Rabu, 15 September 2021

Tinjauan Kritis Relasi Seorang Gembala dan Jemaat dalam Konteks Gereja Masa Kini

Pdt. Beni Samuel Regoh, M. Th.

Pendahuluan

Relasi antara gembala dan jemaat merupakan salah satu fondasi terpenting dalam kehidupan gereja. Alkitab menggambarkan gembala sebagai figur yang memimpin, memelihara, melindungi, dan memperhatikan domba-dombanya (Yoh. 10:11–15; 1Ptr. 5:2–3). Namun, dalam konteks gereja masa kini—yang diwarnai oleh perubahan sosial, budaya digital, profesionalisasi pelayanan, dan kompleksitas organisasi—relasi ini mengalami berbagai tantangan baru. Artikel ini bertujuan memberikan tinjauan kritis terhadap relasi seorang gembala dalam gereja masa kini, dengan menimbang ideal teologis, realitas praksis, serta risiko penyimpangan yang dapat terjadi.

Landasan Teologis Relasi Gembala

Secara biblika, relasi gembala dan jemaat bersifat relasional, bukan sekadar struktural. Yesus sebagai Gembala yang Baik menjadi model utama: Ia mengenal domba-domba-Nya, memanggil mereka satu per satu, dan rela menyerahkan nyawa-Nya bagi mereka (Yoh. 10:3,11). Rasul Petrus menegaskan bahwa para penatua/gembala dipanggil untuk menggembalakan dengan sukarela, penuh pengabdian, dan bukan dengan memerintah secara otoriter (1Ptr. 5:2–3).

Relasi ini berakar pada kasih, keteladanan, dan tanggung jawab spiritual. Gembala bukan pemilik jemaat, melainkan pengelola (steward) atas umat Allah. Oleh karena itu, relasi gembala–jemaat seharusnya mencerminkan relasi Kristus dengan gereja-Nya: relasi yang menghidupkan, membebaskan, dan menumbuhkan kedewasaan iman.

Pergeseran Relasi dalam Gereja Masa Kini

Dalam praktik gereja masa kini, relasi gembala sering mengalami pergeseran makna. Beberapa faktor yang memengaruhi antara lain:

  1. Institusionalisasi Gereja
    Gereja yang semakin besar dan terorganisir dengan sistem manajerial modern kerap menempatkan gembala lebih sebagai CEO atau administrator. Akibatnya, relasi personal dengan jemaat bisa menipis, digantikan oleh relasi fungsional dan birokratis.

  2. Budaya Konsumerisme Rohani
    Jemaat tidak jarang memposisikan diri sebagai “konsumen rohani” yang menilai gembala berdasarkan kualitas khotbah, program, atau karisma. Dalam konteks ini, relasi berubah menjadi relasi transaksional: selama kebutuhan rohani terpenuhi, relasi dipertahankan; ketika tidak, jemaat mudah berpindah.

  3. Kultus Individu dan Karisma
    Di sisi lain, sebagian gereja menghadapi bahaya pemusatan relasi pada figur gembala secara berlebihan. Gembala diposisikan hampir tak tersentuh kritik, suaranya dianggap identik dengan suara Tuhan. Relasi seperti ini rawan penyalahgunaan kuasa dan menutup ruang koreksi.

Tantangan Etis dan Pastoral

Relasi gembala yang tidak sehat dapat menimbulkan berbagai masalah etis dan pastoral. Ketergantungan emosional jemaat kepada gembala, misalnya, dapat menghambat pertumbuhan kedewasaan iman. Jemaat menjadi bergantung pada figur tertentu, bukan pada Kristus.

Sebaliknya, jarak yang terlalu jauh antara gembala dan jemaat juga menimbulkan masalah: pelayanan menjadi kering, formal, dan kehilangan sentuhan pastoral. Gembala hadir sebagai pengkhotbah di mimbar, tetapi absen dalam pergumulan nyata jemaat.

Tantangan lainnya adalah soal batas relasi (boundaries). Dalam konteks konseling pastoral, media sosial, dan komunikasi digital, gembala perlu memiliki kebijaksanaan untuk menjaga relasi yang sehat—tidak dingin, tetapi juga tidak melampaui batas profesional dan etis.

Menuju Relasi Gembala yang Sehat dan Alkitabiah

Tinjauan kritis ini mengarah pada kebutuhan membangun relasi gembala–jemaat yang seimbang dan dewasa. Beberapa prinsip penting antara lain:

  1. Relasi yang Berpusat pada Kristus
    Gembala harus terus-menerus mengarahkan jemaat kepada Kristus, bukan kepada dirinya sendiri. Keberhasilan relasi pastoral bukan diukur dari ketergantungan jemaat pada gembala, melainkan dari pertumbuhan iman dan kedewasaan rohani jemaat.

  2. Kepemimpinan Partisipatif
    Relasi yang sehat membuka ruang dialog, kritik, dan partisipasi. Gembala berjalan bersama jemaat, mendengarkan, dan belajar, bukan hanya memberi instruksi dari atas.

  3. Keteladanan Hidup
    Otoritas gembala terutama bersumber dari integritas dan keteladanan hidup (1Tim. 4:12), bukan dari jabatan semata. Relasi dibangun melalui kehadiran yang autentik dan konsisten.

  4. Kesadaran Akan Keterbatasan
    Gembala bukan Mesias. Kesadaran ini menolong gembala untuk bekerja dalam tim, berbagi tanggung jawab, dan membuka diri terhadap akuntabilitas.

Penutup

Relasi seorang gembala dalam konteks gereja masa kini berada di persimpangan antara ideal teologis dan realitas praksis. Tinjauan kritis diperlukan agar gereja tidak terjebak dalam relasi yang timpang—baik yang terlalu otoriter maupun yang terlalu transaksional. Dengan kembali pada teladan Kristus Sang Gembala Agung, gereja dipanggil membangun relasi pastoral yang sehat: relasi yang memerdekakan, menumbuhkan, dan memuliakan Allah.

Relasi seperti inilah yang pada akhirnya meneguhkan gereja sebagai tubuh Kristus yang hidup, di mana gembala dan jemaat berjalan bersama dalam kasih dan kebenaran.

Tidak ada komentar: