Anak Molo Mama dan Luka Pendidikan di Pedalaman
Beberapa waktu terakhir, kita kembali dikejutkan oleh kabar duka dari Nusa Tenggara Timur (NTT): seorang anak memilih mengakhiri hidupnya karena tidak memiliki uang untuk membeli alat tulis dan membayar biaya sekolah. Berita ini bukan sekadar kisah tragis yang lalu begitu saja di linimasa media sosial. Ia adalah jeritan sunyi dari pedalaman—jeritan seorang anak molo mama, anak yang hidup dari keringat dan air mata orang tuanya, namun tetap tertinggal oleh sistem.
Anak Molo Mama: Sebuah Istilah, Sebuah Realitas
Istilah anak molo mama lahir dari realitas keseharian masyarakat kecil: anak-anak yang seluruh harapan hidupnya bertumpu pada perjuangan seorang ibu (atau orang tua) yang bekerja serabutan—menjual hasil kebun, menenun, atau menjadi buruh harian. Mereka bukan anak malas, bukan pula anak yang tidak mencintai sekolah. Justru sebaliknya: mereka memikul mimpi yang terlalu besar untuk pundak yang masih kecil.
Namun, ketika kemiskinan struktural bertemu dengan tuntutan pendidikan formal—seragam, buku tulis, iuran, transportasi—sekolah yang seharusnya menjadi ruang harapan berubah menjadi ruang tekanan. Bagi sebagian anak, rasa malu karena tidak mampu membeli alat tulis lebih menyakitkan daripada rasa lapar.
Pendidikan yang Menghimpit, Bukan Memerdekakan
Kematian anak ini membuka luka lama: pendidikan yang belum sepenuhnya berpihak pada yang paling lemah. Kita sering berbicara tentang wajib belajar, tentang masa depan generasi emas, tetapi lupa bertanya: apakah sistem kita cukup manusiawi bagi anak-anak pedalaman?
Bagi anak-anak di kota, buku tulis adalah hal sepele. Bagi anak-anak pedalaman, satu buku tulis bisa menjadi alasan untuk tidak masuk sekolah. Ketika sekolah gagal menjadi ruang aman, anak kehilangan tempat untuk berharap. Dalam kesunyian itulah, keputusasaan tumbuh.
Bunuh diri anak bukan hanya persoalan kesehatan mental individual. Ia adalah cermin kegagalan kolektif—keluarga, sekolah, gereja, negara, dan kita semua.
Dari Duka Menuju Tanggung Jawab Bersama
Saya menulis refleksi ini bukan hanya sebagai warga yang berduka, tetapi sebagai seseorang yang saat ini sedang membangun rumah belajar di pedalaman. Rumah belajar lahir dari kesadaran sederhana: jika anak tidak mampu menjangkau sekolah, maka kitalah yang harus menjangkau anak.
Rumah belajar bukan sekadar bangunan fisik. Ia adalah simbol perlawanan terhadap keputusasaan. Di sana, anak-anak boleh belajar tanpa takut dimarahi karena tidak membawa buku baru, tanpa rasa malu karena sepatu mereka lusuh. Di sana, mereka diperlakukan bukan sebagai beban, tetapi sebagai manusia yang bermartabat.
Peran Gereja dan Masyarakat Sipil
Tragedi ini juga menjadi pertanyaan profetis bagi gereja dan masyarakat sipil: di manakah kita ketika anak-anak molo mama menangis diam-diam? Gereja tidak boleh hanya hadir di mimbar, tetapi juga di tanah berdebu tempat anak-anak berjalan kaki menuju sekolah.
Diakonia tidak cukup dalam bentuk karitatif sesaat. Ia harus menjelma menjadi keberpihakan struktural: advokasi pendidikan gratis yang sungguh-sungguh, pendampingan psikososial bagi anak-anak rentan, serta dukungan nyata bagi inisiatif akar rumput seperti rumah belajar.
Penutup: Jangan Biarkan Anak Mati Sendirian
Anak itu telah pergi, dan kita tidak bisa mengembalikannya. Tetapi kita masih bisa memilih: apakah kematiannya akan berlalu sebagai angka statistik, atau menjadi titik balik kesadaran bersama.
Setiap anak molo mama berhak bermimpi tanpa takut pada harga sebuah buku tulis. Jika hari ini masih ada anak yang merasa mati lebih mudah daripada hidup miskin, maka yang perlu diubah bukan anak itu—melainkan kita dan sistem yang kita pertahankan.
Rumah belajar di pedalaman mungkin kecil dan sederhana. Tetapi di sanalah harapan sedang dirajut kembali, satu anak, satu buku, satu masa depan pada satu waktu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar