Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Kamis, 28 November 2013
Memahami Ulang Konteks Berteologi John Calvin Dalam Doktrin Predestinasi
PENDAHULUAN
Artikel ini tidak bermaksud secara langsung dan detail menguraikan
doktrin predestinasi, atau bahkan menjawab serangkaian pertanyaan
rumit yang sering kali muncul seputar doktrin ini. Artikel ini lebih
merupakan suatu usaha untuk memahami kembali kerangka dasar atau
konteks doktrin predestinasi sebagaimana diajarkan oleh John Calvin.
Hal ini perlu kita lakukan karena di satu pihak, Calvin percaya bahwa
doktrin predestinasi memberikan manfaat yang tidak sedikit dalam
kehidupan orang percaya, tetapi di lain pihak, sejak awal ia sendiri
telah menyadari banyaknya orang yang akan menyimpangkan ajarannya
tentang predestinasi.
Penyimpangan-penyimpangan tersebut, sebagaimana dikatakan oleh Henry
Cole, telah mengakibatkan orang yang mempelajari doktrin predestinasi
Calvin tidak dari sumber aslinya bukan saja menjadi salah mengerti,
melainkan juga kehilangan "religious spirit" sebenarnya yang
membangun.[1] Hal ini dapat terjadi karena doktrin predestinasi
Calvin sering kali hanya dibicarakan secara terpotong-potong, lepas
dari konteksnya.
Calvin memang bukan orang pertama dan satu-satunya yang mencetuskan
doktrin predestinasi. Dalam tulisan-tulisannya, ia banyak memakai
argumentasi Agustinus untuk menjelaskan beberapa masalah
predestinasi. Namun, bila kemudian doktrin ini sering kali
diidentikkan dengan Calvin, tidak lain karena dalam pemikirannya,
paham predestinasi memperoleh pengupasan secara lebih komprehensif
dan utuh.[2] Di samping itu, ia adalah tokoh yang paling gigih
mengajarkan dan membela kebenaran doktrin ini, lebih dari siapa pun,
bahkan teolog-teolog di masa kini.[3]
Barangkali, prinsip awal dan pertama yang kita bisa pelajari dari
Calvin adalah sikapnya yang percaya sepenuhnya dan apa adanya
terhadap wahyu Allah di dalam Alkitab. Sikap ini memberikan dua
dampak. Pertama, ia berani masuk ke kedalaman firman Tuhan dan
mengajarkannya, bahkan hal-hal yang tampaknya kontroversial, dengan
suatu keyakinan bahwa baginya, tidak ada hal yang Allah wahyukan yang
sifatnya sia-sia, termasuk kebenaran predestinasi. Ia meyakini
sepenuhnya bahwa Allah dan firman-Nya adalah sumber kebenaran doktrin
ini. Kedua, ia bukan saja dengan penuh rasa hormat kepada Allah
berani mengajarkan doktrin predestinasi secara jujur, melainkan juga
secara berhati-hati berusaha untuk tidak melampaui apa yang Alkitab
katakan sehingga tidak jatuh ke dalam spekulasi metafisika.
Walaupun menelusuri sejarah pemikiran Calvin untuk mendapatkan
keutuhan kerangka berpikirnya adalah hal yang hampir mustahil, tetapi
saya berangkat dari keyakinan sebagaimana dikatakan oleh Richard
Muller bahwa selama tulisan-tulisan Calvin masih dapat kita pelajari,
berarti masih ada harapan.[4] Itu sebabnya, melalui tulisan ini, saya
berharap cukup untuk memberikan kerangka dasar pemikiran Calvin
tentang predestinasi, melalui penelusuran secara historis dan
teologis terhadap tulisan-tulisan Calvin, khususnya "Institutes".[5]
Artikel ini dibagi dalam dua bagian. Bagian pertama membahas konteks
pemahaman doktrin predestinasi Calvin dengan mengamati perkembangan
tulisan-tulisannya guna melihat kerangka atau pola dasar pemikirannya
tentang predestinasi. Bagian kedua merupakan aplikasi pemahaman
bagian pertama dalam membaca tulisan Calvin tentang predestinasi,
dalam relevansinya dengan konteks yang ia maksud.
SURVEI HISTORIS DAN TEOLOGIS POLA DASAR PEMIKIRAN PREDESTINASI CALVIN
Doktrin predestinasi Calvin tidak ditulis dalam suasana yang "aman
dan tentram". Doktrin ini mengalami proses perkembangan hingga
menjadi benar-benar matang di dalam karya-karyanya, khususnya
"Institutes" edisi 1559, setelah melalui berbagai perlawanan frontal
dari lawan-lawannya. Perlawanan dari teolog Roma Katolik, Albertus
Pighius, pada tahun 1543, mendorongnya untuk menulis "The Bondage and
Liberation of the Will: A Defense of the Orthodox Doctrine of Human
Choice against Pighius",[6] guna menolak konsep Pighius yang terlalu
menekankan kebebasan manusia. Dua tahun kemudian, yaitu tahun 1545,
ia menulis "Treatises Against the Anabaptists and Against the
Libertines",[7] sebagai jawaban terhadap kelompok Libertines yang
menolak dosa asal. Tahun 1552, ia menulis "Concerning the Eternal
Predestination of God",[8] yang isinya bukan saja menjawab Georgius
the Sicily, melainkan juga diarahkan kepada Pighius dalam kaitannya
dengan problem prapengetahuan Allah dan, lagi-lagi, kebebasan manusia.
Di samping karya di atas, masih banyak karya lainnya yang hampir
semuanya ditulis dalam suasana "pembelaan iman". Ia juga banyak
dibantu oleh murid dan asistennya yang setia, Theodore Beza, dalam
menegakkan kebenaran predestinasi, khususnya ketika ia terlibat dalam
perdebatan panjang (tahun 1551 -- 1555) dengan Jerome Bolsec,
menyangkut kekekalan, prapengetahuan Allah, dan iman.[9]
Dalam seluruh rangkaian perdebatan ini, Calvin tetap berpegang teguh
pada tradisi monergisme Agustinian, sementara kebanyakan lawannya
mengekspresikan pola teologi sinergisme yang merupakan sasaran utama
penolakan para tokoh Reformasi. Tradisi monergisme Agustinian
menekankan keselamatan yang sepenuhnya berdasarkan anugerah Allah,
sedangkan tradisi sinergisme mendasarkan keselamatan kepada
pra-pengetahuan Allah (divine foreknowledge) dan usaha iman dari manusia.
Pergumulan Calvin di atas, dan tulisan-tulisan lainnya, sudah tentu
banyak memengaruhi tulisannya tentang predestinasi, terutama
tafsirannya terhadap kitab Roma yang disebut-sebut paling banyak
memengaruhi Calvin dalam menulis "Institutes" edisi terakhir
(1559).[10] Mulai edisi pertama, 1536, hingga yang terakhir, 1559,
"Institutes" mengalami perkembangan yang tidak sedikit, tetapi bukan
dalam arti adanya pergeseran posisi atau pengubahan isi yang mendasar
dari waktu ke waktu, melainkan usahanya untuk terus menambahkan
pokok-pokok ajaran yang ia anggap penting. Sebuah fakta yang
mengherankan ialah, ketika memberikan tambahan-tambahan, secara
prinsip ia senantiasa konsisten dengan apa yang telah diajarkan sebelumnya.
Ketika Calvin menulis "Institutes" pada tahun 1536, doktrin
predestinasi belum memperoleh pembahasan secara khusus. Di dalam enam
bab tulisannya ini, paham predestinasi ia sisipkan dalam pembahasan
tentang "turun ke dalam kerajaan maut" dari pengakuan iman rasuli dan
penjelasan tentang hakikat gereja. Dalam penjelasan kalimat yang
berdasarkan 1 Petrus 3:19 tersebut -- yang ia mengerti bukan secara
harfiah, melainkan sebagai manifestasi kuasa penebusan Kristus kepada
mereka yang telah mati pada zaman sebelum Kristus -- ia menyisipkan
prinsip perbedaan dampak penebusan Kristus kepada orang-orang percaya
dan orang-orang fasik. Sedangkan dalam pembahasan tentang gereja,
pengertian predestinasi mendominasi penjelasannya tentang hakikat
gereja. Berdasarkan Efesus 1:4, misalnya, ia mendefinisikan gereja
sejati sebagai "orang-orang yang telah dipilih di dalam Dia sebelum
dunia dijadikan, dengan tujuan agar semua dapat berkumpul di dalam
Kerajaan Allah".[11] Gereja adalah universal karena orang-orang
percaya di dalamnya dipilih dan dipersatukan di dalam Kristus (Efesus
1:22-23).[12] Hakikat gereja adalah kudus karena "orang-orang yang
telah dipilih oleh providensi Allah untuk ditetapkan sebagai
anggota-anggota gereja -- mereka dikuduskan oleh Tuhan (Yohanes 17:17-19)".[13]
Dari semua contoh di atas, jelas bahwa Calvin senantiasa berusaha
untuk tidak melepaskan predestinasi dalam kaitannya dengan landasan
bagi identitas umat tebusan Kristus. Pada tahun 1539, ketika
"Institutes" bertambah menjadi tujuh belas bab, satu hal yang tetap
konsisten adalah bahwa konteks praktis, eklesiologis, dan
soteriologis, terus mewarnai pembicaraan tentang predestinasi. Namun,
di dalam edisi ini, ia juga membahas predestinasi secara lebih luas
sebagai penjelasan ontologis tentang kedaulatan Allah terhadap
ciptaan-Nya, dengan tambahan konsep tentang providensi Allah.
Barangkali, progresivitas yang paling radikal ada di dalam edisi
terakhir, tahun 1559, ketika "Institutes" jadi lima kali lebih
panjang dari edisi pertama, dan dibagi menjadi empat "buku",
masing-masing dengan topik utama: "The Knowledge of God the Creator",
"The Knowledge of God the Redeemer", "The Receiving of the Grace of
Christ", dan "The Holy Catholic Church". Di dalam edisi ini, ia bukan
saja membahas predestinasi secara khusus dan panjang (empat bab),
tetapi ia juga memisahkan pembicaraan predestinasi dari providensi.
Jika providensi ditempatkan di akhir pembahasan tentang doktrin Allah
(I.xvi-xviii), maka ia meletakkan predestinasi di dalam konteks
pembahasan soteriologi, di bawah topik besar "The Receiving of the
Grace of Christ", atau tepatnya, sesudah pembicaraan tentang iman,
pembenaran, dan doa (III.xxi-xxiv).
Dampak pemisahan ini, sekali lagi, bukan karena adanya perubahan
konsep teologis dalam diri Calvin mengenai providensi dan
predestinasi. Bukan pula pemisahan dalam arti pembedaan secara tajam
antara providensi dan predestinasi.[14] Pemisahan tersebut dilakukan
karena ia lebih memilih pendekatan "ordo cognoscendi" (urutan secara
logis atau mana yang harus diketahui terlebih dahulu) dalam memahami
predestinasi, ketimbang "ordo essendi" (urutan secara esensi atau
ontologis).[15] Pola semacam ini tampaknya cukup berhasil membuatnya
menjauhkan diri dari pembahasan spekulasi metafisika dan
determinisme, dan sebaliknya, mendekatkan diri kepada pemahaman
tentang predestinasi yang lebih menampung relevansi rohani secara
praktis, khususnya dengan jaminan keselamatan orang percaya.
Secara praktis, prinsip di atas dapat dibahasakan sebagai berikut.
Ketika kita mencoba memahami predestinasi dengan berangkat secara
deduktif dari pernyataan seperti: "Kehendak Allah adalah penyebab
segala sesuatu," akan menjadi lebih sulit dan tak terselami daripada
jika kita mencoba memahami predestinasi dengan berangkat dari
pertanyaan seperti: "Mengapa Tuhan mau mengampuni dosaku? Mengapa
Yesus Kristus mau mati untukku?" Melalui pola pendekatan ordo
cognoscendi, Calvin ingin paham predestinasi itu muncul melalui
pemahaman terhadap aspek-aspek penebusan di dalam diri orang percaya.
Begitu pemilihan itu telah muncul dalam pikiran dan dipercayai, atau
paling tidak, secara samar-samar diterima oleh orang percaya, esensi
pemilihan, sejauh yang Alkitab wahyukan, harus segera diajarkan.
Belajar dari Calvin, Beza menegaskan bahwa ketika kita mencoba
memahami predestinasi dengan memulainya dari "first" atau "final
causality" dalam rahasia kekekalan Allah, itu hanya menyebabkan kita
tidak bisa menarik makna barang sedikit pun karena pada akhirnya,
mata kita akan tertutup terhadap dinamika karya Allah dalam sejarah
keselamatan manusia.[16] Sedangkan, Wendel menafsirkan bahwa Calvin
memilih ordo cognoscendi dalam konteks soteriologis karena seseorang
yang mempelajari doktrin predestinasi dengan berangkat dari hakikat
ketetapan-ketetapan Allah atau providensi Allah, atau membawa
predestinasi ke dalam kategori pembicaraan providensi Allah, hal itu
memang bukan sesuatu yang sepenuhnya salah, tetapi tidak tepat dan
bahkan berbahaya.[17]
Catatan kaki:
1. Kata pengantar H. Cole dalam terjemahan buku "Calvin's Calvinism 6".
2. McNeill, John T (ed.). "Calvin: On the Christian Faith". (New
York: Bobbs-Merill, 1957) xxii.
3. Cole. "Calvin's Calvinism 6".
4. Muller, Richard A. "The Unaccommodated Calvin: Studies in the
Foundation of Theological Tradition". (New York: Oxford, 2000) 3.
5. Tentunya dengan tidak mengabaikan sumber-sumber tulisan Calvin lainnya.
6. (Ed. A. N. S. Lane, tr. G. I. Davies; Grand Rapids: Baker, 1996);
bah. Latin: Defensio sanae et orthodoxae doctrinae de servitute et
liberatione humani arbitrii adversus calumnies Alberti Pighii Coampensis.
7. (Tr. & ed. Benjamin W. Farley; Grand Rapids: Baker, 1982)&h.
Prancis: Contre la secte phantastique et furieuse des Libertins que
se nomment Spirituels.
8. (Tr. J. K. S. Reid; London: Clarke, 1961); bah. Latin: Da aetema
Dei praedestinatione; dan idem, Calvin's Calvinism.
9. Lihat Muller, Richard A. "The Use and Abuse of a Document: Beza's
Tabula Praedestinationis, The Bolsec Controversy, and the Origins of
the Reformed Orthodoxy". dalam "Prostestant Scholasticism: Essays in
Reassessment" (ed. Carl R. Trueman & R. Scott Clark; Cumbria:
Paternoster, 1999) 40-41.
10. Lihat Klooster. "Calvin's Doctrine of Predestination 21".
11. Ibid. III.xxii.1.
12. Ibid. IV i.2.
13. Ibid. IV i.17.
14. Providensi sering dimengerti sebagai ketetapan-ketetapan rahasia
dan kekal Allah secara umum terhadap dunia ciptaan-Nya, sedangkan
predestinasi berkaitan dengan pemilihan untuk hidup kekal atau
membiarkan (passing by) orang di dalam dosa-dosanya (reprobation).
15. Dowey, Edward A. Jr. "The Knowledge of God in Calvin's Theology".
(Grand Rapids: Eerdmans, 1995) 218.
16. Ibid.
17. Wendel. "Calvin: Origins and Development of His Religious Thought". 268.
Diambil dan disunting dari:
Judul jurnal: Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan, Volume 02, Nomor
02 (Oktober 2001)
Judul artikel: Memahami Ulang Konteks Berteologi John Calvin dalam
Doktrin Predestinasi
Penulis: Kalvin S. Budiman
Penerbit: Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang, 2001
Halaman: 159 -- 175
Kamis, 25 April 2013
TINJAUAN TERHADAP MODEL KONTEKSTUALISASI C.L COOLEN DAN J. EMDE DALAM PROSES PENGINJILAN MASYARAKAT JAWA TIMUR
TINJAUAN TERHADAP MODEL KONTEKSTUALISASI C. L COOLEN DAN J. EMDE DALAM PROSES PENGINJILAN MASYARAKAT JAWA TIMUR
Oleh: Beni Samuel Regoh
PENDAHULUAN
Keberadaan gereja disatu daerah tidak terlepas dari adanya usaha-usaha pemberitaan Injil yang dilakukan oleh orang-orang percaya yang memiliki beban untuk menunaikan Amanat Agung Yesus Kristus di daerah tersebut. Demikian juga dengan keberadaan kekristenan di Jawa Timur. Sejarah mencatat bahwa keberadaan gereja di Jawa Timur tidak lepas dari peran penting dua tokoh awam yaitu D.L Coolen dan Johanes Emde.
Keduanya dapat dikatakan sebagai akar berdirinya gereja di Jawa Timur. Hal yang sangat menarik dalam pendekatan penginjilan mereka adalah, keduanya memiliki pola pendekatan yang sangat berbeda satu dengan yang lain. Atau dapat dikatakan yang satu mengarah ke ekstrim kanan dan lainnya ekstrim kiri. Pola pendekatan Coolen adalah pendekatan budaya lokal, dalam hal ini budaya Jawa, sedangkan Emde memakai pendekatan budaya Barat, baik dalam usaha menyampaikan pesan Firman Tuhan maupun usaha penginjilannya.
Tulisan ini akan memberi satu tinjauan atau penyelidikan terhadap pola pendekatan kontekstual yang dilakukan oleh Coolen dan Emde dalam usaha pemberitaan Injil. Tujuannya agar gereja atau setiap pelayan Tuhan dapat belajar dari keberhasilan atau pun kegagalan kedua tokoh ini dalam usaha memberitakan Injil, agar kelak gereja dapat lebih baik lagi dalam memberitakan injil secara kontekstual dalam konteks daerah pemberitaan injil masing-masing.
Dalam penulisan ini pertama, penulis akan memaparkan riwayat singkat kedua tokoh ini. Kedua, penulis akan memaparkan pola pendekatan penginjilan yang dilakukan oleh kedua tokoh ini. Ketiga, penulis akan memberikan satu tinjauan terhadap pola kontekstualisasi kedua tokoh ini, dan terakhir penulis memberikan satu kesimpulan dan refleksi.
I.RIWAYAT SINGKAT C. L COOLEN DAN J. EMDE
A. Riwayat hidup C.L Coolen
C.L Coolen lahir pada tahun 1773 di Semarang. Ayahnya berasal dari keluarga Belanda yang berimigrasi ke Rusia yang kemudian menjadi serdadu sewaan dari tentara VOC. Sedangkan ibunya adalah seorang Jawa asli yang berasal dari keturunan Raja-raja Mataram dan dari kalangan ningrat Solo. Karena berasal dari keluarga campuran orang Barat dan Jawa, maka pandangan hidupnya dan pola asuh sangat berbeda antara pola asuh ayahnya sebagai orang Barat yang menuntut hidupnya untuk mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain. Sedangkan dari Ibunya ia menerima asuhan dalam suasana rohani mistik Jawa dan dididik untuk menjadi seorang yang ahli dalam soal pewayangan dan gamelan.
Ia menyelesaikan sekolah dasar di Semarang dan kemudian ia diangkat oleh pemerintah menjadi seorang ahli gambar karena ia memiliki talenta menggambar. Tidak lama kemudian ia berhenti dari pekerjaannya dan masuk artileri di Surabaya. Selanjutnya ia menikah dan memiliki lima orang anak. Beberapa waktu kemudian ia berhenti dari ketentaraan dan ia diangkat menjadi pejabat pemerintah bidang kehutanan di Mojoagung. Namun istri dan anak-anaknya tidak ikut dengannya. Karena jarak yang jauh antara Surabaya dan Mojoagung maka memperlemah ikatan keluarga Coolen dan istrinya. Selanjutnya Coolen menikah lagi dengan Sadjiah seorang wanita Jawa asal Mojoagung.
Pada tahun 1829, ia membuka hutan (142 ha) untuk menjadi lahan pertanian di daerah Ngoro kurang lebih 16 KM dari Mojoagung atas izin dari pemerintah Belanda. Disinilah ia menetap bersama anak-anak, istri, keluarga istrinya dan sejumlah orang Jawa. Di daerah yang baru inilah ia menjadi tuan tanah yang sangat berpengaruh dan dihormati oleh masyarakat sekitarnya. Di daerah ini pula ia mulai memberitakan Injil kepada komunitas Jawa dengan metode dan cara kontekstualisasinya.
B. Riwayat hidup J. Emde (1774-1859)
J. Emde adalah seorang jemaat awam dan seorang pietis dari Jerman yang memiliki kepekaan tanggung jawab dalam memberitakan Injil kepada penganut Islam di Jawa. Ia berasal dari keluarga seorang tukang menggiling di Waldeck, Jerman Utara. Ia datang ke Indonesia sebagai pelaut, dan setelah melalui banyak pengembaraannya akhirnya ia menetap di Surabaya dan menjadi tukang arloji, serta menikah dengan wanita Jawa.
Pada tahun 1814 ketika Pdt. Joseph Kam menjadi Pendeta di Gereja Protestan Surabaya, Kam memberi inspirasi kepada Emde untuk mengabarkan Injil kepada orang yang belum mengenal Kristus. Kam kemudian mendirikan sebuah Perkumpulan Traktat Alkitab dan Misi, yang menyelenggarakan persekutuan doa secara teratur. Namun tidak lama kemudian Kam menjadi misionaris di Ambon, maka Emde menggantikannya sebagai pemimpin conventicles (kelompok kecil) kaum pietis di Surabaya. Ia mengadakan pertemuan-pertemuan keagamaan di rumahnya dan suatu perkumpulan PI (1815). Alat-alat PI (berupa traktat, selebaran dan lain sebagainya) didapat dari Bruckner seorang pekabar Injil yang diutus ke Jawa bersama Joseph Kam.
Pada awalnya, pekerjaan pelayanan Emde tidak membawa hasil, bahkan GPI (Gereja Protestan Indonesia) menganggap dirinya sebagai saingan sehingga ia dilapor kepada pemerintah dan sempat dipenjara beberapa waktu lamanya (1820). Namun keadaan ini tidak berlangsung lama, karena GPI akhirnya dapat menerima pelayanan dari Emde bagi orang Jawa.
MODEL-MODEL PENDEKATAN PENGINJILAN C.L COOLEN DAN J. EMDE
A. MODEL PENDEKATAN C.L COOLEN
Coolen adalah salah satu penginjil awam yang cukup berhasil meletakkan dasar bagi keberadaan kekristenan di Jawa Timur. Keberhasilannya menanamkan benih Injil di Jawa Timur secara khusus di daerah Ngoro, tidak lepas dari pola pendekatan yang membumi sesuai dengan kultur atau budaya setempat.
Adapun pola pendekatan penginjilan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
Pertama, menjangkau daerah pedesaan sebagai basis penginjilan.
Dengan basis pedesaan maka ia berusaha mengidentikkan dirinya seperti orang-orang Jawa pada umumnya yang hidup di pedesaan yang agraris. Ia berusaha mentransformasikan hutan belantara menjadi sawah yang subur dengan alat-alat tradisional. Dengan basis pedesaan, maka dalam penginjilan ia mengidentikkan dirinya dengan pola guru ilmu, dalam konteks dan pengertian kehidupan pedesaan Jawa.
Kedua, pendekatan kepada struktur sosial masyarakat pedesaan Jawa yang holtikultura.
Pendekatan dirinya sebagai seorang petani, membawa dirinya lebih dekat dengan masyarakat desa yang pada umumnya adalah petani atau buru tani. Pendekatan ini, membawa hasil yang baik bagi Injil. Pertama, ia memperkenalkan injil kepada keluarga istrinya, kemudian kepada pembantu-pembantunya, pada akhirnya berdampak bagi masyarakat sekitarnya.
Dalam pendekatannya ini, Coolen memasukkan unsur kepercayaan dan keyakinan mistik Jawa, yang mempercayai bahwa kawasan hutan yang akan dibuka di daerah Ngoro ada pelindungnya yaitu Ki Gede (kepercayaan mistik Jawa). Untuk menyesuaikan dan mengidentifikasi dengan kepercayaan yang ada, maka dengan penuh keyakinan ia menyatakan bahwa puteranya Damar, adalah pengejewantahan dari Ki Gede yang merupakan roh pelindung kawasan hutan di daerah Ngoro.
Apa yang dilakukan oleh Coolen dalam merambah atau membuka hutan yang baru untuk menjadi lahan pertanian dapat dikatakan sangat berhasil. Hal ini menyebabkan namanya tersohor di berbagai daerah sekitar Jawa. Ketersohoron dirinya tidak lepas dari keberhasilan dirinya dan pengikut-pengikutnya membuka hutan baru tanpa suatu kendala yang berarti. Hal ini tidak lepas dari kepercayaan masyarakat Jawa yang pada waktu itu mempercayai bahwa hutan-hutan dijaga oleh roh-roh yang jahat, oleh sebab itu jikalau seseorang membuka hutan untuk menjadi lahan pertanian maka ia harus berhadapan dengan roh-roh tersebut.
Keberhasilan membuka hutan menjadi lahan pertanian baru tanpa menghadapi kendala, menjadikan dirinya disegani oleh masyarakat sekitarnya. Bahkan melalui peristiwa ini, Coolen dipercaya sebagai seorang “guru” yang bijaksana atau seorang yang memiliki ilmu (mistik), karena dengan berani menentang bahaya melawan roh-roh hutan, bahkan menang sehingga ia dapat menggarap hutan menjadi lahan yang subur.
Ketiga, pendekatan kepemimpinan yang berbasis pedesaan dengan nilai-nilai Kristiani.
Keberhasilan Coolen tidak terlepas dari pola pendekatan kepemimpinannya terhadap masyarakat yang dipimpinnya. Ia menerapkan pola kepemimpinan yang bersifat patriakhal, yang sama dengan apa yang dilakukan oleh kepala desa pada waktu itu. Kepemimpinannya adalah kepemimpinan berpihak kepada rakyat dan berusaha memperlakukan setiap pengikutnya dengan adil dan bijaksana. Ia membentuk satu komunitas yang dilatih secara khusus dalam ketrampilan pertanian, moral, disiplin hidup dan lain sebagainya.
Dengan demikian, Coolen mampu membawa masyarakat Ngoro atau pengikutnya untuk memiliki standar moral, etika kerja yang sangat baik dibandingkan dengan masyarakat diluar komunitasnya. Bahkan dapat dikatakan bahwa dibawah kepemimpinannya, daerah Ngoro menjadi satu tempat yang sangat makmur, tentram, tertib dan nyaman, dibandingkan dengan daerah-daerah di sekitarnya. Hal ini tidak lepas dari sistim kepemimpinan Coolen yang meletakan standar moral, etika, hukum sosial yang didasarkan pada pengajaran Firman Tuhan. Dalam hukum pernikahan, Ia mengadaptasi cara kaum Muslim dalam pernikahan, seperti memakai penghulu dan adat-ada istiadat lainnya seperti yang menjadi tradisi turun temurun di daerah Jawa.
Keempat, pendekatan penginjilan yang bersifat kultural.
Pendekatan penginjilan yang dilakukan oleh Coolen sangat berbeda dengan kebanyakan misionaris Barat yang memberitakan Injil di pulau Jawa ataupun di Indonesia. Dalam pekabaran Injil ia berusaha untuk menyesuaikan diri dengan budaya dan natur masyarakat Jawa. Pemberitaan Injil yang dilakukannya bersifat holistik, mencakup berbagai dimensi kehidupan masyarakat Jawa, yang meliputi kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan budaya.
Menurut Coolen, pemberitaan Injil harus masuk keberbagai aspek kehidupan masyarakat. Oleh sebab itu, dimanapun ia berada ia terus memberitakan Injil, bahkan saat sedang membajak sawah-pun ia memberitakan Injil. Hal ini terlihat jelas melalui lukisan dirinya yang menggambarkan ia sedang membajak sawah, sambil memberitakan pertobatan kepada rakyatnya.
Coolen, dalam memberitakan Injil sangat menekankan tradisi-tradisi kosmis Jawa, secara khusus yang berhubungan dengan pertanian. Oleh sebab itu ritus-ritus yang sering dilakukan oleh orang Jawa turun temurun diadopsi oleh Coolen. Misalnya, ritual sebelum bajak di kenakan ke tanah atau penaburan benih pertama. Bagi kepercayaan Jawa, pria yang pertama mengenakan bajak atau menabur benih haruslah seorang yang memiliki ilmu gaib tertentu. Hal ini disebabkan adanya kepercayaan masyarakat Jawa yang mempercayai adanya Dewi padi yang disebut Dewi Sri. Maka, Coolen yang dipercayakan untuk memohon kepada Dewi Sri (Dewi Padi) dengan nyanyian-nyanyian Jawa. Coolen melakukan ritual ini, dengan pertama-tama memohon kepada Dewi Sri dan diakhiri dengan nama Yesus yang merupakan Dewa yang lebih besar.
Dalam usaha pemberitaan Injil yang sesuai dengan kultur budaya lokal, maka dalam ibadah ia berkhotbah memakai bahasa Jawa, lagu pujian diiringi musik Jawa; gamelan, dan memakai bahasa Jawa. Bahkan untuk menceritakan kisah-kisah Alkitab ia menggunakan sarana wayang, serta menjelaskan perbandingan antara tokoh-tokoh Alkitab dengan tokoh pewayangan. Coolen juga menyusun sebuah ringkasan pengakuan iman. Dalam pelafalan pengakuan iman tersebut, dilakukan dengan memakai irama musik Jawa. Bahkan pengakuan iman ini kerap dinyanyikan oleh orang-orang Kristen Ngoro pada perkumpulan-perkumpulan selesai ibadah.
Kelima, pendekatan penginjilan dengan mengadaptasi ritual-ritual kaum Muslim.
Selain pendekatan penginjilannya dalam kultur Jawa, ia berusaha untuk menempatkan kekristenan sedekat mungkin dengan ritual-ritual dan kebiasaan-kebiasaan dari Muslim. Misalnya, pengakuan iman dan doa bapa kami dilakukan sama dengan apa yang dilakukan oleh para santri dalam berzikir. Orang yang baru percaya Tuhan wajib mengucapkan pengakuan iman dan doa Bapa kami, sebagai bentuk pengakuan dan keabsahan menjadi seorang Kristen. Apa yang dilakukan ini sangat mirip dengan apa yang dilakukan oleh orang Muslim kepada orang yang baru menganut agama Islam, yaitu dengan mengucapkan dua kalimat sahadat (Pengakuan Iman Muslim).
Usahanya untuk menyamakan pola kepemimpinan agama Kristen dengan Muslim juga nampak dalam penggunaan nama gelar kerohanian. Ia tidak menyebut dirinya seorang pendeta (awam) tetapi kyai dan penghulu. Di sisi lain Coolen sangat menentang adanya pembaptisan sebagai pertanda seseorang masuk ke dalam kehidupan kekristenan, menurutnya bahwa baptisan merupakan tradisi Eropa oleh karena itu tidak perlu diterapkan dalam masyarakat Jawa.
Semua usaha penginjilan kontekstual yang dilakukan oleh Coolen menjadikan namanya tersohor di seluruh wilayah Jawa yang membawa banyak orang datang kepadanya bukan sekedar mencari pekerjaan, makanan, belajar bertani, tetapi tidak sedikit yang datang untuk “berguru” atau ngelmu (Jawa), karena masyarakat sekitar sudah mengenal dirinya sebagai tuan tanah dan sekaligus sebagai guru yang bijaksana.
MODEL PENDEKATAN J. EMDE
Berbeda dengan Coolen yang menjangkau daerah pedesaan sebagai basis penginjilan. Emde menjadikan daerah perkotaan sebagai basis penginjilannya, dalam hal ini kota Surabaya.
1. Pola Pendekatan Penginjilan Melalui Traktat
Pola pendekatan Emde ialah dengan membagi traktat-traktat yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa oleh Pdt. G.W. Bruckner. Pembagian traktat ini merupakan salah satu metode penginjilan yang dilakukan oleh Emde dan juga tim penginjilannya. Bentuk penginjilan melalui traktat dilakukan melalui penyebaran traktat oleh anak-anaknya kepada orang-orang Jawa yang bisa membaca di pasar-pasar di kota Surabaya.
Salah satu hasil dari penyebaran traktat yang membuat banyak orang Jawa menjadi Kristen di mulai dari seorang yang bernama Kyai Midah asal Madura. Ia mendapat traktat berupa kitab Markus terjemahan bahasa Jawa. Setelah membaca kitab Markus ini, ia sangat tertarik dan terbangun rasa ingin tahunya, oleh sebab itu ia mengajak teman-temannya untuk membahas dan menyelidiki buku ini. Salah satu temannya yang mendiskusikan bacaan ini adalah pak Dasimah. Pak Dasimah adalah seorang terpelajar dan merupakan pejabat mesjid yang sangat tertarik dengan hal-hal yang berkaitan dengan agama. Oleh sebab itu ketika Kyai Midah memberikan terjemahan Injil Markus, ia dengan teman-temannya mendiskusikan kitab ini. Hal yang sangat menarik dalam diskusi mereka adalah yang berhubungan dengan kata Allah seolah-olah memiliki anak. Keingintahuan mereka mengenai hal ini, membawa mereka untuk mencari tahu dan ingin mendalaminya. Oleh sebab itu mereka pergi mengunjungi Coolen di daerah Ngoro yang berjarak sangat jauh dari Surabaya. Di sana mereka diajari tentang kekristenan oleh Coolen.
Ketertarikan mereka akan Injil, membawa mereka kepada Emde atas rekomendasi dari Coolen (kira-kira tahun 1841-1842) untuk memperlengkapi pengetahuan mereka mengenai kekristenan. Ditangan Emde mereka diajarkan kekristenan lebih mendalam mengenai hal-hal yang berhubungan dengan kekristenan. Setelah mendapatkan pengajaran agama Kristen dari Emde, Kyai Midah dan teman-temannya menerima baptisan dari Pdt. A.W. Meijer di Gereja Prostestan Surabaya.
2. Pola pendekatan budaya dan pietisme Barat
Di atas telah dipaparkan bahwa Emde adalah seorang awam oleh karena itu pengetahuan tentang misi dan kekristenannya sangat dangkal. Emde yang berlatar belakang pietisme barat, menganjurkan para pengikutnya untuk melepaskan budaya Jawa melalui berbagai larangan-larangan. Ia mewajibkan orang Jawa yang menjadi Kristen untuk dibaptis dan berusaha untuk mengubah adat istiadat serta perilaku orang Jawa dengan pola dan adat istiadat Barat. Sehubungan dengan itu, maka Emde mengharuskan mereka untuk memotong rambut, menggantikan kain sarung dengan celana panjang, melepaskan keris-kerisnya, tidak boleh menonton wayang, mendengarkan gamelan, menyelenggarakan selametan, karena semuanya dianggap sebagai bentuk kekafiran bahkan mengganti nama Jawa dengan nama Kristen .
Hal ini jelas sebagaimana dikatakan oleh Harthorn:
Kelompok Emde menerapkan rangkaian titah “kristen” lain diatas Dasah Titah Perjanjian Lama. Adapun daftar dasah titah Emde sebagai berikut: (1) Kamu harus memangkas pendek rambutmu. (2) Kamu harus melepaskan kain kepala manakalah berada di gereja. (3) Jangan kamu mendengarkan musik gamelan. (4) Janganlah kamu menghadiri pertunjukan wayang. (5) Janganlah kamu di sunat. (6) Janganlah kamu menghadiri slametan. (7) Janganlah kamu membaca sastra Jawa. (8) Janganlah kamu merawat makam para nenek moyangmu. (9) Janganlah kamu menghiasi makammu dengan bunga atau pohon-pohonan. (10) Kamu harus melarang anak-anakmu bermain permainan sia-sia.
Selain dasah titah tersebut ada banyak bentuk larangan-larangan lainnya yang tidak tertulis namun tidak boleh dilakukan oleh orang Jawa yang telah menjadi Kristen. Hal ini menjadikan jemaat Emde disebut dengan Kristen Landa (Belanda) karena kehidupan, identitas diri, dan perilaku budayanya sesuai dengan budaya dan gereja Belanda atau Barat, bahkan mereka dipandang aneh di lingkungan mereka tinggal.
Mengapa Emde memperlakuan orang Kristen baru seperti demikian? Untuk hal ini Th. Van Den End berkomentar: “Emde memandang perlu bahwa mereka (orang jawa Kristen) bersama dengan agama orang Eropa, menerima juga adat istiadat Eropa. Walaupun demikian, Emde adalah seorang yang sangat menghormati masyarakat Jawa. Ia tidak memandang dirinya lebih tinggi derajatnya dari orang Jawa sebagaimana yang dilakukan oleh orang Eropa pada waktu itu. Selain menjauhkan orang Kristen Jawa dengan ke-jawa-annya, Emde juga berusaha menjauhkan mereka dari pengaruh tradisi Muslim. Hal ini dilakukan karena mungkin ada ketakutan munculnya sinkretisme masyarakat Jawa atau terpengaruhnya orang Jawa Kristen dengan Islam. Seperti disampaikan oleh Philip van Akkeren:
Hal ini bisa dipahami, manakalah kita menyadari fakta bahwa di Surabaya, Emde tinggal satu kilometer saja jaraknya dari pusat Muslim – Jawa, dimana terletak makam Sunan Ampel, salah seorang wali dan seorang saleh di Jawa Timur. Bahkan yang lebih dekat lagi, letak kawasan orang-orang Arab. Dengan begitu Emde...telah memperkuat prasangka piestiknya mengenai masyarakat Jawa yang dianggap sebagai musyrik dan tahayul.
Dari komentar Akkeren, kita dapat mengetahui apa yang menjadi penyebab Emde begitu ketat membentengi orang Kristen Jawa. Minimal ia menginginkan agar Kekristenan tidak lagi terpengaruh dengan agama Islam dan juga tradisi-tradisi yang memungkinkan mereka menjadi sinkretis.
Selain membagikan traktat sebagaimana dijelaskan di atas, hal yang tidak kalah penting yang dikerjakan oleh Emde dan teman-temannya di Surabaya adalah menyadur kembali Alkitab Perjanjian Baru Leydekker, ke dalam bahasa melayu yang sederhana dan mudah dimengerti. Alkitab ini kemudian dicetak dan diterbitkan di Jakarta tahun 1835. Melalui Alkitab ini, begitu banyak orang membaca dan mengenal Tuhan.
TINJAUAN POLA PEMBERITAAN INJIL C.L. COOLEN DAN J. EMDE DARI SUDUT KONTEKSTUALISASI
Dalam bagian ini, penulis akan melakukan tinjauan pola pemberitaan injil Coolen dan Emde dari sudut kontekstualisasi.
Apa itu kontekstualisasi? Theological Education Fund yang pertama-tama mencetuskan istilah kontekstualisasi (1972) mendefinisikan kontekstualisasi sebagai: “The setting between text and context,” yakni interaksi antara teks/berita Injil dan konteks dari penerima Injil. Dengan demikian kontekstualisasi melibatkan dimensi dialektis antara teks dan konteks dalam pendekatan Injil.
Secara sederhana, kontekstualisasi dapat diartikan dengan pemberitaan Injil sesuai dengan konteks pendengar (kultur). Dari istilah yang dipakai terlihat adanya kesadaran terhadap perbedaan kultur antara pemberita dan pendengar. Perbedaan kultur ini harus dijembatani karena jika tidak dijembatani akan berpotensi menghalangi efektivitas pekabaran injil, karena keberhasilan komunikasi Injil berkaitan dengan pemahaman masing-masing pihak yang terlibat.
Kontekstualisasi bukanlah sesuatu yang baru dalam kekristenan. Alkitab; baik dalam Panjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, telah memaparkan dengan jelas mengenai kontekstualisasi. Secara teologis dalam PL kontekstualisasi dimulai dari Allah yang berinkarnasi lewat Firmannya. Pertama, Allah menyatakan diri melalui penciptaan (Kej. 1). Dengan menyatakan dirinya yang adalah pencipta, Allah menunjukan kehendak-Nya yang abadi, bahwa Dialah yang harus membuka tabir diri-Nya yang adalah pencipta bagi manusia. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Allah-lah penggerak utama kontekstualisasi. Selanjutnya Allah menggunakan mandat budaya sebagai pengejawantahan kontekstualisasi. Hal ini dilakukan untuk memberikan wewenang bagi manusia untuk berbudaya, memenuhi dan menguasai dunia. Di sini manusia dengan sendirinya dapat mendayagunakan kreatifitasnya untuk berbudaya.
Sedangkan dalam Perjanjian Baru, Allah menyatakan diri-Nya melalui perantaraan Anak-Nya. Anak-Nya merupakan gambaran keagungan, kemuliaan Allah. Kontekstualisasi dalam PB dapat dilihat melalui inkarnasi Kristus (logos) dalam seluruh aspek budaya hebraic dan kontekstualisasi Injil oleh Rasul Paulus dalam lingkup pelayanan seutuhnya.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kontekstualisasi secara teologis bukanlah suatu yang baru karena penyataan diri Allah merupakan dasar dari kontekstualisasi. Penyataan diri Allah melalui inkarnasi Yesus Kristus atau logos menjadi manusia (Yoh. 1:14), mempunyai implikasi yang luas. Ini berarti ia lahir ke dunia sebagai manusia, hidup dalam sejarah manusia, menjadi bagian dari konteks budaya manusia. Ini juga menunjukan solidaritas Yesus dengan manusia secara utuh dalam lingkup sosial - budaya manusia. Lebih dari pada itu, tujuan inkarnasi Yesus memiliki tujuan misional, untuk membuktikan kasih Allah kepada dunia (Yoh. 3:16), bagi pembebasan dunia itu sendiri (Yoh. 1:29). Kristus dalam inkarnasi-Nya mengambil seluruh aspek manusia dan menggunakannya sebagai wahana misi, menyatakan kehendak Allah yang kekal kepada dunia melalui konteks budaya di mana Ia ada.
Dengan pemahaman ini, maka penulis akan meninjau pola pendekatan yang dilakukan oleh Coolen dan Emde dalam aspek kontestualisasi yang mereka terapkan. Dan tinjauan ini dibatasi hanya pada dua aspek penting dari kontekstualisasi itu sendiri, yaitu kontekstualisasi Injil dan teologis. Kontesktualisasi injil berhubungan dengan sikap dalam memberitakan Injil yang berkaitan dengan kepekaan dan sikap hormat terhadap perbedaan kultur yang ada antara pemberita dan pendengar. Sedangkan kontekstualisasi teologis adalah berusaha membangun kerangka teologi yang alkitabiah yang bebas dari pola pikir yang tidak sesuai dengan Alkitab. Jadi, kontekstualisasi Injil berhubungan dengan hal praktis dalam pemberitaan Injil dan kontekstualisasi teologi lebih ke arah isi dari berita Injil.
1. Tinjauan Kontekstualisasi Injil
A. Evaluasi pola kontekstualisasi Injil dan teologis C.L Coolen.
Dari pemaparan diatas, sangat jelas bahwa ada perbedaan mengenai pola pendekatan penginjilan yang dilakukan oleh Coolen dan Emde. Coolen begitu memahami konteks penerima Injil yaitu masyarakat Jawa pedesaan. Dengan demikian, ia memposisikan dirinya seperti Paulus katakan dalam I Kor. 9:22 “ Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.”
Latarbelakang Coolen yang dilahirkan oleh seorang ibu keturunan Jawa, mempermudah proses adaptasi dalam lingkungan masyarakat Jawa dengan segala kompleksitasnya. Bagi Coolen, kompleksitas budaya bukan menjadi suatu halangan dalam usahanya memberitakan Injil kepada para pendengar. Pemahaman yang baik terhadap kultur lokal, memudahkan Coolen mengemas injil sedemikian rupa, sehingga mudah untuk dipahami dan diterima oleh masyarakat Jawa.
Coolen dengan cerdas menggunakan simbol-simbol budaya untuk menjembatani antara Injil dan konteks. Simbol-simbol budaya yang dipakainya (sebagai tools) sangat efektif dalam usaha menyampaikan pesan Injil kepada masyarakat Jawa. Adapun beberapa tools yang dipakainya, diantaranya: bahasa, alat-alat musik (gamelan), pewayangan, ekonomi, kepemimpinan dan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku turun temurun dalam masyarakat Jawa.
Perlu diakui bahwa secara filosofis penggunaan simbol-simbol budaya dalam mengkomunikasikan injil adalah suatu pendekatan yang efektif. Dari simbol-simbol budaya, seorang misionaris dapat mengkomunikasikan Injil yang dibungkus dengan budaya setempat yang akhirnya dapat memiliki makna yang baru. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa “keberhasilan” pemberitaan Injil dari Coolen tidak lepas dari kemampuannya untuk menggunakan simbol-simbol budaya yang ada dalam menyampaikan pesan Injil.
Dari pemaparan diatas mengenai berbagai pendekatan penginjilan yang dilakukan oleh Coolen, maka dapat disimpulkan bahwa Coolen dalam penginjilannya menggunakan dua model kontekstualisasi, yaitu model akomodasi dan adaptasi. Tomatala mendefinisikan model akomodasi adalah suatu sikap menghargai dan terbuka terhadap kebudayaan asli yang dilakukan dalam sikap, kelakuan, dan pendekatan praktis dalam tugas misionaris, baik secara teologis maupun secara ilmiah. Sedangkan model adaptasi adalah satu model yang tidak mengasimilasikan unsur budaya dalam mengekspresikan Injil, tetapi menggunakan bentuk, ide budaya yang dikenal.
Model akomodasi dari Coolen dapat dilihat dari keterbukaanya terhadap budaya asli, mulai dari hal-hal yang bersifat mistik, simbol-simbol budaya, sampai kepada hal-hal yang menyangkut tradisi-tradisi, baik dari sosio-agama maupun sosio-kultur. Sedangkan penggunaan model adaptasi adalah dengan menggunakan bentuk, ide dari budaya yang sudah dikenal masyarakat Jawa pada waktu itu. Sebagai contoh, Coolen menggunakan tokoh-tokoh wayang yang sudah dikenal, lalu ia membandingkan dengan tokoh-tokoh Alkitab, pelafalan pengakuan iman dalam bentuk nyanyian seperti yang dilakukan oleh orang Jawa Muslim dalam berzikir dan lain sebagainya.
B. Evaluasi terhadap pola kontekstualisasi Injil dan teologis J. Emde
Selanjutnya model kontekstualisasi Injil seperti apa yang dilakukan oleh Emde? Dalam ilmu kontekstualisasi Injil, ia memakai model prossesio. Prosesio adalah suatu sikap yang menanggapi budaya secara negatif. Model pendekatan prosesio Emde dapat dilihat dari bagaimana ia menyikapi budaya. Emde tidak melihat budaya sebagai suatu sarana yang Allah gunakan untuk memberitakan Injil. Emde dengan latarbelakang pietisme Barat berusaha untuk menyampaikan Injil dengan pola budaya Barat. Ia berasumsi bahwa peradaban Barat (apapun maknanya) adalah Kristen dan kebudayaan Jawa adalah kafir. Dengan pemahaman seperti ini, maka mau tidak mau orang Jawa yang menjadi Kristen harus meninggalkan kebudayaannya atau tercabut dari lingkungan asalnya dan seolah-olah menjadi orang Eropa. Phil Parshal mengomentari apa yang dilakukan oleh Emde dengan mengatakan: “bahwa pada umumnya misionaris Barat sangat ethnosentris, mereka meyakini bahwa apa yang baik untuk Eropa juga baik bagi seluruh dunia. Akibatnya ada terjadi sebuah tipe Kristen yang “aneh” yang menjadi bahan tertawaan orang-orang Islam di Indonesia.”
Selain alasan praktis, apa yang diajarkan oleh Emde tidak lepas dari pemahaman teologinya. Sebagai orang Eropa, kemungkinan Emde memiliki pemahaman bahwa teologi Eropa merupakan teologi yang lebih unggul dan dipandang sebagai pengawal tradisi, sebagai pelindung dari bahaya yang mengancam teologi-teologi lainnya. Sehubungan dengan ini, Kasemann berkomentar: “teologi Eropa modern menekankan pentingnya pertobatan, namun melupakan implikasi-implikasinya untuk hidup sehari-hari, dengan demikian menyesatkan orang banyak.”
Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa proses mengkomunikasikan Injil dengan model prossesio yang diterapkan oleh Emde sangat tidak efektif karena menimbulkan gap budaya yang sangat besar. Dengan pendekatan seperti ini, maka dapat dikatakan bahwa Injil tidak akan mendapat tempat yang baik dilingkungan masyarakat Jawa Muslim .
Selain pendekatan prossesio, Emde mengadakan pendekatan tradisional/formal atau yang disebut juga formal correspondence approach. Pendekatan ini dilakukan tanpa memperhatikan faktor sejarah dan sosio-budaya dalam konteks aslinya dan konteks hidup masa kini. Pendekatan ini mengabaikan kenyataan adanya keanekaragaman budaya dengan bentuk, fungsi dan arti yang berbeda dari suatu konteks sejarah budaya dengan konteks lain. Dengan memakai pendekatan ini, maka jelas terjadi salah komunikasi, salah interpretasi dan akhirnya berdampak negatif bagi situasi budaya dimana Injil dilayankan.
2. Evaluasi Teologis pola Kontekstualisasi Coolen dan Emde
Dalam meninjau kontekstualisasi teologis dari Coolen dan Emde, maka penulis akan meninjau dari beberapa kriteria teologi kontekstual, sebagaimana yang dipaparkan oleh Tomatala. Tomatala, memaparkan setidaknya ada tujuh kriteria dimensi teologi kontekstual yang benar, yaitu mempertahankan keunggulan Alkitab sebagai Firman Tuhan, norma iman dan perbuatan dalam satu budaya; menekankan mengenai Allah sang pencipta alam semesta; kebenaran Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat; menekankan Roh Kudus yang adalah Allah sejati; menekankan manusia yang berdosa; mengakui gereja adalah persekutuan umat Allah yang telah dipanggil dari dunia ke dalam Kristus untuk bersaksi bagi kebaikan Allah kepada dunia; dan mengadaptasikan berita Injil kepada setiap budaya manusia, masuk ke dalam pandangan hidupnya serta mengadakan transformasi/pembaharuan, perubahan kehidupan manusia di dalam budaya manusia itu.
1. Evaluasi Teologis Terhadap Pola Kontekstualisasi C.L Coolen.
Secara jujur dapat dikatakan bahwa proses kontekstual teologis C.L Coolen, tidak sepenuhnya menekankan semua kriteria-kriteria yang telah dipaparkan di atas. Coolen dalam proses kontekstualisasi tidak memulai dari apa yang dikatakan Alkitab, tetapi memulai dari budaya. Dalam arti, ia menerapkan Injil dengan melihat realita budaya. Injil tidak menjadi penekanan utama tetapi budaya. Injil menyesuaikan terhadap budaya, sehingga cenderung bersifat sinkretis.
Penekanan terhadap pentingnya budaya membawa Coolen sulit untuk membedakan antara teks dan konteks. Bahkan, Ia tidak melihat pembaptisan dan Perjamuan Kudus sebagai sakramen yang diperintahkan Tuhan, yang merupakan simbol yang menunjukkan seseorang masuk dalam persekutuan dengan sesama orang percaya dan Kristus. Ia memandang bahwa baptisan dan perjamuan kudus merupakan suatu tradisi Eropa, karena itu tidak perlu diterapkan kepada orang Jawa. Untuk hal ini, Akkeren, berkomentar:
“ Coolen tidak memiliki pengetahuan aneka metode atau teori penginjilan sekitar adaptasi, asimilasi dan lain sebagainya. Barangkali ia kuatir kalau-kalau orang Jawa yang menerima agama Kristen lewat baptisan lalu berharap bisa memperoleh kewarganegaraan Belanda, dan karenanya bebas dari kerja paksa dibawah sistem tanam paksa”
Namun apapun alasannya, menurut penulis, baptisan merupakan suatu sakramen dan perintah Yesus (Mat. 28:18-20) yang tentunya berlaku universal. Baptisan bukan berasal dari tradisi Barat tetapi merupakan tradisi Alkitab yang merupakan bagian dari Amanat Agung Yesus.
Selanjutnya dari sisi Kristologi, penulis melihat bahwa citra Coolen tentang Yesus Kristus dan berita-beritanya sangat diwarnai oleh pengaruh-pengaruh Jawa. Misalnya, ketika berdoa di tempat pertanian, dalam doanya ia tetap memakai Dewi Sri yang merupakan dewi padi orang Jawa, dan diakhiri dengan ‘dalam nama Yesus’. Ia juga menyampaikan doanya dengan memohon kepada gunung semeru untuk memberkati pertaniannya.
Pendekatan penginjilan kontekstual teologis seperti ini, menurut penulis akan mengaburkan esensi Injil sebagai kebenaran yang absolut, dan mengaburkan peran Yesus sebagai Tuhan yang adalah pencipta, pemelihara seluruh aspek hidup manusia. Tidak adanya batasan antara teks dan konteks akan sangat berbahaya bagi perkembangan iman dan pemahaman orang Kristen Jawa. Bahkan tidak dapat disangkali bahwa orang Kristen Jawa akan menghadapi bahaya sinkretisme.
Namun disisi lain, secara praksis pola-pola penginjilan yang dilakukan oleh Coolen membawa satu transfomasi hidup. Hal ini dapat dilihat dari pola hidup orang Kristen dalam berinteraksi dan berelasi dalam masyarakat. Orang-orang yang sebelum Kristen memiliki hidup yang tidak benar, berubah menjadi orang yang benar. Pola guru yang dicontohkan Coolen, yang dapat diteladani oleh masyarakat menjadi satu wadah yang efektif untuk membawa murid-muridnya kepada suatu pembaharuan hidup. Pola ini sesuai dengan pola yang diajarkan Alkitab, dimana Yesus menjadi tokoh sentral, sebagai guru yang dapat membawa transformasi positif kepada murid-murid-Nya.
Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa secara teologis, pola pendekatan penginjilan Coolen sangat menekankan konteks dari pada teks, sehingga terjadi kesimpangsiuran, kerancuan, bahkan pengaburan esensi Injil itu sendiri. Namun disisi praktis, dapat dikatakan bahwa ia sukses membawa suatu transformasi yang utuh dalam semua aspek kehidupan pengikutnya. Ia sukses menjembatani budaya dan Injil sehingga Injil dapat di terima dengan baik oleh masyarakat Jawa, ia membawa ekonomi orang Kristen (Jawa) menjadi lebih baik, menjadikan orang Kristen memiliki etika hidup Kristen yang baik dalam hubungan dengan sesamanya, ia menjadi teladan dalam hal kepemimpinan walaupun ia gagal dalam kehidupan keluarga.
2. Evaluasi Teologis Terhadap Kontekstualisasi J. Emde
Secara teologis apa yang dilakukan oleh Emde sepertinya sesuai dengan Alkitab. Ia sangat menjunjung tinggi teks tetapi mengabaikan konteks. Sebagai orang Eropa tulen yang mewarisi budaya legalistis serta roh pietisme, maka ia sangat sulit untuk menerima budaya Jawa (konteks), hal ini menyebabkan gereja terisolasi dan masuk dalam konflik-konflik dengan masyarakat non-Kristen.
Emde menolak segala macam bentuk budaya lokal (Jawa), hal ini dilakukan karena adanya ketakutan, dimana orang Kristen jawa akan terjebak sinkretisme, atau kembali ke agama asal, atau kepercayaan awal mereka. Ketakutan Emde ini dapat dipahami, karena budaya Jawa dan Muslim sangat berkaitan erat dengan mistikisme, kepercayaan kepada dewa dewi, dan tradisi-tradisi yang lain. Untuk hal ini, Pharshall berkomentar: “Para misionaris, karena takut terjebak dalam sinkretisme kerapkali melakukan penolakan yang berlebih-lebihan terhadap budaya lokal. Orang-orang setempat didorong untuk menjadi seperti seorang misionaris. Namun hal ini menciptakan sinkretisme di dalam dirinya sendiri”
Secara teologis Emde menginginkan agar orang Kristen Jawa memiliki iman yang murni, iman yang beranjak dari kebenaran Firman Tuhan. Emde melihat bahwa Kekristenan berakar dari Firman Tuhan, namun sangat disayangkan bahwa Emde tidak melihat bahwa budaya adalah ciptaan Allah dan dapat digunakan untuk kemuliaan Allah. Ia tidak melihat bahwa Injil harus dikontekstualisasikan dengan budaya setempat agar pesan Injil dapat diterima dengan baik oleh pendengar. Emde memandang budaya secara negatif dan tidak melihat apa yang diajarkan oleh Alkitab mengenai budaya. Dalam Alkitab, Yesus berinkarnasi menjadi manusia dan masuk dalam budaya manusia semata-mata agar Injil dapat diterima oleh manusia (Filipi 2:5-11). Yesus adalah Tuhan yang mengindentifikasi diri-Nya terhadap umat manusia. Dalam kehidupan budaya dan pelayanan-Nya di bumi, bahkan Ia mengidentifikasikan diri-Nya dengan Israel sebagaimana dinubuatkan dalam Perjanjian Lama.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Paulus. Paulus mengatakan: “Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat” (I Kor. 9:20 bnd. 21-23).
Pada intinya, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, dipaparkan bahwa Injil tidak dapat dilepaskan dari konteks budaya manusia. Injil masuk dalam budaya manusia dan Allah menggunakan budaya manusia untuk memperkenalkan diri-Nya bagi manusia. Injil masuk ke dalam lintas budaya manusia, agar manusia mengalami transformasi untuk hidup seperti Kristus.
Walaupun demikian, ada hal yang penting yang perlu diperhatikan dalam proses kontekstualisasi, yaitu seorang penginjil harus mengetahui batas-batas antara kontekstualisasi dan sinkretisme. Menurut J. O Braaswell III, “sinkretisme terjadi bila elemen-elemen penting dan mendasar dari Injil lenyap dalam proses kontekstualisasi”. Berdasarkan hal ini, maka menurut penulis, Emde secara teologis, tidak dapat memilah dan melihat batas-batas antara sinkretisme dan kontekstualisasi, sehingga ia memandang secara universal bahwa semua budaya adalah sinkretisme.
Secara sederhana, dapat disimpulkan bahwa pandangan Emde secara negatif terhadap budaya Jawa adalah suatu yang wajar, karena ia ingin mempertahankan Injil yang murni. Ia takut mereka terjebak terhadap sinkretisme. Dengan semangat pietisme, Emde merindukan jemaat yang baru dibangun, memiliki dasar yang benar dengan hidup menurut Firman Tuhan. Namun ketakutan Emde terhadap sinkretisme mengakibatkan adanya pemahaman bahwa Allah melawan budaya karena ia tidak melihat satu nilai positif apapun dalam budaya dan tradisi Jawa. Pada hal Alkitab dan Allah sendiri tidak anti budaya, bahkan Alkitab diinspirasikan Allah di dalam budaya manusia, dan Allah mengidentifikasikan diri-Nya dengan cara masuk dalam budaya manusia.
KESIMPULAN DAN REFLEKSI
Berdasarkan apa telah dipaparkan diatas maka secara positif gereja harus menghargai segala usaha penginjilan yang dilakukan oleh ke-dua tokoh gereja ini. Ada banyak warisan rohani dan hal yang berharga yang telah ditanamkan oleh kedua tokoh ini bagi gereja. Secara khusus gereja di Jawa Timur. Meskipun harus diakui ada banyak kekurangan dari kedua tokoh ini.
Coolen dan Emde memiliki kelebihan dan juga kekurangan dalam pendekatan penginjilan. Coolen sangat menekankan budaya Jawa sehingga Injil begitu mudah diterima oleh orang Jawa. Dalam menabur benih Injil, ia memakai dan menggunakan sepenuhnya adat istiadat Jawa, beserta simbol-simbol budayanya. Namun karena sangat menekankan budaya Jawa ia cenderung menciptakan jemaat Kristen yang sinkretis. Berbeda dengan Emde, Emde sangat menekankan budaya Barat dengan pietismenya. Karena begitu pietisnya, sehingga ada kecenderungan menjadi sangat legalis, karena pembinaan jemaat yang dilakukan hanya kelihatan sebatas tanda-tanda pertobatan dan usaha-usaha melaksanakan tata krama perilaku lahiriah. Semua dilakukan dengan dalih untuk mempertahankan kemurnian Injil dan iman orang percaya. Namun penekanannya ini menjadi sesuatu yang negatif bagi konteks Injil (orang Jawa). Orang Jawa memandang kekristenan sebagai agama yang anti budaya dan merupakan agama Barat. Akibatnya, Injil tidak mendapat tempat yang baik dalam masyarakat Jawa bahkan ditolak.
Berdasarkan pengalaman dari dua tokoh ini, maka sebagai bahan refleksi dan pelajaran bagi gereja hari, penulis mengusulkan beberapa hal di bawah ini.
1. Gereja perlu memikirkan pola-pola pendekatan penginjilan yang tepat dalam usaha penginjilan dalam konteks Asia secara khusus di Indonesia.
2. Perlunya seorang hamba Tuhan, penginjil, misionaris untuk mengerti konteks budaya di mana pun ia melayani.
3. Perlunya gereja memiliki pemahaman yang utuh terhadap Firman Tuhan termasuk dalam proses hermeneutiknya, agar dalam proses penginjilan kontekstualisasi tidak terjebak dalam sinkretisme.
4. Gereja harus melihat sisi positif dari ke dua tokoh ini, untuk menemukan strategi yang tepat dalam penginjilan lintas budaya.
5. Seorang penginjil atau hamba Tuhan harus mengerti batas antara sinkretisme dan kontekstualisasi, sehingga dapat mengimplementasikan Injil dengan benar dan baik.
6. Gereja harus mengevaluasi kembali pola pelayanan misi yang diterapkan saat ini, apakah masih relevan dengan keadaan zaman atau tidak? Agar Injil tetap relevan maka perlu adanya satu pendekatan penginjilan secara holistik
KEPUSTAKAAN
Akkeren Philip van, Dewi Sri dan Kristus: Suatu Kajian Tentang Gereja Pribumi di Jawa Timur. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994.
Aritonang, Jan S. Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006.
Budiman, R..L Pelayanan Lintas Budaya dan Kontekstualisasi. Tt &tp
Soesilo, Daud H. Mengenal Alkitab Anda. (Jakarta: LAI, 2001
Halim, Makmur. Gereja di tengah-tengah Perubahan Dunia, Malang Gandum Mas, 2000.
Hesselgrave, David J. dan Edward Rommen, Kontekstualisasi: Makna, Metode dan Model (terj). Jakarta: BPK, 1994.
Muller, Kruger. Sejarah Gereja Indonesia, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1966.
Partonadi Soetarman Soediman. Komunitas Sadrach dan Akar Kontekstualnya: Suatu Ekspresi Kekristenan Jawa Abad XIX. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001.
Parshall, Phil., Penginjilan Muslim:Pendekatan-pendekatan Kontemporer Pada Kontekstualisasi (terj.) (Baker book house) 2005.
Soekotjo, S.H Sejarah Gereja-Gereja Kristen Jawa, Jilid 1. Yogyakarta: Taman Pustaka Kristen, 2009.
Tomatala Y. Teologi Kontekstualisasi. Malang: Gandum Mas, 1993.
Van Den End, Ragi Carita: Sejarah Gereja Indonesia I, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1980 Yakub Tri Handoko, “Prinsip Kontekstualisasi dalam Pekabaran Injil Yesus” http://www.gkri-exodus.org/.
EVALUASI TERHADAP DEKONSTRUKSI KONSEP PLURALISME JOHN HICK
EVALUASI TERHADAP
DEKONSTRUKSI KONSEP KRISTOLOGI PLURALISME JOHN HICK
PENDAHULUAN
Kemajemukan agama dan keunikan agama adalah suatu realitas yang tidak dapat
dipungkiri oleh setiap masyarakat di dalam dunia ini, termasuk di Indonesia. Sejalan dengan kemajemukan agama yang ada,
maka diperlukan sikap menghormati, menghargai keyakinan setiap pemeluk agama
yang ada. Hal ini yang sangat digaungkan
oleh kaum pluralis, mereka menekankan pentingnya toleransi dan sikap menghargai
kemajemukan agama. Bahkan mereka
menganggap bahwa semua agama membawa orang-orang kepada suatu realitas ilahi,
menjadi pilihan yang menarik karena dianggap lebih demokratis dan toleran.
Sikap menghormati, menghargai atau toleransi merupakan sesuatu yang penting
dalam kemajemukan agama di dunia ini. Namun
akan menjadi persoalan serius ketika sikap toleransi yang semula berada dalam
ranah etika dan moral, diarahkan kepada hal-hal yang esensi yaitu ranah iman
dan keyakinan (doktrinal). Hal ini yang
dilakukan oleh salah satu tokoh pluralis, yaitu John Hick. Hick sangat menekankan masalah
toleransi/dialog dengan agama-agama lain. Demi untuk mencapai tujuannya, ia mengorbankan
satu hal yang sangat esensi dalam keyakinan iman Kristen ortodoks yang
berhubungan dengan kristologi.
Dalam makalah ini, penulis akan menyoroti pandangan John Hick, secara
khusus mengenai konsep kristologinya. Mengapa
penulis menyoroti konsep kristologinya? Pertama,
karena salah satu ajaran yang ditoleransikan oleh John Hick adalah kristologi,
maka evaluasi perlu dilakukan atas kristologinya. Kedua, evaluasi dilakukan untuk meluruskan
konsep kristologi pada yang benar dan menegaskan bahwa
kekristenan adalah unik dan tidak akan dapat ditoleransikan dengan kepercayaan
dan agama mana pun juga. Ketiga, karena
sebenarnya akar persoalan dalam teologi Kristen lebih banyak berhubungan dengan
kristologi.[1]
Adapun pembahasan dalam makalah ini
pertama; penulis akan membahas sekilas latar belakang kehidupan John Hick. Kedua, konsep-konsep kristologinya, dan
ketiga, penulis akan mengevaluasi konsep kristologi John Hick.
LATAR BELAKANG
KEHIDUPAN JOHN HICK[2]
John Harwood Hick lahir pada bulan Januari
1922. Hick adalah seorang anak tengah,
kakaknya Pentland adalah seorang pengusaha, dan adiknya Shirley memiliki karir
yang sukses dalam pekerjaan sosial. Hick
dibesarkan di sebuah keluarga kelas menengah yang bekerja di Scarborough.
John Hick dapat dikatakan sebagai salah satu filsuf paling penting dan
berpengaruh diparuh kedua, abad kedua puluh. Sebagai seorang filsuf Inggris dalam tradisi
anglo-analitik, Hick telah melakukan banyak terobosan dalam epistemologi agama,
teologi filosofis, dan pluralisme agama.
Pada saat menjadi mahasiswa hukum, Hick mengalami pengalaman religius yang
kuat yang membuatnya menerima kekristenan injili dan akhirnya mengubah arah
karirnya kepada teologi dan filsafat. Pengalaman ini tidak hanya mengubah hidupnya
tetapi juga berpengaruh penting dalam pandangan filosofisnya. Pada awal karirnya, Hick berpendapat bahwa
iman Kristen tidak didasarkan pada bukti proposisional melainkan pada
pengalaman religius. Demikian ia membela
iman Kristen terhadap evidensialis yang mengkritik terhadap positif logis yang
sangat dominan pada waktu itu. Dalam
waktu yang bersamaan Hick juga mengembangkan "soul–making" teodisi Irenean, di mana ia berpendapat bahwa
Allah mengijinkan kejahatan dan penderitaan di dunia dalam rangka untuk mengembangkan
manusia menjadi makhluk yang saleh dan mampu mengikuti kehendak-Nya.
Pada akhir 1960-an, ketika ia
bekerja pada isu-isu hak-hak sipil di Birmingham, ia bekerja bersama dengan orang-orang
dari agama lain. Hick kemudian terlibat
dengan kelompok Faith; “semua untuk satu ras”, yang juga bekerja pada isu
hak-hak sipil di Birmingham tersebut. Dia
juga mulai mempelajari agama-agama Timur, pergi ke India untuk belajar agama Hindu,
Sikh Punjabu dan pergi ke Sri Lanka untuk belajar Buddhisme. Buah dari penelitian ini ditulis dalam satu
buku, Death and Eternal Life. Dalam
bukunya ini, ia membahas konsep-konsep Timur dan Barat mengenai kehidupan
setelah mati dan mengembangkan hipotesisnya dengan menggabungkan unsur-unsur
dari tradisi-tradisi Timur dan Barat.
Sejak itu, ia mulai percaya bahwa penganut agama lain juga memiliki
pengalaman Transenden, sebagaimana orang Kristen, meskipun dengan cara yang
berbeda karena faktor budaya, sejarah, dan doktrin. Pengalaman-pengalaman ini menyebabkan dia
mengembangkan hipotesis pluralistis. Selain itu, Ia juga sangat dipengaruhi oleh
filsafat Immanuel Kant, secara khusus mengenai konsep fenomenal dan noumenal. Dengan pertimbangan pluralistiknya, Hick
kemudian menyesuaikan posisi teologianya. Ia mengembangkan interpretasi doktrin Kristen,
seperti inkarnasi, penebusan, dan tritunggal bukan sebagai klaim metafisik tapi
sebagai metafora atau mitologis.[3]
KONSEP-KONSEP
KRISTOLOGI JOHN HICK
A.
Konsep Kristologi Yang Theosentris
Konsep kristologi John Hick sangat
dipengaruh oleh konsep teologi propernya (doktrin Allah). Konsep Allah yang dimiliki Hick berbeda dengan
konsep Allah dalam Kekristenan. Hick
tidak setuju dengan penggunaan istilah “Allah”, ia menggunakan istilah “the Ultimate, The Real, The Transcendent, dan
Ultimate Reality.[4]
Sebagaimana penjelasannya dalam bukunya, A Christian Theology of Religion,
dikatakan: “an ultimate divine reality
which is being differently conceived, and therefore differently experienced
from within the religio-cultural ways of being human.”[5]
Selanjutnya ia menjelaskan bahwa Realitas Transenden adalah sesuatu yang
tidak terbatas, dan di dalam diri sang Realitas Transenden tersebut tidak
dibatasi oleh konsep-konsep formal; Ia tidak dapat dikatakan satu atau banyak;
bukan pribadi atau non pribadi; tidak juga dapat dikatakan sebagai suatu
subtansi atau proses; Ia tidak dapat dikatakan bertujuan atau tidak bertujuan.[6] Namun “Realitas Transenden” ini tetap dapat menunjukan
tanda-tanda ke-transenden-annya kepada manusia, tanda-tanda itu selalu ada dan
menyertai manusia.[7]
Dengan pemahaman konsep Allah seperti demikian, kemudian Hick membangun
konsep pluralismenya. Salah satu alasan
dasar Hick memakai pendekatan theosentris adalah sebagai reaksi terhadap
pendekatan kristosentris yang dipakai oleh kaum eksklusif Kristen terhadap
agama-agama lain. Bagi Hick, pendekatan
kristosentris merupakan suatu sumber konflik dan sangat resisten terhadap
agama-agama lain. Alasan lain Hick
menolak pendekatan “kristosentris” karena
baginya pendekatan ini sudah tidak sesuai lagi diterapkan di tengah-tengah realitas dunia
yang pluralis. Oleh sebab itu ia
menawarkan pendekatan teosentris, yang menurutnya lebih dapat diterima oleh
berbagai golongan agama di dunia.[8]
Dalam usaha membangun paradigma dari konsep kristosentris kepada
teosentris, maka ia memakai istilah Revolusi kopernikan dalam bidang teologi. Bagi Hick, pemahaman Kopernikus yang
menyatakan bahwa matahari yang menjadi pusat tata surya dan bukan bumi, menjadi
acuan untuk menganggap bahwa seluruh agama berpusat kepada Allah dan bukan pada
agama Kristen atau agama lain. Hick
mengatakan, “He is The Sun, the
originative source of light and life, whom all the religions reflect in their
own different ways.”[9]
Pendekatan “teosentris” yang tawarkan oleh Hick adalah untuk menjembatani
antara eksklusifitas Kristen dengan realitas agama-agama di dunia. Pendekatan teosentris tersebut adalah suatu
pendekatan dimana Allah menjadi pusat dari semua agama-agama. Pendekatan
Hick ini, sebenarnya sangat dipengaruhi oleh konsep Karl Rahner, dengan
konsepnya “Anonymous Christian”.[10] Oleh karena itu ia menolak pernyataan bahwa
Kristus adalah satu-satunya jalan, kebenaran dan hidup (Yoh 14:3).[11] Selain dipengaruhi oleh Rahner, ia juga
dipengaruhi oleh Hans Kung yang menyatakan bahwa di luar kekristenan ada keselamatan.[12]
Bagi Hick, apa yang tercatat di dalam Injil lebih bersifat mitos atau
legenda, termasuk juga tentang pribadi dan karya Yesus. Hick dengan berani menyerukan agar setiap
orang Kristen membuka diri dan mencari pengertian yang baru tentang Yesus di
dalam sejarah dan di dalam konteks kekinian. Ia percaya bahwa model teosentris merupakan
harapan terbesar bagi dialog antar agama di masa depan, dan bagi evolusi yang
terus dilanjutkan atas makna Yesus Kristus bagi dunia ini. Hick mengatakan bahwa: “Keunikan Yesus
bukanlah sebagai kebenaran yang total, definitif, tidak tertandingi, tetapi membawa
kepada suatu universal,
decisive, indispensable truth.”[13]
John Hick membangun teologi yang teosentris, untuk mendukung pemahaman dan
penyembahan yang hanya berpusat pada Allah, dan dengan demikian konsep ini
lebih memungkinkan untuk membangun dialog antar agama yang lebih baik, juga di
sisi lain dapat mempertahankan kekhasan Kristen.[14]
Hick melalui pendekatan teosentrisnya memandang Yesus sebagai,
One who mediated God’s presence and
God’s call to live now as citizens of the coming kingdom...as a spirit-filled
prophet and healer...Jesus was exalted in a communal memory from the
echatological prophet to a divine status.[15]
Dengan demikian, Hick memandang
Yesus sebagai seorang “guru” atau “rabi” biasa, dan hanya salah satu tokoh yang
hidup pada abad pertama di daerah Palestina. Ia adalah seseorang yang menjadi perantara
kehadiran Allah, seorang nabi yang diberi karunia khusus oleh Allah. Tidak lebih dari itu.
B. Konsep John
Hick mengenai Inkarnasi Yesus
Pemahaman ortodoksi Kristen
mengenai inkarnasi, adalah sesuatu yang sangat penting dalam ranah ortodoksi
iman Kristen yang dipegang oleh orang Kristen sampai saat ini. Pemahaman ini tidak sekedar sesuatu yang
dipercaya atau diyakini secara turun temurun, atau tradisi orang percaya,
tetapi sesuatu yang berpijak dari Alkitab sebagai sumber kebenaran yang
absolut. Hal ini diteguhkan di dalam
konsili Nicea (325) dan Chalcedon (451).
Keputusan dua konsili tersebut merupakan suatu jawaban terhadap berbagai
pandangan, dan keraguan yang beredar pada masa itu mengenai dua natur Kristus (ke-Ilahi-an
dan Kemanusiaan).
Pemahaman ini kemudian ditunggangbalikkan oleh tokoh-tokoh zaman pencerahan
dan teolog liberal. Selanjutnya,
pemahaman ini diikuti dan dicetuskan kembali oleh seorang tokoh pasca modern
(pluralisme) John Hick. Dalam bukunya
The Myth of God Incarnate, dia menyatakan bahwa inkarnasi adalah suatu mitos.[16] Dalam perkembangan selanjutnya ia menjelaskan
bahwa untuk menjelaskan mengenai inkarnasi dalam Alkitab harus dipahami sebagai
metaphor.[17] Mengapa dia beralih dari pandangan inkarnasi
sebagai mitos menjadi inkarnasi metaphor? Inkarnasi yang
metaforis ini dimunculkan oleh Hick untuk membuktikan bahwa konsep inkarnasi
kaum eksklusif (Kristen) adalah tidak rasional dan harus ditinggalkan.[18]
Menurut Hick, Yesus merupakan satu-satunya penghubung antara Tuhan dan
manusia. Oleh karena itu,
orang-orang Kristen tidak meninggalkan keyakinan mengenai inkarnasi dan Yesus
sebagai anak Allah. Lebih lanjut
dikatakan, bahwa pernyataan bahwa Yesus adalah anak Allah menunjukkan sikap,
perasaan, dan keyakinan dari orang Kristen. Pernyataan ini lahir
karena orang-orang Kristen sudah merasakan Allah berbicara kepada mereka,
menyentuh mereka, memberi inspirasi kepada mereka melalui Yesus. Namun menurutnya keyakinan tersebut harus
dipahami sebagai bentuk puisi, simbolis dan metafora.[19]
Bagi Hick, proses peng-ilahi-an Yesus tidak lebih sebagai
bentuk penghormatan dari orang Kristen kepada Yesus. Orang Kristenlah yang mengubah Yesus
Rabi dari Galilea menjadi Kristus yang Ilahi, Allah Anak dari Allah
Tritunggal.[20]
Peng-ilahi-an Yesus dimulai ketika ia
mendapat julukan Son of God. Istilah ini sebenarnya adalah
istilah yang biasa dipakai dalam dunia kuno yang tidak merujuk kepada istilah
Anak Allah secara literal tetapi sebagai metafora atau simbolis.[21]
Untuk memahami Yesus sebagai anak Allah dalam bahasa simbolis, Hick
menyarankan agar menggunakan kristologi Roh. Di dalam Kristologi
Roh, Yesus dikenal sebagai ilahi bukan karena Allah secara harafiah turun dari
surga dan secara harafiah juga “menghamili” ibu Yesus, tetapi karena Yesus
memang dipenuhi Roh yang diberikan kepada semua orang dan memberi respon total
terhadap roh itu.[22]
Hick meringkaskan pemahamannya mengenai keunikan Yesus dalam bahasa Latin “totus Deus.” Menurutnya, sesama umat Kristen dan agama lain harus menyaksikan bahwa Yesus adalah
totus Deus - Tuhan seutuhnya. Namun mereka tidak
bisa beranggapan bahwa Ia adalah totum Dei - Tuhan keseluruhan; siapa Yesus itu,
semua yang dilakukan dan yang dikatakan, diperoleh dari, dan dinyatakan oleh
Roh Ilahi. Namun, siapa Roh Ilahi
itu, dan apa yang dilakukan-Nya tidak hanya terbatas pada Yesus, atau kepada
inkarnasi Ilahi Yesus menjadi manusia.[23]
Ada dua cara pendekatan Hick yang berkaitan dengan inkarnasi Yesus; pertama, inkarnasi harus dipahami
sebagai mitos, karena Yesus sebenarnya tidak pernah menyatakan dirinya dan
mengajarkan bahwa Dia adalah Allah, sebagaimana diajarkan oleh gereja. Lebih lanjut dikatakan bahwa Yesus sebenarnya tidak pernah mengemukakan
bahwa Dia adalah Allah sebagaimana dipahami oleh orang-orang Kristen (ortodoks).[24] Sebaiknya kekristenan harus memahami inkarnasi
Yesus melalui metafora daripada secara literal sebagaimana diajarkan gereja
sampai hari ini.[25]
Kedua, Perlu adanya reinterpretasi mengenai keilahian Yesus. Dalam salah satu esai Hick yang paling penting dan kontroversial,
"Yesus dan Agama-Agama Dunia," Hick mengatakan bahwa perlu adanya
reinterpretasi keilahian Yesus dalam terang kritik biblika modern. Reinterpretasi Yesus harus dimengerti dalam konteks kesadaran bahwa
kekristenan hidup dan tumbuh di dalam keragaman agama yang ada di dunia ini. Bagi Hick, konsep inkarnasi Yesus hanya didasarkan
oleh keputusan Nicea mengenai Allah yang berinkarnasi di dalam diri Yesus Kristus. Ini adalah salah satu cara konseptualisasi ketuhanan Yesus, suatu cara yang
diwarisi oleh budaya Yunani-Romawi. Oleh sebab itu dalam
rangka oikumenisme dunia seharusnya orang Kristen menyadari bahwa pandangan
tersebut tidak lebih dari suatu karakter mitologi dari bahasa tradisional.[26]
Dengan demikian Hick beranggapan bahwa cara yang paling tepat untuk
memahami inkarnasi di dalam hidup Yesus Kristus adalah secara mitologi. Hanya dengan cara ini dapat membuka jalan bagi pemahaman tentang Kristus,
melalui kehadiran keilahiannya yang nampak dari kebaikan hidup dan pengajaran-Nya, Yesus nyata sebagai pengantara kasih
Allah kepada seluruh umat manusia diberbagai negara.[27] Lebih lanjut dikatakan, bahwa inkarnasi Yesus
tidak bisa diklaim sebagai sesuatu yang bersifat metafisis, melainkan suatu
pernyataan yang bersifat metafora, yang menyatakan signifikansi dari kehidupan
Yesus dimana Allah bertindak di atas dunia ini.[28]
Sehubungan dengan hal itu, maka Hick
memberikan tiga alasan utama, mengapa ia
menolak konsep tradisional atau eksklusif mengenai inkarnasi, sekaligus
menegaskan konsep inkarnasinya yang metaforis:
1. Hick menyimpulkan bahwa jika Yesus
adalah Allah pencipta, yang kekal, yang menjadi manusia, maka hal itu mengakibatkan
suatu kesulitan dalam memandang Yesus sebagai fenomena yang
sederajat dengan tradisi-tradisi agama lain. Oleh sebab itu, Hick
mengutip pandangan Helmut Koester mengenai inkarnasi Yesus sebagai salah satu dari sekian
banyak inkarnasi dalam dunia Romawi, dimana Allah tidak melulu dipahami sebagai
Allah yang mengambil rupa manusia, dengan demikian ia meragukan inkarnasi eksklusif.[29]
2. Yesus adalah Allah yang berinkarnasi
secara literal adalah tidak benar. Karena tidak memiliki arti literal, maka Ia
tidak lebih dari suatu konsep mistis, yang berfungsi sebagai analogi atas anggapan mengenai keilahian Anak. Yesus memang adalah Anak Allah, namun itu adalah konsep mistis. Karena itu, bagi Hick, inkarnasi tidaklah bergantung pada
terminologi “Anak Allah”, baginya inkarnasi adalah sesuatu yang bersifat misterius.[30]
3. Hick dengan dukungan yang sangat kuat
dari para ahli Perjanjian Baru liberal,
berpendapat bahwa inkarnasi merupakan perkembangan pemikiran gereja
mula-mula, sedangkan Yesus sendiri tidak pernah berfikir bahwa diri-Nya akan
menempuh cara yang demikian. Jadi, sebutan Anak Allah, Mesias menjadi
Allah Anak, yang berakhir pada rumusan Tritunggal, merupakan sebutan dan
rumusan dari perkembangan pemikiran gereja.[31]
C. Konsep Hick
mengenai Dua Natur Yesus; Keilahian dan Kemanusian
Menurut Hick, pengajaran mengenai dua natur Yesus; manusia sepenuhnya dan sepenuhnya ilahi
adalah suatu kesalahan dalam penafsiran. Menurutnya, pemahaman tersebut diakibatkan oleh kesalahan dalam penafsiran. Setidaknya
ada tiga kesalahan: pertama, salah membaca maksud asli dari judul puisi ilahi Yesus, transposing; "anak sebagai metaforis Allah untuk Tuhan metafisik."[32] Kedua,
Hick berpendapat bahwa pandangan dua-kodrat itu sendiri sangat sulit untuk
dipahami. Dalam sebuah kutipan
terkenal, ia menyatakan, "Untuk mengatakan, bahwa Yesus historis yang
berasal dari Nazaret adalah Allah, merupakan sesuatu yang sulit dipahami dan tidak ada
makna.”[33] Akhirnya, ia berpendapat bahwa
pemahaman hurufiah Yesus sebagai Anak Allah adalah suatu pandangan yang sempit
dari kehidupan religius eksklusif dalam tradisi Kristen. Sebaliknya, dengan memahami bahasa kristologis sebagai mitologi, ia dapat
menegaskan bahwa Logos Allah bekerja dalam pribadi Yesus dari Nazaret
sebagaimana telah bekerja "dalam berbagai cara di India, Semit, Cina,
Afrika dan lain-lain".[34] Hick percaya bahwa dengan pemahaman seperti
ini tidak akan mengurangi eksistensi Yesus,
tetapi justeru akan meningkatkan pentingnya keberadaan Yesus dalam kehidupan
keagamaan global.
Selanjutnya, Hick menjelaskan mengenai pandangannya mengenai dua natur
Kristus. Pertama, dikatakan bahwa Yesus tidak pernah
menyatakan diri-Nya adalah Allah. Bahkan penjelasan
mengenai Yesus sebagai Mesias (Kristus) adalah suatu yang sangat ambiguitas. Istilah Christos (Yunani) dan Messiah yang berarti diurapi, lebih
berhubungan dengan arti khusus seorang Raja dan tidak ada konotasi bersifat
Ilahi.[35] Bahkan ayat-ayat
(Mark. 12:2-6; Mat. 21:33-41; Luk.20:9-18) yang diklaim oleh Kristen ortodoks
mengenai keilahian Kristus tidak lebih hanya secara inplisit dan sebenarnya
ayat-ayat tersebut bersifat ambigu. Dengan demikian Hick secara tegas mengatakan bahwa ide mengenai
Keilahian Yesus adalah ide yang dibuat oleh manusia, karena teologia adalah
ciptaan manusia.[36]
Selanjutnya ia menegaskan bahwa Yesus bukanlah Tuhan, tetapi Yesus memiliki
hubungan yang intim dengan Allah. Hubungan yang intim ini menyebabkan
Yesus memiliki otoritas rohani yang menakjubkan. Yesus diberi kemampuan
untuk mengampuni dosa, menyembuhkan berbagai penyakit dan berbicara atas nama
Allah. Hick juga tidak mengakui
ke-Mesias-an Yesus. Menurut Hick, gelar
kehormatan Yesus sebagai Mesias, Tuhan dan Anak Allah adalah suatu yang
diberikan oleh pengikut-pengikut-Nya. Gambaran puisi yang
diucapkan oleh Yesus tidak lebih dari pernyataan yang bermakna simbolis atau metafora dan bukan
pernyataan yang bersifat metafisis. Keilahian dan
kemanusiaan Yesus tidak lebih dari rumusan yang diformalkan oleh
gereja dalam koncili Nicea dan Chalcedon.[37] Dengan
demikian, ia berkesimpulan bahwa cara yang paling tepat dan memungkinkan untuk
menjelaskan dua natur Kristus secara memuaskan adalah melalui metaphora.[38]
D. Konsep Keselamatan Hick.
Selanjutnya penulis akan membahas sekilas mengenai konsep keselamatan yang
ditawarkan Hick. Dalam usaha untuk
mendapatkan jalan keluar dan memuluskan konsep pluralismenya, maka Hick mengajarkan kristologi baru yang kontekstual dan universal. Untuk menemukan kristologi yang baru, maka mau
tidak mau Hick harus menolak pandangan Kristen mengenai keunikan, keabsolutan, dan
finalitas Kristus sebagai satu-satunya jalan keselamatan.[39]
Konsep keselamatan Hick sangat dipengaruhi oleh Hans Kung, yaitu di luar kekristenan ada keselamatan, setiap penganut agama akan diselamatkan
melalui agama yang mereka yakini.[40] Kung menyatakan demikian:
The way of salvation in universal
salvation history; the general way of salvation, we can even say, for the
people of the world religion: the more common, the ‘ordinary’ way of salvation
in the Church appears as something very special and extraordinary.[41]
Lebih lanjut, untuk lebih memperjelas konsepnya mengenai adanya keselamatan
di luar Kekristenan, atau orang-orang dari agama lain, Kung menyatakan:
Pre-Christian, directed towards Christ.
... The men of other world religions are not professing Christian but, by the
grace of God, they are called and marked out to be Christian ... The non
Christian’s right and duty to seek God within his own religion is only until
such time as he is confronted in an existensial way with the revelation of
Jesus Christ.[42]
Hick sangat menyetujui pemahaman Kung mengenai keselamatan, dan sangat tidak setuju dengan konsep keselamatan eksklusif Kristen yang menyatakan
bahwa keselamatan seseorang hanya didapat melalui pribadi dan perantaraan Yesus
Kristus. Bagi
Hick, keselamatan manusia tidak memerlukan perantara seperti Yesus dan juga
tidak perlu pengampunan dari Yesus. Karena Yesus hanya manusia biasa
yang mau membawa manusia untuk memohon pengampunan kepada Bapa. Pendapat Hick ini didukung oleh pandangannya
tentang Doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus. Hick berpandangan, melalui doa Bapa Kami, setiap
orang tidak perlu meminta pengampunan melalui perantaraan Yesus
tetapi langsung kepada Allah Bapa. Demikian juga dalam perumpamaan anak yang
hilang, dimana pengampunan tidak memerlukan perantara tetapi langsung kepada
Bapa. Dengan demikian Hick berkesimpulan bahwa pusat dari kekristenan dan keselamatan
adalah Bapa dan bukan Kristus.[43]
Konsep keselamatan Hick, sama dengan tokoh-tokoh pluralis lainnya, yang
menyatakan bahwa semua manusia dapat diselamatkan oleh anugerah Allah. Anugerah kasih Allah tidak mungkin menyediakan neraka bagi manusia. Karena semua agama telah memiliki jalan
keselamatan masing-masing.[44] Semua agama adalah jalan menuju kepada
Realitas Tertinggi, dengan caranya masing-masing.
Salah satu argumen Hick menolak konsep keselamatan Kristen (eksklusif); bahwa keselamatan hanya melalui Yesus Kristus, adalah berkaitan dengan keberatan moral. Ia menganggap bahwa konsep keselamatan tersebut tidak sesuai dengan natur Allah yang penuh kasih. Jika Allah adalah maha kasih, maka tidak mungkin Ia membiarkan
sebagian besar umat manusia masuk
Neraka.[45] Bagi Hick,
keselamatan harus didefinisikan sebagai suatu perubahan aktual manusia, suatu transformasi
dari kesadaran yang berpusatkan pada diri sendiri kepada kesadaran yang berpusatkan
kepada Tuhan dan dimanifestasikan menurut buah-buah rohani.[46] Keselamatan menurut Hick, bukanlah suatu
transaksi secara yuridis yang tercantum di Surga atau pengharapan masa yang
akan datang setelah kehidupan ini, tetapi lebih mengacu kepada perubahan
spiritual, moral dan politik yang dimulai saat ini juga.[47]
Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa Yesus bukanlah jalan satu-satunya untuk memperoleh
keselamatan tetapi salah satu jalan kepada keselamatan.
EVALUASI TERHADAP
KRISTOLOGI JOHN HICK
Dalam mengevaluasi kristologi John
Hick, maka penulis berpijak pada teologi tradisional (khususnya kristologi). Mengapa harus berpijak pada teologi
tradisional? Pertama, karena teologi
John Hick berseberangan dengan teologi tradisional, bahkan dapat dikatakan
teologinya berdampingan dengan teologi liberal.
Kedua, karena teologi tradisional dibangun dengan prinsip-prinsip
hermeneutik yang tepat dan yang didasarkan pada firman Tuhan (Alkitab) yang
diinspirasikan oleh Roh Kudus dan yang berotoritas.
A. Evaluasi Terhadap Konsep Kristologi Teosentris Hick.
Konsep Kristologi yang teosentris yang diusung oleh Hick, sekilas dilihat
dari sisi kontekstualisasi dan dialog dengan agama lain adalah sangat baik. Namun ketika diselidiki lebih dalam maka dapat
disimpulkan bahwa konsep ini adalah konsep yang sangat bertentangan dengan ajaran
Alkitab. Model kristologi teosentris
yang diusung Hick, adalah suatu yang sangat
kontradiksi dengan apa yang diajarkan oleh Alkitab. Pandangan ini mengakibatkan keterbukaan yang
makin terbentang melintasi batas, dan semakin menimbulkan suatu pergeseran
paradigma yang menjauhi normativitas atau absolutisme Kristus.[48]
Salah satu
alasan mengapa Hick membangun teologi yang teosentris adalah untuk membangun suatu
dialog antar agama yang lebih baik. Ia memandang bahwa konsep kristologi
tradisional merupakan penyebab dari timbulnya konflik dengan agama-agama lain
dan merupakan suatu bentuk intoleran dan arogansi dari kekristenan. Pertanyannya adalah, apakah teologi teosentris dapat membangun
dialog antar agama dan menjadikan dunia semakin toleran? Menurut hemat penulis, pada saat Hick
membangun teologi teosentris, ia tidak memahami bahwa sebenarnya ia sendiri
sudah tidak toleransi. Karena ia membangun suatu konsep
Allah yang eksklusif yaitu Allah yang disebut “The Ultimate” yang tentunya
tidak dapat diterima oleh agama-agama yang lain termasuk kekristenan. Sebagaimana dikatakan
oleh Coward, teologi teosentris juga masih merupakan hambatan bagi agama
Budha yang tidak mengenal istilah Allah.[49] Dengan demikian, konsep teologi pluralisme Hick, akan menjadi kontraproduktif karena menimbulkan masalah baru bagi
agama-agama di dunia. Dan dapat dipastikan
tidak ada satu pun agama di dunia ini yang dapat menerima konsep teologinya.
Bahkan menurut penulis, konsep Allah-nya Hick adalah konsep Allah yang
tidak jelas dan menyesatkan. Konsep Allah yang
dideskripsikan sebagai “Realitas Transenden” akan menghadapi berbagai
permasalahan. Permasalahannya adalah,
dari mana ia dapat mengetahui tentang Allah yang tidak dapat diketahui oleh
manusia namun secara bersamaan dapat memberikan afirmasi positif tentang
keberadaan dari Allah yang tidak dapat diketahui, yang tidak dapat digambarkan
dan tidak dapat dikonsepkan oleh manusia?
Berkaitan dengan hal itu, Peter Byrne berkomentar bahwa Hick akan mengalami
kesulitan dalam mempertahankan hipotesanya tentang Allah, secara khusus
berkaitan dengan masalah komitmen. Peter Byrne berpendapat,
If Hick can produce a religion but
non-theological theory of religion,he must able to register a commitment to a
transcendent,non-human source of religion while being agnostic, and
sceptical to a degree, about all specific, historically located affirmations of
the existance of transcendent beings and states. Some will wonder how he can have this
commitment alongside his agnosticsm.[50]
Jelas bahwa konsep Hick tentang Allah, tidak dapat
menyediakan komitmen apa-apa bagi
pengikutnya selain daripada sikap agnostik terhadap agama-agama lain. Konsep Allah yang dipaparkan oleh Hick,
adalah konsep Allah yang sangat berbeda dengan konsep Allah dalam kekristenan. Bagi
Hick, Allah tidak dapat dikatakan sebagai yang berpribadi atau tidak berpribadi, dan Allah adalah transenden. Transendensi Allah yang dipahami oleh Hick sangat berbeda dengan konsep
transenden Allah dalam kekristenan. Bagi
Hick, transendensi Allah harus dipahami sebagai
keberadaan Allah yang sangat terpencil dari ciptaan-Nya, Allah sangat berbeda
dengan manusia sehingga manusia tidak mungkin memiliki pengetahuan tentang
Allah atau dengan kata lain, Allah berada di luar kehidupan manusia, sehingga Allah tidak menyatakan apa pun kepada
manusia, dan manusia tidak bertanggungjawab kepada-Nya.[51]
Dengan konsep Allah seperti demikian, maka adalah suatu
yang wajar ia menolak konsep kristologi Kristen. Dalam kristologi Kristen,
Yesus adalah Allah yang berpribadi, Allah yang berinkarnasi menjadi manusia,
Allah yang hidup dan dekat dengan manusia, Allah yang memiliki hubungan yang
dekat dengan ciptaan-Nya.
Sebagaimana telah dipaparkan di atas, bahwa pendekatan teosentris Hick, semata-mata untuk membangun teologi
agamanya, yaitu teologi pluralisme. Ia mengharapkan dengan
pendekatan ini, maka akan terbangun suatu dialog dengan agama lain. Oleh sebab itu untuk membangun sikap
toleransi dan dialog dengan agama-agama lain, maka ia mengusulkan adanya
perubahan paradigma dari kristosentris kepada teosentris.
Menurut penulis, jika tujuan Hick hanya untuk membangun dialog dan toleransi (ranah moral dan etika) maka
sangat tidak tepat jika dia mengkompromikan satu doktrin yang sudah dipegang
sebelumnya, yang dibangun melalui hermeneutik yang tepat dan benar. Menurut penulis dialog dan toleransi
dengan pemeluk agama lain dapat dilakukan melalui cara-cara lain (seperti
usaha-usaha membangun kerjasama dalam bidang sosial, ekonomi, kemasyarakatan
atau hal yang berhubungan dengan kemanusiaan), tanpa harus mengorbankan satu
pemahaman yang esensi dalam iman Kristen yang berhubungan dengan kebenaran dari
finalitas Kristus.
B. Evaluasi Terhadap Konsep Inkarnasi dan KeilahianYesus Hick
Salah satu alasan, mengapa Hick menolak Inkarnasi Yesus adalah karena
Alkitab tidak secara ekspilist menjelaskan keilahian Yesus. Memang ada beberapa ayat yang seakan-akan menjelaskan keilahian Yesus, namun itupun bersifat ambigu. Bagi Hick, proses pengilahian Yesus dimulai ketika Ia mendapat julukan
sebagai Son of God. Julukan yang biasa di dalam dunia kuno (ancient
world) memiliki makna metafora dan biasanya dikenakan pada raja, Firaun dan
figur-figur dari pemimpin agama.[52] Namun, julukan ini diartikan secara literal
oleh orang Kristen dan diteguhkan atau diformulasikan dalam konsili
Chalcedon.
Memang harus diakui bahwa Yesus
tidak secara eksplisit menyatakan bahwa dia Allah dan Mesias tetapi di beberapa
bagian Alkitab sinoptik menjelaskan bahwa Yesus menyadari benar bahwa dia
adalah Allah dan juga manusia. Yesus secara implisit
menyatakan bahwa Ia adalah Allah dan juga
manusia. Hal ini jelas seperti
dikatakan oleh Johnson,
Tahukah Yesus bahwa diri-Nya adalah Allah, ya atau tidak?...jawabannya ya
dan tidak. Ya pada tingkat
subjektif…dan tidak pada tingkat yang objektif. Dengan kata lain, Ia tahu siapa diri-Nya
secara implisit tetapi tidak dengan istilah-istilah yang jelas dan dengan
konsep-konsep yang jelas…sebelum Yesus dapat diimani sebagai Allah oleh orang-orang
Kristiani, gagasan kita sendiri tentang Allah harus mengalami transformasi
dalam bentuk triniter. Ia adalah Mesias tetapi
ia memahami kemesiasan-Nya itu dengan jelas melalui pengalaman-pengalaman yang
konkret selama hidup-Nya. Apa yang dilakukan oleh gereja selama
dasawarsa–dasawarsa sesudah penyaliban dan kebangkitan-Nya, dan pasti selama
abad-abad konsili pertama adalah menjadikan eksplisit apa yang sudah secara
implisit ada dalam pribadi dan pelayanan Yesus. Gereja mengekspilisitkannya dalam
doktrin-doktrin.”[53]
Demikian juga ditegaskan
oleh Erickson:
We should note that Jesus did not make and
explicit and overt claim to deity, saying in so many words, ‘I am God.’ What we do find,
however, are claims which whould inappropriate if made by someone who is less
than God.[54]
Dalam beberapa hal Yesus mengakui bahwa Dia adalah setara dengan Allah, dan
apa yang dilakukan-Nya hanya dapat dilakukan oleh Allah bahkan Ia memiliki
sifat-sifat seperti Allah Bapa. Misalnya ketika dia
mengampuni dosa (seorang lumpuh disembuhkan; Markus 2:5). Ketika mengatakan demikian, maka ada reaksi dari orang Farisi dan
orang Yahudi karena hanya Allah yang dapat mengampuni dosa. Menghakimi dunia (Mat. 25:31-46). Dia dan Bapa adalah satu
(Yoh. 10:30), Ia telah ada sebelum Abraham (Yoh. 8:58). Ia menerima pengakuan
Thomas bahwa dia adalah Allah dan Tuhan (Yoh. 20:28). Ia mengatakan bahwa Ia berkuasa atas kehidupan dan kematian (Yohanes
11:25). Selain itu, melalui gelar-gelar-Nya, salah satunya sebagai Anak Allah, membuktikan bahwa Dia adalah Allah itu
sendiri. Alkitab mencatat 72 kali
di dalam empat Injil Yesus menyebut diri-Nya sebagai Anak Allah. Pada waktu Yesus menyebut dirinya Anak Allah, saat yang bersamaan Ia juga
menyatakan diri-Nya sebagai Allah, kepada kita sebagai anak-anak-Nya. Demikian juga Allah Bapa sendiri menyatakan bahwa dia adalah Anak Allah
(Mat. 3:17, Yoh. 3:7).
Namun, penjelasan ini tidak langsung
diterima oleh Hick, menurutnya bahwa apa yang dikatakan dalam kitab Injil
bukanlah suatu yang autentik, hal ini jelas sebagaimana ia katakan:
It is generally held today that the great
“I am” sayings of the fourth Gospel...cannot be attributed to the historical
Jesus but are words put into his mouth by a Christian writer some 60-70 years
later, and sayings in the Synoptic Gospel cannot be taken to contitute a claim
to be God incarnate.[55]
Untuk menanggapi hal ini, McGrath menyatakan, “But I see no evidence of this categorization in the New Testament or
the early Christian tradition.”[56]
McGrath jelas menyatakan bahwa tidak ada satu interpretasi
atau bukti yang menyatakan bahwa Yesus adalah guru biasa yang diproyeksikan
oleh murid-murid-Nya. Bahkan Paul D. Adams melalui Howard
Marshal dalam tafsiran kitab Galatia, khususnya Galatia 1:1, menunjukan bahwa konsep Yesus
sebagai Anak Allah telah dipakai oleh Paulus. Untuk hal ini, Adams
berkomentar:
Paul is able to say that he did not receive his apostleship from a man, but
through Jesus Christ and God the Father (Gal. 1:1). The close proximity of Jesus to God
in Gal. 1:1, and the contrasting of
Jesus and God to “men,” demonstrates that Paul put Jesus on the divine side of
the reality.[57]
Melalui penjelasan McGrath dan Adams
dapat disimpulkan bahwa hipotesa Hick mengenai Yesus adalah guru agama yang baik yang berubah
menjadi yang ilahi adalah sesuatu yang tidak dapat dipegang sebagai suatu kebenaran. Bahkan ia sendiri tidak
dapat meyakini dengan benar akan hipotesanya.
Ketika ia ditanyakan mengenai hipotesanya, Hick mengatakan:
No I can’t. And neither can anyone else be sure that he
was as they picture him. The entire history of New Testament
study shows that the material is always open to a range of varying
interpreattions. Every picture of Jesus is necessarily based upon a selection
from the data. And my own picture is based on my own selection, guieded by many factors,
including my knowledge of some spiritually very impressive individuals and my
reading about others.[58]
Selanjutnya Hick meragukan keabsahan pemaparan keempat Injil mengenai Yesus
karena penulisnya bukanlah saksi mata yang melihat dan mengalami sendiri. Ia mengatakan:
We should not of the four gospel as if
they were eyewitness by reporters on the spot. They were written forty
and seventy years after Jesus’ death by people who were not personally present
at the events they describe.[59]
Berkenaan dengan ini, Merril C. Tenney mengatakan bahwa keabsahan keempat Injil ini dapat
dipertanggungjawabkan, bagi Tenney dua dari empat penulis Injil adalah saksi
mata dan merupakan murid Yesus.[60] Selanjutnya dikatakan, walau pun Lukas dan
Markus bukan merupakan kedua belas murid Tuhan Yesus, namun catatan Injil dan
Markus tetap dapat dipertanggungjawabkan keakuratan datanya.[61]
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keberatan dari Hick mengenai keilahian
Yesus yang didasarkan pada bukti historis adalah penyataan yang tidak beralasan
dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.
C. Evaluasi Terhadap Soteriologi
John Hick[62]
Bagi Hick, keselamatan manusia tidak memerlukan perantara seperti Yesus dan juga
tidak perlu pengampunan dari Yesus. Karena Yesus hanya
manusia biasa yang mau membawa manusia untuk memohon pengampunan kepada Bapa. Pendapat Hick ini didukung oleh pandangannya tentang Doa Bapa Kami yang
diajarkan Yesus, di mana kita diminta untuk meminta pengampunan
kepada Bapa dan juga tentang perumpamaan anak yang hilang, dimana pengampunan
tidak memerlukan perantara. Bagi Hick semuanya
menjelaskan bahwa pusat dari kekristen dan keselamatan adalah Bapa dan bukan
Kristus.[63]
Hick di sini tidak melihat teks dalam konteks yang tepat di dalam keseluruhan
Alkitab, sehingga bangunan kristologinya berantakan dan bersifat parsial. Hick tidak melihat Alkitab secara menyeluruh dalam hal kristologi. Sebagai contoh, di dalam Alkitab tertulis: “Hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan
tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan (Ibr. 9:22),” “Hai anakKu, dosamu sudah
diampuni.....Supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa
mengampuni dosa (Markus 2:5,10).” Ayat-ayat di atas dengan jelas mengatakan bahwa konsep pengampunan harus
melalui darah, dan Yesus telah mencurahkan darah-Nya di kayu salib. Dan Yesus pada waktu Ia hidup juga memiliki hak prerogatif Allah Bapa untuk
mengampuni dan menyelamatkan. Jadi dalam bagian ini, Hick tidak konsisten di dalam membaca dan memahami teks secara keseluruhan. Ia berani mengambil teks sebagian-sebagian demi mendukung pendapatnya yang
sesat dan ini sangat tidak sesuai dengan prinsip-prinsip hermeneutika.[64]
Keberatan Hick terhadap konsep Kristen yang menyatakan bahwa keselamatan hanya ada
melalui Yesus Kristus, sebenarnya hanya didasarkan pada konsep bahwa di luar kekristenan ada keselamatan. Ia memahami bahwa jika Allah Mahabaik, Mahakasih, tidak mungkin Ia hanya menyelamatkan
sebagian kecil manusia. Sebenarnya konsep Hick ini dipengaruhi oleh konsep
Allah-nya, dan juga cara ia mendefinisikan keselamatan itu sendiri. Bagi Hick, konsep keselamatan ialah:
Is not a juridical transaction inscribed in heaven, nor is it a future hope
beyond this life, but it is a spiritual, moral, and political change that can
begin now and whose present possibility is grounded in the structure of
reality.[65]
Dalam hubungannya dengan hal ini, ia memaparkan tokoh-tokoh dunia yang berjasa dalam berbagai bidang keadilan
dan perdamaian seperti Mahatma Gandhi di India, Uskup Romero, Nelson Mandela
dan lain sebagainya, sebagai orang-orang yang diselamatkan,
bahkan seorang marxis atau humanis dapat digolongkan sebagai orang
diselamatkan karena mereka sudah mengalami transformasi dari kemanusiaannya
yang berpusat pada diri sendiri kepada suatu orientasi baru di dalam
Transenden.[66]
Menurutnya, mereka ini adalah orang yang
telah merespon “The Real” tanpa pengetahuan tentang “The Real” tersebut.
Intinya bahwa tanda-tanda seseorang diselamatkan hanya berkaitan dengan
kemampuan moral orang tersebut. Ketika
seseorang hidup baik atau memiliki level moral
dan spiritualitas yang baik, maka ia pasti sudah memiliki keselamatan. Apa yang dipaparkan oleh Hick, mengenai
definisi keselamatan sebenarnya bertentangan atau berkontradiksi dengan
pandangan dirinya mengenai Allah. Konsep
keselamatan Hick tidak memiliki dasar ontologis, karena Ia menyebutkan bahwa “The
Real” itu tidak dapat dikatakan baik, dan tidak dapat dikatakan jahat. Apa standar moral yang ia pakai dalam
menentukan seseorang baik atau tidak baik. Jikalau “The Real” sendiri tidak jelas, bahkan ia tidak dapat dikatakan baik
atau tidak dapat dikatakan jahat, bagaimana mungkin ia menyimpulkan bahwa
standar moral seseorang dapat menentukan seseorang diselamatkan!
Dengan memakai konsep keselamatan yang dipahami sebagai transformasi moral,
sebenarnya ia sedang berusaha untuk mereduksi
perbedaan-perbedaan konsep keselamatan agama-agama yang begitu mendasar. Padahal konsep keselamatan yang berasal dari
struktur moralitas semata merupakan
konsep yang akan ditolak oleh tradisi agama yang ada. Dengan demikian, tujuan Hick untuk membangun
suatu kehidupan agama yang toleransi tidak mungkin akan tercapai dengan konsep
keselamatan yang demikian.
KESIMPULAN
Kristologi John Hick adalah kristologi
yang tidak di bangun atas dasar terang Firman Tuhan. Ia sangat menekankan pluralisme, sehingga
mengabaikan sesuatu yang esensi dari iman Kristen, yakni suatu keyakinan
ortodoks mengenai kebenaran dari pengajaran esensi iman Kristen, yang meyakini
akan keberadaan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat (finalitas) yang
berinkarnasi menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia yang berdosa.
Semua konsep yang dibangun dalam usaha untuk membangun
teologi agama pluralis tidak lebih dari bangunan teologi yang akan rontok
dengan sendirinya karena tidak dibangun atas dasar kebenaran Firman Tuhan tetapi
didasarkan pada konsep teologi liberal yang tidak memiliki dasar yang objektif.
Konsep Hick mengenai Yesus adalah konsep
yang semata-mata dibangun atas dasar teologi agama pluralis dan tidak
dibangun atas dasar hipotesa yang benar. Ia mendasari semuanya berdasarkan pemahaman
filosofisnya dan proses hermeneutik yang
didasarkan pada tradisi modern yang liberal yang berusaha untuk merelatifkan
klaim absolut dari keberadaan Kristus yang adalah Allah dan manusia yang
sempurna yang merupakan satu-satunya jalan kepada keselamatan. Ia sama sekali tidak mempertimbangkan bahwa
klaim obsolut Kristus adalah suatu klaim kebenaran yang diyakini oleh orang
Kristen sepanjang sejarah gereja sampai hari ini yang merupakan klaim yang
berdasar pada Firman Tuhan.
Namun dibalik semua kekurangan atau kesesatan konsep Hick
mengenai Yesus Kristus, penulis sangat menghargai usaha Hick dalam bidang
kemanusiaan. Secara positif harus diakui
bahwa Hick sangat memperjuangkan kehidupan yang harmonis antar umat beragama di
seluruh dunia. Apa yang diperjuangkan
oleh Hick seharusnya diperjuangkan oleh orang percaya hari ini. Alkitab mengajarkan agar setiap orang Kristen
harus menjadi garam dan terang dunia, membawa syalom di tengah dunia ini,
menjadi pembawa damai. Namun setiap orang Kristen harus benar-benar belajar
dari kesalahan Hick, agar tidak jatuh dalam kesalahan yang sama seperti Hick,
yang terlalu fokus pada usaha membangun hidup yang harmonis atau toleransi
dengan agama lain, namun melalaikan satu kebenaran esensi dari iman Kristen
yaitu keabsolutan Kristus.
KEPUSTAKAAN
Buku dan Artikel
Erickson, Millard J. Introducing
Christian Doctrine. Grand
Rapids: Baker, 1992.
Hick, John, An Interpretation of Religion , Human Responses to the
Transenden. New Haven and London:
Yale University Press,1989.
_________, Jesus and the
World Religions: In The Myth of God Incarnate. ed. John Hick.Philadelphia: Westminster,1977.
_________, God Has Many Names; Jesus And The World Religions. Philadelphia: Westminster Press, 1980.
_________, and Paul F. Kniter. Ed., The Myth of
Christian Uniqueness. London:SCM
Press, 1987.
_________, The Metaphor of God
Incarnate, Christology in a Pluralistic Age Lousville,
Kentucky:Westminster/John Knox Press, 1993
__________, & Paul Knitter, Mitos Keunikan
Agama Kristen, Jakarta : BPK
Gunung Mulia, 2001.
Karkainen, Veli-Matti, Christology: A Global
Introduction. Grandrapids:
Bakker, 2003.
Johnson, A. Elizabeth, Kristologi di mata kaum feminis: Gelombang pembaruan
dalam Kristologi. (Yogyakarta:
Kanisius, )2003.
Kanisius L. Silvester, Allah dan
Pluralisme Religius. Jakarta: Obor,
2006.
Lumintang Stevri, Teologi & Misiologi Reformed Batu: Departemen Literatur YPPII, 2006.
______________, Teologi Abu-Abu: Pluralisme Iman Batu: Departemen Literatur YPII), 2002.
Knitter, Paul F. Pengantar Ke Dalam Teologi
Agama-Agama. Yogyakarta: Kanisius,
2008.
_____________, Menggugat Arogansi
Kekristenan, Yogyakarta : Kanisius, 2005.
Neuner, Joseph ed. Christian Revelation and World Religion London: Burn & Oates, 1967.
Rahner Karl, Theological
Investigations Vol 14 translated by David Bourke, London: Darton, Longman & Todd, 1976.
Simajuntak Dame Mian Asi, “Analisa Kritis Terhadap
Kristologi John Hick” (skripsi). Malang: SAAT, 2004
Dermawan, Budi
“TinjauanTerhadap Hipotesa Pluralisme Agama John Hick: Suatu Dialog
Kritis
Dari Perspekti Eksklusifis” Skripsi (Malang: SAAT, 2002)
Internet
Tumpal H. Hutahean, "Finalitas
Karya Yesus Sebagai Tuhan dan Juruselamat: Tinjauan Kritis terhadap Teologi
Religionum” [http://www.grii-andhika.org/makalah/finalitas]
Debora N. Eliasih,
"Respon Injili Terhadap Dekonstruksi Konsep Kristologi oleh Kaum
Pluralist"http://debbiep
[1]Kristologi adalah suatu
doktrin yang sering dipersoalkan oleh bidat-bidat dan juga teolog-teolog yang
“menyimpang”. Sebagaimana dikatakan oleh Lumintang: “Akar persoalan
kristologi sebenarnya telah mulai dari
gereja mula-mula, bahkan sejak masa
Yesus dan terus berkembang sampai zaman reformasi. Tidak sampai di situ,
persoalan kembali hangat pada zaman setelah reformasi yaitu zaman rasionalisme
abad XIX, di mana teologia telah telah dipengaruhi oleh filsafat rasionalisme
dan sekularisme Barat, bahkan sampai
saat ini. Stevri Indra Lumintang, Teologi
Abu-Abu, Pluralisme Iman (Batu Malang: YPII, 2002) 134-135.
[2]Riwayat kehidupan Hick,
disarikan dari berbagai sumber, diantaranya: John Hick, God Has Many Name, p.14-15. M.Douglas, “Disintegration Kristology
Jhon Hick,” Jurnal of the Evangelical
Theological Society 39 (1996) 257.
[4] John Hick, “A Pluralist
View” dalam Four Views on Salvation in a
Pluralistic World (Grand Rapids: Zondervan, 1995) 47.
[5] John Hick, A Christian Theology of Religions (Louisville:
Westminster/John Knox, 1995) 50.
[6] John Hick, An Interpretation of Religion (London: MacMillan; New Heaven: Yale
University press, 1989) 246.
[7]John Hick, Dimensi Kelima: Menelusuri Makna Kehidupan
(Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2001) 21.
[8]Hick mengatakan bahwa
kepercayaan Kristen mengenai keabsolutan Yesus, Yesus satu-satunya jalan,
memiliki dampak buruk dalam kehidupan manusia, karena akan berdampak pada satu
sikap yang tidak toleransi, rasisme, merasa superioritas dan lain-lain. John
Hick dan Paul Knitter, ed., The Myth of
Christian Uniqueness (London: SCM press, 1987) 17-18.
[9]Hick, God Has Many Names 71.
[10] Penjelasan mengenai
definisi anonimus Kristen, di jelaskan
oleh Rahner dalam bukunya Theological Investigation sebagai berikut: “We prefer the terminology according to which
that man is called an ‘anonymous Christian’ who on the one hand has de facto
accepted of his freedom this gracious self-offering on God’s part through
faith, hope, and love, while on the other he is absolutely not yet a Christian
at the social level (through baptism and membership of the Church) or in the
sense of having consciously objectified
his Christianity to himself in his own mind (by explicit Christian faith
resulting from having hearkened to the explicit Christian message) We might
therefore put it as follows: the ‘anonymous Christian’ in our sense of the term
is the pagan after the beginning of the Christian mission, who lives in the
state of Christ’s grace through faith, hope and love, yet who has no explicit
knowledge of the fact that his life is orientated in grace-given salvation to
Jesus Christ.” Karl Rahner, Theological
Investigations Vol 14 translated by David Bourke (London: Darton, Longman & Todd, 1976)
283.
[11]John Hick dan Paul Knitter, Mitos Keunikan Agama Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001) 55.
[12]Joseph Neuner, ed. Christian
Revelation and World Religion (London: Burn & Oates, 1967) 53.
[13]Paul F. Knitter, Menggugat Arogansi Kekristenan (Terj. Yogyakarta: Kanisius, 2005) 160.
[14] Ibid.
[15] Hick, “A Pluralist View”
35.
[16]John Hick, The Myth 20.
[17]John Hick, The Metaphor of God Incarnate: Christology
in a Pluralistic Age (Louisville: Westmister Press, 1993) 12.
[18]Lumintang, Teologi Abu-Abu 110.
[19]John Jick, Metaphor 12.
[20]Hick, “Jesus and the World
Religion” 168.
[21] Hick, “A Pluralist View”
35-36.
[22]Ibid.
[23]Paul F.Knitter, Pengantar ke dalam Teologi Agama-Agama
(Yogyakarta:Kanisius, 2008) 134-135.
[24]John Hick, The Metaphor iX.
[25]Ibid.
[26] John Hick, Jesus And the World Religion, The Myth of
God Incarnate (Philadelphia:
Westminster, 1977) 168.
[27]John Hick, An Interpretation of Religions (New
Heaven and London: Yale University, 1989) 372.
[28]John Hick, The Metaphor 106.
[29] John Hick, Jesus and the World Religion 242.
[30]Ibid, 178.
[31]Lumintang, Teologi Abu-Abu 111-112.
[32]Hick, Jesus and World Religion 176.
[33]Ibid, 178.
[34]Ibid. 181.
[35]Hick, Jesus and the World Religion 178.
[36]Hick, The Metaphor 4.
[37] Hick, Jesus and the World Religion 172.
[38]Ibid. 12.
[39]Hick dan Knitter, The Myth of Christian Uniqueness 16.
[40] Neune, Christian Revelation 52.
[41]Ibid. 35.
[42] Ibid. 52. Dikutip dari
Budi Dermawan “TinjauanTerhadap Hipotesa Pluralisme Agama John Hick: Suatu
Dialog Kritis Dari Perspekti Eksklusifis” Skripsi
(Malang: SAAT, 2002) 18.
[43]Hick, The Metaphor of God Incarnate 127.
[44]Lumintang, Teologi Abu-Abu, 180-181.
[45]John Hick, God
and The Universe of Faith (London:
Macmillan; Ny: St Martin’s, 1973) 122.
[46]Dermawan, “Tinjauan Terhadap
Hipotesa Pluralisme” 40.
[47]John Hick, “Pluralist
View” dalam Four Views on Salvation in a
Pluralistic World (Grand Rapids:
Zondervan, 1995) 43.
[48]Debora N. Eliasih, “Respon Injili Terhadap Dekonstruksi Konsep
Kristologi oleh Kaum Pluralis,” http://debbiepunya.blogspot.com/2010/08/respon-injili-terhadap
dekonstruksi.htm. (diakses maret 2013)
[49]Ibid.
[50] Peter Byrne “A Religious
Theory of Religion” dalam Budi Dermawan
“Tinjauan Terhadap Hipotesa Pluralisme” 58.
[51]Dermawan “Tinjauan
Terhadap Hipotesa Pluralisme” 60-61.
[52]Hick, “Jesus and the World
Religion” 168.
[53]Elizabeth A. Johnson, Kristologi di Mata Kaum feminis: Gelombang
Pembaharuan Dalam Kristologi (Yogyakarta: Kanisius 2003) 65-66. Bnd. Dame
Mian Asi Simajuntak, Analisa Kritis Terhadap Kristologi John Hick
(skripsi) (Malang: SAAT, 2004) 111.
[54]Millard J. Erickson, Introducing Christian Doctrine (Grand Rapids: Baker, 1992) 208.
[55] James D.G Dunn, Christology in the Making (Philadelphia:Westminster, 1980) 60. Dikutip
dari John Hick, “Is Christianity the Only True Religion or One among Others?”
[http:/www.johnhick.org.uk/articel2.pdf]
[56] Alister E. McGrath,
“Response to John Hick “ dalam Gundry,
Stanley N., ed. Four Views on Salvation in a Pluralistic World (Grand Rapids:
Zondervan, 1995) 67.
[58] Hick, The rainbow of Faiths: Critical Dialogues on
Religious Pluralism (London:SCM,
1995) 92.
[59]Hick, “Pluralist View”
33-34.
[60]Merril C. Tenney, Survey
Perjanjian Baru [Ed. Keempat; Malang: Gandum Mas, 1997) 183. Dalam Dermawan
“Tinjauan Terhadap Hipotesa” 70.
[61]Ibid.
[62]Pembahasan dalam makalah
ini adalah berhubungan dengan
kristologi, namun penulis akan memaparkan sedikit mengenai konsep
soteriologinya agar pembaca dapat
memahami secara komprehensif mengenai konsep kristologi John Hick. Hal ini juga
berkaitan dengan konsep keselamatan
dalam Kristen bahwa keselamatan hanya ada di dalam Yesus Kristus yang
ditentang oleh Hick.
[63]Hick, The Metaphor 127.
[64]Tumpal H. Hutahean,
“Finalitas Karya Yesus Sebagai Juruselamat: Suatu tinjauan Kritis Terhadap
Teologia Religionum,”
http//www.grii-andhika.org/makalah/finalitas-karyayesus.htm
[65]Hick, “ A pluralist View”
43.
[66] Hick, The Rainbow 80/
Langganan:
Postingan (Atom)
Indonesia Belum Selesai: Refleksi HUT Ke- 81 Kemerdekaan Republik Indonesia
https://www.youtube.com/results?search_query=beni+regoh Indonesia Belum Selesai Refleksi HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia Pdt. Beni ...
-
MANUSIA BARU (Khotbah) Saudara, ular adalah satu binatang yang sering mengganti kulit, setiap beberapa tahun ia akan menggantikan kulitnya m...
-
Banality of Evil dalam Konteks Gereja Pdt. Beni Samuel Regoh, M.Th Istilah Banality of Evil diperkenalkan oleh Hannah Arendt untuk menggam...
-
PENDAHULUAN Penderitaan adalah suatu realita yang tidak dapat dihindari oleh setiap manusia. Alkitab mencatat bahwa sejak manusia ...