Sabtu, 05 Mei 2012


FAKTA PENYALIBAN YESUS : SUATU JAWABAN  TERHADAP KONSEPSI  KAUM MUSLIMIN MENGENAI  PENYALIBAN YESUS


PENDAHULUAN

            Penyaliban Yesus merupakan suatu fakta historis dan merupakan salah satu landasan doktrin yang penting dalam agama Kristen. Begitu sentralnya berita  penyaliban,  sehingga Alkitab mengatakan tanpa penyaliban,  kebangkitan Kristus tidak relevan lagi dan  kepercayaan kekristenan tidak berarti apa-apa (I Korintus 15:14).   Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa penyaliban, kematian dan kebangkitan Yesus dari antara orang mati adalah inti dari iman Kristen karena  hal ini berkaitan erat dengan keselamatan dan penebusan dosa.   
            Namun, keyakinan akan penyaliban Yesus menjadi  suatu yang kontroversi  karena kaum muslimin mengklaim bahwa Yesus tidak disalibkan,  hal ini dikuatkan dengan berbagai sumber baik dari Al Quran dan juga sumber-sumber lain yang mereka percayai yang memaparkan narasi  penyaliban Yesus yang berbeda dengan berita Alkitab.
            Kontroversi mengenai penyaliban Yesus  sangat berdampak bagi  iman Kristen, oleh sebab itu jikalau klaim kaum muslim benar,  maka dapat dikatakan bahwa semua bangunan iman kekristenan akan runtuh secara bersamaan.  Oleh sebab itu melalui makalah ini, penulis  akan membahas tentang kontroversi penyaliban Yesus, serta menjawab segala klaim  Islam  bahwa  Yesus tidak disalibkan.  
            Adapun sistimatika penulisannya sebagai berikut: Pertama, penulis akan membahas sekilas mengenai Yesus dalam  Al Quran, kedua, penulis akan memaparkan  konsepsi  mengenai penyaliban Yesus menurut Islam dan pandangan para teolog Islam, ketiga, penulis akan memberikan jawaban  serta sanggahan terhadap konsepsi  Islam mengenai penyaliban Yesus dengan memaparkan bukti sejarah dari sumber-sumber tertulis Kristen dan sekuler serta memaparkan fakta-fakta historis penyaliban Yesus yang didasarkan menurut Alkitab sebagai sumber kebenaran yang absolut  yang menarasikan penyaliban Yesus.

 YESUS DALAM AL QURAN
            Dalam Al Quran nama Yesus (Isa), setidaknya ada 99 kali  muncul.[1]  Sehingga dapat dikatakan bahwa figur Yesus (Isa) adalah salah  satu figur atau nabi  yang sangat penting  dan sentral dalam Al Quran.   Sentralnya pemberitaan Yesus diuraikan dengan sangat jelas dalam Al- Quran yang dimulai dari kelahiran-Nya, apa yang dikerjakan-Nya, gelar-gelar yang diberikan bagi-Nya, sifat-sifat Yesus, keberadaan Yesus sampai pada kematian, kenaikan  dan kedatangan-Nya yang kedua kali.
            Dalam banyak bagian Al Quran, Yesus ditampilkan sebagai  figur yang luar biasa dan ajaib. Hal ini nampak dalam penjelasan-penjelasan Al Quran sebagai berikut:  Al Quran menjelaskan bahwa Yesus  dikandung dari Roh Allah,[2] Ia dilahirkan melalui perawan Maria dan kelahirannya adalah  suatu keajaiban.[3]  Lebih lanjut dijelaskan bahwa  kelahiran Yesus berbeda dengan manusia-manusia dan utusan-utusan lainnya (para nabi).[4]  Bahkan dalam surat Maryam  19:29-30  dituliskan bahwa Yesus berbicara saat kelahiran-Nya.[5]  Al Quran juga mencatat bahwa Yesus memiliki pengetahuan gaib atau supranatural  (surat Ali Imran 3:49), Yesus  mengetahui tentang hari kiamat (Surat Zukruf 43:57, 61), Yesus di penuhi oleh Roh Kudus (Surat Al Baqarah 2:253, An Nisah 4:171), Yesus adalah Firman (An Nisaa’ 4:171, Ali Imran 3:39,45), Yesus adalah seorang hamba (Surat Maryam 19:30-32), Yesus adalah pengantara Allah dan Mesias (Az. Zumar. 39:44).  Al Quran juga banyak mencatat mengenai Yesus yang memiliki kuasa untuk melakukan mujizat, seperti menciptakan burung (Surat Al. Maida 109), membangkitkan orang mati, orang buta sejak lahir, dan kusta (Surat Al. Imran 49)[6]
            Begitu sentralnya pemberitaan Yesus dalam Al Quran sehingga dalam  Islam,  Yesus (Isa) dipandang sebagai salah seorang nabi besar yang memiliki gelar-gelar istimewa.  Ada 6  (enam) nabi yang memiliki gelar-gelar istimewa, keenam nabi tersebut adalah Adam yang disebut yang dipilih Allah, Nuh yang disebut pengkhotbah untuk Allah, Abraham disebut sebagai sahabat Allah, Musa disebut juru bicara Allah, Yesus disebut Firman Allah dan Muhamad disebut Rasul Allah.[7]
            Dari data-data Alquran diatas, dapat disimpulkan bahwa keberadaan Yesus dalam        Al Quran merupakan sesuatu yang sangat penting,  karena Ia adalah seorang nabi  yang sangat dihormati.  Bahkan dapat dikatakan bahwa keberadaan Yesus dengan sifat-sifat-Nya yang luar biasa istimewa tersebut menjadikan Yesus memiliki tempat yang besar dalam Alquran, melebihi nabi atau tokoh  lain di dalam  Al Quran selain Muhamad.  Begitu sentralnya Kristus dalam Al Quran menyebabkan kaum Muslim akan bereaksi jikalau ada pemberitaan yang berbeda mengenai Isa atau Yesus dengan apa yang dikatakan dalam Al Quran.  Hal ini terlihat dari konsepsi  mengenai penyaliban Yesus, dimana Al Quran mencatat bahwa Yesus tidak disalibkan  sedangkan agama Kristen sesuai dengan Alkitab percaya bahwa Yesus di salibkan.
PENYALIBAN YESUS MENURUT ISLAM
            Salah satu pokok percekcokan antara muslim dan Kristen dalam seluruh perdebatan teologi adalah mengenai  penyaliban dan kebangkitan Yesus.  Kaum Muslim mengklaim bahwa Yesus dari Nazaret sesungguhnya tidak mati dan disalibkan.  Apa yang menjadi dasar  pertimbangan dan keyakinan dari kaum Muslimin untuk mengatakan bahwa Yesus tidak disalib? minimal ada dua sumber yang mereka percayai yang memaparkan mengenai  fakta bahwa Yesus tidak disalibkan, pertama dari Alquran dan kedua dari kitab injil Barnabas.
            Dibawah ini, penulis akan memaparkan apa yang dikatakan oleh Al Quran dan injil Barnabas mengenai penyaliban Yesus.
A.    Al Quran
            Polemik yang paling tajam dan mendasar antara Islam dan Kristen adalah perbedaan teologi mengenai doktrin penyaliban Yesus di  kayu  salib.  Secara tegas, Islam mengajarkan bahwa Nabi Isa (Yesus) tidak mati dibunuh maupun disalib.  Ketegasan ini dinyatakan dalam   Al Quran surat An-Nisa 157,  dikatakan: “wamaa qataluuhu wama shalabuuhu walakin syubbiha lahum” (mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang mereka bunuh ialah orang lain yang diserupakan dengan Isa bagi mereka).[8]
            Para ulama dan penafsir Islam sejak masa permulaan Islam sampai saat ini sepakat bahwa satu-satunya maksud ayat ini adalah membantah dugaan pembunuhan dan penyaliban Nabi Isa. Orang-orang Yahudi dan Romawi gagal menangkap nabi Isa, membunuh dan menyalibnya, karena beliau diselamatkan Allah SWT.  Penafsiran ini diperkuat dengan  surat An-Nisa, 157-158:

“Dan karena ucapan mereka: ‘Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Putra Maryam, Rasul Allah’ padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka.  Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keraguan tentang yang dibunuh itu.  Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.  Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”[9] 
           
            Dalam ayat tersebut, menurut Muslim bahwa Allah menegaskan fakta yang sebenarnya bahwa nabi Isa tidak dibunuh maupun disalib.  Al Quran menepis peristiwa pembunuhan dan penyaliban nabi Isa, tapi Al Quran mengonfirmasi terjadinya pembunuhan dan penyaliban pada diri orang lain yang diserupakan dengan nabi Isa.[10]
            Beberapa ahli tafsir Al Quran Indonesia, seperti Prof. Dr. H. Mahmud Yunus, menafsirkan  ayat tersebut seperti demikian “Sebenarnya Isa itu bukan mereka bunuh atau mereka salibkan, tetapi yang mereka salib adalah orang yang serupa dengan Isa, yang telah dibuat samar”.[11]  Hal yang senada disampaikan oleh Prof. Buya Hamka,  dalam tafsir Al-Azhar ia menyatakan bahwa kata, “Syubbiha” artinya “disamarkan atau diadakan orang lain, lalu ditimbulkan sangka dalam hati orang yang hendak membunuh itu,  bahwa orang lain itulah Isa”[12].
            Selain ayat-ayat diatas, ada satu ayat lagi yang sangat membingungkan dan menimbulkan ambiguitas dalam penafsiran  yaitu  dari surat Ali Imran 3:55:
            (Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya.”
           
            Kalimat  “aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu” atau “Inni mutawaf-feeka” adalah kalimat  yang sering diperdebatkan oleh sarjana Muslim. Beberapa sarjana  Muslim mengatakan bahwa  kata-kata itu tidak menunjukan kematian sedangkan yang lain menyatakan bahwa Yesus benar-benar mati.  Banyak versi penafsiran ayat ini menimbulkan kebingungan dikalangan sarjana Muslim.  Beberapa sarjana mengatakan bahwa “itu hanyalah tidur”.  Sebagaimana dikatakan dalam Al. Muthanna: “Aku diberitahukan Ishaq  bahwa  ‘Inni mutawaf-feeka’  ini memberi pengertian  mati dalam tidur dan Tuhan mengambil Dia di dalam tidur-Nya.”[13]
            Penggunaan kalimat ini sebenarnya sama dengan penggunaan kalimat yang ditujukan kepada Yohanes pembaptis yang lahir,  mati  dan akan dibangkitkan (Surat maryam 19:15),  kata “Inni mutawaf-feeka” yang berarti  “aku  menyebabkan engkau mati”[14].    Namun kata ini juga tetap memberikan multi tafsir  sehingga menimbulkan beragam teori  yang lain untuk menyesuaikan  dengan  sura  4:157 tersebut.[15]
            Walupun ada ambiguitas dalam penafsiran dari ayat Al Quran seperti telah dipaparkan di atas, namun sebagian besar para ulama (teolog Islam) menyimpulkan bahwa ayat-ayat ini mengarah kepada satu  kesimpulan bahwa Yesus tidak mati dan tidak di salib.  Selain alasan penafsiran Al Quran, ada satu alasan lain mengapa  mereka menolak kematian dan penyaliban Yesus.  Menurut mereka,  bagaimana mungkin nabi Isa AS terbunuh atau tersalib, padahal Allah SWT melindungi para rasul Ulul Azmi semuanya?  Allah telah menyelamatkan Nabi Nuh dari tenggelam di air bah, nabi Ibrahim dari api, nabi Musa dari Fir’aun, dan nabi Muhammad dari makar kaum musyrikin, mana mungkin nabi Isa dibiarkan oleh Allah disalibkan.
B.     “Injil” Barnabas
            Selain penjelasan Quran, sumber lain yang digunakan oleh kaum Muslimin untuk   menolak penyaliban Yesus didasarkan pada sumber-sumber yang diklaim adalah sumber Kristen.  Sumber yang dipakai  tersebut adalah dari “injil” Barnabas.  Mereka meyakini bahwa “injil” Barnabas adalah injil asli dibandingkan  ke-empat injil kanonikal.  Berdasarkan injil Barnabas  mereka menolak fakta penyaliban Yesus, dengan mengusulkan dua teori yaitu: Teori penggantian[16]  dan pingsan[17].              
            Munculnya kedua teori ini sebenarnya merupakan suatu usaha dari kaum muslim untuk mengakomodir berbagai kesimpangsiuran  mengenai  konsep  penyaliban Yesus dalam Al- Quran yang mengakibatkan beragam tafsiran bahkan spekulasi dari para ulama Islam.  Hal ini jelas sebagaimana dikatakan oleh Hasbullah Bakry:  Karena tidak ada keterangan secara detil dan eksplisit mengenai penyaliban Yesus, maka para ulama Islam mencoba menafsirkan ayat-ayat dengan cerita-cerita sebagai berikut:
a.       Sebagian ulama berpendapat bahwa nabi Isa telah dilepaskan Tuhan ketika Dia mau ditangkap oleh orang-orang Israel di taman Getsemani.  Ia menyelinap dan bersembunyi dari penglihatan orang-orang yang menangkap-Nya, lalu Yudas yang menghianati-Nya dijadikan Tuhan serupa dengan nabi Isa sehingga Yudas-lah yang ditangkap dan disalibkan.  Selanjutnya, nabi Isa terlepas dari tangkapan dan diangkat Tuhan ke langit dan pada akhir zaman akan datang untuk  mengislamkan orang-orang Nasrani.[18]
b.      Segolongan ulama lain berpendapat  bahwa kelepasan Isa dari penyaliban pada  saat Dia dibawa orang dari istana Pilatus menuju Golgota. Ditengah jalan mulanya nabi Isa memikul kayu salib-Nya sendiri, tetapi sebelum sampai di bukit Golgota dia ditukar oleh orang lain bernama Simon Kirene.  Dan Simon inilah yang disalibkan, sedang Isa diangkat Tuhan ke langit.[19]
c.    Terakhir adalah para ulama tafsir moderen.  Mereka berpendapat bahwa nabi Isa benar ditangkap di taman Getsemani dan Ia  dibawa ke istana Pilatus  dan juga disalibkan tetapi penyaliban ini telah digagalkan Tuhan.  Yesus tidak sampai mati tetapi hanya pingsan.  Ia keluar sendiri atau dikeluarkan dari pekuburan tanpa diketahui atau dilihat oleh pengawal-pengawal makam itu.  Selama empat puluh hari nabi Isa dengan sembunyi-sembunyi menemui murid-murid-Nya.  Setelah 40 hari (luka-luka sembuh),  nabi Isa diperintahkan oleh Tuhan meninggalkan wilayah Palestina (daerah Israel) dan mengembara ketempat lain.  Selanjutnya tugas kerasulan-Nya  kepada orang Israel telah dicabut oleh Tuhan sesuai  doa permintaan-Nya sendiri sewaktu di  taman Getsemani. Dan  Ia berdiam di Kashmir sampai meninggal di sana.[20]
            Kesimpulan pandangan Islam terhadap penyaliban Yesus sebagai berikut:
1.      Nabi Isa tidak mati oleh sebab terbunuh dan juga tidak mati  oleh sebab tersalib.
2.      Nabi Isa dituntun (diangkat) Tuhan ke tempat  lain yang ditentukan oleh-Nya.
3.      Nabi Isa telah diselamatkan Tuhan dari bangsa Israel yang menentang-Nya dan menyudahi kewajiban  untuk mengajar Injil kepada mereka.[21]

FAKTA PENYALIBAN YESUS: SUATU JAWABAN TERHADAP  KEKELIRUAN MUSLIM DALAM MEMAHAMI PENYALIBAN YESUS
            Dari pemaparan di atas, jelas bahwa menurut pandangan Islam Yesus tidak disalibkan.  Di bawah ini penulis akan memaparkan tiga argumentasi untuk menjawab klaim Islam mengenai Yesus tidak disalibkan.  Pertama, penulis akan  menjawab berdasarkan sumber yang dipakai oleh Muslim yaitu  dari Al Quran dan injil Barnabas, kedua, argumentasi historis  dari  sejarawan dan saksi mata sekuler dan ketiga argumentasi  dari Alkitab yang dilihat sebagai bukti sejarah[22]:
1.      Al Quran dan Injil Barnabas
            Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kaum muslim menolak konsepsi Kristen mengenai penyaliban Yesus, penolakan itu didasarkan pada Al Quran. 
            Pertama: Ayat Al Quran yang digunakan adalah surat An Nisa 4:157-158, yang menyatakan bahwa bukan nabi Isa yang disalibkan, melainkan orang lain yang diserupakan wajahnya, sementara nabi Isa sendiri sudah lebih dulu diangkat oleh Allah.  Jikalau kita memperhatikan secara teliti  dari  konteks ayat sebelumnya (4:153) dan sesudahnya (4:160) dikatakan:  “kami telah membunuh Almasih, Isa, Putra Maryam” adalah orang-orang Yahudi. Jadi kata “mereka” di sini merujuk pada orang-orang Yahudi.
             Pernyataan demikian tidak sepenuhnya benar dari sudut historis.  Karena waktu itu Israel dijajah oleh Romawi,  maka seandainya ada permasalahan hukum dalam internal agama Yahudi yang mengharuskan si terdakwa dihukum mati, si terdakwa harus dibawa kepada Gubernur Romawi di Palestina (waktu itu Pontius Pilatus).  Dialah yang berwenang untuk memberikan vonis hukuman mati ataupun membebaskan tawanan pada hari raya Paskah.  Demikian pula para algojo yang menyesah, mempermainkan, menggiring Yesus ke Golgota dan akhirnya menyalibkannya adalah para prajurit Romawi, bukan para pemimpin Yahudi; sehingga kepala pasukan Romawi setelah melihat kematian Yesus secara demikian, dia pun mengakui, "Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!" (Mrk 15:39).  Sementara para pemimpin Yahudi sendiri hanya menjadi penonton setelah mereka berhasil mendesak Pontius Pilatus agar menjatuhkan hukuman mati bagi Yesus.  Jadi, yang membunuh Yesus justru prajurit-prajurit Romawi bukan orang Yahudi.[23]

           Kedua,  dikatakan bahwa: “bukan Isa yang dibunuh, sebab sebelumnya Dia telah diangkat (dan diselamatkan) oleh Allah”.  Dengan demikian, mereka hendak mengatakan bahwa,  bukanlah Isa yang mati di kayu salib itu, bahkan juga berarti Isa langsung diangkat oleh Allah. Pernyataan demikian berkontradiksi dengan ayat lain dalam Al Quran yang dengan tegas menyebut kematian Isa Almasih, seperti dalam surah Al-Imran 3:55:

 (Ingatlah), ketika Allah berfirman: Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya. (QS. 3:55)


            Sementara dalam surah Al Maryam 19:30-33, dikatakan,  Isa kecil yang masih dalam ayunan sudah berbicara untuk membela ibunya yang dituduh mengandung diri-Nya  sebagai hasil perbuatan zinah,  selanjutnya Al Maryam 19:33 dikatakan, bayi Isa ini sudah mengatakan masa depannya:  “Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali (QS. 19:33).”  Dari ayat di atas  jelas menyebut kematian Isa, bahkan kebangkitan-Nya kembali.  Dengan demikian  jelas ayat-ayat  ini bertentangan dengan pernyataan Surah An Nisaa' 4:157-158, yang mengatakan bahwa bukan Yesus yang disalib  dan bangkit dari kematian.
            Selain hal itu, seperti dipaparkan diatas bahwa dalam menafsirkan ayat Al Quran beberapa penafsir Muslim mengalami banyak kesulitan, sehingga muncul ketidakkonsistenan satu dengan yang lain dalam menafsirkan beberapa ayat Al Quran yang berhubungan dengan penyaliban Yesus.  Misalnya, dalam  Surat Maryam 19:15 diceritakan tentang Yohanes pembaptis, dikatakan demikian: “Kesejahteraan atas dirinya pada hari dia dilahirkan dan pada hari dia meninggal dan pada hari dia dibangkitkan hidup kembali.”  Berdasarkan ayat ini, tidak ada sarjana Muslim yang menyangkal bahwa Yohanes Pembaptis lahir, mati dan akan dibangkitkan.  Kata kunci “inni mutawaf-feeka” yang berarti “meninggal” juga diartikan secara literal oleh semua Muslim, kata ini juga yang digunakan dalam surat  Ali Imran 3:55 [24]
             Satu hal yang menarik yang dikatakan dalam  Al Quran bahwa Yesus diangkat Allah sebagaimana dikatakan dalam  Surat Ani-Nisa 4:158, “. . . Sebenarnya Allah telah mengangkat Isa itu kepada-Nya dan Allah itu adalah Maha Besar dan Maha Bijaksana” Kalimat ini banyak ditafsirkan sebagai penegasan bahwa Isa tidak mengalami kematian jasmani. Tetapi di sisi lain, Surat Maryam 19:33 menyatakan bahwa Yesus mengalami kematian jasmani. Disini dapat dilihat adanya ketidakkonsistenan dalam penjelasan Al Quran sehingga membuat  para penafsir Islam sendiri kebingungan, mana yang benar. Apakah Yesus mengalami kematian jasamani atau diangkat Tuhan? Apakah ia disalib atau tidak?
            Ketiga,  Surah An Nisaa' 4:157 menyebut bahwa ada “orang yang diserupakan dengan Isa atau ada figur yang menggantikan Yesus.  Bagian ini tidak secara jelas menyatakan siapa yang menggantikan atau yang diserupakan dengan Yesus.  Apakah  Yudas ataupun Simon dari Kirene  tidak pasti. Adanya ketidakpastian siapa yang sebenarnya yang menggantikan Yesus, maka dapat dikatakan bahwa cerita atau teori  penggantian Yesus merupakan penafsiran spekulatif  terhadap Al Quran itu sendiri.  Selain itu, kita dapat mengajukan beberapa tanggapan atas kepercayaan adanya figur pengganti Yesus di kayu salib:      Pertama, jika Allah menyerupakan seseorang yang  menjadi seperti Isa dan akhirnya ia harus disalib, bukankah hal itu akan menjadi kasus ketidakadilan dan fitnah bagi orang tersebut?  Dari sudut pandang Allah, bukankah hal ini berarti suatu usaha penipuan terhadap orang banyak? Apakah hal yang demikian ini sesuai dengan integritas Allah?[25]
             Kedua, jika maksud Allah adalah menyelamatkan Isa, mengapa Ia perlu membuat orang Yahudi tertipu dengan adanya orang lain yang perlu disalib?  Bukankah Allah cukup mengangkat Isa tanpa perlu adanya pengganti Isa di kayu salib?  Apakah gunanya bagi Allah sehingga Ia harus membuat orang lain menjadi serupa Isa dan menggantikannya disalib?[26]
            Ketiga, jika Isa sebagaimana diakui Al Quran memang sanggup berbuat mujizat termasuk membangkitkan orang mati (Surat Ali Imran 3:49), mengapakah Ia tidak sanggup untuk melindungi diri-Nya sendiri jikalau Ia memang tidak ingin disalibkan sebagaimana dipercaya oleh banyak penafsir Islam?   Kemudian, dari sudut pandang pengganti Isa, kita dapat bertanya demikian, “Jikalau orang yang diserupakan menjadi seperti Yesus itu masih dapat berpikir dengan normal, bukankah ia selayaknya akan memberontak dan menyatakan bahwa dirinya bukan Isa?”  Dalam kenyataannya hal ini tidak tercatat dalam keempat Injil maupun Al Quran.[27]
            Selain itu, dilihat dari data historis pernyataan demikian bertentangan dengan kesaksian keempat Injil kanonik, literatur Yahudi, maupun data sejarah.  Jadi, orang Yahudi tidak pernah berselisih tentang siapa yang mereka salibkan.  Mereka berdebat dengan pengikut Kristus mengenai apakah Yesus Kristus yang tersalib itu sungguh bangkit lagi pada hari ketiga atau tidak.[28]
            Selanjutnya kaum muslimin memakai “injil” Barnabas yang menjadi dasar untuk membenarkan konsepsi mereka bahwa Yesus tidak disalibkan.  Menurut mereka injil Barnabas adalah injil yang asli.   Pertanyaannya,  apa yang menjadi dasar atau standar kaum Muslimin mengatakan bahwa “injil” Barnabas adalah injil yang asli?  Apakah injil ini bisa disandari atau dapat dipercaya?
            Para ahli yang meneliti injil ini menemukan bahwa ada banyak kesalahan-kesalahan dan  kekeliruan, bahkan keganjilan dari “injil” Barnabas.  Penyebabnya adalah bahwa penulis injil ini tidak mengenal betul situasi sosial - keagamaan di Palestina pada abad I - II.  Hal ini dapat dilihat dari penjelasan dibawah ini:
              Dari segi sejarah, dikatakan bahwa Yesus lahir pada zaman Pilatus (ps. 3), sementara Pontius Pilatus baru menjadi gubernur di Palestina pada tahun 29 M.  Secara  geografis, disebutkan bahwa Yesus berlayar dari danau Galilea ke Nazaret.  Faktanya Nazaret itu berada di dataran tinggi dan berjarak 20 km dari danau Galilea.  Disebutkan pula bahwa Yesus mendaki ke Kapernaum, sementara kota Kapernaum itu berada di tepi danau Galilea.  Dari segi ekonomi, disebutkan  mengenai dua mata uang yaitu mata uang  Denarius dan Minuti (ps 54).  Padahal kedua istilah ini adalah pembagian mata uang Spanyol kuno.  Tidak ada kaitannya dengan orang Yahudi di Palestina ataupun penjajah Romawi.  Dalam hal keagamaan setidaknya ada tiga “kejanggalan”: Pertama, dalam judulnya disebutkan “Injil yang benar tentang Yesus yang bergelar Kristus”, namun pasal 96 Yesus disangkal sebagai Mesias.  Padahal kata Mesias/Mesiah (Ibrani) dan Kristus (Yunani) itu searti dengan “Dia yang diurapi”.  Kedua, orang-orang Farisi (ps. 144-150) digambarkan sebagai biarawan yang hidup selibat.  Sementara dalam masyarakat Yahudi waktu itu yang hidup membiara dan kemungkinan juga hidup selibat adalah kaum Esseni.  Ketiga, Ps.152 menyebut bahwa serdadu Romawi masuk Bait Allah dan mengganggu Yesus.  Hal ini tidak masuk akal karena orang asing dilarang masuk Bait Allah dan orang Romawi cukup hati-hati menjalankan strategi politiknya terhadap orang dan agama Yahudi.   Keganjilan yang lain adalah dalam injil Barnabas banyak menggunakan istilah-istilah Filsafat, yang keluar dari mulut Yesus dalam `injil' ini, seperti accident, substansi, dan lain sebagainya. Sementara dalam injil kanonik Yesus selalu menggunakan bahasa yang sederhana dan langsung. Di sini nampak bahwa trend filsafat abad pertengahan mempengaruhi ‘injil’ Barnabas ini.[29]
            Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa “injil” ini bukanlah berasal dari penulis abad II - III yang tahu tentang Palestina masa itu.  Begitu pula terdapat petunjuk mulai kapan injil ini ditulis, secara jelas dapat dilihat dalam ulasan dibawa ini:
               Yesus berdoa malam dengan menyebut kutipan 1 Ptr 5:8; jelas ini berasal dari liturgi ibadat penutup sejak abad pertengahan. Gambaran tentang Sorga (langit bertingkat sembilan dan tingkat kesepuluh adalah sorga) dan Neraka (ada tujuh tingkat neraka bergantung besar - kecilnya tujuh dosa pokok yang dilakukan) mirip dengan gambaran Sorga - Neraka dari penyair Dante.  Demikian pula perumusan tujuh dosa pokok adalah hasil refleksi teologi moral abad pertengahan.  Yesus menetapkan tahun Yobel setiap 100 tahun sekali (ps. 82), padahal dalam tradisi Yahudi tahun Yobel dirayakan setiap 50 tahun sekali (Im 25:4).  Agaknya kejanggalan ini berasal dari perubahan perayaan tahun Yobel.  Paus Bonifasius VIII (1300) menetapkan tahun Yobel 100 tahun sekali, Paus Clemet VI (1340) mengubahnya menjadi 50 tahun sekali dan Paus Paulus II (1470) mengubahnya menjadi 25 tahun sekali.  Pada tahun 1585 Paus Sixtus V merayakan tahun Yobel bukan karena memang sudah saatnya, melainkan karena mau merayakan pengangkatannya sebagai Paus.[30]
             Dari sini justru tampak keterkaitan antara isi “injil” ini dengan  Fra Marino atau Mustafa de Aranda sendiri yang konon menemukan terjemahan “injil” dalam bahasa Italia di perpustakaan Paus Sixtus V.  Bahasa Italia sendiri baru berkembang sekitar abad XIII dan menurut para ahli “teks terjemahan” ini lebih kelihatan sebagai tulisan dari orang pertama dalam bahasa Italia dan munculnya aksen spanyol (juga mata uang Spanyol kuno!).[31]
            Dari bukti-bukti kekeliruan ini dapat disimpulkan bahwa “injil” Barnabas adalah tulisan yang tidak dapat disandari dan dipercaya.  Karena tidak mungkin “injil” (diklaim asli), yang   banyak ditemukan kesalahan dan kekeliruan dianggap berasal dari Tuhan atau diwahyukan. Kesimpulannya adalah  narasi penyaliban Yesus dalam kitab ini palsu dan kemungkinan besar ditulis oleh orang Muslim untuk mendukung pendapat mereka bahwa Yesus tidak di salibkan dan tidak mati.
1.      Argumentasi  berdasarkan Alkitab sebagai bukti historis
            Pemahaman orang Kristen terhadap konsepsi penyaliban Yesus bukan hanya didasarkan pada iman yang buta, tetapi didasarkan oleh fakta-fakta historis yang dinarasikan oleh Alkitab yang  dipercaya orang Kristen sebagai  wahyu Allah. Namun  dalam  membahas hal ini,  penulis  memakai  referensi Alkitab bukan dilihat sebagai wahyu  Allah tetapi sebagai bukti historis.
            Didalam banyak bagian Alkitab secara khusus dalam keempat Injil (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes) menceritakan fakta historis mengenai kebenaran dari penyaliban Yesus.  Ada banyak  ayat-ayat Alkitab berbicara lugas tentang  proses kematian Yesus di kayu disalib,  seperti:  Mat. 27:50    “Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya” ; Luk. 23:46  “Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: ‘Ya Bapa, ke dalam tanganMu Ku-serahkan  nyawa-Ku.’  Dan sesudah berkata demikian, Ia menyerahkan nyawa-Nya”;  “Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah  Ia: ‘Sudah selesai.’  Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya” (Yoh. 19:30).
            Selanjutnya, koherensi dari kisah kematian Yesus ini juga tercermin dalam banyak fakta. Fakta-fakta ini tidak sekedar membuktikan kebenaran Alkitab melainkan juga  menunjukkan bahwa Alkitab berisi kebenaran-kebenaran yang konsisten satu sama lain. Fakta pertama, berkaitan dengan nubuatan Yesus mengenai diri-Nya sendiri.  PB secara berulang kali menunjukkan bahwa kematian Yesus telah dinubuatkan oleh Yesus sendiri dalam berbagai kesempatan  (Mat. 12:40; 17:22-23; 20:18; Mrk. 10:45; Yoh. 2:19-20; 10:10-11).[32]
            Fakta kedua, ada banyak saksi mata pada waktu penyaliban Yesus.  Saksi mata pertama adalah para murid Yesus sendiri.  Rasul Yohanes (Yoh. 19:26) dan beberapa pengikut Yesus seperti Maria, dan wanita-wanita lain berada di dekat penyaliban Yesus (Luk. 23:27; Yoh. 19:25).   Melalui saksi mata ini kita dapat membuktikan bahwa penyaliban, kematian dan kebangkitan Yesus benar-benar adalah bukti historis yang dapat di pegang kebenarannya.  Untuk hal ini McDowell berkomentar, “saya dapat mempercayai kesaksian para rasul, karena dari kedua belas orang itu, sebelas telah wafat sebagai martir, akibat mereka percaya akan kebangkitan Yesus dan kepercayaan mereka kepada-Nya sebagai anak Allah.”[33]  Senada dengan McDowell, Tertulianus mengatakan, “tidak ada seorang yang rela mati kecuali ia mengetahui bahwa ia memiliki kebenaran.”
            Menurut tradisi yang dapat dipercayai bahwa mereka disiksa, dicambuk dan akhirnya mereka menghadapi kematian dengan cara-cara yang paling kejam. Ada yang disalibkan, dilempari dengan batu, dibunuh dengan panah, pedang dan lain sebagainya.[34]  Sehubungan dengan hal ini mungkin ada yang mengatakan bahwa ada banyak orang telah mati karena suatu dusta, tetapi mereka menyangka bahwa dusta  itu adalah kebenaran.  Apabila penyaliban dan kebangkitan tidak pernah terjadi (palsu), para murid pasti tahu akan hal itu, dan tidak mungkin mereka tertipu.  Karena itu, kesebelas orang ini tidak hanya mati karena suatu dusta, tetapi mereka tahu tentang dusta itu.  Sungguh tidak masuk akal untuk mengatakan bahwa, sebelas orang dalam sejarah telah mati karena suatu dusta dan tahu bahwa itu dusta.[35]
            Berikutnya, kematian Yesus di kayu salib juga disaksikan oleh para tentara Romawi, dua orang penjahat yang disalibkan disamping Yesus (Mat. 27:38), orang banyak (Mat. 27:39; Luk. 23:27) serta para pemimpin Yahudi (Mat. 27:41).             Dengan memperhatikan para saksi mata penyaliban Yesus tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa mayoritas dari mereka merupakan orang-orang Yahudi yang menghendaki kematianNya.  Mereka begitu bernafsu untuk membunuh Yesus sehingga sebelum penyaliban itu sendiri berlangsung, orang-orang Yahudi telah berseru berkali-kali di hadapan Pilatus agar Yesus disalibkan (Mat. 27:22-23).  Orang-orang Yahudi itu bahkan berani berkata “Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!” (Mat. 27: 25).  Kebencian orang-orang Yahudi ini begitu kuat sehingga mereka  benar-benar menginginkan kematian Yesus pada waktu disalib.  Selain itu, kita harus mengingat bahwa tentara Romawi adalah orang-orang yang terlatih dalam menjalankan eksekusi sehingga mereka tidak akan salah mengidentifikasi korbannya.[36]
            Faktor-faktor di atas, jelas membuktikan bahwa penyaliban Yesus adalah suatu  kebenaran dan merupakan fakta historis yang tidak dapat disangsikan kebenarannya.  Oleh karena itu, khotbah Petrus juga disertai dengan pemberitaan yang tegas mengenai kematian Yesus yang disalibkan dan dibunuh oleh orang-orang Yahudi yang durhaka (Kis. 2:23-24). Berdasarkan hal ini kita melihat bahwa bagian-bagian dalam Alkitab saling menegaskan satu sama lain bahwa Yesus telah mati di kayu salib.[37]
2.      Argumentasi eksternal
            Pandangan Kristen mengenai fakta penyaliban Yesus dapat dibuktikan melalui fakta eksternal dari non Kristen yang dilihat sebagai fakta historis.  Kebenaran historis dari penyaliban Yesus disaksikan oleh para sejarawan seperti dibawah ini:
A.    Flavius Yosefus[38]
          Dalam buku ke-18 dari Antt. (18,55-89) dia melukiskan situasi Palestina ketika Pilatus menjadi pejabat Romawi di sana.  Dalam bagian ini ada yang disebut dengan Testimonium Flavianum yakni kesaksian Flavius Josephus tentang Yesus, yakni pada Antt. 18,63-64.  Ada banyak kalangan Muslim meragukan akan teks ini, apakah benar-benar adalah tulisan Yosefus atau bukan.  Namun Prof. Charlesworth dari Princenton Theological Seminari menemukan  satu bukti tekstual  dari versi Arab abad ke-4, yang dicatat dalam kitab Al-Unwan karya Agapius dari abad ke-10 yang membuktikan bahwa ini adalah benar tulisan dari Yosefus.
             Pines menerjemahkan bagian ini sebagai berikut:
Pada waktu ini ada seorang yang bijaksana, yang bernama Yesus.  Dan perilakunya baik, dan (ia)  terkenal orang yang berbudi luhur.  Dan  banyak orang dari antara Yahudi dan bangsa-bangsa lain menjadi murid-Nya.  Pilatus menghukum Dia untuk disalibkan dan mati.  Dan orang-orang yang telah menjadi murid-Nya tidak meninggalkan kemuridan-Nya.  Mereka melaporkan bahwa Ia menampakan diri  kepada mereka tiga hari setelah penyaliban-Nya dan bahwa Ia hidup; jadi, Ia mungkin Mesias….[39]

          Sebagian para ahli meragukan apakah beberapa kalimat yang tercetak tegak-tebal (kelihatan dalam teks asli)  itu benar-benar dari Josephus sendiri ataukah sudah dirubah oleh  penyalin Kristen.  Namun, tidak diragukan bahwa Josephus menyebutkan fakta bahwa Pilatus telah menghukum Yesus di kayu salib.
B.     Thallus  dan Phlegon
          Satu dari penulis yang  mula-mula menjelaskan tentang Yesus adalah Thallus.  Thallus dalam buku ketiga tentang sejarahnya, menuliskan saat-saat kegelapan pada waktu penyaliban Yesus, ia menulis bahwa kegelapan itu sebagai suatu gerhana matahari, demikian juga Phlegon mencatat  bahwa pada zaman Kaisar Tiberius, pada bulan purnama ada gerhana  matahari penuh dari enam sampai sembilan jam.[40]  Sehubungan dengan ini, Yulius Afrikanus menulis kira-kira tahun 221 M, menolak pandangan Thallus, karena tidak mungkin gerhana matahari bersinar pada saat bulan purnama.[41]
C.  Cornelius Tacitus[42]
          Tacitus, dalam bukunya Annals volume XV, tentang Kaisar Nero yang telah mengambinghitamkan orang Kristen sebagai penyebab terbakarnya kota Roma, ia menulis dalam Annals 15.44.2-3 sebagai berikut:
… Nero  telah  dituduh telah sengaja menimbulkan kebakaran besar di Roma.  Jadi untuk menghentikan desas-desus itu dia mengalihkan tuduhan dengan memfitnah dan menghukum dengan siksaan paling keji terhadap orang-orang yang disebut Kristen, oleh orang banyak.  Nero menghukum mereka dengan kekejaman yang luar biasa.  Kristus,  pendiri golongan Kristen, telah mengalami hukuman mati dalam masa pemerintahan Tiberius, atas keputusan Pontius Pilatus…. [43]


            Demikian laporan Tacitus, sejarawan Romawi yang menuturkan situasi pengikut Kristus di kota Roma.  Tentang Kristus, Tacitus menyebutkan bahwa dia telah menderita hukuman yang ekstrim pada masa pemerintahan Pontius Pilatus.  Tidak disebutkan secara eksplisit cara eksekusinya, namun dikatakan bahwa hukuman salib merupakan cara eksekusi yang lazim pada masa itu bagi pelaku tindakan kriminal dan pemberontakan.[44].
C.     Lucianus  dari Samosata
          Lucianus adalah seorang filsuf dan sejarawan Yunani yang lahir di Samosata pada tahun 120 M dan meninggal sekitar 180 M di Athena.  Dalam salah satu bukunya (De Morte Peregrini – Kematian Peregrinus 11) dia menulis tentang Peregrinus yang telah menjadi Kristen dan yang memiliki pemeluk di Palestina “yang masih menyembah orang yang telah disalibkan di Palestina.”[45]
          Dalam tulisannya ia mengatakan:

Ketahuilah, orang-orang Kristen memuja seorang pria sampai hari ini, tokoh tersohor yang memperkenalkan tata ibadah baru mereka, dan disalibkan karena hal  tersebut… Orang-orang tersesat ini mulai dengan keyakinan umum bahwa mereka itu hidup kekal selamanya, yang menjelaskan pandangan rendah mereka terhadap kematian dan pengabdian diri secara sukarela…semua hal ini mereka terima dengan iman, dan sebagai akibatnya mereka menganggap rendah semua harta duniawi, dan menganggapnya hanya sebagai harta bersama.[46]




E. Mara Bar Sarapion

            Mara Bar Sarapion  adalah seorang filsuf Stoa dari Syria yang menulis surat untuk anaknya Sarapion yang tengah berada dalam penjara Romawi.  Dia menasihati anaknya bahwa kebijaksanaan mungkin akan dimusuhi oleh dunia yang penuh dengan kekerasan, namun kebijaksanan itu sendiri abadi.  Dia mengilustrasikannya dengan menggambarkan kehidupan Socrates, Phytagoras, dan Yesus – kendati dia tidak menyebut nama Yesus secara eksplisit.[47]
            Dalam usaha untuk mendorong putranya untuk mengejar hikmat, ia merenungkan:
Keuntungan apa yang diperoleh orang-orang Athena ketika mereka membunuh Socrates?  Kelaparan dan penyakit pes menimpa mereka sebagai hukuman karena kejahatan mereka, keuntungan apa yang diperoleh orang-orang Sames ketika mereka membakar Phitagoras… Keuntungan apa yang diperoleh oleh orang-orang Yahudi ketika menghukum mati raja mereka yang bijaksana? Tidak lama setelah peristiwa  itu,  kerajaan mereka dibinasakan.  Secara adil Allah membalas dendam atas kematian tiga orang bijaksana ini…  Raja bijaksana itu tidak mati selama-lamanya; Ia hidup terus dalam ajaran yang telah disampaikan-Nya[48]

          Mara Bar Serapion yang menulis surat paling awal setelah kehancuran Yerusalem dan kemudian orang-orang Yahudi terpencar (terdiaspora) ke berbagai tempat melihat Yesus sebagai seorang raja yang bijaksana.  Kemungkinan besar dia mengetahui bahwa saat Yesus disalibkan Pilatus menuliskan keterangan di salib-Nya “Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi” (INRI), yang tertulis dalam bahasa Ibrani, Latin, dan Yunani (Yoh. 19:19-20).  Demikian pula dia mengenal hukum baru yang dibawa Yesus, bukanlah hukum Taurat, melainkan hukum kasih yang mungkin diketahuinya dari para pengikut Kristus.  Tetapi Mara Bar Serapion sendiri adalah seorang filsuf kafir.[49]
            Demikianlah data-data sejarah dari “pihak ketiga”, baik Yahudi maupun terlebih penulis sekuler mengakui fakta bahwa yang disalibkan itu adalah Yesus yang kemudian lebih dikenal sebagai Kristus.  Kesaksian mereka ini mendukung kesaksian Injil kanonik bahwa Yesus dari Nazaret benar-benar telah disalibkan pada zaman Pontius Pilatus.

KESIMPULAN
            Dari pemaparan diatas, maka  kita dapat menyimpulkan bahwa   kontroversial  mengenai apakah Yesus benar-benar disalib atau tidak sudah terjawab, karena jelas bahwa Yesus dari Nazaret  benar-benar  disalibkan, mati dan bangkit pada hari  ketiga.  Kebenaran itu tidak dapat disanggah oleh kaum Muslim karena  Al Quran sendiri tidak dapat memberikan satu pernyataan yang pasti mengenai argumentasi mereka,  bahwa Yesus tidak disalib.  Bahkan diantara para penafsir muslim  sendiri tidak dapat membuktikan secara eksplisit bahwa Yesus benar tidak disalib.  Hal ini diperparah dengan ayat-ayat Al Quran yang saling bertentangan satu dengan yang lain,  sehingga sangat menyulitkan kaum Muslim untuk mempertahankan argumentasi mereka.  Demikian pula ketika mereka mendasari argumentasi mereka berdasarkan “injil” Barnabas, ini bukan memperkuat argumentasi mereka, tetapi semakin memperlemah dan mengaburkan argumentasinya.  Sebaliknya, melalui bukti historis baik dari sejarawan sekuler, orang-orang Yahudi, orang Yunani, maupun murid-murid Yesus yang  mengafirmasi akan   penyaliban Yesus, menunjukkan bahwa argumentasi Kristen mengenai  fakta penyaliban Yesus lebih logis dan dapat dipertanggungjawabkan secara historis maupun secara ilmiah.  



KEPUSTAKAAN
A.    Buku
Al- Fadi, Abd. The Person of Christ. Rikon,Switzerland: The Good Way, t.t.
 Bambang, Noorsena. Telaah Kritis Terhadap Injil Barnabas: Asal-usus, Historis dan Isinya.         Yogyakarta: Yayasan Andi, 1989.
Bakry, Hasbullah.  Nabi Isa Dalam Al quran dan Nabi Muhamad Dalam Bible. Jakarta:    Mutiara, 1983.
Cragg,  Kenneth.  Azan, Panggilan dari Menara Masjid. Jakarta: Gunung Mulia, 1973.
Caner Ergun Mehmet  and  Emir Fethi Caner.  Unveiling Islam: an Insider’s look at Muslim          life       and Beliefs.  Grand Rapids: Kregel Pub., 2002.
Hariyadi,  Ichwan.  Intelektual Muslim Versus Missionaris.  t.k.: Pustaka Da’i, 2003.
Hamka, Buya. Tafsir Al-Ashar, Jus 6.  Jakarta: Pustaka Nasional, tt.
Halverson, Dean C. “Islam” dalam The Compact Guide to World Religions. Minneapolis:             Bethany, 1996.

Jadeed,  Iskandar.  The Cross in the Gospel and Qur’an.  Rikon, Switzerland: The Good Way,     n.d.
Muchlas,  Imam.  Pandangan Al Qur’an Terhadap Agama Kristen.  Surabaya: Al-Ihsan, 1982.

McDowell,  Josh dan John Gilchrist.   The Islam Debate.   California: Campus Crusade for            Christ, 1983.
McDowell Josh, Apologetika 3: Dia berada diantara Kita. Malang: Gandum Mas, 2004.
Parrinder, Geoffrey.   Jesus in the Quran.   Toronto: Fellowship of Faith, 1982.
Shorrosh, Anis A. Kebenaran diungkapkan: Pandangan seorang Arab Kristen Tentang     Islam.Jakarta: Philia, 1988.

B.     Internet

 

Bedjo Lie,  “Benarkah Yesus Tidak Mati Disalib? Sebuah Pertanggung jawaban Iman       Terhadap         Pandangan Islam,”  http://www.gkri-exodus.org/

Didik Bagiyowinadi, “Yesuskah yang di Salib? Antara Film The Messiah, Injil dan Data   Sejarah,”  http://www.indocell.net/yesaya/pustaka2/id570.htm.

 

Dede Wijaya,  “Menyimak data-data Sejarah Tentang penyaliban Yesus,”            http://www.dedewijaya.wordpress.com/2010/04/09/

Rantau Pincono.  “Kisah Penyaliban Yesus Menurut Islam, Kristen dan Ahmadiyah,”




                [1] Anis A. Shorrosh, Kebenaran diungkapkan: Pandangan seorang Arab Kristen Tentang Islam (Jakarta: Philia, 1988) 107.
                [2] Surat At Tahmrin 66:22 At. Tahrim 66:22, menuliskan  “Dan (ingatlah) Maryam putri  Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ro (ciptaan) Kami, dan  dia membenarkan  kalimat Tuhannya dan kitab-kitabnya dan adalah dia termasuk orang yang ta’at.”
                [3]  Surat  Maryam 19:19-21, Dia berkata:  “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhan  untuk memberi seorang anak laki-laki yang suci”. Dia (Maryam)  berkata: Bagaimana akan ada  bagiku seorang anak laki-laki sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan  aku bukan seorang pezinah”. JIbril berkata: “demikianlah”. Tuhanmu berfirman: “Hal ini mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikan-Nya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat  dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan”.
                [4] Abd. Al- Fadi, The Person of Christ In the Gospel and Koran  (Rikon,Switzerland: The Good Way, n.d.) 8.
                [5] Surat Maryam 19:29-30 “ Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: “Bagaimana kami akan  berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?”. Berkata Isa: “sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Alkitab (Injil) dan dia menjadikan aku seorang nabi.
                [6] Abd Al-Fadi,  The Person of Christ  7-17.
                [7] Ibid. 16.
[8] “Al Quran terjemahan bahasa Indonesia”  http://www.alquran-indonesia.com/
                [9] ibid

                [10]  Rantau Pincono, “Kisah Penyaliban Yesus Menurut Islam, Kristen dan Ahmadiyah,”

                [11] H. Mahmud Yunus, Tafsir Al-Qur’anul Karim. 94.
                [12] Buya Hamka, Tafsir Al-Ashar, Jus 6,  (Jakarta: Pustaka Nasional, tt) 21.
                [13] Iskandar Jadeed,  The Cross in the Gospel and Qur’an (Rikon, Switzerland: The Good Way, n.d) 5.
                [14] Geoffrey Parrinder,  Jesus in the Quran  (Toronto: Fellowship of Faith, 1982) 85.
                [15] Salah satu sarjana yang agresif yang pandai memutarbalikkan argumentasi yaitu Ahmed Deedat. Dalam salah satu dari argumennya yang tampak benar tetapi sebenarnya tidak,  yang berjudul  Resurrection or Resuscitation?                             ( Kebangkitan atau Sadar kembali ? ), Deedat menyodorkan “ Swoon Theory ( teori keadaan pingsan ) “ – sebuah teori yang menyatakan bahwa Yesus dapat bertahan dalam penyaliban dengan setengah mati, dan mengalami pemulihan setelah didalam kubur. Teori ini sebenarnya pertama kali dinyatakan oleh Venturni, seorang rasionalis Jerman dan kemudian dipopulerkan nabi Ahmad Ghulam dari Ahmadiyah, salah satu cabang Islam. Deedat dengan ini menyatakan secara tidak langsung, bahwa dia telah hidup dalam jamannya Muhammad dan juga berada bersama-sama dengan Zaid Ibn Thabitatau Waraqa Ibn Naufal. Ibid.

                [16] Teori penggantian ini mengatakan bahwa Yudas Iskariot yang menyerupai Yesus telah disalibkan untuk mengganti tempat Yesus dan juga Simon dari Kirene. 
                [17] Teori ini mengatakan Yesus diturunkan dari kayu salib dalam keadaan pingsan dan selanjutnya kesehatannya pulih kembali. Teori ini  awalnya oleh Mizra Gulan Ahmad dan juga para ulama tafsir moderen.
                [18] Para pendukung pandangan ini percaya bahwa keadilan Allah membuat Yudas Iskariot sebagai pengkhianat utusan Allah mendapat  hukuman langsung dari Allah, yakni disiksa dan dibunuh di tiang salib. Ichwan Hariyadi,  Intelektual Muslim Versus Missionaris (t.k.: Pustaka Da’i, 2003)  305-306.
                [19] Lih. Imam Muchlas, Pandangan Al Qur’an Terhadap Agama Kristen (Surabaya: Al-Ihsan, 1982) 54-55.
                [20] Hasbullah Bakry, Nabi Isa Dalam Al quran dan Nabi Muhamad Dalam Bible (Jakarta: Mutiara, 1983) 69-70.  Hal yang sama dijelaskan oleh  Caner, dikatakan:  “Para sarjana Muslim tradisional  menjelaskan apa yang terjadi  pada  hari penyaliban Yesus dengan tiga hal: Pertama; Yesus menghilang kemudian ada seorang yang menggantikan kematian-Nya. Kedua,  Allah menjadikan Yudas Iskariot nampak seperti Yesus dan ia  menggantikan Yesus. Ketiga, Simon dari Kirene  menggantikan Yesus sebelum penyaliban.”  Ergun Mehmet Caner dan Emir Fethi Caner, Unveiling Islam: an Insider’s look at Muslim life and Beliefs (Grand Rapids: Kregel Pub., 2002) 220.
                [21] Ibid, 68.
                [22] Penulis dalam memberikan jawaban  terhadap argumentasi muslim mengenai konsepsi penyaliban Yesus,   tidak memberikan argumentasi dari sudut pandang   Alkitab sebagai wahyu Allah  tetapi dari sudut pandang historis, karena bagi orang muslim Alkitab kanonikal bukanlah wahyu Allah dan telah dipalsukan.
                [23] Didik Bagiyowinadi, “Yesuskah yang di Salib? Antara Film The Messiah, Injil dan Data Sejarah”   http://www.indocell.net/yesaya/pustaka2/id570.htm.  (diakses 20 Maret 2012)

                [24] Bnd. hal. 6
                [25] Kenneth Cragg, Azan, Panggilan dari Menara Masjid (Jakarta: Gunung Mulia, 1973) 341.  bnd. Bedjo Lie, “Benarkah Yesus tidak di salib?”
                [26] Josh McDowell dan John Gilchrist, The Islam Debate (California: Campus Crusade for Christ, 1983) 108.  dikutip dari Bedjo Lie,  “Benarkah Yesus tidak di Salib?.”
                [27] McDowell dan Gilchrist, The Islam,  107.
                [28] Ibid.
                [29] Didik Bagiyowinadi,  “Yesuskah yang disalib?”
                [30] Ibid.
[31] Ibid.
                [32] Dean C. Halverson, “Islam” dalam The Compact Guide to World Religions (ed. Dean C. Halverson; Minneapolis: Bethany, 1996) 117.
                [33] Josh McDowell, Apologetika 3: Dia berada diantara Kita  (Malang: Gandum Mas, 2004) 166.
                [34] Ibid.
                [35] Ibid, 167.
                [36] Bedjo Lie,  “Benarkah Yesus Tidak Mati Disalib? Sebuah Pertanggung jawaban Iman Terhadap Pandangan Islam,” http://www.gkri-exodus.org/image-Benarkah YesusTidak Mati Disalib.pdf (diakses 30 Maret 2012).
                [37] Ibid.    
                [38] Nama aslinya adalah Joseph bin Matthias, seorang dari sejarawan Yahudi yang berasal dari keluarga imam, lahir pada tahun 37M di Yerusalem dan meninggal tahun 100M di Roma. Di tahun 93M ia menulis buku Antiquitates Judaicae atau Jewish Antiquities yang terdiri dari 20 buku yang melukiskan sejarah Yahudi dari penciptaan hingga pecahnya pemberontakan tahun 66–70M dan kehancuran kota Yerusalem. Convito San Tomaso, “Fakta Penyaliban Yesus,”  http://terangdunia.com/index.php?article&id:fakta-penyaliban-yesus&catid=56:christianity&Itemid=86 (diakses  30 maret 2012)
                [39] Josh McDowell  Apologetika: Bukti Yang Meneguhkan kebenaran Alkitab. Vol 3 (Malang: Gandum Mas, 1988), 59 
                [40] Untuk hal-hal yang berhubungan dengan persoalan mengenai  gerhana matahari  atau bukan tidak menjadi persoalan, tetapi yang pasti secara historis kedua sejarawan ini menulis bahwa Yesus pada waktu itu di salib.
                [41] Josh McDowell, Apologetika 43-44.
                [42] Tacitus adalah seorang sejarawan Romawi yang lahir sekitar 52–54M dan meninggal sekitar 120M. Pada tahun 112/113M dia menjadi proconsul / gubernur di Asia. Dia menulis buku Annals yang berisi sejarah kekaisaran Romawi periode 14M–68M. ibid.
                [43] Ibid, 63-68
                [44] Bdk. dengan Paulus yang dipenggal kepalanya di Roma karena dia mempunyai kewarganegaraan Romawi.
                [45] Josh McDowell,  Apoloegtika 71-72.
                [46] Lucianus, The Death of Peregrine, 11-13, dikutip oleh Josh McDowel, Apologetika 71-72.
                [47] Dede Wijaya,  “Menyimak data-data Sejarah Tentang penyaliban Yesus,” http://dedewijaya.wordpress.com/2010/04/09/menyimak-data-data-sejarah-tentang-penyaliban-yesus/
                [48] Josh McDowell, Apologetika 72-73.
                [49] Dede Wijaya,  “Menyimak data-data Sejarah Mengenai Penyaliban Yesus” http://dedewijaya.wordpress.com/2010/04/09/
Posting Komentar