Jumat, 26 Februari 2016

Ingatlah Selalu Janji Tuhan

Khotbah Umum gkkb 29 April 2015
Ingatlah selalu Janji Tuhan (28:1-14)
Selain menyampaikan kutukan, Musa juga menentukan 6 suku di gunung Gerizim untuk meyimpulkan janji berkat Allah atas kesetiaan umat-Nya. Di tengah kehidupan yang penuh tantangan dan kesulitan, anggota perlu selalu diyakinkan akan janji Tuhan, asalkan mereka selalu setia dan taat kepada-Nya.

Pendahuluan
Saudara, hari ini kita membahas satu thema “ingat selalu janji Tuhan” Kata janji dalam kamus bahasa Indonesia, diartikan sebagai persetujuan antara dua pihak, dimana masing-masing menyatakan kesediaan atau kesanggupan untuk berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu.  Dalam Alkitab kata “janji atau ‘davar’”  selalu diikuti dengan kata sumpah atau “syaba.” Yaitu perjanjian yang mengikat dua pihak di mana dua pihak harus memiliki komitmen untuk melaksanakan janji atau sumpah.
Kata janji atau perjanjian atau sumpah  bukanlah suatu yang asing bagi kita.  Di manapun dan apa pun yang kita lakukan, kita sering berhadapan dengan janji atau perjanjian.  Di dunia kerja, kita harus menandatangani surat perjanjian kerja, mau jadi gubernur, anggota DPR atau presiden harus mengucapkan sumpah atau janji-janji. Setiap kita yang menikah di gereja harus mengucapkan  janji suci, dan saya yakin kita yang sudah menikah masih mengingat janji pernikahan kita, ada yang masih ingat!!!..... 
Saudara, janji adalah sesuatu yang harus ditepati namun terkadang seiring berjalannya waktu, janji ini sering dilupakan oleh sang pemberi janji.   Seringkali janji hanya sekedar janji yang hanya diingat awal-awal, waktu mengadakan perjanjian. Misalnya, waktu kampanye para calon pejabat pemerintah dengan semangat menyampaikan janji-janji kalau mereka terpilih, mereka akan melakukan ini dan itu.....namun setelah terpilih terkadang lupa dengan janjinya, dalam kerja juga demikian,  waktu awal kerja ingat perjanjian, tetapi setelah itu lupa, dalam bisnis juga begitu, awal mulai bisnis bersama, kita ingat janji tetapi setelah itu kita lupakan, demikian juga dengan janji pernikahan, terkadang ada awal-awal kita ingat tetapi seiring berjalannya waktu kita melupakan janji pernikahan itu.
Sdr. Tentunya ketika salah satu pihak tidak menepati perjanjian atau sumpah maka pihak lain tentunya kecewa. Hari ini ada banyak suami kecewa pada istri, istri kecewa terhadap suami, anak kecewa terhadap orang tua karena janji-janjinya tidak di tepati...  inilah manusia, seringkali kita begitu mudah untuk mengungkapkan janji atau sumpah, namun terkadang kita tidak berkomitmen untuk menepati janji setia. Manusia umumnya senang berjanji tetapi sering melupakan janjinya.  Tetapi  berbeda dengan Allah yang kita sembah.  Allah yang kita sembah adalah Allah yang setia kepada janjinya, Allah yang setia menepati janji-Nya dan ia tidak melupakan janjinya.
Saudara, dalam sepanjang pembahasan kita dalam kitab Ulangan maka kita tahu bagaimana Allah mengikat perjanjian dengan bangsa Israel.  Ikatan janji Allah kepada Israel diawali dengan perjanjian dengan Abraham, Ishak dan Yakub, di mana  Allah mengikat perjanjian dengan bangsa Israel yaitu Dia menjadi Allah Israel dan ia memilih bangsa Israel sebagai umatnya. Dalam perjanjian itu, Allah berjanji akan menjadikan bangsa Israel bangsa yang besar dan Allah akan memberkati bangsa Israel.  Janji tersebut diperbaharui dalam perjanjian Sinai  yaitu Tuhan berjanji akan memberikan berkat-berkat kepada bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah yaitu mereka akan diberikan tanah Kanaan dan kehidupan mereka akan diberkati oleh Tuhan.
Dalam perjanjian ini, Allah sendiri yang berinisiatif untuk memberikan janji-janji kepada bangsa Israel dan Allah sendiri yang menentukan syarat-syarat dari Perjanjian itu, sedangkan umat Allah memiliki kewajiban untuk taat dan tunduk pada  syarat-syarat tersebut, sebagai bentuk ikatan perjanjian tersebut.
Nah dalam bacaan kita tadi, kita membaca satu deretan yang panjang mengenai berkat-berkat yang akan diterima oleh orang Israel dari Tuhan, sebagai bentuk perjanjian Tuhan terhadap umatnya.  Berkat-berkat ini dibacakan oleh orang Lewi dihadapan 6 suku Israel di Gunung Gerizim.  Pembacaan berkat-berkat di gunung Gerisim sama seperti pembacaan kutuk di gunung Ebal, pembacaan ini sebagai suatu bentuk perjanjian mereka dengan Tuhan sebagai umat pilihan Allah.  Di satu sisi mereka menyetujui jikalau mereka tidak setia kepada Tuhan maka mereka bersedia untuk menerima hukuman dan kutukan dari Tuhan, di sisi lain ketika mereka setia kepada Tuhan dan firmannya maka Tuhan akan memberikan segala berkat bagi mereka.  Pembacaan berkat ini, juga menunjukan bahwa mereka menyetujui perjanjian tersebut.  Dan mereka akan memegang komitmen itu dihadapan Tuhan.
Saudara, kalau kita perhatikan struktur penulisan Ulangan 28:1-14, maka kita bisa menemukan bahwa kata kunci perikop ini yaitu di awal dan akhir. Di ayat pertama dan kedua dikatakan “Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka ....”. “Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara Tuhan Allahmu.” Lalu ayat13b dan 14, setelah dibacakan segala berkat-berkat yang akan diberikan dikatakan “....Apabila engkau mendengarkan perintah Tuhan, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang kekanan atau kekiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini,....”. 
Apa berkat yang mereka akan terima ketika mereka setia mendengar perintah Tuhan?  Pertama, adalah berkat atas status mereka sebagai umat pilihan Allah, berkat ini tidak dapat oleh bangsa lain,  selanjutnya berkat atas usaha mereka, dikatakan  ladang, ternak dan segala pekerjaan mereka  akan diberkati, kandungan dari ibu-ibu atau keturunan mereka juga akan diberkati, perjalanan hidup mereka akan diberkati. Dikatakan , diberkatilah engkau pada waktu masuk dan diberkatilah engkau pada waktu keluar, dalam peperangan juga Tuhan akan memberikan kemenangan dan masih banyak berkat-berkat lain yang akan diberikan kepada bangsa Israel. Intinya bahwa segala aspek hidup bangsa Israel dipenuhi oleh berkat dari Tuhan.  Hidup mereka dipimpin dan di jaga oleh Tuhan.
Saudara, berkat ini adalah suatu yang luar biasa, namun dalam bagian FT ini, bangsa Israel diingatkan  bahwa mereka ada dalam satu perjanjian, tentunya ada hak dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh bangsa Israel, jikalau mereka ingin menerima segala berkat dari Tuhan. Segala berkat akan mereka terima jikalau mereka mendengar Firman Tuhan, taat perintah Tuhan. Jelaslah syaratnya sangat sederhana, yaitu: “Mendengarkan dan melakukan Firman Tuhan dengan setia.” Sdri yang dimaksud mendengarkan di sini bukan hanya mendengarkan sambil lalu, tetapi mendengarkan sungguh2 atau memperhatikan dengan seksama setiap Firman Tuhan yang kita baca atau dengarkan, bahkan bukan saja saja mendengarkan tetapi terus merenungkan Firman itu siang dan malam. Pemazmur pernah berkata: “Berbahagialah orang yang kesukaannya merenungkan Firman Tuhan siang dan malam. Ia seperti pohon di tanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buah pada musimnya. 
Tetapi bukan hanya diminta untuk  sekedar mendengar dan merenungkan, tetapi untuk memperoleh berkat dari Tuhan maka kita harus melakukan Firman itu dengan setia. Saya yakin ada banyak sekali orang Kristen yang sering mendengar Firman Tuhan tiap minggunya, bahkan seminggu  bisa 3 kali  atau bahkan lebih. Tapi dari sekian banyak orang yang mendengarkan Firman Tuhan itu tidak banyak orang yang sudah melakukan Firman itu.
Banyak orang yang mendengar  Firman Tuhan tentang pengampunan, tetapi ia tetap tidak mau mengampuni. Banyak orang mendengar  FT tentang kesetiaan, tetapi ia tidak setia. Banyak orang mendengar Firman tentang kekudusan hidup, keadilan, belaskasihan, dan banyak lagi, tetapi sedikit orang yang mau melakukan itu semua.  Kita seringmembaca FT tentang kasih, namun dalam hidup kita, kita tidak menunjukan kehidupan yang penuh kasih. Dalam keluarga suami istri hanya hidup serumah namun tidak kasih satu dengan lain, antara orang tua dan anak tidak menunjukan perasaan kasih satu dengan lain.  Kalau hidup kita hanya sekedar tahu firman Tuhan dan kita tidak melakukan FT, bagaiman berkat Tuhan akan dilimpahkan dalam hidup kita.
Tuhan menginginkan kita melakukan Firman Tuhan dengan setia; dengan konsisten; yang dalam keadaan apapun, dalam keadaan senang, atau dalam keadaan susah, bahkan kondisi terjepit sekalipun, Tuhan menginginkan kita tetap setia melakukan Firman Tuhan. Tuhan Yesus pernah berkata: orang yang mendengar Firman Tuhan tetapi tidak melakukannya, ia seperti orang bodoh yang mendirikan rumah diatas pasir. Dimana ketika angin melanda, robohlah rumah itu. Sebaliknya orang yang bijak adalah orang yang mendengar dan melakukan Firman Tuhan itu, ia seperti orang mendirikan rumah di atas batu.
Inilah kunci atau rahasia kehidupan yang diberkati Tuhan  bagi kita orang percaya: Mendengarkan, merenungkan, serta melakukan Firman Tuhan dengan setia. Menarik kalau kita perhatikan Alkitab. Kalau kita mencari semua ayat yang berbicara tentang berkat Tuhan bagi umat Tuhan, kita akan menemukan ada banyak ayat yang memiliki kalimat yang sama: “Jika kamu mendengarkan dan melakukan Firman Tuhan, maka kamu akan beruntung.” Alkitab secara sistematis menyampaikan satu rahasia yang sama untuk mendapatkan keberuntungan, yaitu “setia mendengar dan melakukan Firman Tuhan.” 
Ulangan 28 jelas mengatakan bahwa ada syarat untuk mendapatkan berkat Allah. Syaratnya hanya satu, yaitu: mendengarkan firman Allah dan taat kepadaNya. Dengan perkataan lain: siapa yang mau mendengarkan firman Allah dan taat kepada Allah pasti melimpah dengan berkat Allah. Sebaliknya: orang yang  tidak setia mendengar dan melakukan Firman Tuhan maka ia tidak berhak menerima berkat-berkat dari Tuhan.  
Saudara, di sini kita disadarkan bahwa berkat Tuhan adalah konsekuensi ketaatan kepada Allah. Namun berkat Tuhan tidak selalu identik dengan kekayaan, nama besar, karir yang tinggi, jabatan, pengetahuan, kesuburan. Tuhan Yesus katakan dalam Lukas 11:28 “Yang berbahagia adalah orang yang mendengar firman Allah dan memeliharanya”. Apa artinya itu? Segala sesuatu hanya menjadi berkat selama atau sepanjang kita taat kepada Tuhan. Selama kita setia kepada Firman Tuhan, maka segala berkat itu akan kita miliki, namun kita berbalik tidak setia pada firman Tuhan maka segala kutuk dan hukuman akan ditimpahkan kepada kita.
Saudara, nama besar, kekayaan, karir tinggi, jabatan, kepintaran, pengetahuan, kesehatan, kecantikan, talenta dan semua yang kita miliki hanya akan menjadi berkat selama kita taat kepada Tuhan. Bila kita tidak lagi taat kepada Tuhan dan firmannya, maka semuanya itu bukan saja tidak berguna malah berubah menjadi kutuk atau sumber petaka. Itulah yang dikatakan Tuhan melalui nabi Maleakhi: “Jika kamu tidak mendengarkan dan memperhatikan firmanKu, maka Aku akan membuat berkat-berkatmu menjadi kutuk” (Mal 2:2). Tanpa ketaatan kepada Tuhan dan firman Tuhan, kekayaan, pangkat, jabatan, kepintaran, kesuksesanmu bukan berkat! Sekali lagi: tanpa ketaatan kepada Tuhan apa yang kita anggap tadinya berkat bisa berubah menjadi sumber petaka atau sengsara dalam hidup kita.
Sdr. Bangsa  Israel ketika mereka masuk ke tanah Kanaan, semua berkat yang dijanjikan Tuhan itu diberikan Tuhan bagi mereka, mereka menikmati segala kelimpahan, sawah ladang mereka menghasilkan hasil yang luar biasa, mereka selalu memenangi setiap peperangan, kehidupan keluarga mereka diberkati oleh Tuhan. Mereka menikmati kehidupan yang makmur dan damai sejahtera. Namun sayang....berkat melimpah tersebut tidak membuat mereka bersyukur kepada Tuhan, tidak membuat mereka semakin setia kepada Tuhan dan Firman Tuhan, namun sebaliknya kekayaan, kemakmuran hidup membuat mereka sombong, membuat mereka lupa diri, membuat mereka lupa pemberi berkat, mereka hanya ingat berkat tetapi lupa sang pemberi berkat, dan akhirnya berkat itu menjadi kutuk bagi mereka, akhirnya Tuhan mengambil semua itu dari mereka.
Saudara, kita mengenal angelina Sondak, awalnya saya sangat senang dengan dia, saya masih ingat kata-katanya, ketika dia menjadi putri Indonesia dia katakan “ pertama-tama saya berterima kasih kepada Tuhan Yesus yang memberikan saya gelar putri Indonesia dan ini kupersembahkan kepada Tuhan Yesus.  Seiring berjalan waktu, ia menjadi orang terkenal, kaya, cantik, menjadi seorang pejabat, sukses, dia melupakan Tuhan sang pemberi berkat itu, dia meninggalkan Tuhan, berubah tidak setia kepada Tuhan dan apa yang dianggap berkat itu menjadi kutuk baginya, jabatan, kekayaan menghancurkan hidupnya.
Bunda Teresa pernah mengatakan, “Tuhan tidak meminta kita untuk kita harus sukses dalam segala hal, melainkan kita harus setia.” Ini adalah pernyataan yang mencerminkan bagaimana Tuhan menilai hidup seseorang yang dapat berkenan kepada-Nya. Sering kali kita hanya menitikberatkan pandangan kita pada kesuksesan dan berkat jasmani sebagai ukuran kebahagiaan kita. Sebaliknya, Firman Tuhan justru mementingkan kesetiaan kita kepada perintahNya. Jika kita melakukan perintah Tuhan dengan setia, maka berkat akan datang atas kita.
Sdr.  Bagi orang-orang yang setia mendengarkan firman Tuhan dan taat kepadaNya segala sesuatu bisa menjadi berkat, bahkan kesukaran, permasalahan, ujian, dan kekurangan secara ekonomi sekali pun bisa berubah menjadi berkat ketika dia taat dan setia kepada Tuhan, namun sebaliknya bagi orang yang tidak setia kepada Tuhan dan firman-Nya segala kesuksesan hidup, kekayaan, popularitas dapat menjadi kutuk baginya.  Rasul Paulus katakan, anggaplah suatu kebahagiaan jikalau kamu diperhadapkan dengan berbagai cobaan dalam hidupmu...Bersyukur karena aku ketika mengikut Tuhan, aku berhadapan dengan berbagai penderitaan, dengan demikian aku mengambil bagian dalam penderitaan Kristus.
Aplikasi: Saudara, beberapa waktu terakhir ini, saya banyak mendengar dari beberapa saudara yang menyatakan hari ini ekonomi semakin lesu, harga-harga barang pada naik, penjualan sepi.  Masyarakat miskin semakin hari semakin banyak, dalam pembesukan saya menemukan ada jemaat yang sakit tetapi tidak sanggup membayar obat dan rumah sakit, akhirnya walaupun sakit tidak pergi ke rumah sakit atau ke dokter.   Bahkan ada yang seakan-akan mempersalahkan Tuhan dengan kondisi yang mereka alami.....Ada bertanya apakah ini berkat atau kutuk? Tergantung bagaimana kita memaknai pergumulan hidup  ini.
Saudara, Tuhan Yesus berada dan hidup di tengah dunia ini selama 33 tahun, kalau kita perhatikan mengenai kehidupan Tuhan Yesus, mana yang banyak dialami Tuhan Yesus! Apakah kehidupan yang nyaman secara jasmani atau penderitaan?  Sepanjang hidup Yesus lebih banyak mengalami penderitaan dan Ia mati dalam penderitaan yang sangat mengerikan,  sehingga Alkitab mengatakan, orang mengira ia kena kutuk, namun sebenarnya dosa kita yang ditanggungnya.
Dalam sejarah gereja, sebelas dari duabelas rasul meninggal sebagai martir, bahkan jauh dari konsep berkat kita hari ini yaitu berkat identik dengan hal-hal yang bersifat jasmani, kekayaan dan kemakmuran hidup.   Apakah ketika mereka mengalami kekurangan secara jasmani, ketika mengalami berbagai penderitaan oleh karena mereka setia pada Tuhan, apa mereka menganggap sebagai kutuk???? Tidak...... Saudara, bagi kedua belas rasul dan orang Kristen mula-mula, berkat yang terindah bukan apa yang mereka nikmati selama di dunia ini, tetapi pengharapan kehidupan yang kekal yang dijanjikan oleh Allah bagi mereka yang setia melayani dan mengikut Tuhan.  Pengharapan akan janji Tuhan itu yang membuat mereka tetap setia walaupun dalam penderitaan, walaupun mengalami berbagai kekurangan. 
Tuhan Yesus, Rasul Paulus dan para Rasul, memandang bahwa berkat yang terbesar dalam hidupnya adalah ketika mereka bisa taat, setia melayani dan mengikut Tuhan sampai akhir hidup mereka.  Sampai di sini, saya juga tidak mengatakan bahwa menjadi orang Kristen harus menderita, menjadi orang Kristen tidak boleh menikmati berkat jasmani, menjadi orang Kristen harus sakit-sakitan, menjadi orang Kristen harus miskin ...tidak.  Alkitab jelas memaparkan janji berkat secara jasmani bagi orang yang setia, dan janji itu ya dan amin, ia memberikan berkat-berkat secara jasmani. Namun, kita tidak mempersempit konsep berkat itu hanya sekedar hal yang bersifat jasmani. Karena sebenarnya hal-hal yang bersifat jasmani adalah berkat yang minimal yang Tuhan berikan bagi kita, berkat ini hanya kita nikmati selam kita hidup di dunia yang sementara ini, hanya sebagai sarana untuk kita hidup selama di dunia ini dan tidak memiliki nilai kekal.
Oleh karena itu saudara,ketika Tuhan mengizinkan kita menghadapi tantangan pergumulan dalam hidup kita, kalau kita mengalami kesulitan secara ekonomi, sakit penyakit jangan kita selalu memandang sebagai kutuk atau hukuman Tuhan bagi kita.  Sebaliknya kita selalu melihat bahwa ada janji Tuhan yang pasti yang melebihi hal-hal bersifat jasmani dan fisik yang dijanjikan Tuhan kepada setiap kita yang setia kepada Tuhan
Saudara, hari ini jikalau di antara kita sudah setia mengikut Tuhan, setia melayani Tuhan, taat pada Firman Tuhan, namun saudara mengalami berbagai pergumulan yang seakan-akan tidak ada jalan keluar.  Jangan kita menganggap bahwa Tuhan telah melupakan janjinya kepada kita.  Kita punya Allah yang setia, yang berpegang pada janji dan sumpahnya.  Ia tidak mungkin lalai menepati janjinya, hanya terkadang kita sendiri tidak memahami rencananya dalam hidup kita.
Janji Tuhan ya dan amin. Tuhan tidak pernah lalai menepati janjiNya dan Dia berkuasa untuk melaksanakan apa yang pernah dijanjikanNya. Kita saja yang melihat janji Tuhan sepertinya tidak akan terjadi di dalam hidup kita. Namun kalau sedikit kita merenungkan kembali hidup kita, bukankah sudah begitu banyak berkat yang Tuhan berikan bagi kita. Begitu banyak janji berkat Tuhan kepada umat yang setia kepada-Nya.  Salah satu janji berkat Tuhan dalam hidup kita yang melebihi berkat-berkat yang Tuhan berikan di dalam dunia ini adalah ia memberikan kehidupan kekal bagi kita. Ia menjamin bahwa kita yang setia kepadanya sampai akhir hidup kita, kita memiliki harta kekayaan yang lebih bernilai yaitu kerajaan surga.  Kasih karunia Tuhan menyertai kita semua. Amin






Posting Komentar