Selasa, 10 Februari 2026


Relevansi Worldly Asceticism Max Weber dalam Konteks Gereja Masa Kini: Tinjauan Teologis Kritis

(Pdt. Beni Samuel Regoh, M.Th

Abstrak

Artikel ini membahas relevansi konsep worldly asceticism (asketisme duniawi) yang diperkenalkan Max Weber dalam karyanya The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism bagi kehidupan dan praksis gereja masa kini. Dengan menggunakan pendekatan teologis-kritis, artikel ini menunjukkan bahwa meskipun konsep Weber lahir dari analisis sosiologis, ia memiliki implikasi penting bagi spiritualitas, etika kerja, dan tanggung jawab sosial gereja. Namun demikian, artikel ini juga menegaskan perlunya koreksi teologis agar worldly asceticism tidak direduksi menjadi etos kerja legalistik atau teologi prestasi, melainkan dipahami sebagai respons iman terhadap anugerah Allah.

Kata kunci: Max Weber, worldly asceticism, etika Protestan, gereja masa kini, spiritualitas Kristen.

Pendahuluan

Gereja masa kini hidup di tengah dinamika global yang ditandai oleh konsumerisme, individualisme, dan spiritualitas instan. Dalam konteks ini, refleksi atas relasi antara iman dan kehidupan duniawi menjadi semakin mendesak. Salah satu kontribusi penting dalam memahami relasi tersebut datang dari Max Weber melalui konsep worldly asceticism.

Meskipun Weber bukan teolog, analisisnya tentang spiritualitas Protestan—khususnya Calvinisme dan Puritanisme—memberikan kerangka refleksi yang kaya bagi teologi praktis dan etika Kristen. Artikel ini bertujuan untuk menelaah relevansi worldly asceticism bagi gereja masa kini serta mengajukan pembacaan kritis dari perspektif teologi Kristen.

Konsep Worldly Asceticism dalam Pemikiran Max Weber

Dalam The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism, Weber membedakan antara asketisme monastik dan asketisme duniawi. Asketisme monastik menekankan penarikan diri dari dunia, sedangkan worldly asceticism justru menekankan keterlibatan aktif di dalam dunia dengan disiplin rohani yang ketat.

Konsep kunci dalam asketisme duniawi adalah calling (Beruf), yaitu pemahaman bahwa pekerjaan sehari-hari merupakan panggilan ilahi. Kerja yang dilakukan secara disiplin, rasional, dan bertanggung jawab dipahami sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Weber berargumen bahwa spiritualitas semacam ini turut membentuk etos kerja modern dan perkembangan kapitalisme awal.

Relevansi Teologis bagi Gereja Masa Kini

1. Kritik terhadap Konsumerisme dan Spiritualitas Instan

Gereja masa kini tidak kebal terhadap logika pasar dan konsumerisme. Ibadah dan pelayanan kerap dinilai berdasarkan kepuasan jemaat dan keberhasilan material. Worldly asceticism menawarkan kritik profetis terhadap kecenderungan ini dengan menekankan disiplin diri, pengendalian keinginan, dan hidup sederhana sebagai ekspresi iman.

Dalam terang teologi Kristen, asketisme duniawi dapat dipahami sebagai bentuk pemuridan yang menolak reduksi iman menjadi sarana memperoleh berkat material.

2. Pemulihan Teologi Panggilan dan Kerja

Salah satu kontribusi penting Weber adalah penekanannya pada makna teologis kerja. Gereja masa kini sering kali masih mempertahankan dikotomi antara yang “rohani” dan yang “sekuler”. Worldly asceticism menantang dikotomi ini dengan menegaskan bahwa seluruh kehidupan—termasuk kerja profesional—adalah ruang pengabdian kepada Allah.

Pemahaman ini sejalan dengan teologi Reformasi yang menempatkan seluruh hidup orang percaya di bawah kedaulatan Allah (coram Deo).

3. Etika Disiplin, Integritas, dan Tanggung Jawab Sosial

Asketisme duniawi membentuk subjek yang disiplin, bertanggung jawab, dan berorientasi pada tanggung jawab moral. Dalam konteks gereja masa kini, nilai-nilai ini relevan untuk menjawab krisis integritas, baik dalam kepemimpinan gereja maupun kesaksian publik umat Kristen.

Gereja dipanggil untuk menghadirkan spiritualitas yang tidak hanya ekspresif secara liturgis, tetapi juga transformatif secara etis dan sosial.

4. Spiritualitas Non-Eskapis

Worldly asceticism menolak spiritualitas eskapis yang memisahkan iman dari realitas sosial. Sebaliknya, ia mendorong keterlibatan aktif dalam dunia sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Dalam konteks ketidakadilan sosial, kemiskinan, dan krisis ekologis, gereja dipanggil untuk menghadirkan iman yang bekerja melalui kasih dan tanggung jawab sosial.

Kritik Teologis terhadap Pemikiran Weber

Meskipun menawarkan banyak wawasan, pemikiran Weber memiliki keterbatasan teologis. Analisis Weber berisiko mereduksi iman Kristen menjadi etos kerja rasional dan disiplin moral. Dari perspektif teologi, keselamatan tidak bersumber pada kerja keras atau asketisme, melainkan pada anugerah Allah di dalam Kristus.

Oleh karena itu, worldly asceticism perlu ditafsirkan sebagai buah iman, bukan dasar pembenaran. Tanpa koreksi ini, asketisme duniawi dapat bergeser menjadi legalisme atau bahkan pembenaran teologis bagi eksploitasi dan ketimpangan sosial.

Kesimpulan

Konsep worldly asceticism Max Weber tetap relevan bagi gereja masa kini sebagai lensa kritis untuk merefleksikan relasi antara iman, kerja, dan kehidupan duniawi. Ketika dibaca secara teologis-kritis, konsep ini dapat memperkaya pemahaman gereja tentang pemuridan, panggilan, dan tanggung jawab sosial.

Gereja masa kini dipanggil untuk menghidupi spiritualitas yang disiplin dan membumi—bukan demi prestasi atau legitimasi sosial, melainkan sebagai respons syukur atas anugerah Allah. Dengan demikian, worldly asceticism dapat menjadi sarana refleksi yang menolong gereja setia di tengah dunia tanpa kehilangan orientasi eskatologisnya.

Daftar Pustaka

Weber, Max. The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism. London: Routledge, 2001.

Calvin, John. Institutes of the Christian Religion. Louisville: Westminster John Knox Press, 1960.

Bonhoeffer, Dietrich. The Cost of Discipleship. New York: Touchstone, 1995.

Tidak ada komentar:

https://www.youtube.com/results?search_query=beni+regoh Superstruktur Karl Marx dan Gereja Masa Kini: Sebuah Tinjauan Kritis-Teologis Pdt. B...