Sabtu, 07 Februari 2026

Rumah Belajar Chanak: Merawat Harapan Di Pedalaman Kalimantan Barat

Dari Molo Mama ke Chanak: Merawat Harapan Anak Pedalaman

Pdt. Beni S. Regoh (RBC=Rumah Belajar Chanak)

Beberapa waktu lalu, kita diguncang oleh kabar duka dari Nusa Tenggara Timur: seorang anak mengatakan  dalam suratnya molo mama (Selamat tinggal mama)—anak yang hidup dari jerih payah orang tua sederhana—memilih mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli alat tulis dan membayar biaya sekolah. Tragedi ini bukan hanya kisah lokal, melainkan jeritan kolektif tentang pendidikan yang gagal memeluk yang paling rapuh.

Rumah Belajar Chanak berdiri bukan karena kelimpahan, melainkan karena ketiadaan. Ia lahir dari perjumpaan dengan anak-anak pedalaman Kalimantan Barat yang datang ke sekolah dengan kaki berdebu, perut kosong, dan tas yang sering kali lebih penuh oleh harapan daripada buku. Di tempat inilah saya belajar bahwa pendidikan bukan pertama-tama soal kurikulum, tetapi soal keberpihakan.

Ketika Sekolah Terlalu Jauh dari Anak Molo Mama

Bagi banyak anak pedalaman, sekolah bukan hanya persoalan jarak geografis, tetapi juga jarak sosial. Buku tulis, alat tulis, seragam, dan biaya lain yang bagi sebagian orang tampak sederhana, justru menjadi tembok tinggi yang memisahkan anak dari masa depannya. Tidak sedikit anak yang memilih diam, menunduk, bahkan menghilang dari bangku sekolah—bukan karena malas, tetapi karena malu dan putus asa.

Peristiwa anak "molo mama" di NTT memperlihatkan dengan telanjang kenyataan ini. Ketika sekolah kehilangan wajah empatinya, anak-anak miskin menanggung beban yang seharusnya dipikul bersama. Di titik inilah kita harus jujur mengakui: pendidikan yang tidak peka terhadap realitas kemiskinan dapat berubah menjadi beban psikologis. Anak-anak belajar bukan dengan rasa aman, melainkan dengan rasa takut—takut dimarahi, takut ditertawakan, takut dianggap tidak mampu.

Rumah Belajar Chanak: Ruang Aman bagi Anak-Anak Molo Mama Bernama Harapan

Rumah Belajar Chanak tidak dimaksudkan untuk menggantikan sekolah formal. Ia hadir sebagai ruang aman (safe space), tempat anak boleh belajar tanpa tekanan, tanpa label, tanpa syarat ekonomi. Di Chanak, anak-anak diterima terlebih dahulu sebagai manusia, baru kemudian sebagai murid.

Di rumah belajar ini, tidak ada pertanyaan memalukan seperti, “Mengapa bukumu belum dibeli?” Yang ada adalah pertanyaan yang memerdekakan: “Apa yang ingin kamu pelajari hari ini?” Di sana, belajar kembali menjadi peristiwa yang manusiawi—pelan, sederhana, dan penuh relasi.

Dari Duka Menjadi Tindakan Kasih

Mendirikan Rumah Belajar Chanak adalah pilihan iman. Ia adalah tindakan kecil melawan logika ketidakpedulian. Di tengah sistem yang sering kali abai pada pinggiran, rumah belajar menjadi bentuk diakonia yang kontekstual: hadir, mendengar, dan berjalan bersama anak-anak.

Kasih, dalam konteks ini, bukanlah sentimentalisme. Ia adalah keberanian untuk tinggal lebih lama, mendengar lebih dalam, dan bertahan bersama mereka yang nyaris tidak memiliki apa-apa selain harapan. Setiap huruf yang dipelajari, setiap angka yang dimengerti, adalah perlawanan sunyi terhadap masa depan yang seolah sudah ditentukan oleh kemiskinan.

Dari Pedalaman untuk Kita Semua

Rumah Belajar Chanak juga adalah cermin bagi kita semua—gereja, negara, dan masyarakat sipil. Ia mengajukan pertanyaan yang tidak nyaman: apakah kita sungguh percaya bahwa setiap anak berharga, atau hanya mengatakannya dalam slogan? Jika setiap anak sungguh berharga, maka pendidikan tidak boleh menjadi hak istimewa, melainkan hak dasar yang dijaga bersama.

Rumah belajar mungkin tidak mengubah sistem secara instan. Tetapi ia menanam benih kesadaran: bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari ruang kecil, dari meja kayu sederhana, dari relasi yang setia.

Penutup: Jangan Biarkan Anak Berjuang Sendirian

Rumah Belajar Chanak berdiri dengan segala keterbatasannya, namun di sanalah harapan dirawat setiap hari. Ia menjadi pengingat bahwa di pedalaman Kalimantan Barat, masih ada anak-anak yang bermimpi—dan mimpi itu layak diperjuangkan.

Jika suatu hari anak-anak ini berani berkata bahwa masa depan tidak lagi menakutkan, maka Rumah Belajar Chanak telah menjalankan panggilannya. Bukan sebagai bangunan megah, tetapi sebagai rumah—tempat belajar menjadi tindakan kasih, dan harapan tidak dibiarkan tumbuh sendirian.

Tidak ada komentar: