Minggu, 03 Agustus 2008

Limit of Anger

LIMIT OF ANGER (Batasan dari kemarahan)

Saudara hari ini kita akan membahas satu aspek dari karakter hidup orang Kristen yang telah lahir baru yaitu tentang bagaiamana sikap hidup kita dalam menghadapi kemarahan. Banyak orang bertanya boleh tidak orang Kristen itu marah? Ada banyak orang Kristen mengatakan kalau kita sudah menjadi orang Kristen, maka kita tidak boleh marah.

Kemarahan adalah sesuatu hal yang wajar bagi setiap manusia. Saya yakin tidak ada diantara kita saat ini yang tidak pernah marah. Kalau seseorang tidak pernah marah, maka kepribadiannya perlu dipertanyakan? Bisa jadi dia bukan manusia, mungkin patung atau mungkin malaikat. Sebaliknya kalau orang itu setiap saat, setiap waktu marah meluluh . Maka kepribadiannya perlu juga dipertanyakan. Apa masih manusia atau bukan??? Yang pasti bukan malaikat…

Walau bersifat alami dan normal namun marah tidak timbul dengan sendirinya. Ia merupakan respon emosi dari seseorang ketika mendapat ancaman, hal yang membahayakan, perlakukan tidak adil, dibohongi, dan ditipu oleh orang lain. Dengan kata lain marah timbul karena batas-batas emosi yang kita miliki telah terganggu atau terancam. Secara internal, marah bisa terjadi ketika menghadapi masalah-masalah pribadi, mengingat peristiwa yang sangat mengganggu pikiran, kekecewaan pada situasi lingkungan, kurang percaya diri, dsb. Sementara secara eksternal, marah bisa timbul karena menghadapi kepadatan lalulintas, mendapat ancaman, hak-hak pribadinya diperlakukan tidak adil,dsb.

Masalah-masalah dalam kehidupan begitu sulit akhir-akhir ini, menyebabkan begitu banyak orang merasa dirinya sering marah, suka marah-marah dan banyak yang sudah dikuasai kemarahan. Orang yang sudah dikuasai oleh kemarahan, maka tidak satupun hari yang ia lewati tanpa kemarahan. Seseorang mengatakan kepada saya atasannya setiap hari kalau ketemu dia tidak pernah tidak marah.
Seorang bapa yang mengalami masalah di kantor…mulai dari kantor dia marah sampai dirumah dia masih tetap marah. Dikantor yang kena semprot anak buahnya, dirumah istri dan anak-anaknya kema semprot bahkan kucing peliharaannya juga kena getahnya. PAda hal anak dan kucingnya tidak tahu apa masalahnya.

Rasul Paulus mengatakan dalam Efesus 4:26-27. "Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa; janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada iblis." (Dalam bahasa Yunani diterjemahkan: "Marahlah, tapi jangan berdosa dan jangan sampai matahari yang panas itu membakar kamu sehingga akhirnya kamu berdosa dan jangan memberi lubang kepada iblis.")

Sedangkan dalam NIV ditulis: "In your anger, do not sin." Kalau kita perhatikan, kalimat tersebut dalam bahasa Yunani mengandung arti yang lebih keras jika dibandingkan di NIV maupun LAI yang kita punya.

Saudara jelas didalam bagian firman Tuhan ini, sama sekali tidak melarang orang percaya untuk marah, Alkitab mengatakan bahwa kita akan marah, karena marah adalah bagian kehidupan manusiawi kita tidak dapat mengingkari. Tetapi hal yang perlu kita perhatikan adalah sampai dimana orang Kristen bisa marah atau sampai dimana batas kemarahan orang percaya. Firman Tuhan hari ini memberi kita batasan-batasan yang jelas sampai dimana sebagai orang percaya bisa marah:

Alkitab memberikan kita 3 batasan tentang kemarahan:

I. Jangan berdosa
Saudara Alkitab tidak melarang kita marah tetapi Alkitab mengatakan jangan kita berdosa. Apa artinya jangan kita berdosa saat kita marah. Terkadang ketika kita marah, kita sulit untuk mengontrol, dan menguasai diri kita. Seorang HT mengartikan ayat ini dengan mengatakan jangan kita merobek-robek hati orang karena kemarahan kita.
Seringkali kita melakukan dosa dengan kata-kata dan tindakan fisik ketika kemarahan itu sudah menguasai kita. Perasaan marah dan emosi tersebut menguasai kita sehingga kita mengatakan hal-hal yang menyakitkan orang daripada memperbaikinya.
Marah adalah perasaan yang diberikan Tuhan. Kadang-kadang itu bahkan menjadi ungkapan perasaan yang paling tepat di dalam sebuah konflik. Tetapi marah yang benar berfokus pada kesalahan. Tujuannya adalah untuk memperbaiki apa yang salah bukan untuk menghukum seseorang.
Seorang anak memiliki sifat yang suka marah. Ayahnya memberikan kepadanya sekantong paku dan mengatakan agar setiap kali rasa marahnya timbul, agar ia memasukkan sebuah paku di dalam pagar kayu yang ada di belakang rumah mereka. Pada hari pertama ia memaku 37 paku ke dalam pagar. Kemudian secara bertahap setiap hari jumlah paku yang dimasukkan menjadi kurang. Ia berpendapat bahwa lebih mudah untuk menguasai rasa marahnya daripada memasukkan paku ke dalam pagar itu.Akhirnya, tibalah hari di mana anak itu sama sekali tidak timbul rasa marahnya. Hal ini ia ceritakan kepada ayahnya. Kemudian ayahnya mengusulkan anak pemuda itu mencabut paku-paku itu satu persatu setiap hari ia berhasil untuk mengendalikan rasa marahnya.
Hari lepas hari lewat dan akhirnya tibalah hari dimana ia dapat mengatakan kepada ayahnya bahwa semua paku di dalam pagar telah tercabut.Ayahnya membimbing anaknya ke pagar itu. Ia mengatakan, Kamu telah melakukannya dengan baik, anakku, namun lihatlah lubang-lubang pada pagar itu. Keadaan pagar itu selamanya tidak akan bisa sama lagi seperti semula. Tatkala kamu mengatakan sesuatu di dalam kemarahanmu, mereka meninggalkan sebuah bekas luka seperti yang kita lihat.
Kamu dapat memasukkan sebuah pisau di dalam tubuh seseorang. Tidak peduli berapa kali kamu meminta maaf kepadanya, luka itu masih tetap di sana. Kata-kata yang melukai sama buruknya seperti luka-luka jasmani.
Saudara Tuhan Yesus ketika dia marah dibait Allah tujuannya adalah supaya orang-orang pada waktu itu mengetahui kesalahan mereka. Bahwa bait Allah bukan tempat untuk berdagang, apalagi tempat untuk mengambil keuntungan dengan tidak benar. Demikian juga ketika Tuhan Yesus menegur ahli-ahli Taurat, Yesus menginginkan supaya mereka mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. memperbaiki suatu kesalahan bukan untuk menghukum.
Marah yang benar adalah ketika kita menegur kesalahan seseorang, ketika kita marah terhadap dosa. Alkitab memperingatkan dengan keras bahwa orang yang melihat dosa namun membiarkannya berkembang, maka orang tersebut adalah orang yang pro dengan dosa dan artinya ia menjadi orang yang lalim, dimana ia tahu kebenaran tetapi sengaja mengabaikan kebenaran.
Marah yang sejati adalah marah terhadap dosa. Paulus adalah orang yang tidak pernah marah ketika dirinya dirugikan atau diperlakukan tidak benar, sekalipun ia difitnah, dilecehkan dan dihina tetapi ketika Injil dipalsukan, dalam Gal 1 dikatakan bahkan ia sampai berkata terkutuk kepada siapa yang berani memalsukan Injil, tidak perduli sekalipun malaikat dari surga. Saya rasa kita perlu jelas bagaimana kita marah. Seringkali orang Kristen marah kalau dirugikan, tetapi kita tidak marah kalau kebenaran dipermainkan. Ini satu sikap yang salah di dalam kemarahan kita. Mari kita mengoreksi, kita marah karena egoisme kita atau karena dosa, dan ini sebenarnya menjadi satu hal yang perlu kita gumulkan.
Saudara awal-awal saya berada di Pontianak, saya sempat berkesimpulan orang Pontianak banyak orang gila…mengapa sdr…pernah satu kali saya lewat dilampu merah, di Ponegoro. Pas lampu hijau saya langsung jalan tiba-tiba dari arah lain muncul satu motor, lalu melihat saya dan dia memaki saya. Saya pikir apa saya yang salah atau dia yang salah. Seharusnya saya yang harus marah dia karena dia melanggar lalu lintas tetapi ini sebaliknya ia yang marah saya.
Saudara ada banyak orang yang marah dengan kemarahan yang tidak terkontrol; ketika kita marah lalu kita tidak mengontrol diri kita maka disitulah akan muncul dosa. Orang yang tidak dapat mengontrol kemarahan maka dia bisa mengungkapkan kemarahannya, dengan ungkapan-ungkapan yang kotor, perkataan yang melecehkan seseorang, perkataan yang menjatuhkan harga diri seseorang, perkataan yang menghina seseorang. Bahkan lebih parah dia akan memakai tindakan fisik. Tujuannya bukan untuk memperbaiki kesalahan orang lain tetapi menjatuhkan seseorang.
Saya sangat sedih ketika beberapa tahun lalu ada seorang guru mengungkapkan kemarahan, kekesalan terhadap muridnya dengan mengatakan anjing kamu…..Ada seorang ibu anaknya siswi SMK, kalau dia marah kepada anak putrinya dikatakan dengan perkataan yang tidak pantas kepada seorang remaja “lonte”. Cara mengungkapkan kemarahan dengan cara tidak benar itulah menjadikan kita berdosa.
Apa perbedaannya, antara kemarahan yang benar dan berdosa?. Disatu sisi, kemarahan yang benar pasti tidak egois sementara kemarahan yang berdosa itu egois. Itu muncul saat keinginan, kebutuhan atau ambisi kita tidak berjalan, saat permintaan kita tidak dipenuhi, saat harapan kita tidak tercapai, saat keberadaan kita terancam, saat harga diri kita diserang, atau saat kita malu, diremehkan atau tidak nyaman. “Kenapa dia tidak melakukan apa yang saya perintahkan?” “Kenapa dia tidak membersihkan kekotoran yang dia lakukan saat selesai?” Itu semua tidak menyenangkan bagi kita.
Perbedaan kedua adalah kemaraha yang benar selalu terkontrol sedangkan kemarahan berdosa sering tidak terkontrol. Itu menyebabkan kita mengatakan dan melakukan hal yang akan kita sesali kemudian, hal yang seharusnya tidak dikatakan atau lakukan saat terkontrol.
Perbedaan ketiga adalah kemarahan yang benar terarah pada tindakan berdosa atau keadaan yang tidak adil sementara kemarahan berdosa sering terarah pada orang. Tuhan ingin kita membenci dosa tapi mengasihi orang berdosa, seperti yang dilakukanNya. Dan itu berarti memperlakukan orang berdosa dengan cara yang baik dan peduli. Kemarahan berdosa memukul orang. Menjatuhkan orang, menghina orang, meremehkan orang. Ketika kita marah kita tidak marah kepada pribadinya tetapi kepada kesalahannya.
Perbedaan terakhir adalah kemarahan yang benar tidak dendam atau bermusuhan, dan tidak membalas.. Kemarahan berdosa, sebaliknya menabur kepedihan dan mencari permusuhan. “Dia tidak akan lolos dari hal ini.” Jadi kita membuat dia membayar. Kemarahan itu mengharuskan dia menghukum orang, dan memberi bekas luka, atau dengan diam, atau dengan gossip jahat yang kita sebarkan, atau kita mencoba memisahkan dia dengan temannya. Kemarahan berdosa ingin menyakiti, bahkan menghancurkan.
Tuhan ingin kita marah, tapi atas masalah yang tepat, diwaktu dan cara yang benar. Dia ingin kita menyingkirkan semua kemarahan yang berdosa. Jika kita jujur, kita mau mengakui 98 persen dari kemarahan kita adalah kemarahan yang berdosa dan hanya kurang dari 2 persen dari kemarahan kita adalah kemarahan yang benar. kemarahan berdosa adalah perasaan berdosa, egois, benci terhadap orang yang tidak menyenangkan bagi kita.
Aplikasi: BAnyak diantara kita tidak membedakan antara perasaan marah dan ungkapan marah? Apa yang mengendalikan Anda untuk mengungkapkan amarah Anda?
Saudara, Alkitab tidak melarang kita marah tetapi apakah marah kita adalah yang benar atau marah yang berdosa, marah yang menjadikan kita berbuat dosa??
II. Jangan matahari terbenam sebelum padam amarahmu.
"Janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu." Ayat ini mempunyai dua pengertian ganda yang kalau digabung dapat saling melengkapi. Pengertian yang pertama adalah jika kita marah di dalam length of time (kepanjangan waktu).
Kalau kita berbicara waktu maka kita harus memahami konsep waktu orang Yahudi dengan kita. Orang Yahudi menghitung satu hari dimulai jam 6 sore dan berakhir jam 6 sore keesokan harinya, sedangkan kita mulai jam 12 malam hingga jam 12 malam kembali. Sehingga kita harus berhati-hati dalam menghitung karena apabila salah, itu dapat membuat seluruh konsep menjadi salah. Alkitab memberikan cara menghitung yang bagus sekali dimana hari dimulai gelap sampai kepada terang, sehingga dalam kejadian dikatakan, "Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama." Hal yang dimaksudkan disini, sebelum hari itu habis, padamkan amarahmu, jangan biarkan amarahmu membara terus. Ini merupakan prinsip bagaimana kita tidak boleh mengekstensi kemarahan secara tidak benar karena itu akan membuat kita jatuh dalam dosa.
Yang kedua dapat mengandung arti yaitu jangan biarkan seperti panas matahari yang membakar engkau sehingga akhirnya engkau mendidih dan meledak dan secara kualitatif menjadi satu kepanasan yang membara dalam hatimu.

Jadi hati-hati kalau ketika saudara marah dan saat itu merasa bahwa kemarahan itu mulai didorong dan mulai merebak seperti satu dendam maka itu bukan lagi kemarahan yang benar. Marah yang dikeluarkan karena dendam atau panas hati adalah dosa dan kita harus cepat bertobat, meneduhkan hati karena saat itu kita sudah dikuasai oleh panas yang tidak terkontrol lagi.

Alkitab berulangkali mengatakan bahwa orang yang tidak dapat mengendalikan kemarahannya akan dapat berbuat kejahatan yang lebih besar. Hal ini bahaya sekali sehingga kita perlu mengerti ayat tersebut dari dua sudut, yaitu dari panjangnya waktu, jangan biarkan marah yang berlarut-larut sampai lewat waktunya dan yang kedua adalah intensitas kepanasan yang akan membuat saudara lupa dan mengamuk tanpa batas yang akhirnya saudara berdosa dengan kemarahan yang tidak benar.

Saudara kita harus menjaga supaya di dalam hidup, kita tahu bagaimana menempatkan marah secara tepat. Karena kalau marah kita berakibat dosa maka hal itu akan mendatangkan kemarahan Tuhan sehingga kita akan menjadi objek murka Allah. Namun terhadap orang yang melakukan tindakan dosa kita berhak marah, sama seperti Tuhan marah terhadap dosa sehingga menjadikan kita peka terhadap dosa.

Apa arti jangan matahari terbenam sebelum padam amarahmu arti yang sederhana adalah ketika marah jangan menyimpan dendam, bereskan masalahnya secepat mungkin meskipun belum tentu akan segera selesai.

Saudara ada banyak orang marah, dan kemarahan itu terus dipendam…seperti gunung berapi yang awalnya kelihatan biasa-biasa tetapi sekali meletus akan jauh lebih berbahaya. Oleh sebab itu setiap masalah harus segera mungkin diselesaikan..
Masalah yang tidak diselesaikan akan menjadi akar pahit, dan itu sangat berbahaya. Marah yang dipendam seperti bom waktu dan satu saat akan meledak danitu lebih berbahaya.
Saudara Alkitab mengatakan kepada kita hari ini, bahwa ketika kita marah kita harus selesaikan secepat mungkin, jikalau tidak itu akan menjadi dendam dan juga menimbulkan akar pahit.
Aplikasi: Masalah sekecil apapun kita cepat selesaikan.

III. JANGAN BERIKAN KESEMPATAN KEPADA IBLIS.

Konteks pembacaan kita tadi adalah berbicara tentang manusia yang baru; yaitu manusia yang telah diubahkan hatinya oleh Tuhan, manusia yang telah hidup didalam Tuhan. Menurut Paulus bahwa orang yang hidupnya telah dibaharui oleh Tuhan, maka seharusnya dia bisa mengontrol kemarahannya. Karena jikalau kemarahaan tidak bisa dikontrol, maka ini akan berbahaya. Dan ini bisa menjadi cela bagi iblis untuk menjatuhkan kita. Bahasa Aslinya mengatakan ” Jangan memberi lobang kepada Iblis” atau jangan memberi celah kepada Iblis.
Jangan sampai kita dibisiki oleh iblis untuk melakukan hal-hal yang salah dan berdosa di hadapan Tuhan.

Seorang perempuan yang suka marah-marah berusaha membenarkan kebiasaannya, “Kalau amarah saya sudah bisa meledak, berarti persoalan selesai. Jadi daripada dipendam, lebih baik diluapkan saja. Betul, tidak?” Temannya pun menimpali, “Yah, tapi kemarahanmu itu seperti pistol. Hanya dengan satu ledakan, kerusakan yang terjadi bisa sangat fatal.

Saudara beberapa tahun yang lalu ketika saya masih sering melayani di Penjara SR, saya memberanikan untuk bertanya kepada seorang napi wanita, ternyata ia adalah seorang mahasiswi, Saya bertanya kenapa sampai masuk di penjara? Ia masuk penjara karena membunuh Ibu kostnya. Ia mengatakan sebenarnya masalah kecil, soal mulut ibu kost yang tidak terkontrol. Saat ibu kostnya berbicara ia merasa terhina, ketika mendengar perkataan Ibu kost, dia tidak dapat menahan emosinya, kebetulan ada pisau didekatnya langsung ia mengambil pisau dan menusuknya.

Melalui cerita ini, saya memikirkan tentang akibat dari ketidakmampuan kita mengontrol kemarahan mengakibatkan dampak yang begitu besar. Saudara Jikalau kita adalah seorang temperamental, yang sedikit-sedikit marah, kita perlu berhati-hati. Jangan oleh karena sifat kita itu menghancurkan diri kita dan orang lain.

Iblis akan menggunakan kemarahan kita menghancurkan keluarga kita, Iblis bisa memakai kemarahan kita untuk menghacurkan hubungan kita dengan anak kita, dengan atasan kita, rekan kerja kita. Bahkan masa depan kita bisa hancur oleh karena sifat dan sikap kita.

Sdr. Pada Minggu lalu waktu altar keluarga Pak Pansang menceritakan bahwa akhir-akhir ini kasus yang paling banyak ditangani polisi adalah masalah KDRT. Ada banyak istri-istri datang ke kantor polisi dengan wajah lebam-lebam. Saudara saya yakin pipi dari ibu-ibu yang datang ke polisi itu buka karena di cium suami tetapi dipukul suaminya.
Mengapa bisa terjadi?? Semua terjadi karena kemarahan tidak dapat di kontrol, dan Iblis menggunakan kesempatan ini untuk menghacurkan keluarga kita, menghancurkan masa depan kita.
Ilsutrasi: Saudara ada satu kisah nyata yang terjadi di Malaysia, ada seorang anak kecil umur sekitar 3 tahun, orang tuanya begitu sibuk dan kurang memperhatikan anak ini. Satu saat papanya membeli mobil baru dan diparkir di garasi. Ketika anak ini sedang main-main digarasi mobil tersebut, ia melihat paku dan ia berfikir untuk menggambar wajah ayahnya di mobil ayahnya yang baru. Dan mulai ia mencoret. Sepulangnya dari kantor ayahnya pulang dari kantor dan melihat mobilnya baru sudah dicoret-coret ia langsung marah kepada pembantunya. Siapa yang mencoret mobil. Pembantu ini mengatakan aku tidak tahu. Lalu datang si anak dengan polos dia mengatakan bahwa dia menggambar wajah ayahnya di mobil karena mobil ini adalah milik ayahnya. Papanya langsung memukul tangan anaknya itu dengan keras berulang-ulang sampai tangan anak itu lecet. Besok paginya pembantunya mengatakan bahwa anak ini panas, orang tuanya karena begitu sibuk mengatakan pembantu kasih saja panadol lalu ia berangkat ke kantor. Singkat cerita karena kesibukan dari orang tua anak ini, dia tidak memperhatikan anaknya ternyata lama kelamaan sakit anak ini semakin parah, pembantunya tidak lagi memberitahukan sakit dari anak ini terjadi infeksi berat sehingga akhirnya anak ini dibawah ke dokter dan dokter mengatakan tangannya harus diamputasi. Setelah keluar dari RS anak ini mengatakan satu perkataan yang sekaligus menegur ayahnya: Sekarang aku tidak lagi akan nakal, aku sudah tidak lagi mencoret-coret dan papa tidak lagi akan marah-marah kepada saya, karena saya sudah tidak memiliki tangan lagi. Ayah anak ini begitu menyesal karena pertama ia tidak dapat mengontrol kemarahannya yang kedua ia begitu sibuk sehingga kurang memperhatikan anaknya.

Saudara, Alkitab tidak pernah melarang kita untuk marah, tetapi marah itu ada batasnya: Pertama. Ketika kita marah kita jangan berbuat dosa. Ketika kita marah tujuannya adalah menyatakan kebenaran, untuk memperbaiki apa yang salah, bukan untuk menjatuhkan dan menghancurkan orang lain.
Kedua: Kita bisa marah tetapi kemarahan itu jangan menjadi satu dendam, menjadi akar pahit. Tetapi setiap kita marah harus cepat diselesaikan.
Ketiga: Kita bisa marah tetapi jangan memberi kesempatan kepada iblis untuk memakai kemarahan kita, untuk menghacurkan kita.

Saudara dalam ayat terakhir dalam Efesus 4:31-32 Rasul Paulus mengatakan: ”Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dianatara kamu demikian pula segala kejahatan tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesrah dan saling mengampuni, sebagaimana Allah dalam Kristus telah mengampuni kamu ” Amin
Posting Komentar