  oleh  keterbatasan manusia untuk memahami Allah. Bisa saja, apa yang  baik bagi kita,  bukan merupakan suatu hal yang baik menurut Allah, dan apa yang tampak jahat  bagi kita, bisa saja tidak jahat menurut pandangan Allah.[29]  Oleh sebab itu,  secara sederhana untuk mengerti  adanya penderitaan harus dilihat dari sisi kebaikan Allah.  Sebagaimana dikatakan:  “….if the universe must, from the outset, admit the possibility of suffering, the absolute goodness would  have left the universe uncreated.[30]  Dengan kata lain bahwa melalui  penciptaan alam semesta membuktikan bahwa  Allah Maha Kuasa dan juga adalah Allah yang baik.  Lebih tepat dapat dikatakan bahwa Allah tidak mungkin kontradiksi dengan diri-Nya sendiri, oleh sebab itu  yang terpenting adalah, bagaimana kita menemukan kebaikan Allah dan penderitaan tanpa kontradiksi.
 Sejalan dengan  hal tersebut,  maka  menurut Lewis untuk memahami kebaikan Allah  maka harus didasarkan oleh standar  moral Allah bukan standar moral manusia. Gagasan “kebaikan” Allah berbeda dengan gagasan kita, demikian juga  ada perbedaan  antara etika kita dengan etika Allah. Sebagaimana dikatakan oleh Lewis:
The divine  ‘goodness’ differs from ours not as white from black but it is not sheerly different: it  differs from ours not  as white from black but as  perfect circle from a child’s  first attempt to draw  a wheel. But when the child has learned to draw, it will know that the circle it then makes it what it was trying to make from the very beginning.”[31]

 Dengan kata lain, Lewis hendak mengatakan bahwa standar moral manusia belum sempurna, sehingga pandangan kita mengenai kebaikan Allah selalu dilihat dari perspektif manusia yang terbatas.  Lebih lanjut dikatakan bahwa    pemahaman kita mengenai kebaikan Allah  selalu merujuk kepada “kasih sayang Allah”.  Kata  ‘kasih’ disini  seringkali diartikan sebagai satu keinginan melihat orang lain lebih bahagia dari pada dirinya sendiri. Kita menginginkan Allah memuaskan segala keinginan kita.  Oleh sebab itu menurut Lewis, jika pemahaman kita mengenai kasih seperti demikian, maka sebenarnya yang kita inginkan bukan    Allah Bapa di Surga tetapi seorang kakek di Surga yang selalu senang melihat orang muda bersenang-senang.[32] 
Bagi  Lewis,  kasih adalah sesuatu yang lebih tegas dan istimewa dari pada kebaikan hati semata.  Ada kebaikan hati di dalam kasih, tetapi kasih dan kebaikan hati  tidak setara.  Kebaikan hati  melibatkan   suatu ketidakpedulian  tertentu yang fundamental terhadap objeknya, dan bahkan sesuatu yang menyerupai perasaan jijik terhadap objeknya.[33]   Di dalam  kasih mencakup hal-hal yang  menyakitkan  bahkan penderitaan.  Oleh sebab itu  jika Allah adalah  ‘kasih’  secara naturnya,  maka kasihnya  tidak sekedar kebaikan hati.  Sebagaimana di katakan Lewis:
“And it appears, from all the records, that though He has often rebuked us and  condemned us, He has never regarded us with contempt. He has  paid us the intolerable compliment  of loving us, in the deepest, most tragic, most inexorable sense.”[34]

Hal ini menunjukan bahwa relasi antara Allah dan manusia adalah suatu relasi yang unik, relasi yang tidak bisa diparalelkan dengan  relasi apa pun di antara sesama ciptaan.  Tuhan Yesus memberikan gambaran yang Agung mengenai relasi kita dengan Allah. Relasi manusia dengan Allah dapat digambarkan seperti relasi antara seorang ayah dengan  anaknya. Kasih antara ayah dan anak  merupakan simbol   kasih otoritatif dan  di sisi lain berarti kasih yang taat. Selain gambaran tersebut, Lewis memberikan satu gambaran yang lebih ideal  mengenai relasi antara manusia dengan  analogi kasih seorang pria kepada wanita (suami istri).[35]
Melalui bagian ini,  Lewis hendak menjelaskan  bahwa untuk menggambarkan kebaikan moral Allah  tidak bisa  hanya dilihat dari perspektif manusia dengan segala keterbatasannya, tetapi harus dilihat dari sisi Allah yang melihat manusia sebagai objek kasih-Nya. Di dalam kasih-Nya  Allah tidak seperti seorang kakek yang mengharapkan kita bahagia dengan keinginan kita sendiri, tetapi  seperti seorang Bapa yang menginginkan anaknya taat, seperti  kasih antara pria dan wanita yang cemburu. Allah dengan kasih-Nya memberikan kepada kita apa yang kita butuhkan,  bukan apa yang kita inginkan menurut pikiran kita saat ini.  Dengan demikian dapat dikatakan di dalam kasih dan kebaikan selalu terselip  adanya  penderitaan.  Oleh sebab itu adanya penderitaan tidak membuktikan bahwa Allah tidak baik atau tidak berkuasa, tetapi sebaliknya melalui penderitaan kita dapat mengenal akan kebaikan dan kuasa Tuhan.
Kedua,  mengapa ada penderitaan?  Menurut Lewis penderitaan  merupakan cara Allah  untuk menaklukan keegoisan atau keakuan manusia. Dalam  The problem of Pain, ia menuliskan: “ The human spirit will not even begin to try to surrender self-will as long as all seems to be well with it[36].  Dengan kata lain melalui penderitaan   menyadarkan manusia bahwa ada sesuatu yang salah dalam hidupnya. Oleh sebab itu tidak salah jika dikatakan bahwa penderitaan, kepedihan, ujian dan pencobaan hidup adalah berguna untuk membangun suatu kedewasaan rohani, kekudusan dan hikmat manusia. [37] 
Lebih lanjut Lewis mengatakan bahwa penderitaan  adalah  megaphone  Allah untuk mengingatkan dan menyadarkan manusia  akan keberdosaan manusia. Penderitaan memaksa manusia untuk memperhatikan Allah dan kembali mengingat akan Allah. Allah berbisik dalam kesenangan manusia, Ia berbicara dalam hati nurani manusia, tetapi Ia berteriak dalam penderitaan kita, itu yang disebut pengeras suara raksasa Allah untuk menyadarkan dunia. Megaphone (pengeras suara) Allah merupakan “alat yang mengerikan” namun bagi sebagian orang alat ini memberikan “satu-satunya kesempatan bagi orang jahat untuk mendapat amandemen atau kesempatan untuk berubah. Alat ini  membukakan selubung; memancangkan panji kebenaran di dalam jiwa yang memberontak.”[38]
Melalui penderitaan Allah menghancurkan ilusi  kepuasan diri sendiri, saat kita mengalami penderitaan atau sakit penyakit, maka kita disadarkan bahwa ilusi kesenangan duniawi  hanyalah hayalan belaka. Di saat penyakit menyerang,  kita disadarkan  pada kenyataan bahwa  kita tidak dapat mengatur jalan hidup kita. Sehingga Lewis mengatakan: “ setiap orang tahu betapa sulitnya memalingkan pikiran kita kepada Allah di saat segalanya tampak berjalan lancar-lancar saja.”[39] Dapat disimpulkan, mengapa ada penderitaan? Karena penderitaan  merupakan salah satu instrumen Allah untuk menyadarkan manusia untuk mengingat akan Allah, berserah dan hidup benar sesuai dengan kehendak Allah.
Ketiga,  Adanya penderitaan adalah untuk menghancurkan ilusi bahwa apa yang kita miliki apakah baik atau jahat adalah milik kita dan cukup bagi kita.  Lewis menjelaskan bahwa penderitaan dipakai Allah untuk  membawa manusia untuk bergantung kepada-Nya bukan kepada hal-hal yang berada di luar Tuhan.  Menurutnya ketika kehidupan seseorang  berjalan lancar dan baik maka manusia akan sulit untuk mengalihkan pikirannya kepada Allah. Manusia cenderung  lebih mencintai kebahagiaan dan kesenangan diluar Tuhan.  Pada hal Tuhan mengetahui bahwa sumber kebahagiaan  kita ada di dalam Tuhan.  Oleh sebab itu melalui penderitaan Tuhan mau menghancurkan ilusi manusia  mengenai kecukupan diri, demi kebaikan sang ciptaan.[40]
Lewis dalam  bukunya  A Grief observed  menjelaskan mengenai tujuan penderitaan yang berkaitan dengan kebaikan Allah. Ia mengatakan bahwa Allah seperti seorang ahli bedah yang bermaksud baik. Semakin ia baik dan sadar, semakin tidak bisa ditawar lagi, ia akan melakukan pembedahan, walaupun hal tersebut terasa sakit bagi kita.[41]    Lebih lanjut ia mengatakan, kalau  Dia menyerah pada keluhan Anda, lalu  berhenti sebelum operasi selesai, maka semua rasa sakit sampai saat itu tidak akan ada gunanya. Tetapi bukankah sesuatu yang menakjubkan, kalau siksaan yang menyakitkan ternyata perlu bagi kita?   Oleh sebab itu dapat disimpulkan bahwa  kebaikan  Allah  dapat  Ia tunjukan melalui penderitaan manusia. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penderitan adalah sesuatu yang perlu untuk dialami manusia untuk kebaikan manusia. Namun harus diakui bahwa penderitaan adalah sesuatu tidak menyenangkan namun secara positif dapat mendorong kita untuk berserah  kepada Allah dan kehendak-Nya.[42]
Keempat, penderitaan adalah pilihan kita untuk taat kepada Allah.  Lewis secara cermat melihat sisi yang berbeda dari pemahaman manusia secara umum mengenai adanya penderitaan. Menurutnya penderitaan adalah satu bentuk tindakan manusia yang berasal dari penyerahan diri dan ketaatan total  kepada Allah.[43] Jadi penderitaan merupakan bentuk ujian Allah    terhadap ketaatan kita kepada-Nya.  Dalam menjelaskan hal ini,  Lewis memberi  contoh   mengenai  ujian yang dialami oleh Abraham ketika ia diminta untuk mempersembahkan Ishak. Menurut  Lewis  Allah sudah tahu bahwa Abraham akan taat tanpa harus  melakukan eksperimen, tetapi  tujuan Allah adalah  agar Abraham mengetahui bahwa ia sanggup bertahan dan melewati perintah atau ujian seperti ini. [44]
Bagi Lewis penderitaan bukan sesuatu yang menyenangkan, namun   ujian dan penderitaan  sangat penting bagi manusia  untuk menyempurnakan atau memurnikan iman kepada Allah (bnd. Yak. 1:2-4; 1 Petrus 4:13; Rom. 5:3-5).[45]  Dalam kumpulan surat-suratnya  (letters of C.S Lewis)   ia mengatakan:
“….saya sering bertemu dengan begitu banyak orang tidak berdosa yang menderita sebagai bagian dari kematian Kristus, begitu sabar, lemah lembut, bahkan begitu tenang dan tidak egois, sehingga kita tidak ragu lagi bahwa mereka  seperti kata Paulus: “disempurnakan oleh penderitaan.” Di sisi lain, saya telah  sering  bertemu dengan orang-orang egois yang mementingkan diri sendiri, yang penderitaannya hanya menghasilkan rasa tidak suka, kebencian, amarah, dan lebih egois lagi. Diri merekalah yang merupakan masalah sebenarnya.”[46]

Lewis melihat  bahwa penderitaan  bagi   orang yang sungguh-sungguh percaya, tidak dilihat secara negatif tetapi sesuatu yang positif sebagai bagian dari panggilan ketaatan kepada Allah.  Sama seperti Yesus telah memberikan teladan,  melalui  penderitaan yang dialaminya bahkan sampai mati di kayu  salib. Penderitaan  yang dialami Yesus membuktikan  ketaatan-Nya kepada Allah Bapa. Oleh sebab itu Lewis memandang  bahwa penderitaan yang dialami orang percaya juga  sebagai bagian dari turut mengambil bagian dalam penderitaan dan kematian Yesus.[47]   
KESIMPULAN
            Konsep  penderitaan  Lewis  yang telah dipaparkan diatas  menurut  penulis dapat menjawab  pertanyaan  dari ateis mengenai eksistensi Allah yang dikaitkan dengan penderitaan.  Lewis  secara lugas dan  baik  menjawab semua argumentasi ateis  mengenai  penolakan eksistensi  Allah yang dikaitkan  dengan penderitaan.
             Bagi Lewis, adanya fakta  penderitaan sama sekali tidak membuktikan bahwa Allah tidak ada, malahan adanya penderitaan justeru memperjelas bukti akan eksistensi Allah  yang mahakasih, mahakuasa, mahabaik, mahaadil serta berdaulat atas  seluruh ciptaan-Nya, termasuk manusia.  Bahkan adanya penderitaan secara inplisit menyatakan adanya interfensi Allah dalam seluruh ranah  kehidupan manusia dan seluruh alam ciptaan-Nya.
            Dibawa ini penulis akan memberikan kesimpulan atau ringkasan  dari   jawaban  Lewis, terhadap pandangan  yang  mengaitkan  penderitaan dengan eksistensi Allah:
             Pertama, dasar ateis untuk menyatakan argumentasinya didasarkan pada standar moral, namun standar moral yang dipakai adalah standar manusia bukan standar moral Allah. Menurutnya  standar moral manusia sangat terbatas,  oleh sebab itu tidak mungkin dengan standar moral yang terbatas manusia dapat memahami apa yang  terjadi di alam semesta ini, serta tujuan secara luas dari apa yang sedang dilakukan Allah di dalam dunia ciptaan-Nya. Oleh  karena mereka memakai standar moral manusia yang terbatas sehingga  ateis  salah mengartikan akan kebaikan Allah, keadilan, kasih dan  ke-Mahakuasa-an Allah.
             Kedua,  kesimpulan yang menyatakan bahwa adanya penderitaan membuktikan Allah tidak maha kuasa, maha kasih dan maha baik adalah suatu kesimpulan yang prematur, karena didasarkan pada keterbatasan manusia untuk  memahami Allah.  Menurutnya konsep kasih dan kebaikan menurut manusia sangat berbeda dengan konsep Allah. Oleh sebab itu  adalah suatu yang  mustahil manusia dalam keterbatasan dan kelemahan dapat menyimpulkan adanya penderitaan di dalam dunia ini membuktikan bahwa Allah tidak ada.
            Ketiga,  secara positif Lewis melihat bahwa penderitaan  adalah sesuatu yang penting bagi manusia,  karena penderitaan merupakan alat Tuhan untuk  mengajar manusia untuk dapat memahami rencana Allah, kebaikan Allah bahkan kasih Allah dalam setiap jalan kehidupan manusia.
            Keempat, secara rohani Lewis melihat bahwa penderitaan adalah alat Tuhan untuk membentuk manusia untuk  lebih taat kepada Tuhan  dan  berguna untuk memurnikan iman setiap orang percaya. 




                [1] Emanuel Bria, Jika ada Tuhan Mengapa ada Kejahatan: Percikan Filsafat Whitehead  (Yogyakarta: Kanisius, 2008) 10.
                [2] Max Horkheimer, Die Sehnsucht nach dem ganz Anderen, Hamburg, Furche-Verlag, 1971, S.60, seperti dikutip oleh A. Sunarko, “ Teodisea, Antropodisea, Anti-Teodisea? Allah, Manusia, dan Penderitaan”, Diskursus, Vol.4, no. 3, Jakarta, STF Driyarkara, 2005,  hal. 215.

                [3]John Keble.  “Webster's Online Dictionary”.  www.webster-dictionary.org/.


                [4] J. D Douglas (penyunting),  Ensiklopedi Alkitab Masa Kini  (Jakarta: Yayasan Bina Kasih OMF, 1997) 244.
                [5]http://id.wikipedia.org/wiki/Portal:Ateisme
                [6] Sinclair B. Ferguson, David F. Wright, J.I Packer, (ed),  New Dictionary of Theology jilid 1 ( Malang: SAAT, 2008) 77.
                [7] Ateisme praktis atau pragmatis, yang juga dikenal sebagai apateisme, individu hidup tanpa Tuhan dan menjelaskan fenomena alam tanpa menggunakan alasan paranormal. Menurut pandangan ini, keberadaan Tuhan tidaklah disangkal, namun dapat dianggap sebagai tidak penting dan tidak berguna; Tuhan tidaklah memberikan kita tujuan hidup, ataupun mempengaruhi kehidupan sehari-hari kita. Salah satu bentuk ateisme praktis dengan implikasinya dalam komunitas ilmiah adalah naturalisme metodologis, yaitu pengambilan asumsi naturalisme filosofis dalam metode ilmiah yang tidak diucapkan dengan ataupun tanpa secara penuh menerima atau mempercayainya." Ateisme praktis dapat berupa:
• Ketiadaan motivasi religius, yakni kepercayaan pada Tuhan tidak memotivasi tindakan moral, religi, ataupun bentuk-bentuk tindakan lainnya.
•Pengesampingan masalah Tuhan dan religi secara aktif dari penelusuran intelek dan tindakan praktis;
•Pengabaian, yakni ketiadaan ketertarikan apapun pada permasalahan Tuhan dan agama.
•Ketidaktahuan akan konsep Tuhan dan dewa. Ramahdhana Dwi Andhika “Atheisme Secara Terperinci” http://moreartikel.blogspot.com/2010/06/atheisme-secara-terperinci.html
                [8] Ateisme teoritis secara eksplisit memberikan argumen menentang keberadaan tuhan, dan secara aktif merespon kepada argumen teistik mengenai keberadaan tuhan, misalnya argumen dari rancangan dan taruhan Pascal. Terdapat berbagai alasan-alasan teoritis untuk menolak keberadaan tuhan , utamanya secara ontologis, gnoseologis, dan epistemologis. Selain itu terdapat pula alasan psikologis dan sosiologis. Ibid.
                [9] William Hasker, The Triumph of God over Evil: Thedocy for a World of Suffering  (Illionis:InterVarsity press, 2008) 16.
                [10] Emmanuel Levinas adalah seorang  filsuf Perancis dan juga  seorang moralis. Dua karya besarnya  adalah Totalitas dan Tak Berhingga dan Lain dari pada Ada atau di seberang Esensi. “Emmanuel Levinas” http://id.wikipedia.org/wiki/Emmanuel_Levinas
                [11] A. Sunarko, “ Teodisea, Antropodisea, Anti-Teodisea? Allah, Manusia, dan Penderitaan”,  Diskursus, Vol.4, no. 3, Jakarta, [ STF Driyarkara, 2005,] 214.
                [12] Ernst  Bloch adalah seorang filsuf Marxist Jerman, pemikirannya sangat dipengaruhi  oleh  Marx dan Hegel. Ia juga disebut sebagai  pemikir utopia moderen. http://en.wikipedia.org/wiki/Ernst_Bloch
                [13] Ibid.
                [14] Ibid. 116.
                [15] Reza A. Watimena “ Jika ada Tuhan, mengapa ada kejahatan dan penderitaan” http://rumahfilsafat.com/tag/kejahatan/
                [16] L. Leahy.  Esai Filsafat untuk Masa Kini. Telaah Masalah Roh-Materi Berdasarkan Data Empiris Baru, (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1991) 133-134.
                [17]ibid.
                [18]Dikutip dari Reza A. Watimena “Jika ada Tuhan…”
                [19]William Lane  Craig  dan Walter Sinnott- Amstrong , God A Debate Between A Christian And An Atheist  (ed. James P. Sterba; New York: Oxford University Press, 2004) 83,98, 101.
                [20] Enam definisi Allah tersebut yaitu;  1. All-good (God always does the best that He can), 2. All-powerfull (God can do anything that is logically possible), 3. All-knowing (God knows everything that is true), 4.Eternal (God exists outside of time), 5. Efective (God causes changes in time), 6. Personal (God has will and makes choices). Ibid. 83.
                [21]ibid. 84.
                [22]ibid. 85.
                [23]ibid.
                [24]L. Leahy,  Esai Filsafat untuk Masa Kini. 126.
                [25]ibid. 131,133.
                [26]C.S Lewis, The Problem of Pain (Masalah Penderitaan)   (Bandung: Pionir Jaya, 2008),85.
                [27]C.S Lewis, The Problem of Pain (New York: Macmilan Company, 1968), 16.
                [28]ibid,28.
                [29]ibid, 37.
                [30]ibid, 35.
                [31]ibid.39.
                [32]ibid. 40.
                [33]ibid.
                [34]ibid.41.
                [35]ibid. 42-43.
                [36]ibid. 92.
                [37]Gerard Reed, C.S Lewis and the Bright Shadow of Holiness (Batam: Gospel press, 2003) 228-229  bnd. Problem of Pain, 95.
                [38]ibid. 228.
                [39] Lewis, The problem of pain, 95.
                [40] C.S Lewis,  Masalah Penderitaan, 90-92.
                [41] C.S Lewis, A Grief Observed (New York: Seabury, 1964) 51.
                [42] Ibid. 49-50.
                [43] C.S Lewis, Masalah Penderitaan, 94.
                [44] Ibid.
                [45] Ibid. 99-100. [ayat-ayat merupakan tambahan penulis].
                [46] Warren H.  Lewis, ed., Letters of C.S Lewis  (New York: Harcourt, Brace and World, 1966), 225. Bnd.  Gerard Reed  C.S Lewis and Bright shadow, 231.
                [47] C.S Lewis, Masalah Penderitaan, 97.
Posting Komentar